
Di rumah Nadine,
Ayah sudah sampai di depan rumah Nadine. Ayra pun berpamitan pada Nadine.
“Ayah tumben jam segini udah pulang?”tanya Ayra pada Ayahnya
“Iya..ayah ada keperluan di luar sebentar. Nanti balik lagi ke kantor”
“Oo..kirain dah boleh pulang”
Tiba-tiba hp Ayah Aldi berdering. Ayah mengangkat telpon itu.
“Iya Pak..saya baru di jalan..baik..saya kembali ke kantor sekarang”
Ayah menutup telpon setelah lawan bicaranya memutus panggilan.
“Ada apa Yah?”
“Ay..ayah harus ke kantor sekarang.. Kamu ga papa kan ikut Ayah ke kantor sebentar” pinta ayah
“Oke..ga papa Yah”jawab Ayra
Akhirnya keduanya berkendara menuju kantor polisi tempat Ayah Ayra bekerja. Saat memasuki pelataran kantor polisi, Ayra sempat melihat sekilas, anak buah Devara yang disuruh jongkok berdiri oleh beberapa polisi.
“Bukankah mereka anak buah si cowok gila itu?”gumam Ayra dalam hati sambil menatap ke arah anak buah Devara yang sedang dihukum fisik oleh polisi di sana.
Ayah yang melihat Ayra tertinggal di belakangnya segera menghampiri Ayra. Dan ikut menatap gerombolan pemuda yang sedang dihukum fisik oleh polisi.
“Kamu kenal mereka, sayang?”tanya Ayah
“Sepertinya mereka anak-anak dari sekolahku sih Yah? Memangnya mereka kenapa Yah?”tanya Ayra penasaran
“Oo..paling mereka ketangkap abis balapan liar. Biasalah anak muda jaman sekarang, Sukanya hal-hal yang menantang. Ayo masuk! Kamu tunggu Ayah di dalam saja”ajak Ayah
Ayra pun berjalan mengikuti Ayahnya. Sampai di dalam kantor polisi, Ayra menyapa teman Ayahnya. Mereka kemudian menuju kantor polisi senior atasan Ayah di lantai atas. Saat masih berjalan di koridor, Ayra yang melihat si cowok tengil gila sinting musuh bebuyutannya, Devara, sedang duduk sendiri di depan ruangan kantor polisi senior tampak mengernyitkan dahinya.
“Bukankah itu si cowok gila? Bikin ulah apa lagi dia itu?”gumam Ayra dalam hati
Devara yang melihat kehadiran Ayra juga tampak mengernyitkan dahinya.
“Kenapa gadis itu di sini?”gumam Devara sambil menatap Ayra yang kini berdiri tak jauh dari dirinya.
“Ay, kau tunggu di sini sebentar ya?”pinta Ayah
“Iya Yah”jawab Ayra sambil menganggukkan kepalanya.
Ayra lalu duduk di kursi sofa yang sama dengan Devara namun jaraknya agak jauh. Ayah berjalan masuk ruang kantor polisi seniornya sambil melirik Devara sepintas. Dua remaja yang masih satu sekolah dan sempat terlibat insiden di Gudang itu hanya saling melirik satu sama lain. Tanpa ada seorang pun yang berani berbicara.
Ayra memilih menganggap Devara tak ada. Karena dia masih jengkel dengan kelakuan Devara di gerbang sekolah tadi. Sementara Devara menatap gadis cantik yang tadi siang digodanya. Akhirnya Devara mengajak Ayra bicara.
“Ngapain kamu disini?”tanya Devara
Ayra mengambil majalah dan membacanya untuk mengusir kebosanan. Sebenarnya Ayra mendengar ucapan Devara tetapi memilih fokus pada majalah yang dibacanya sekarang.
“Hei..gadis pindahan! Kenapa kau diam saja? Apa kau tuli?”sindir Devara
Ayra hanya menghela nafasnya pelan.
“Kurang ajar! Tenang Ayra..aku harus tenang”gumam Ayra dalam hati
“Apa kau mendadak gagu?”ejek Devara lagi
Devara yang kesal karena sudah diacuhkan oleh Ayra akhirnya mendekati Ayra dan duduk di sebelahnya. Lalu Devara merampas majalah yang dipegang Ayra.
“Kenapa kau diam saja? Aku bicara denganmu”seru Devara kesal
Ayra menoleh ke arah Devara dengan wajah yang sangat jengkel.
“Kenapa menggangguku? Anggap saja kita tak saling kenal!”ucap Ayra ketus.
“Apa kau masih marah karena ucapanku tadi siang?”tanya Devara
Ayra menatap Devara dengan jengah. Kemudian mata Ayra tertuju pada pipi sebelah kiri Devara yang tampak memar, dengan sedikit luka di ujung bibirnya bekas perkelahian tadi.
Tapi Ayra segera menepiskan tatapannya, ketika melihat Devara yang menatapnya tajam.
“Kau disini karena habis berkelahi ya?”sindir Ayra
“Maksudmu ini?”tunjuk Devara pada pipi dan ujung bibirnya.
Devara segera membalik tubuhnya sejajar dengan Ayra.
