Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Berkelahi dengan Polisi


Selama beberapa hari ini, pikiran Devara selalu dipenuhi dengan Ayra. Ya..gadis tomboy cantik yang sudah berkelahi dengannya di gudang waktu itu, akhir-akhir ini selalu muncul dalam pikiran Devara.


Devara tampak gusar, karena tak memahami yang terjadi dalam hatinya. Dia menggaruk-garuk kepalanya dengan kasar. Berharap bayangan Ayra menghilang dari pikirannya. Namun rupanya sosok Ayra mampu membuat seorang Devara kewalahan.


Kadang tanpa sadar, kaki Devara melangkah ke kelas Ayra. Hanya untuk melihat gadis itu. Namun ketika tiba-tiba mereka bertemu, Devara segera membalikkan badannya. Dan merutuki perbuatannya sendiri lalu melangkah pergi.


Sebenarnya Devara ingin sekali meminta maaf pada Ayra. Atas perbuatan lancangnya tempo hari yang sudah mencium Ayra secara paksa. Tetapi Devara tak memiliki kesempatan untuk meminta maaf.


Kejadian di depan toilet itu juga sebenarnya Devara ingin meminta maaf pada Ayra. Tapi karena Ayra menolak berbicara dengannya dan malah Daniel hadir diantara mereka berdua, membuat Devara tak jadi meminta maaf.


*


*


*


*


Hari itu, sepulang sekolah, karena merasa suntuk Devara mengajak genknya untuk adu balap dengan sekolah sebelah di sirkuit kota yang adalah sirkuit milik keluarga Devara.


Karena Daniel baru ada keperluan di ruang guru sepulang sekolah, maka Ayra dan Nadine terpaksa pulang naik go*ar. Mereka berjalan berdua menuju gerbang sekolah sembari menunggu kedatangan go*car pesanan mereka.


Di tengah jalan, Devara yang melihat Ayra berjalan dengan Nadine, menghentikan laju motornya tepat di samping Nadine tanpa mematikan mesin motornya.


“Ada apa Dev?”tanya Nadine melihat Devara tiba-tiba berhenti di sampingnya.


“Ngapain cowok ini berhenti di sini sih? Mengganggu pemandangan aja”gerutu Ayra dalam hati


Devara yang melihat tatapan tak suka dari Ayra malah merasa tertantang untuk menggoda Ayra.


“Hei Nad, bilang teman barumu itu”ucap Devara


“Hah..maksudmu Ayra”tanya Nadine


“Tentu saja..siapa lagi”


“Besok lagi suruh pakai lipgloss..biar bibirnya tambah lembut, hahahaha”goda Devara pada Ayra


Ayra yang merasa tersindir oleh ucapan Devara membelalakkan matanya hingga bola matanya membesar dengan mengepalkan kedua tangannya. Ayra tahu Devara hanya ingin mengganggunya dengan mengungkit kejadian di Gudang waktu itu.


Devara yang melihat api kemarahan di mata Ayra segera tancap gas sambil tertawa terbahak-bahak karena merasa berhasil mengerjai Ayra.


“Kurang ajar!! sini kamu kalo berani”umpat Ayra lantang pada Devara yang sudah berjalan menjauh dari mereka.


Ayra ingin menendang motor Devara namun Devara sudah pergi menjauh dengan tawa penuh kemenangan. Teriakan Ayra berhasil membuat Nadine dan orang-orang di sekitar Ayra menoleh padanya yang sedang mencak-mencak. Nadine segera menenangkan Ayra dengan memeluk tubuh teman barunya itu.


“Ay, tenangkan dirimu..malu diliatin banyak orang”ucap Nadine


“Cowok kurang ajar! Nyebelinnn”umpat Ayra dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.


Nadine yang melihat Ayra marah-marah pada Devara hanya bisa mengernyitkan dahinya.


“Sebenarnya ada apa antara Devara dan Ayra? Kenapa Devara mengatakan hal seperti itu?”gumam Nadine dalam hati


“Udah Ay..jangan diambil hati. Devara memang anaknya gitu. Kadang aneh”ucap Nadine mencoba menenangkan Ayra.


“Cowok gila..kalo aku ketemu lagi dengan dia. Aku akan membuat perhitungan dengannya”ucap Ayra tegas


Go*car pesanan Ayra dan Nadine sudah datang. Keduanya segera masuk mobil itu. Di dalam mobil, Ayah Aldi menelpon Ayra.


“Iya Yah..ada apa?”tanya Ayra


“Kamu pulang jam berapa Ay..Ayah jemput ya? Bentar lagi Ayah pulang”


“Aku udah di mobil Yah..aku naik go*ar sama Nadine”


“Ya sudah, kamu di rumah Nadine dulu. Nanti Ayah jemput ke sana”


“Iya Yah”


Nadine yang melihat Ayra menutup telpon, segera menanyai Ayra.


