
Siang itu,
Seperti biasa, Devara menunggui Ayra pulang untuk pulang bersama. Begitu Ayra keluar kelas, Devara segera menghampiri Ayra lalu menggandeng tangannya. Walaupun mereka sudah lebih dekat, tapi Ayra masih merasa risih dengan perlakuan “pacarnya” itu. Apalagi dengan begitu banyak pasang mata yang memperhatikan, Ayra berusaha berontak. Melepaskan genggaman tangan Devara.
“Hyaa..lepasin. Banyak yang liatin” protes Ayra sambil mengibaskan tangannya beberapa kali.
Tapi Devara tetap saja tak menghiraukan permintaan Ayra. Genggaman tangannya sangat erat.
“Hyaa..aku bisa jalan sendiri..Lepaskan!”protes Ayra lagi.
“Hyaa..hyaa... Kenapa sulit sekali sih panggil namaku? Aku juga punya nama. Sudah hampir sebulan kamu jadi pacarku kenapa kamu tak pernah memanggil namaku? Hah?”protes Devara
Ayra terdiam. Ayra bukannya tak mau memanggil nama Devara. Tapi lidahnya kelu setiap akan menyebut namanya. Sejujurnya Ayra masih belum terbiasa dengan predikat “pacar seorang Devara”. Setiap melihat Devara, entah kenapa rasanya dia selalu ingin marah-marah. Tapi jika Devara tak ada, dia merasa ada yang kurang. Selama ini pun mereka masih juga sering berdebat dan bertengkar hanya karena masalah sepele.
“Sudahlah..tunggu disini”perintah Devara sambil melepaskan genggaman tangannya.
Ayra menurut. Ditunggunya Devara yang sedang mengambil mobilnya. Ayra mengamati punggung lebar Devara yang berjalan menuju tempat parkir.
“Kenapa melihat Devara yang marah-marah malah terlihat manis sih? Sudah gila juga aku rupanya” gumam Ayra dalam hati
Ayra menunggu Devara di tempat biasa, sambil memainkan kakinya, tiba-tiba,
“Duuuukkkk”
“Aduhhh” Ayra memegang kepalanya.
Rupanya ada bola basket yang melayang ke arahnya dan mengenai kepalanya. Kejadian itu dilihat oleh Devara yang sedang berada di mobilnya menuju ke arah Ayra. Devara segera menghentikan laju mobilnya di depan Ayra lalu segera turun dan menghampiri Ayra dengan wajah yang khawatir.
“Kau tak apa-apa”tanya Devara sambil memegang pundak Ayra
“Oh..iya. Aku tak apa-apa” jawab Ayra sambil mengelus-elus kepalanya.
Devara melihat bola basket di dekat Ayra lalu memungutnya. Seseorang berlari mendekati Ayra bermaksud mengambil bola basket itu.
“Maaf..maaf..kau tak apa-apa?” tanya anak itu yang kemudian matanya terbelalak kaget ketika mendapati orang yang terkena bola adalah Ayra, dan Devara yang berdiri setelah memungut bola itu menoleh ke arahnya dengan wajah sangar. Menahan marah.
Ayra yang melihat pancaran kemarahan di mata Devara segera menatap ke anak tadi.
“Iya..iya..aku tak apa-apa”jawab Ayra sambil menggelengkan kepalanya pelan memberi tanda supaya anak tadi segera pergi.
“Syu..syukurlah..Ka..ka..kalau begitu..aku pergi dulu” ucap anak tadi terbata-bata.
“KAU MAU PERGI KEMANA?”teriak Devara marah dengan suara yang menggelegar.
Dilemparkannya bola basket tadi ke arah anak tadi sekeras-kerasnya sampai anak itu terjatuh. Lalu Devara segera menghampiri anak tadi. Ayra kaget melihat Devara yang marah besar. Diapun segera berdiri dan menghampiri Devara. Ayra menarik tangan Devara berusaha menenangkannya.
“Tenanglah! Dia tak sengaja. Biarkan dia pergi” seru Ayra sedikit panik.
“Beraninya kau melempar bola itu sampai mengenai pacarku? Apa kau sudah bosan hidup?” teriak Devara penuh kemarahan
“Hei..tenangkan dirimu! Aku tak apa-apa. Lagipula dia tak sengaja. Sudahlah, biarkan dia pergi” pinta Ayra
Devara tetap tak bergeming. Anak tadi juga tak berani bangun. Melihat Devara yang sangat marah, dia benar-benar tak bisa berkutik. Teman-teman anak tadi juga tak ada satupun yang berani mendekat menolong anak tadi. Semua orang di sekitar tempat kejadian menatap ke arah Devara dan Ayra. Semua yang menyaksikan benar-benar ketakutan melihat kemarahan Devara. Devara menarik kerah baju anak tadi dengan sekuat-kuatnya. Anak tadi hanya pasrah, tak melawan.
“Hei Dev..biarkan dia pergi”ucap Ayra lagi tapi Devara tetap tak menghiraukan panggilan Ayra
Devara mengepalkan tangannya hendak melayangkan bogem mentahnya ke wajah anak tadi.
“DEVARA”teriak Ayra memanggil nama Devara untuk pertamakalinya.
Devara segera menoleh ke arah suara.
“Lepaskan dia..Biarkan dia pergi”pinta Ayra dengan wajah memelas.
Mendengar namanya disebut Ayra membuat Devara senang, dan emosinya perlahan mereda. Devara akhirnya menurut. Dilepaskannya anak itu.
“Pergi dari sini” perintah Devara.
Anak itu segera berlari meninggalkan Ayra dan Devara. Ayra menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya sejenak. Dia sangat lega bisa menghentikan “pertarungan”Devara. Sudut bibir Devara tersungging. Dia tersenyum.
