Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Berhak Mengolokmu


Pagi harinya,


Ayra yang terbangun lebih dulu, mengerjapkan matanya perlahan. Saat matanya sudah terbuka, Ayra kaget karena wajah Devara terpampang nyata di hadapannya. Ayra merasakan tangannya masih digenggam oleh tangan Devara.


Ayra kembali mengingat kejadian semalam, saat petir menyambar bumi. Ayra tanpa sadar menatap lekat wajah tampan seorang Devara. Lelaki menyebalkan yang selalu mengajaknya ribut.


“Kalo tidur gini, dia seperti seorang pangeran. Wajahnya begitu tampan. Bagaimana bisa cowok setampan dia begitu menyebalkan?”gumam Ayra dalam hati.


Tangan kiri Ayra terangkat perlahan, hendak menyentuh wajah tampan Devara. Jantung Ayra berdegup sangat kencang. Entah kenapa Ayra ingin menyentuh wajah tampan itu. Saat tangannya sudah sangat dekat, Ayra yang tersadar dari perbuatannya segera menarik tangannya kembali.


“Apa yang sebenarnya aku lakukan?”gerutu Ayra dalam hati merutuki perbuatannya sendiri.


Ayra segera menarik tangan kanannya yang sejak semalam digenggam Devara. Ayra menarik tangannya perlahan. Karena takut mengganggu Devara yang kelihatan sangat lelah. Saat tangannya hampir terlepas, tiba-tiba Devara menggeliat.


Ayra yang kaget melihat Devara terbangun, segera menarik tangannya dengan cepat. Lalu duduk dari posisinya yang sebelumnya masih berbaring di ranjang. Jantung Ayra juga masih tak karuan.


Devara mengerjapkan matanya perlahan.


“Sudah pagi ya?”tanya Devara dengan suara yang masih serak.


“Iya..sudah pagi. Cepat bangun..kita harus segera kembali ke kemah”ucap Ayra ketus.


Ayra segera bangun dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan mandi. Sementara Devara yang masih mengantuk karena semalaman bergadang, akhirnya kembali tidur.


Ayra yang sudah selesai mandi, dan sudah berganti pakaian mengenakan pakaiannya yang sudah kering, kaget melihat Devara yang kembali tidur. Di dekatinya Devara lalu digoyangkan tubuh besar Devara untuk membangunkannya.


“Hei..bangun..ini udah pagi..kita harus segera kembali”ucap Ayra sambil menggoyangkan tubuh Devara.


“Sebentar lagi..aku masih ngantuk”jawab Devara masih memejamkan matanya.


“Ga bisa..Ayo bangun sekarang!”


“Ahhh..menyebalkan!”


Devara yang kesal, karena kenyataannya memang benar apa yang dikatakan oleh Ayra. Bisa saja orang-orang di bumi perkemahan mencari mereka sekarang karena mereka sejak semalam tak kembali ke tempat kemah.


Devara dengan terpaksa bangun dari tidurnya. Dengan wajah kesal, Devara masuk ke kamar mandi sambil menatap Ayra dengan tajam.


“Cowok ini kalo udah bangun, sifat aslinya yang menyebalkan langsung kelihatan”gumam Ayra dalam hati melihat sorot mata Devara yang tadi kesal karena diganggu waktu tidurnya.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Devara dan Ayra kembali ke bumi perkemahan. Keduanya tak tahu, akibat perbuatan mereka, acara penjelajahan yang sedianya untuk menghibur anak-anak yang mengikuti camping trip, kini berubah menjadi ajang pencarian dua remaja itu yang semalam menghilang dari bumi perkemahan. Karena semalam saat pensi dan hujan lebat mengguyur, semua peserta camping langsung dikumpulkan di aula untuk berteduh. Dan saat masing-masing anggota kelompok di panggil untuk diabsen, betapa terkejutnya semua orang, mendapati Devara dan Ayra yang tidak ada di tengah-tengah mereka.


Setelah hujan reda, semua anak cowok segera berpencar mencari keduanya. Namun nihil. Akhirnya pencarian dilanjutkan pagi itu, saat penjelajahan.


Kini Ayra dan Devara sudah berada di perahu sampan yang kemarin mereka naiki. Dua manusia yang semalam tidur dalam satu ranjang, sama-sama terdiam.