“Itu tadi Ayahmu Ay?”


“Iya. Ayah mau jemput aku..jadi aku diminta menunggu Ayah di rumahmu. Boleh kan Nad?”


“Tentu saja boleh”


Ayra dan Nadine saling melempar senyum. Meskipun baru beberapa minggu di sekolah, namun persahabatan keduanya sangat erat.


Sesampainya di rumah Nadine. Keduanya langsung ke kamar Nadine sambil menunggu kedatangan Ayah.


“Ay?”


“Ada apa Nad?”


“Ga jadi deh”


Ayra menatap sahabatnya. Ayra berpikir pasti ada yang ingin ditanyakan Nadine padanya.


“Kamu kenapa Nad? Kalo mau nanya, nanya aja”ucap Ayra


“Ehmm..itu Ay..aku cuma penasaran. Jangan marah ya? Sebenarnya ada apa antara kamu dan Devara?”tanya Nadine


Degh..


“Kenapa Nadine tiba-tiba bertanya seperti itu?”gumam Ayra dalam hati


“Ga ada apa-apa..emangnya kenapa?”tanya Ayra


“Jangan marah ya Ay..tapi Devara itu setauku bukan tipe cowok yang suka gangguin cewek”ucap Nadine yang memang sudah mengenal Devara lama.


“Ehmm..ya ga tau”Ayra mengangkat bahunya


“Iya sih..tapi Devara tuh ga seperti temen-temen genknya yang suka gangguin cewek atau deketin cewek. Makanya aku ngerasa aneh aja, kayak ada yang beda gitu antara kamu sama Devara. Beneran kalian ga ada hubungan apa-apa? Di gudang waktu itu ga terjadi apa-apa kan?”tanya Nadine penuh selidik.


“Kami cuma berkelahi Nad..udah cuma itu doang” kelit Ayra bohong.


“Udah ah..ga usah bahas cowok gila itu lagi..bikin bad mood aja”ucap Ayra mendengus kesal.


Sungguh membahas masalah Devara telah membuat mood Ayra jadi buruk. Apalagi mengingat Devara yang sudah menyindirnya saat di gerbang sekolah tadi.


*


*


*


*


Di sirkuit kota,


Dua genk remaja beda sekolah sudah saling berhadap-hadapan. Genk Devara dan genk anak sekolah sebelah. Mereka akan adu balap di sirkuit itu. Masing-masing anggota genk duduk di atas motor besarnya. Dengan sesekali menggeber motor mereka yang suara knalpotnya memekakkan telinga.


“Kalian sudah siap kalah dari kami?”tantang Jansen salah satu anggota genk Devara


“Jangan sombong kalian. Jangan mentang-mentang kalian anak orang kaya dan pemilik sirkuit ini makanya kalian pikir kami akan menyerah begitu saja. Jangan mimpi!”seru lawan genk Devara tak mau kalah


“Udah..ga usah banyak bacot..kita mulai saja sekarang”


“Siapa takut!!!”


Akhirnya kedua genk bersiap di titik start. Balapan itu akan mempertandingkan kedua genk. Genk yang berhasil mencapai finish paling cepat, maka mereka lah pemenangnya.


Angel sebagai satu-satunya cewek di genk Devara sudah berdiri di antara para cowok-cowok yang sudah duduk di motor besar mereka masing-masing sambil membawa sebuah sapu tangan. Genk Devara dan genk anak-anak sekolah sebelah saling melemparkan tatapan penuh intimidasi pada lawannya.


Angel mengangkat tangan kanannya yang memegang saputangan. Dan dalam hitungan detik, tangan Angel sudah terayun ke bawah menandakan pertandingan balapan sudah dimulai.


Para pembalap itu, langsung kesetanan dan segera menggeber motor mereka dengan kecepatan tinggi. Devara yang memang suka balapan, sudah berada di posisi pertama disusul dua orang anggota genknya baru kemudian genk pembalap sekolah sebelah. Kejar mengejar pun terjadi. Balapan berlangsung dengan sangat seru. Bahkan ada beberapa pembalap yang terpeleset hingga terjatuh ke tanah.


Saking serunya balapan, sempat terjadi senggolan antar pembalap namun mereka kemudian dapat mengendalikan laju motornya masing-masing sehingga mereka tetap bisa ikut balapan.


Garis finish sudah terlihat. Devara semakin menggeber motornya. Devara yakin kali ini akan memenangkan balapan. Dan akhirnya….


Devara pemenangnya.


Devara mengepalkan tangannya begitu berhasil menjuarai balapan liar itu.