“Aku hanya sedang sial”
Ayra tersenyum dengan sinis pada Devara. Lalu mengambil majalah yang sebelumnya dirampas Devara. Melihat Ayra yang hendak merebut majalah di tangannya membuat Devara menoleh ke arah Ayra. Dengan tangannya yang tak melepaskan majalah itu.
Ayra mengernyitkan dahinya.
“Kenapa dia tak mau melepaskan majalah ini?”gumam Ayra dalam hati
Sementara Devara dengan senyum tersungging di salah satu sudut bibirnya memang sengaja mau menggoda Ayra.
“Hei..lepasin majalahnya”pinta Ayra ketus
“Ga mau”
“Ga mau”
Jadilah kedua remaja tanggung itu saling berebut majalah. Keduanya tak mau mengalah.
“Tuan muda”sapa Arga, asisten pribadi Devara
Suara Arga mengagetkan Ayra dan Devara. Membuat keduanya menoleh bersamaan ke arah Arga. Ayra segera melepaskan genggamannya di majalah tadi. Ayra kemudian duduk menjauh dari Devara.
Devara berdiri dari tempatnya.
“Apa aku bisa pulang sekarang?”tanya Devara
“Sebentar tuan muda. Saya temui polisi senior di ruangannya. Tuan muda tunggu sebentar”
Devara mendengus kesal lalu duduk lagi di kursinya. Begitu melihat majalah yang tadi diperebutkannya dengan Ayra, Devara mengambil majalah itu lalu melemparkannya pada Ayra.
Ayra yang kaget dengan kelakuan Devara menjadi naik darah.
“Bisa lebih sopan ga sih? Ngasih malah dilempar-lempar. Memangnya majalah ini punyamu!”sungut Ayra penuh emosi.
“Tadi kan kau yang mau majalah itu. Sekarang aku kembalikan. Kenapa kau malah marah-marah?”
“Balikinnya biasa aja kali..ga pake dilempar-lempar juga”
“Jadi kamu ga mau majalah ini?”tanya Devara mengambil majalah tadi
“Kalo begitu aku buang saja”ucap Devara lalu membuang majalah itu sembarangan. Tepat ketika Ayah membuka pintu kantor polisi senior, tiba-tiba majalah itu melayang mengenai wajah Ayah Aldi.
Ayra membelalakkan matanya saking kagetnya.
“Ayah ga papa?”
Ayra yang kaget karena majalah yang dibuang Devara justru mengenai Ayahnya membuat kemarahan dalam hati Ayra semakin menjadi-jadi.
Ayra berdiri dari kursi sofanya lalu mendorong tubuh Devara dengan kasar. Ayra tak terima Ayahnya mendapat perlakuan kasar seperti itu.
“Hyaa..lihat kelakuanmu itu! Malah kena Ayahku kan? Cepat minta maaf!”sungut Ayra
Devara yang sebenarnya tak sengaja melemparkan majalah tadi hingga mengenai Ayah Aldi, hanya mematung saja. Dia tak hendak meminta maaf. Karena tak pernah Devara melakukan itu. Kecuali pada Ayra waktu itu.
Ayah Aldi segera mendekati putri kesayangannya yang sedang terbakar emosi.
“Sudahlah Ay..anak muda ini tak sengaja. Iya kan?”tanya Ayah bijaksana
Devara hanya menganggukkan kepalanya.
“Ayo pulang Ay”ajak Ayah
Ayra yang masih kesal, segera mengambil tas ranselnya lalu pergi begitu saja meninggalkan Devara dan Ayah.
“Apa kau teman putriku?”tanya Ayah pada Devara
“Kami satu sekolah. Maaf Om saya tadi tak sengaja”
Ayah menepuk pundak Devara sambil tersenyum.
“Iya..aku pergi dulu”
Devara menatap kepergian Ayah dan Ayra.
“Kita pulang sekarang tuan muda?”suara Arga membuyarkan lamunan Devara
Devara pun melangkahkan kakinya meninggalkan kantor polisi. Devara berjalan di depan Arga. Begitu keluar dari kantor polisi, Devara berpapasan dengan mobil Ayra. Ayra yang melihat Devara malah melengos karena masih kesal.
Akhirnya Devara pulang ke rumah.
*
*
*
*
Di dalam mobil,
“Kenapa mukanya ditekuk terus sih sayang?”tanya Ayah sambil melirik sepintas putri kesayangannya.
“Gara-gara cowok tengil kurang ajar tadi bikin moodku langsung jelek”gumam Ayra dalam hati
“Kamu masih marah sama anak muda tadi?”tanya Ayah
“Dia tadi udah minta maaf sama Ayah. Udah jangan marah lagi”ucap Ayah
Ayra yang kaget mendengar Devara mau meminta maaf pada Ayahnya langsung menoleh pada Ayahnya.
“Beneran Yah?”tanya Ayra heran
Ayah mengangguk pelan.
“Tumben anak itu mau minta maaf. Bukankah dia selama ini ga mau minta maaf pada orang lain? Apa anak itu mendadak berubah? Ga mungkin lah..aahhhh..ngapain mikirin cowok sinting itu sih..buang-buang waktuku saja”gerutu Ayra dalam hati merutuki pikirannya sendiri.