“Ternyata kau sangat takut petir ya?”goda Devara


“Sialan! Gara-gara hujan, satu-satunya kelemahanku malah terungkap. Pasti dia akan menyebarkan aibku pada semua orang. Menyebalkan!”gerutu Ayra dalam hati sambil menatap Devara dengan tajam


“Iya..Memangnya kenapa? Semua orang pasti punya kelemahan kan? Apa kau akan menyebarkan pada semua orang?”tanya Ayra


“Buat apa?”tanya Devara masih dengan tangannya yang sibuk mendayung perahu sampan.


“Tentu saja untuk mengolok-olok kelemahanku. Bukankah itu yang selalu kau dan teman-temanmu lakukan? Menindas kaum yang lemah”sindir Ayra


“Yang berhak mengolokmu itu cuma aku”jawab Devara tegas


“Awas saja jika ada yang berani mengolok-olokmu! Takkan kubiarkan dia menghirup udara kebebasan”gumam Devara dalam hati sambil menatap Ayra yang terlihat komat kamit tanpa suara.


“Sejak kapan dia punya hak mengolokku? Dasar manusia aneh..cowok abnormal”gerutu Ayra dalam hati


“Apa kau mengumpatku?”tebak Devara


“Sialan! Apa dia punya kemampuan membaca pikiran?”tanya Ayra dalam hati dengan sedikit terkejut.


“Lain kali jangan perlihatkan kelemahanmu itu di depan orang lain. Aku tak mau ada orang lain yang tau kelemahanmu”ucap Devara dengan nada tegas.


“Memangnya aku yang mau”jawab Ayra ketus


“Kalo saja semalam aku tak kehujanan dan harus terjebak denganmu di kamar itu, mana mungkin kau bisa tau kelemahanku”gerutu Ayra dalam hati


Ayra kini menyesali perbuatannya sendiri yang sudah memaksa Devara menemaninya sepanjang malam, hingga akhirnya mereka malah tidur di ranjang yang sama.


Setelah sampai di dermaga kecil yang kemarin mereka lewati, keduanya langsung keluar dari perahu sampan, dengan Devara yang keluar terlebih dahulu disusul kemudian Ayra yang keluar sambil mengandeng tangan Devara.


Keduanya lalu berjalan menuju lokasi camping. Ayra dan Devara berjalan tanpa ada seorang pun yang berani mengajak bicara. Keduanya memilih diam. Ayra berjalan di belakang Devara. Sambil berjalan, Ayra menatap punggung lelaki menyebalkan yang sudah menolongnya semalam. Tiba-tiba jantung Ayra berdetak tak karuan, kala mengingat dirinya yang hampir menyentuh wajah Devara pagi tadi. Ayra sampai memegangi dadanya.


Begitu lokasi bumi perkemahan terlihat, seorang siswa yang melihat kehadiran Ayra dan Devara langsung berteriak dengan lantangnya.


“Itu mereka. Itu Ayra dan Devara”teriak siswa yang pertama kali melihat kehadiran keduanya.


“Ah iya..benar. Itu mereka”sahut yang lain.


Beberapa siswa langsung berlari menuju Ayra dan Devara. Sementara beberapa siswa lain mencari Pak Anton sambil berlari-lari.


“Benarkah?”tanya Pak Anton


“Benar Pak..mereka..baik-baik saja. Mari Pak kita ke sana”ajak siswa tadi dengan nafas terengah-engah


Daniel dan Nadine yang mendengar Ayra sudah ketemu segera berlari mencari sahabatnya itu.


Di lapangan, Ayra dan Devara sudah dikerubuti semua siswa dengan begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan.


“Kalian dari mana?”


“Iya..dari mana?”


“Kami semua sibuk mencari kalian”


“Mencari kami?”tanya Ayra


“Iya..karena kalian menghilang begitu saja”


Pak Anton yang sudah sampai di lapangan segera memecah lautan manusia yang mengerubuti Ayra dan Devara. Begitu juga Nadine dan Daniel.


“Ayraaaa”seru Nadine sambil memeluk sahabatnya yang dikira hilang sambil beruraian air mata.


“Kamu kemana Ay?”tanya Daniel


Devara yang melihat Daniel khawatir pada Ayra memasang wajah tak suka. Lalu menatap tajam pada Daniel.


“Iya Ay..kamu dari mana? Semua orang di camping ini mencari kalian berdua”sahut Nadine


“Aku…”Ayra bingung akan menjawab apa lalu menoleh ke arah Devara. Devara yang tahu maksud tatapan Ayra yang seolah meminta bantuannya menjawab akhirnya yang buka mulut.


