Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Foto Pre Wedding (1)


Keesokan harinya,


Hari ini dijadwalkan pemotretan foto pre wedding antara Ayra dan Devara. Mereka sengaja mengambil beberapa konsep dalam pemotretan nanti. Kakek Ayra juga ikut dalam sesi pemotretan itu untuk mengawasi jalannya acara.


Saat sarapan di ruang makan,


“Kalian nanti jadi foto pre wedding?”tanya kakek Arya dengan suara baritonnya.


“Jadi kek”jawab Ayra


“Kakek juga ikut?”tanya Ayra


“Semoga saja kakek ga jadi ikut”pinta Devara dalam hati sambil melirik ke arah kakek.


“Tentu saja. Karena itu, aku kemari”jawab kakek tegas sambil menyantap sarapannya.


Devara langsung melengos dengan malas. Harapannya bisa foto pre wedding lebih mesra dengan Ayra kandas sudah begitu mendengar kakek Arya akan ikut dalam pemotretan nanti.


“Ingat Devara..”ucap kakek sambil menatap tajam ke arah Devara


“Iya kek?”tanya Devara


“Gila! Tatapannya.. Kakek tua ini mau membunuhku?”tanya Devara dalam hati


“Jaga kehormatan kalian! Aku tak ijinkan kalian bermesra-mesraan dalam pemotretan nanti. Kalian baru tunangan belum menikah. Jadi jangan berlagak seperti pasangan suami istri nanti saat pemotretan”perintah kakek tegas


Seperti perintah kakek, pemotretan nanti, kakek meminta meminimalisir adanya skinship antara Devara dan Ayra. Karena menurut kakek, mereka tidak boleh mengumbar kemesraan. Karena status hubungan mereka masih sebatas tunangan. Mereka bukan sepasang suami istri jadi kakek meminta keduanya menjaga kehormatan satu sama lain.


“Kakek harap kalian mengerti”ujar kakek setelah menjelaskan permintaannya.


“Baik kek”sahut Devara dengan malas


“Iya kek”jawab Ayra.


“Masak aku bahkan tak boleh memeluk calon istriku sendiri. Menyebalkan!!!” gerutu Devara dalam hati dengan kesal.


Ketiganya berangkat setelah menghabiskan sarapan mereka. Ayra, Devara, kakek Arya dan Madam O berangkat bersama.


Sesampainya di tempat pemotretan, fotografer mulai menjelaskan konsep foto pre wedding keduanya. Baik Ayra, Devara dan kakek mendengarkan penjelasan fotografer dengan penuh perhatian. Ada kurang lebih empat konsep pemotretan dalam foto prewedding nanti.


“Bagaimana tuan muda?”tanya fotografer pada Devara


“Begitu juga boleh”jawab Devara dengan malas


“Hei anak muda”panggil kakek pada fotografer itu


“Iya tuan”jawab fotografer


“Aku minta foto prewedding nanti jangan sampai melewati batas”ucap kakek


“Maksud tuan?”tanya fotografer kebingungan sambil mengernyitkan dahinya


“Terserah mau kau atur seperti apa pose mereka berdua. Aku hanya minta tak usah ada pose mesra yang melewati batas. Kau mengerti?”perintah kakek pada sang fotografer.


“I..itu..”fotografer itu tampak ketakutan sambil menoleh ke arah Devara.


Bagaimanapun, Devaralah tuan muda yang bisa memberi perintah pada dirinya. Jadi fotografer itu harus mendapatkan ijin Devara untuk melaksanakan perintah kakek Arya.


“Kau dengar tidak perintahku tadi?”bentak kakek Arya dengan suara meninggi


Devara menganggukkan kepalanya seolah memberi ijin pada sang fotografer.


“Ba-baik tuan. Saya mengerti”jawab fotografer itu.


“Heran! Sebenarnya siapa kakek tua itu? Kenapa malah dia yang memberiku perintah”gumam fotografer bernama Ryan itu.


Sesaat kemudian, Ayra dan Devara mengganti kostum mereka dan dirias oleh tim perias. Kakek dan Madam O menunggu mereka sambil berbincang ringan.


“Haishhh..harusnya momen ini jadi momen yang indah antara aku dan Ayra. Tapi sejak kedatangan kakek, aku jadi tak bisa menikmati momen ini. Menyebalkan!”gerutu Devara dalam hati saat berganti kostum.


Tiba-tiba tatapan mata Devara tertuju pada seorang anggota tim yang ikut membantu pemotretan foto pre wedding Devara dan Ayra. Wanita yang sedang hamil besar itu tampak menyiapkan kostum yang akan dikenakan Devara dan Ayra. Devara menyunggingkan sudut bibirnya. Muncul “ide gila” dari otak jeniusnya untuk bisa menyingkirkan kakek Arya.


Devara menghampiri wanita yang sedang hamil tua itu.


“Siapa namamu?”tanya Devara


“Sa-saya Mila, tuan muda. Ada yang bisa saya bantu?”tanya wanita muda bernama Mila itu dengan tubuh sedikit bergetar begitu tuan muda Alexander mengajaknya bicara.


