
Hari ini, Devara yang sedang malas belajar di kelas, memilih tidur-tiduran di kursi penonton di lapangan basket indoor. Dia merebahkan tubuhnya, dengan tangan kanannya diletakkan diatas wajahnya menutupi matanya. Sebagai anak pemilik sekolah, Devara memang tak suka diatur dan cenderung semaunya sendiri. Jika dia memang tidak mood belajar, dia akan memilih meninggalkan kelas. Seperti hari ini. Dan tak ada seorang pun yang akan berani menegurnya.
Terdengar beberapa langkah kaki memasuki lapangan basket. Devara yang sudah tertidur tak menyadari bahwa lapangan basket saat ini akan digunakan oleh kelas Ayra. Tampak Ayra, Nadine dan teman-teman sekelasnya memasuki lapangan basket dan bermain bola basket sementara menunggu kedatangan Pak Anton, guru olahraga mereka.
Siswa putra dan siswa putri di kelas Ayra, tampak memisahkan diri membentuk dua kelompok. Mereka memainkan bola basket di bawah ring basket. Ayra yang memang tidak terlalu jago bermain basket beberapa kali harus mengambil bola basket yang terlepas dari tangannya. Ketika bola yang dilempar Sella, teman sekelas Ayra, terlempar sampai kursi penonton, Ayra bermaksud mengambil bola itu.
Rupanya bola tadi, mengenai Devara yang sedang tidur. Devara yang jengkel karena tidurnya terganggu segera bangun dari tidur. Diambilnya bola basket yang menjadi biang kerok terbangunnya Devara dari tidurnya.
Ayra yang mendekati kursi penonton, hendak mengambil bola basket, kaget saat melihat Devara. Matanya terbelalak.
“Kenapa makhluk ini bisa disini sih? Inikan masih jam pelajaran”gumam Ayra dalam hati sambil mengernyitkan dahinya.
Devara yang melihat kehadiran Ayra tampak menyunggingkan senyumnya.
“Apa ini bolamu?”tanya Devara sambil memainkan bola basket itu ditangannya.
“Iya..kembalikan bolanya”jawab Ayra ketus hendak mengambil bola
Devara menjauhkan bola di tangannya dari Ayra.
“Hei..kembalikan”pinta Ayra
“Apa kau tahu, kau baru saja menganggu tidurku?” tanya Devara
“Salah sendiri, tidur disini. Inikan juga bukan jam istirahat. Ngapain kamu disini?”jawab Ayra sinis
“Apa kau lupa? Aku pemilik sekolah ini. Jadi aku bebas melakukan apapun yang aku mau disini”ujar Devara bangga
“Ya..ya..ya..terserahlah. Bukan urusanku juga. Cepat kembalikan bolanya”pinta Ayra lagi
Ayra memang sedang malas berdebat dengan Devara.
Nadine dan teman-teman sekelas Ayra tampak memperhatikan dua manusia yang sedang berdebat itu dari kejauhan dengan cemas.
“Sella, lihat..bolamu mengenai Devara. Cepat sana.. kamu minta maaf. Sebelum Devara melukai Ayra” pinta Bella salah satu teman Ayra
Sella yang tadi melempar bola terlalu jauh sampai mengenai Devara, kelihatan sangat ketakutan. Kakinya gemetar, melangkah menuju tempat Devara dan Ayra. Ditengah perdebatan Ayra dan Devara, Sella datang dengan wajah pucat dan tubuh yang gemetar.
“Devara maaf.. tadi aku yang melempar bolanya. Aku tak sengaja. Aku tak tahu kalau kau ada disini. Maafkan aku”ujar Sella meminta maaf sambil menunduk
Devara sebenarnya hanya ingin menggoda Ayra. Sudah lama dia ingin bicara dengan Ayra. Walaupun mereka lebih tepatnya berdebat bukan berbicara.
“Hei..Sella kan udah minta maaf. Apa kau tak mau memaafkan dia?”tanya Ayra dengan wajah serius
“Padahal kan aku cuma mau berdua dengan Ayra, kenapa harus ada pengganggu ini sih?”gumam Devara dalam hati sambil melirik Ayra.
Dia jengkel karena Sella datang di saat dirinya ingin berdua saja dengan Ayra. Akhirnya Devara melempar bola yang dipegangnya ke arah kerumunan teman-teman cewek Ayra.
"Hisshh..beneran ya makhluk paling nyebelin ini..bikin emosi aja deh"gerutu Ayra dalam hati.
Ayra tampak kesal, karena Devara tak mengembalikan bola itu padanya, malah melempar bola itu ke lapangan.
"Ayo Sell..balik!"ajak Ayra pada Sella
Ayra lalu mengajak Sella menjauh dari tempat Devara, mengajaknya kembali ke kelompok anak-anak cewek kelasnya. Sementara Devara duduk di kursinya sambil memperhatikan Ayra.
Nadine yang melihat Ayra berjalan ke arahnya, segera berlari ke arah Ayra dan menggandeng tangannya.
“Apa Devara menganggumu Ay?”tanya Nadine dengan nada kuatir. Dia takut Devara mengganggu Ayra.
“Tenang saja, dia tak kan berani macam-macam disini”jawab Ayra sambil tersenyum mencoba menenangkan sahabatnya.
Nadine sempat menengok ke arah Devara.
“Tapi kenapa Devara melihat kamu terus?”tanya Nadine sambil berbisik
“Masak?” tanya Ayra tak percaya
Ayra pun menengok ke arah Devara dan benar saja, Devara menatap ke arahnya. Ayra segera mengalihkan pandangannya.
“Dia belum pernah lihat cewek cantik kali”goda Ayra pada Nadine sambil tersenyum
“Bisa aja kamu Ay” ucap Nadine sambil memukul bahu Ayra.