“Akhirnya..kau menyebut namaku juga” ucap Devara senang
“Aku terpaksa”ucap Ayra pelan
“Dev..Dev..”panggil Ayra sambil memegang lengan Devara
Devara menoleh. Dilihatnya tangan Ayra yang memegang lengannya. Wajahnya sumringah. Ayra salah tingkah. Dilepaskannya lengan Devara.
“Ka..kau mau main basket?”tanya Ayra sambil menunjuk lapangan basket outdoor tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Ayra segera berjalan dengan setengah berlari menuju lapangan basket menahan malu. Sementara Devara mengikutinya dari belakang sambil senyum-senyum sendiri.
“Aduhhh..kenapa aku tadi memegang lengannya?” gerutu Ayra dalam hati.
Sampai di lapangan basket, Ayra memungut bola basket yang ditinggalkan teman-teman anak tadi. Ayra meletakkan tasnya dikursi penonton. Lalu mulai memainkan bola basket itu. Ayra memang tidak terlalu mahir bermain bola basket. Beberapa kali bola itu lepas dari tangannya. Devara tersenyum melihat Ayra yang beberapa kali harus berlari mengejar bola basket yang menggelinding dan lepas dari tangannya.
Devara ingat, dulu saat pelajaran olahraga basket, Ayra juga sama seperti sekarang. Berlari mengejar bola basket yang terus menggelinding.
“Kau tak bisa main basket?”tanya Devara sambil berjalan menghampiri Ayra.
Ayra tak menjawab. Dia berusaha melakukan jump shot, tapi bola itu tak masuk. Ayra cemberut karena bolanya tak masuk. Devara segera mengambil bola itu dan mendribble bola lalu melakukan lay up sempurna. Bola itu masuk ring. Devara mengangkat kedua tangannya di udara dengan bangga.
Ayra mengambil bola lalu mendribble nya, tapi Devara segera berlari dan merebut bola itu. Ayra kesal. Akhirnya mereka bermain berdua. Beberapa kali mereka berebut bola. Wajah keduanya tampak bahagia. Ayra beberapa kali kalah dalam perebutan bola. Karena tubuhnya memang lebih mungil dibandingkan dengan Devara yang bertubuh besar. Akhirnya Ayra menyerah.
“Udah ah..ga asyik”gerutu Ayra lalu dia berjalan kearah jalan keluar lapangan.
Devara yang tahu Ayra kesal segera berlari mengejarnya dengan bola basket ditangannya. Devara berdiri di depan Ayra.
“Ayo sini..aku ajari” ucap Devara sambil membalikkan tubuh Ayra.
Bola basket diberikan kepada Ayra, lalu Devara berdiri dibelakangnya dengan tangannya juga memegang bola itu.
“Begini caranya..pegang seperti ini”ucap Devara sambil mengajari Ayra memegang bola
“Begini?”tanya Ayra
Tanpa sadar tangan keduanya saling bersentuhan.
“Kalau sudah, kau arahkan bolanya ke ring”ucap Devara fokus
Ayra yang menoleh ke arah Devara, merasa jantungnya berdebar-debar dengan sangat kencang. Bukan karena kelelahan bermain bola, tetapi karena menatap wajah tampan Devara yang sedang focus mengajarinya.
“Dia sangat tampan. Apalagi jika sedang serius seperti sekarang. Aduhhh..jantungku…”gumam Ayra dalam hati mengagumi ketampanan Devara. Pacarnya.
Devara menoleh kearah Ayra. Ayra kaget lalu segera mengalihkan pandangannya.
“Wahhh..lihat..tanganmu besar sekali, ya kan?” ujar Ayra sambil membandingkan ukuran tangan mereka.
Devara jadi ikut tertawa mendengar ucapan Ayra. Jelas saja, tangan Devara kelihatan besar. Karena Ayra juga mungil. Ayra melihat jam di tangan Devara, sekarang sudah jam 14.30. Sudah waktunya pulang.
“Sudah hampir sore..aku harus pulang” ucap Ayra.
“Kenapa buru-buru? Kau ada acara?”tanya Devara melihat Ayra buru-buru.
“Semalam kan aku dah bilang. Aku harus packing. Besok aku mau piknik” jawab Ayra
Devara baru ingat. Semalam saat ditelpon, Ayra sudah bilang, lusa dia mau piknik dengan Ayah Bunda nya ke kampung halaman kakek buyut dari Bundanya.
“Ya sudah..ayo pulang”ucap Devara sedikit sedih
Akhirnya mereka pulang. Devara mengantar ke rumah Ayra.
“Besok kau berangkat jam berapa?” tanya Devara
“Mungkin pagi. Biar tidak rame”jawab Ayra
“Oya, disana mungkin tidak ada sinyal. Jadi jangan menelponku”ucap Ayra mengingatkan.
Dia takut Devara akan “meneror”nya berkali-kali seperti dulu saat dia di Singapura. Padahal daerah kakek buyut Bundanya memang susah sinyal.
“Benarkah? Kampung kakek buyutmu masih di Indonesia kan? Kenapa tidak ada sinyal?” tanya Devara penasaran
“Kampung itu agak pelosok. Setauku disana memang tidak ada sinyal”jawab Ayra
“Menyebalkan”umpat Devara kesal
Ayra hanya bisa tersenyum melihat kekesalan Devara. Dalam hati dia juga sedikit bersyukur, setidaknya selama seharian besok Devara tak akan mengganggunya.
Sejak resmi jadi pacarnya, setiap malam Devara selalu menelponnya. Herannya mereka selalu punya bahan pembicaraan. Walaupun kadang mereka masih suka bertengkar, tapi ngobrol dua sampai tiga jam setiap malam membuat mereka mulai belajar beradaptasi, menerima kepribadian masing-masing.