
Keesokan paginya,
Ayra dan Devara membantu Bunda dan bi Inah. Mereka memanen sayur-sayuran yang ada di kebun. Ayra pagi itu terlihat sangat cantik dengan rambutnya yang dikepang. Ayra mengenakan sebuah kaos putih lengan pendek yang dipadu dengan overall jeans biru muda. Tak lupa Ayra memakai topi bulat kesayangannya.
Sementara Devara mengenakan kaos putih lengan pendek dan celana jeans warna biru muda.
“Kalian mau kemana?”tanya bunda melihat kedua pasangan kekasih itu memakai pakaian couple.
“Ga mau kemana-mana kok bund. Emang kenapa?”tanya Ayra
“Non Ayra sama den Devara sehati banget ya Nyah..bajunya bisa kembaran gitu”goda bi Inah
Ayra dan Devara saling bertatapan. Mereka juga kaget karena pilihan baju yang mereka gunakan benar-benar sama.
“Udah Nyah..cepetan dinikahin aja..keburu diambil orang calon mantunya itu”pinta bi Inah pada Bunda
Bunda hanya tersenyum mendengar permintaan bi Inah. Ayra yang mendengar perkataan bi Inah jadi malu.
“Ihh..apaan si bi Inah? lulus SMA aja belum”gerutu Ayra
“Di sini banyak lho non, lulus SMA langsung nikah. Ya Nyah ya?”ucap bi Inah sambil tangannya terus memanen sayur sawi di kebun.
“Biar mereka kuliah dulu bi..abis itu terserah mereka mau nikah kapan”goda Bunda pada kedua pasangan kekasih muda itu.
Membuat Devara hanya bisa tersenyum mendengar penuturan Bunda. Sementara Ayra sudah sejak tadi mengerucutkan bibirnya.
“Bunda kenapa ikut-ikutan bi Inah sih”gerutu Ayra dalam hati
“Sayang..ajak Dev melihat kebun bunga milik kakek. Ambilkan beberapa bunga untuk hiasan di rumah”pinta Bunda
“Baik Bund”sahut Ayra
“Ayo jalan!”ajak Ayra pada Devara
“Kemana?”tanya Devara yang tadi memang tidak terlalu mendengarkan permintaan Bunda.
“Ke kebun bunga. Bunda mau dipetikin beberapa bunga”jawab Ayra
“Iya Dev..temani Ayra ke kebun bunga ya..Biar kalian bisa jalan-jalan juga”pinta Bunda
“Baik Bunda”jawab Devara
Ayra dan Devara berjalan berdua menuju arah kebun bunga yang dimaksud Bunda.
Kebun bunga milik kakek Ayra adalah kebun bunga terbesar di daerah itu. Kebun dengan beraneka macam bunga dan warna yang masih segar menyejukkan mata semua orang yang melihatnya. Ada bunga mawar aneka warna, bunga krisan, anggrek dan beberapa bunga lainnya.
Sepanjang perjalanan menuju kebun bunga yang lumayan jauh dari rumah, Devara terus menggenggam tangan Ayra. Keduanya berjalan dengan senyum yang terus terpancar dari bibir keduanya.
“Bi Inah lucu juga ya orangnya”ucap Devara
“Iya..orangnya polos banget”jawab Ayra
Ayra dan Devara berbincang-bincang sepanjang perjalanan. Sampai di kebun bunga, mereka langsung menyapa penjaga kebun lalu memetik beberapa bunga yang diminta Bunda.
Ayra memetik beberapa bunga krisan yang sudah mekar. Bunga krisan segar yang biasa dijadikan hiasan di rumah oleh Bunda. Saat sedang memilih bunga, Ayra melihat ada ulat bulu kecil. Tiba-tiba muncul ide di kepala Ayra untuk menjahili Devara. Diambilnya ulat bulu itu secara perlahan menggunakan sehelai daun.
“Dev..kemarilah”pinta Ayra
Devara yang baru menikmati pemandangan kebun bunga yang indah, begitu mendengar Ayra memanggil namanya, langsung datang mendekat.
“Ada apa?”tanya Devara sambil duduk berjongkok di samping Ayra.
“Hiiiiii…”Ayra mendekatkan ulat bulu kecil yang tadi ditangkapnya ke depan wajah Devara.
Devara yang melihat makhluk kecil berbulu di depan matanya langsung terbelalak. Devara segera berusaha menghindar hingga terjungkat ke belakang.