Devara yang melihat senyum Ayra yang sangat manis, terlihat sangat senang. Dia senang bisa melihat Ayra dari dekat.
“Ah..ngapain juga aku pikirin. Suka-suka dia lah mau lihat kemana” gumam Ayra dalam hati setiap kali tatapan Devara seakan menatap ke arahnya.
Hari itu, pelajaran olahraga materi bola basket. Pak Anton mengajari mereka melakukan beberapa teknik dalam bola basket. Mulai dari dribbling, passing, shooting, lay up, jump shot dan slam dunk.
Ketika pak Anton guru olahraga yang juga pemain basket semasa kuliahnya berhasil melakukan slam dunk, dan bola masuk ring, semua anak-anak putri berteriak gembira. Tak terkecuali Ayra dan Nadine.
"Yeeeyyy..Pak Anton hebat"puji semua anak putri
"Pak Anton i love youuuu"goda salah satu teman cewek Ayra yang terpesona dengan kepiawaian Pak Anton barusan
"Bisa aja kalian"ucap Pak Anton malu-malu
Para gadis bertepuk tangan dan memuji-muji kepiawaian Pak Anton. Guru olahraga yang masih single itu pun tersenyum bangga karena keberhasilannya. Wajah Ayra yang tampak bahagia, tersenyum dengan indahnya membuat Devara dibakar api cemburu. Karena Ayra tersenyum pada lelaki lain.
Pak Anton yang melihat kehadiran Devara di ruangan itu, meminta bantuan Devara menunjukkan beberapa skill basketnya.
“Dev, coba kesini..tunjukkan beberapa teknik bola basket”pinta Pak Anton sambil melambaikan tangannya pada Devara.
Maklum saja Pak Anton juga adalah manager tim basket sekolah. Dan Devara adalah kapten tim basket sekolah. Jadi beliau tahu betul kemampuan basket Devara yang mumpuni.
Awalnya Devara malas dengan permintaan Pak Anton. Tetapi kemudian, muncul ide dalam kepala Devara, untuk menunjukkan beberapa kemampuan basketnya.
“Siapa tahu, Ayra akan suka padaku jika dia tahu kemampuan basketku” gumam Devara dalam hati sambil tersenyum.
Devara beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah Pak Anton. Kini Devara berdiri di samping Pak Anton.
Walaupun terkenal slengean dan brutal, namun pesona Devara sebagai pria tertampan di sekolah memang tak terbantahkan. Fisiknya yang benar-benar sempurna mampu membuat semua cewek di kelas Ayra memuji-muji ketampanannya, walaupun dengan berbisik-bisik.
“Devara akan mencontohkan teknik yang Bapak ajarkan tadi”ujar Pak Anton sambil menepuk bahu Devara.
“Oke Dev..coba tunjukkan teknik shooting dalam basket”pinta Pak Anton pada Devara. Devara hanya mengangguk saja, tanpa sepatah kata.
“Ayra, berikan bola itu pada Devara” pinta Pak Anton pada Ayra yang saat ini sedang memegang bola basket.
Devara melirik ke arah Ayra lalu tersenyum tipis. Devara pun berjalan ke arah Ayra. Ayra segera mengoper bola basket di tangannya ke arah Devara. Dengan sigap Devara menangkap bola basket yang dioper Ayra.
Lalu Devara berdiri di dekat Ayra. Ayra sempat kaget, karena Devara berdiri sangat dekat dengan dirinya. Dari posisinya berdiri sekarang, Ayra bisa melihat postur tubuh Devara yang sangat tinggi. Lebih tinggi dari dirinya. Ayra pun menggeser posisinya berdiri supaya tidak berdekatan dengan Devara.
Semua anak melihat ke arah Devara. Devara mendribbel bola beberapa saat kemudian melemparkan bola itu ke ring. Dan…
bola itu berhasil masuk ke ring.
Devara berhasil melakukan three point shooting dengan sangat smooth. Semua anak bertepuk tangan melihat keberhasilan Devara.
Ayra juga bertepuk tangan tapi tidak seantusias teman-temannya.
"Hebat juga dia rupanya"puji Ayra dalam hati
Harus diakui Devara tadi sangat keren. Melakukan three point shooting dengan sangat santai.
Kemudian Devara menunjukkan beberapa teknik shooting yang lain, yaitu lay up, slam dunk dan set shoot. Semua teknik shooting dilakukan Devara dengan sangat santai. Dan semua teknik dilakukan dengan mulus. Semua bola yang ditembakkan Devara masuk ke ring basket semua.
Semua cewek teman sekelas Ayra, dibuat terpesona dengan skill dewa Devara dalam memainkan bola basket. Mereka terkagum-kagum dengan kemampuan dan ketampanan Devara. Sungguh perpaduan yang sangat sempurna. Sudah tampan, atletis, jago main basket. Benar-benar paket komplit. Gadis mana yang tak kan terpesona melihat kesempurnaan Devara.
Devara dengan bangga berjalan ke arah Pak Anton. Sesekali teman-teman cowok sekelas Ayra mengajak Devara tos.
“Baiklah anak-anak..sekarang kalian akan belajar melakukan lay up” jelas Pak Anton
“Dev..kamu bantu Bapak ya.. mengoper bola anak-anak putra”pinta Pak Anton pada Devara.
“Kenapa bukan Bapak saja?”sanggah Devara
Karena Devara sebenarnya mau mengoper bola anak-anak putri. Lebih tepatnya mengoper ke Ayra.
“Ya sudah..kamu mengoper bola anak putri, Bapak yang anak putra” ujar Pak Anton mengalah.
Devara tersenyum senang, akhirnya keinginannya terpenuhi.