Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Ritual Pagi


Sinar mentari menyambut pagi. Menyinari bumi dengan cahayanya yang perlahan namun pasti semakin menyilaukan. Menghangatkan bumi dengan sentuhannya. Cahayanya yang menerobos sela-sela tirai kamar pengantin baru yang baru saja menyelesaikan tugas besarnya semalaman. Dua manusia yang masih tertidur dengan pulas dibalik selimut.


Gelora darah muda yang menggebu-gebu, membuat Devara yang sudah merasakan kehangatan Ayra, merasa kecanduan yang teramat sangat. Mereka melakukannya beberapa kali semalaman. Membuat tubuh Ayra remuk redam mengatasi serangan demi serangan Devara pada tubuhnya. Hingga akhirnya mereka tertidur pulas sampai sekarang. Saat semua orang sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Mereka berdua masih betah tidur di kamar mereka.


Ayra yang sudah terbangun, menggeliat perlahan kemudian merasakan sesuatu yang berat melingkar di pinggangnya. Ayra menoleh dan membalik tubuhnya perlahan. Dilihatnya wajah tampan sang suami yang tertidur pulas seperti bayi. Ayra tersenyum melihat betapa bayi besar yang sudah menerkamnya semalam, kini terlihat sangat kelelahan.


Ayra mengangkat tangannya dan mengusap pelan wajah Devara.


“Jika tidur begini dia seperti bayi kucing yang menggemaskan. Padahal semalam dia menghajarku habis-habisan seperti singa hutan. Dasar bayi kucingku!”gumam Ayra dalam hati.


Merasa tubuhnya sangat kelelahan, Ayra ingin segera mandi dan membersihkan diri. Dengan perlahan, Ayra memindahkan tangan besar Devara yang melingkar di pinggang rampingnya. Ayra bangun dan segera beranjak ke kamar mandi. Ayra meraih selimut lain untuk membungkus tubuhnya yang polos. Setelah melilitkan selimut ke seluruh tubuhnya, Ayra beranjak dari ranjang dengan langkah yang pelan karena tak ingin membangunkan singa hutan yang sudah memangsanya semalam.


Ayra baru saja akan membuka pintu kamar mandi, saat tiba-tiba merasakan sesuatu melingkar di pinggangnya dan membalik tubuhnya dengan cepat. Ayra kaget ketika melihat Devara sudah berada di depannya dengan tangan yang melingkar erat di pinggangnya. Dengan senyum nakal yang tersungging di wajah tampannya.


“Dev..kau sudah bangun?”tanya Ayra dengan ekspresi kaget.


Mata indah Ayra terbelalak sempurna saat melihat sang suami yang sudah bangun dengan tubuh polosnya berdiri tepat di depannya. Ayra langsung menutup matanya dengan kedua tangannya begitu melihat tubuh kekar Devara yang polos tanpa sehelai kain yang menutupi.


Devara tersenyum melihat sang istri yang malu-malu mengintip dari sela-sela jarinya.


“Kenapa sayang? Bukankah semalam kau sudah melihatnya? Kenapa mesti malu?”goda Devara


“Dasar mesum! Kenapa dia berkeliaran dengan tubuh seperti itu?”gerutu Ayra dalam hati


Devara menarik turun tangan Ayra yang menutupi matanya. Hingga dapat melihat wajah cantik Ayra yang memerah seperti kepiting rebus menahan malu.


“Hentikan Dev! Aku mau mandi. Cepatlah berpakaian!”perintah Ayra.


“Kita mandi bersama. Aku bantu menggosok punggungmu”goda Devara lagi


“What! Tidakkk! Jangan sekarang! Bisa habis aku nanti jika kami mandi bersama”gerutu Ayra dalam hati dengan mata yang terbelalak sempurna.


Masih jelas di ingatan Ayra bagaimana Devara telah menghajar tubuhnya habis-habisan. Jeda istirahat sebentar, dan saat terbangun, Devara melakukannya lagi dan lagi. Sehingga malam pertama mereka semalam benar-benar menguras fisik dan tenaga Ayra.


Ayra mendorong pelan tubuh Devara hingga tubuh keduanya berjarak. Dengan senyum yang dipaksakan di wajah cantiknya, Ayra berusaha memberi pengertian pada sang suami.


“Hehehee..untuk saat ini, ijinkan aku mandi sendiri ya Dev.. Aku benar-benar lelah. Aku ingin mandi sendiri. Boleh kan?”pinta Ayra dengan memelas.


Tanpa memberi jawaban atas permintaan Ayra, Devara malah membopong tubuh mungil Ayra yang terbungkus selimut masuk ke dalam kamar mandi.