“Buang jauh-jauh ulat itu!”gertak Devara
“Hahahahaha”Ayra tertawa dengan riang karena berhasil menjahili Devara, pacarnya yang terkenal sangar dan hobi membuat onar alias trouble maker yang ternyata sangat takut pada serangga.
Ayra tertawa dengan terbahak-bahak sampai perutnya sakit. Sementara Devara dengan wajahnya yang pucat, hanya bisa mendengus kesal pada kekasihnya yang sudah berhasil mengerjainya.
“Kau sengaja kan mengerjaiku?”tanya Devara sambil berdiri lalu mendekat ke arah Ayra.
Ayra yang melihat Devara menghampirinya dengan wajah penuh kemarahan, langsung berlari menghindari kemarahan Devara. Jadilah kedua pasangan sejoli itu berlarian di sekitar kebun bunga.
“Kemari kau gadis nakal”seru Devara
“Ga mau”jawab Ayra sambil terus menghindari Devara
Kelakuan kedua pasangan sejoli itu menjadi pemandangan yang dinikmati pekerja kebun bunga milik kakek Ayra. Mereka terlihat menahan tawa menyaksikan Ayra dan Devara yang kejar-kejaran mengitari kebun bunga.
Karena langkah kaki Devara yang lebih lebar, maka tak memerlukan waktu yang lama bagi Devara untuk bisa menangkap Ayra. Begitu Ayra dalam jangkauannya, Devara segera meraih tangan Ayra lalu menarik tangannya sehingga Ayra masuk dalam dekapan Devara.
Ayra yang tertangkap Devara hanya bisa berontak.
“Lepasin Dev..Banyak orang”pinta Ayra sambil menahan tawanya melihat ekspresi Devara yang marah padanya.
Tangan Ayra terus berusaha melepaskan tangan Devara yang melingkar di pinggang rampingnya.
“Jangan harap aku akan melepaskanmu kali ini” ucap Devara sambil tersenyum nakal.
“Kau mau apa?”tanya Ayra melihat tatapan nakal Devara.
Ayra sampai membelalakkan matanya melihat Devara yang semakin mendekatkan kepalanya.
“Jangan-jangan dia mau menciumku disini!”gumam Ayra dalam hati
“Jangan macam-macam Dev..disini banyak pekerja kebun kakek.. kalo mereka melaporkan kelakuanmu padaku, tanggung sendiri akibatnya kalo Ayah sampai marah”ancam Ayra
Devara memang berniat mencium gadis nakal yang sudah menjahilinya itu. Namun mendengar ancaman Ayra, Devara tampak berpikir sejenak.
“Benar juga..disini kan bukan wilayah kekuasaanku. Ahhh..menyebalkan!”gerutu Devara dalam hati.
Devara kemudian melepaskan tubuh mungil Ayra.
“Ahh..syukurlah..dia mau melepaskan aku”gumam Ayra dalam hati melihat Devara yang perlahan melepaskan tubuhnya
“Cepat ambil bunganya..setelah itu kita pulang”ajak Devara
Ayra mengangguk pelan. Setelah mengambil beberapa tangkai bunga krisan, Ayra dan Devara kembali ke rumah kakek.
Siangnya, setelah makan siang dan berkemas, mereka pun kembali ke kota. Mereka semua berpamitan dengan bi Inah dan Pak Wahid. Bi Inah yang berpamitan dengan Ayra sampai memeluk tubuh mungil Ayra.
“Ayra pulang dulu ya bi”pamit Ayra sambil membalas pelukan bi Inah.
“Iya non..ati-ati di jalan ya..Ingat pesen bibi, jangan lama-lama pacaran. Mending cepetan nikah aja”pesan bi Inah
“Bibiiiii”seru Ayra dengan wajah memerah
Ayah, Bunda, Devara dan Pak Wahid sampai tertawa mendengar pesan bi Inah.
“Kami pulang dulu ya bi”
“Iya Nyonya..sering-sering kesini ya?”
“Iya bi..kami usahakan”
Devara yang akan berjabatan tangan dengan bi Inah sampai membelalakkan matanya saat tiba-tiba di peluk oleh bi Inah.
“Den Devara jangan pulang..disini aja nemenin bibi”pinta bi Inah
Ayra yang melihat Devara tak berkutik dalam pelukan bi Inah hanya bisa cekikikan melihat pacarnya di peluk erat bi Inah yang bertubuh gemuk.
Devara melotot ke arah Ayra sambil memberi isyarat supaya menolongnya.
