Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Ayra VS Devara (2)


Di gudang sekolah, tempat perkelahian Devara dan Ayra pertama kali. Devara mengajak Ayra bertemu untuk terakhir kalinya sebelum dirinya pindah ke Inggris untuk melanjutkan kuliahnya.


“Kenapa kau mengajakku ke sini?”tanya Ayra


“Apa kau masih ingat, disini tempat pertama kali aku menciummu?”ucap Devara dengan seringai nakalnya


“Tentu saja aku ingat, karena disini juga tempat pertama kali aku berhasil memukul wajahmu”balas Ayra sambil tertawa kecil mengingat kejadian dua tahun lalu.


Devara yang melihat Ayra tersenyum setelah sekian lama, ikut tersenyum juga.


“Besok aku akan berangkat ke Inggris”ucap Devara


“Oh ya..hati-hatilah di sana”pesan Ayra


Ada rasa sakit di hati keduanya saat akan berpisah. Karena baik Devara maupun Ayra sampai sekarang belum juga berbaikan meskipun rasa cinta di hati keduanya masih sangat besar terhadap satu sama lain.


Devara berjalan dengan gagah ke arah Ayra.


“Sebelum aku pergi, aku ingin mengajakmu berduel sekali lagi. Karena pertarungan kita waktu itu belum selesai”tantang Devara


“Apa kau yakin bisa mengalahkanku?”tanya Ayra


“Tentu saja. Aku yakin aku bisa mengalahkanmu”jawab Devara mantap


“Baiklah aku terima tantanganmu”sahut Ayra


Devara dan Ayra sama-sama tersenyum. Devara segera melepas kemeja seragamnya hingga menampakkan kaos hitam yang ada di balik kemejanya. Ayra juga berganti baju terlebih dahulu, dengan memakai seragam olahraganya di kamar mandi sekolah.


Ayra mengikat terlebih dahulu rambut panjangnya dengan ikatan kucir kuda supaya rambutnya tidak mengganggu pergerakannya. Dan seperti biasa, Devara selalu dibuat terpesona dengan kecantikan Ayra yang saat ini sedang mengikat rambutnya.


“Apa kau sudah siap?”tanya Devara


“Iya..aku sudah siap”jawab Ayra


Keduanya mulai pasang kuda-kuda untuk saling menyerang. Keduanya berkelahi dengan sangat sengit. Pukulan dan tendangan melayang ke segala arah. Mereka berdua memang sangat imbang. Kemampuan beladiri keduanya sama-sama hebat. Masing-masing juga memiliki pertahanan yang sangat baik, hingga pukulan dan tendangan yang diarahkan bisa dengan mudah ditangkis.


Dalam hati, Devara sangat menikmati pertarungannya dengan Ayra. Gadis tomboy yang sangat jago berkelahi, tetapi juga sangat cengeng.


Gadis yang berhasil mencuri hatinya sejak mereka berkelahi di tempat itu.


Mereka berkelahi hampir satu setengah jam lamanya namun belum ada tanda-tanda keduanya menyerah. Dengan nafas yang terengah-engah dan keringat yang bercucuran, mereka berdua ngotot memenangkan pertarungan.


“Apa kau sudah menyerah?”tanya Devara dengan nafas terengah-engah


Mereka melanjutkan pertarungan mereka yang sangat sengit dan seru. Dan saat tangan kiri Ayra berhasil menarik kaos Devara, Devara menahan tangan tersebut dengan tangan kanannya. Sementara tangan kanan Ayra yang hendak memukul Devara juga berhasil ditahan oleh tangan kiri Devara. Jadilah kini keduanya mematung untuk beberapa saat. Mata Devara menatap tajam ke arah mata Ayra. Keduanya saling bertatapan. Dengan tangan keduanya yang masih saling mencengkeram kuat.


“Apa kau masih belum bisa memaafkan aku?” bisik Devara pelan dengan tatapan matanya yang terus menatap mata Ayra.


Ayra terdiam. Terbayang kembali semua yang sudah dilaluinya bersama Devara. Semua kenangan indah saat mereka bersama. Kemudian kenangan buruk saat Gina hadir di antara keduanya. Rasa sakit yang dirasakan Ayra ternyata masih belum juga sembuh. Semua ucapan dan perlakuan Devara yang menyakiti hatinya membuat Ayra belum bisa memaafkan lelaki yang sangat dicintainya itu.


Perlahan Ayra melepaskan cengkeraman tangannya di kaos yang dipakai Devara. Tangan kanannya pun perlahan turun. Membuat Devara juga menurunkan tangannya yang menahan tangan Ayra.


Tanpa Devara sadari rupanya Ayra hanya pura-pura menyerah. Dengan secepat kilat, Ayra segera meraih lengan Devara kemudian membanting Devara tepat di matras yang ada di gudang itu. Devara yang tak menyangka mendapat perlawanan Ayra hanya bisa pasrah saat dirinya sudah tergeletak di matras, dengan tubuh Ayra di atas tubuhnya dengan tangan yang mengepal hendak memukulnya. Dan saat Ayra dengan sekuat tenaga akan memukul wajah Devara, Devara tampak pasrah tanpa berkedip sedikitpun dari Ayra. Tatapan Devara berhasil membuat Ayra menghentikan pukulan tangannya tepat di depan wajah Devara membuat Devara tersenyum penuh arti.


Dan akhirnya giliran Devara yang membanting tubuh Ayra ke atas matras. Dengan posisi tubuh Devara kini berada di atas tubuh Ayra. Persis dengan kejadian dua tahun yang lalu.


“Kau curang”protes Ayra karena kini dirinya dikungkung Devara.


Devara tersenyum melihat Ayra yang cemberut. Devara segera mendekatkan wajahnya ke depan wajah Ayra yang masih cemberut. Melihat Devara hendak menciumnya, Ayra segera memalingkan wajahnya.


Mendapat penolakan dari Ayra, membuat Devara sedikit kecewa. Devara pun segera berdiri dari atas tubuh Ayra lalu membantu Ayra bangun dengan mengulurkan tangannya.


Ayra menerima uluran tangan Devara lalu bangun dari matras.


“Terimakasih”ucap Ayra tulus.


“Ay..maafkan aku. Maaf jika aku dulu sudah menyakiti hatimu. Itu semua karena aku dibutakan rasa cemburu”pinta Devara


“Aku tahu”jawab Ayra


“Lalu kenapa kau masih susah memaafkanku?”tanya Devara.


“Aku mungkin sudah memaafkanmu..tapi aku tak bisa melupakan yang sudah terjadi begitu saja”jawab Ayra


“Setidaknya beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya”pinta Devara


Ayra masih bingung. Di satu sisi, dia masih sangat mencintai Devara dan ingin memberinya kesempatan. Namun di sisi lain, luka yang dibuat Devara yang pernah menyebutnya dengan sebutan “gadis murahan” dan “pelacur” benar-benar membekas di hati Ayra.


“Aku belum bisa Dev..maaf”ucap Ayra


Ayra kemudian pergi meninggalkan Devara dalam kekecewaan dan penolakan Ayra.


“Aku akan buat kau kembali padaku..tunggu saja”gumam Devara dalam hati sambil menyaksikan Ayra yang pergi meninggalkan dirinya seorang diri di gudang itu.