Mila sadar betul siapa Devara dan sekuat apa pengaruhnya. Sehingga Mila harus benar-benar menjaga sikapnya supaya tidak membuat tuan muda keluarga Alexander itu marah padanya.


Devara menatap perut besar Mila.


“Sudah berapa bulan?”tanya Devara


“Iya tuan?”tanya Mila kebingungan


“Oh..sudah sembilan bulan, tuan”jawab Mila


“Perfect! Aku bisa memanfaatkan kehamilan wanita ini”gumam Devara dalam hati sambil tersenyum penuh arti


“Aku butuh bantuanmu”ucap Devara


Mila mengerutkan dahinya mendengar ucapan Devara.


“Apa yang bisa saya bantu tuan?”tanya Mila


“Aku minta …”


Devara mulai membisikkan “ide jahil”nya pada Mila. Wanita itu mendengarkan dengan penuh perhatian. Mencerna setiap kata yang diucapkan Devara.


“Kau mengerti?”tanya Devara pada Mila setelah menjelaskan idenya


Mila terdiam sejenak. Dia tampak berpikir keras. Jantungnya berdetak kencang karena dia harus memberikan jawaban atas pertanyaan Devara.


“Bagaimana?”tanya Devara lagi dengan tatapan tajam karena Mila tak juga menjawab perintahnya.


Mila menganggukkan kepalanya. Dia menyetujui permintaan Devara.


“Baik tuan. Saya mengerti”jawab Mila


Devara tersenyum penuh kemenangan.


Akhirnya Devara dan Ayra melakukan sesi pemotretan sesi pertama dimana mereka berdua memakai konsep anak sekolah. Keduanya sengaja mengambil konsep itu untuk reka ulang kenangan pertemuan mereka selama di bangku sekolah. Ayra tampak cantik mengenakan seragam sekolah. Begitu juga Devara yang terlihat tampan dengan seragam sekolahnya.


Pada sesi ini, mereka hanya berdiri bersandar di dinding dengan sedikit berjarak. Ayra melipat kedua tangannya di depan dada, sementara Devara memasukkan tangannya di salah satu saku celananya. Keduanya kemudian saling bertatapan dengan senyum tersungging di bibir masing-masing.


“Oke..good”ucap fotografer saat melihat pose keduanya.



Keduanya tampak sangat menjiwai sesi pemotretan ini. Bahkan mereka berdua sudah seperti foto model. Hanya dengan sedikit arahan dari fotografer, keduanya bisa menghasilkan foto yang sangat bagus. Semua orang yang berada di gedung tempat pemotretan pun berdecak kagum pada keduanya.


Kakek yang ikut menyaksikan sesi pemotretan inipun mengangguk-anggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum melihat betapa serasinya sang cucu dengan Devara.


“Nona dan tuan muda sangat serasi, benarkan tuan?”tanya Madam O pada kakek


“Iya..mereka terlihat sangat serasi”jawab kakek bangga pada keduanya.


Akhirnya sesi dilanjutkan dengan pengambilan gambar di luar ruangan. Kali ini pemotretan menggunakan motor besar Devara sebagai salah satu properti foto. Pada pemotretan ini, rambut Ayra sengaja diikat dengan model cepol. Membuat penampilan Ayra terlihat sangat menggemaskan. Devara tak henti-hentinya mencubit pipi ataupun hidung Ayra saking gemasnya. Namun ketika mendapatkan tatapan membunuh kakek Arya, Devara secepat kilat langsung menurunkan tangannya.


“Pegang dikit aja ga boleh”gerutu Devara dalam hati sambil mengerucutkan bibirnya setelah kakek Arya melotot ke arahnya.


“Oke..nanti nona naik ke atas motor ya?”pinta fotografer.


“Oke..”jawab Ayra sambil menganggukkan kepalanya.


“Bisa ga naiknya?”tanya Devara pada Ayra yang akan naik motornya.


“Bisa..tenang aja”jawab Ayra sambil berpegangan pada Devara saat akan menaiki motor besar Devara.



Selama sesi pemotretan dengan motor besarnya, aura Devara sebagai trouble maker sangat terlihat jelas, meskipun wajahnya tertutup helm hitam besar miliknya. Namun semua itu tak mengurangi aura Devara yang sangat kuat. Bahkan tatapan tengilnya dapat terlihat jelas dari matanya.


 


 


 


 


💐Pengumuman💐


Novel ketiga saya yang menceritakan kisah cinta Arga dan Catherine, kakak Devara sudah saya launching ya kakak semuaa🥰🥰🥰🥰 Cover novelnya yang seperti ini ya..



Jangan lupa untuk mampir ya kakak semuaa..


Saya tunggu jempol like, vote, dan hadiahnya ya..


Supaya ga ketinggalan upadatenya, jangan lupa favoritkan novel ini ya kak


Terimakasih


Sehat selalu kakak semua🥰🥰🥰🥰