“Udah bi..kasihan Devara ga bisa nafas”ucap Ayra sambil melepaskan pelukan bi Inah di tubuh besar Devara.
Begitu terlepas dari bi Inah, Devara merasa lega sekali.
Akhirnya Ayah, Bunda, Ayra dan Devara kembali ke kota. Dengan Ayah dan Devara yang mengemudikan mobil secara bergantian. Sepanjang perjalanan, mereka berempat berbincang layaknya keluarga. Suasana hangat di dalam keluarga Ayra, membuat Devara sangat bahagia.
Saat giliran Devara menyetir, Devara melirik ke spion mobil. Dilihatnya Ayah, Bunda dan Ayra yang sedang tertidur selama perjalanan.
Devara tampak tersenyum, melihat keluarga Ayra yang sangat hangat dan mau menerima dirinya. Membuat Devara sejenak merasakan memiliki keluarga. Karena jauh di lubuk hati Devara, dia sangat merindukan kehangatan keluarganya.
*
*
*
*
Sesampainya di rumah Ayra,
Devara membantu Ayah mengeluarkan semua tas dan barang yang ada di dalam mobil. Devara yang menurunkan barang, sementara Ayah dan Bunda membawa tas dan koper ke dalam rumah.
“Kalo sudah semua, kalian segera masuk ke rumah ya?”pinta Bunda.
“Iya bund”jawab Ayra dan Devara hampir bersamaan.
Saat keduanya sudah sendirian, hanya berdua saja di garasi mobil, Devara tampak clingukan memantau keadaan. Sementara Ayra masih sibuk mengambil tas jinjing dan topi kesayangannya yang ada di kursi tengah. Setelah menutup pintu mobil dan berbalik badan, Ayra kaget karena Devara sudah berada di belakangnya dengan satu tangannya bersandar di pintu mobil.
“Ka..kau mau apa?”tanya Ayra dengan terbata-bata karena aura Devara yang menatapnya dengan tatapan nakalnya.
Devara hanya diam sambil menyunggingkan salah satu sudut bibirnya membuat Ayra kuatir akan keselamatan dirinya.
“Jangan macam-ma….”
“Cuupppp…”
Ayra terbelalak dengan jantungnya yang berdetak sangat cepat karena kali ini Devara berhasil mengecup bibirnya dengan cepat.
Devara menahan tawanya melihat Ayra yang membeku setelah menerima kecupan di bibirnya yang lembut. Ayra yang sadar sudah dikecup Devara, segera memukul lengan Devara sekuat tenaga.
“Awww…”Devara mengelus lengannya yang baru saja dipukul gadis yang baru dikecupnya itu sambil menahan tawanya.
“Itu pembalasan dariku karena kau berani mengerjaiku di kebun bunga tadi”ucap Devara
“Kalian sedang apa?”suara bunda menyapa gendang telinga keduanya.
Ayra dan Devara menoleh bersamaan ke arah Bunda.
“Gawat! Apa Bunda melihat aku mengecup bibir Ayra”gumam Devara dalam hati
“Ah..ga papa kok Bund..kami masuk sekarang”jawab Ayra
“Dev..apa kau sakit? Wajahmu kelihatan pucat”tanya Bunda melihat Devara yang kelihatan pucat
Ayra segera menoleh ke arah Devara. Memang benar, wajah Devara kelihatan pucat.
“Aku gapapa kok Bund..mungkin capek”jawab Devara sekenanya dengan senyum yang dipaksakan.
Bunda kemudian masuk ke dalam rumah.
“Kau kenapa? Pucat banget”tanya Ayra kuatir
“Bunda tadi ga liat kan?”tanya Devara
“Liat apa?”tanya Ayra bingung
“Waktu aku cium kamu tadi”sahut Devara
Ayra menahan tawanya. Rupanya Devara pucat karena takut ketahuan Bunda sudah menciumnya tadi.
“Jadi kamu pucat karena takut ketahuan Bunda? Makanya jangan macam-macam disini”ucap Ayra
“Tenang saja, sepertinya Bunda ga liat. Tapi jangan ulangi lagi. Kau mengerti”ancam Ayra
“Sialan! Baru nyip*k bentar doang dah hampir ketahuan..Bikin spot jantung aja”gerutu Devara dalam hati
Setelah merasa lebih tenang, akhirnya Devara pamit pulang setelah dijemput Pak Arga naik mobil. Sementara motor besar Devara dibawa salah satu bodyguard-nya.