Setelah kemenangan itu,


“Sekarang kami pemenangnya”ucap Janszen


Lawan mereka hanya bisa mendengus kesal karena sudah dikalahkan oleh Devara cs.


“Katakan apa mau kalian?”


“Taruhan tetap taruhan..jika kalian gentleman, lakukan sesuai kesepakatan kita tempo hari”ucap Bryan, anak buah Devara


Dengan berat hati sambil menahan malu, akhirnya genk sekolah sebelah, melucuti pakaian mereka sendiri sehingga hanya menyisakan celana boxer mereka.


Genk Devara yang menyaksikan lawannya sudah tak berdaya dan tak mampu berkutik lagi, tertawa dengan terbahak-bahak. Kesepakatan antara kedua belah pihak sudah disetujui tempo hari. Bahwa bagi kelompok yang kalah harus siap melucuti pakaian masing-masing lalu berkeliling kota sambil di video.


Itulah salah satu kenakalan dan kebrutalan yang sering dilakukan oleh genk Devara. Tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi mereka juga terkenal di seluruh kota sebagai genk anak orang kaya yang suka menindas murid sekolah lain yang kalah taruhan dengan mereka.


Setelah semua musuhnya bertelanjang dada, Janszen dengan kamera hp nya memvideo wajah korbannya dari dekat dengan tawa penuh kemenangan. Sementara lawan mereka yang kalah, hanya mampu mengumpat genk Devara cs dalam hati. Bahkan salah satu dari mereka, bersumpah untuk menuntut balas atas penghinaan yang mereka terima.


Genk sekolah sebelah diarak berkeliling kota oleh genk Devara cs sambil divideo di sepanjang jalan yang dilalui. Jangan tanya betapa malunya anggota genk sekolah sebelah. Mereka menjadi tontonan orang-orang yang berada di sepanjang jalan. Pengendara mobil dan motor yang melintas di samping mereka juga terlihat tertawa terbahak-bahak melihat pertunjukan itu.


Anggota genk Devara tertawa puas melihat lawan mereka terhina seperti itu. Tiba-tiba dari arah belakang, ada rombongan patroli polisi yang kebetulan melintas. Mereka segera menghentikan konvoi motor genk Devara cs dan genk sekolah sebelah.


“Sialan! Ada polisi!”seru anggota genk Devara


“Iya..itu polisi”ucap anggota genk Devara yang lain ketika menengok ke belakang


“Lariiiii!” seru anggota genk sekolah sebelah


Masing-masing anggota genk berusaha melarikan diri. Mereka berkejar-kejaran dengan patroli polisi yang kebetulan jumlahnya jauh lebih banyak.


Akhirnya konvoi pelajar amoral yang didalangi oleh genk Devara cs berhasil ditangkap oleh polisi dan dibawa menuju kantor polisi.


Mereka dikumpulkan semua di lapangan kantor polisi. Wajah mereka semua tertunduk malu. Tetapi hanya Devara saja yang berani menatap polisi-polisi yang menangkapnya.


“Hei..bocah! Kau lihat apa?”tanya salah seorang polisi kepada Devara sambil memukul kepala Devara


Devara yang geram segera berdiri dari tempatnya sambil menatap tajam polisi yang sudah berani menyentuh kepalanya.


Adu jotos pun terjadi antara Devara dan polisi baru yang baru saja dimutasi ke kantor polisi itu. Dia belum tahu siapa Devara dan sekuat apa pengaruh Devara.


Semua orang yang melihat perkelahian Devara dan polisi itu malah saling bersorak melihat pertarungan yang tak imbang itu. Devara menghajar polisi tadi sampai hampir babak belur. Sementara polisi tadi berhasil memukul wajah Devara hingga membuat luka di ujung bibir Devara yang sebelumnya disebabkan pukulan Ayra, akhirnya robek lagi.


“Kurang ajar! Polisi rendahan..kau cari mati rupanya”bentak Devara setelah melihat darah keluar dari ujung bibirnya.


Devara seperti kesetanan memukuli polisi baru itu. Untung saja seorang polisi senior yang mengenal Devara datang dan melerai perkelahian itu.


“Ada apa ini ribut-ribut?”tanya polisi senior itu


Polisi lain yang berpangkat lebih rendah dari polisi senior, yang sebelumnya menikmati perkelahian Devara dan polisi malang tadi, tiba-tiba melerai mereka sambil memegangi tubuh keduanya.


Polisi senior tadi kaget melihat Devara ada di sana.


“Tuan Devara?”tanya polisi senior


“Mari ikut ke kantor saya”ajak polisi senior


Devara segera mengibaskan pegangan beberapa polisi yang memegangi tubuhnya. Devara pun berjalan mengikuti langkah polisi senior tadi dengan angkuhnya.