“Kami pergi ke suatu tempat”jawab Devara


“Kenapa kalian pergi berdua?”selidik Daniel


“Itu urusan kami”jawab Devara ketus


Daniel yang mendengar jawaban Devara langsung menatap tajam Devara begitu juga sebaliknya.


“Sudah..sudah..ga usah dipermasalahkan lagi. Yang penting mereka selamat”pinta Pak Anton mencoba menengahi keadaan.


“Syukurlah mereka ketemu. Terserah mereka mau kemana..yang penting besok aku masih bisa bekerja di sekolah”gumam Pak Anton dalam hati.


Akhirnya Pak Anton meminta semua siswa kembali ke tenda masing-masing untuk berkemas. Acara camping diakhiri lebih cepat akibat insiden menghilangnya Ayra dan Devara. Mereka yang sedianya pulang agak sore, akhirnya pulang menjelang siang itu.


Ayra merasa tidak enak pada semua siswa. Akibat perbuatannya yang menghilang mendadak dari lokasi camping, membuat acara menjadi selesai lebih awal.


Setelah merapikan semua barang yang dibawa di tenda, semua anak kemudian memasukkan koper bawaan mereka ke dalam bagasi bis.


Dan seperti saat keberangkatan, Ayra dan Devara lagi-lagi duduk berdua. Namun karena kejadian di kamar di rumah kabin semalam, membuat keduanya malah menjadi canggung. Sepanjang jalan keduanya memilih diam. Ayra juga lebih memilih menatap pemandangan jalanan yang dilihatnya dari jendela bus. Sementara siswa yang lain sibuk mengisi perjalanan dengan bernyanyi bersama seperti kemarin saat pemberangkatan. Devara yang melihat Ayra mendiamkannya kemudian mencoba mencairkan suasana.


“Tumben diem”goda Devara


Ayra yang mendengar suara Devara mengajaknya bicara akhirnya menoleh dan menatap Devara.


“Emang mau ngomong apaan?” tanya Ayra


“Kenapa kamu takut …petir?”tanya Devara tiba-tiba dengan suara yang lirih saat menyebut kata “petir”. Bahkan Devara mengucapkan kata itu sambil mendekatkan tubuhnya pada Ayra dan membisikkan kata itu di telinga Ayra. Devara tak ingin ada yang tahu jika Ayra takut pada petir.


Ayra yang melihat Devara mendekatkan tubuhnya ke arahnya sampai mendorong tubuh Devara supaya menjauh dari dirinya.


“Kamu mau apa? Jauh-jauh sana”pinta Ayra


Devara pun menurut sambil menjauhkan tubuhnya kembali ke posisi duduknya tadi. Ayra mencoba mengingat kembali kenapa dia sangat takut petir, namun dia sama sekali tak bisa mengingatnya.


“Entahlah..aku lupa”jawab Ayra enteng


“Lupa? Atau kau malu menceritakannya padaku?”tanya Devara


“Dibilangin lupa ya lupa..ga usah maksa”gerutu Ayra dengan nada keras


“Lagipula cuma kamu yang tau kelemahanku. Ah..menyebalkan sekali..kenapa mesti cowok itu yang tau kelemahanku?” gerutu Ayra dalam hati.


Akhirnya selama dua jam perjalanan menuju sekolah. Devara dan Ayra memilih diam. Karena tak mau ketiduran seperti sebelumnya, maka dengan sekuat tenaga Ayra beruasaha terjaga. Supaya tidak mengantuk, Ayra memilih mendengarkan music favoritnya menggunakan earphone wireless miliknya sambil menatap pemandangan lalu lalang kendaraan lewat jendela bus.


Devara yang semalaman kemarin tak bisa tidur karena terus menjaga Ayra, akhirnya siang itu benar-benar mengantuk.


Tiba-tiba kepala Devara bersandar di atas kepala Ayra. Membuat Ayra kaget merasakan kepalanya ditindih kepala Devara.


“Kepalanya berat banget..Apa aku bangunkan saja ya? Tapi..kasihan juga. Mungkin dia mengantuk gara-gara aku semalam”gumam Ayra dalam hati


Akhirnya Ayra memilih mematung membiarkan kepala Devara bersandar di kepalanya.