“Dev..hentikan! Turunkan aku!”ronta Ayra sambil memukul dada bidang Devara.


Namun semuanya seakan sia-sia karena Devara sama sekali tak perduli dengan penolakan Ayra. Devara membopong Ayra dan menurunkannya di depan bathup.


“Hah! Lagi?! Oh tidakkk!”seru Ayra dalam hati saat melihat ke arah bathup.


Devara menurunkan perlahan tubuh sang istri dan tangannya berusaha membuka selimut yang membungkus tubuh Ayra.


“Dev..pliss! Biarkan aku mandi sendiri! Aku mohon..Aku..”


Ayra belum sempat menyelesaikan perkataannya saat Devara dengan membabi buta merasai bibirnya. Devara melahap bibir lembut Ayra dan menyusuri tiap bagian dalam rongga mulutnya. Membuat Ayra mau tak mau ikut terbuai dalam rentetan ciuman panas yang diberikan Devara. Merasa tak mendapat perlawanan dari Ayra, Devara membuka selimut yang melingkar di tubuh sang istri hingga selimut itu tergeletak tak berdaya di lantai kamar mandi.


Dan akhirnya keduanya melanjutkan ritual pagi mereka sebagai pasangan suami istri di dalam kamar mandi. Mandi bersama yang merupakan salah satu bagian dari ibadah antara pasangan yang sudah terikat dalam ikatan pernikahan yang sah di mata hukum dan agama.


****


Ayra dan Devara baru saja menyelesaikan ritual pagi mereka. Kini keduanya berbalut jubah mandi dengan rambut yang basah terkena air. Ayra memasang wajah cemberutnya karena sekali lagi Devara memangsanya padahal dia begitu ingin mandi sendiri.


Devara tergelak melihat wajah cemberut Ayra yang terlihat sangat menggemaskan bagi dirinya.


“Kenapa cemberut seperti itu?”tanya Devara


“Kalo tiap hari seperti ini bisa-bisa tubuhku remuk Dev..bisa kan kita tidak melakukannya setiap hari?”gerutu Ayra kesal.


“Maaf sayang..tapi aku tak bisa”jawab Devara tegas


“Kenapa?”tanya Ayra bingung


Devara langsung memeluk tubuh Ayra hingga tubuh keduanya tak berjarak.


“Karena aku sangat menginginkanmu. Dan jangan lupakan kalo kau juga menyukainya, iya kan?”goda Devara


“Mana ada”kelit Ayra bohong


“Buktinya kau juga tak melawan, itu artinya kau juga menyukainya kan?”goda Devara lagi.


“Kenapa dia bisa tau?”gerutu Ayra dalam hati


Karena pada kenyataannya, Ayra juga menikmatinya. Betapa Devara sangat memujanya saat mereka melakukannya. Devara juga melakukannya dengan sangat profesional. Hingga membuat dirinya hanyut dalam permainan Devara. Namun sebagai wanita, tentu saja sekuat tenaga Ayra menyangkalnya.


“Paling tidak..ijinkan aku punya waktu untuk sendiri. Me time, kau juga tau kan Dev?”tanya Ayra


“Bagaimana aku bisa melakukannya jika berada di dekatmu selalu membuat yang di bawah sana meronta?”tanya Devara sambil menatap bagian bawah tubuhnya.


“Dasar mesum!”gerutu Ayra sambil memukul dada bidang Devara


Devara tergelak mendengar Ayra menyebutnya dengan panggilan mesum.


“Aku bukannya mesum. Aku hanya terlalu mencintaimu”goda Devara


Devara mengecup kening Ayra, membuat kekesalan dalam hati Ayra perlahan sirna. Karena Ayra sadar betapa Devara sangat mencintainya dan menyayanginya.


Ayra tersenyum dan mengecup bibir Devara sekilas.


“Aku tahu”ucap Ayra


Devara tersenyum mendengar ucapan Ayra.


“Kita makan sekarang! Aku sudah lapar”ajak Devara


Ayra menganggukkan kepalanya pelan, tanda setuju. Devara dan Ayra keluar dari kamar sambil bergandengan tangan. Keduanya berjalan menuju ruang makan dengan masih mengenakan jubah mandi. Karena jiwa posesifnya yang sudah akut, membuat Devara sengaja menyuruh semua pelayan dan bodyguard untuk menyingkir dari area yang dilewati keduanya. Tak akan mungkin Devara ijinkan ada lelaki lain yang melihat sang istri. Keduanya berjalan sambil sesekali menatap pasangannya dengan penuh cinta.