Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Menginap Semalam


Setelah menghabiskan es krim, Ayra dan Devara beranjak menuju tempat parkir. Sampai di mobil mereka, Devara segera memasukkan belanjaan ke bagasi mobil. Ayra berdiri di sampingnya.


Tepat saat Ayra akan masuk mobil, tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke arah Ayra. Ayra yang melihat mobil itu kaget setengah mati. Ayra membelalakkan matanya. Tubuhnya seakan membeku. Sementara Devara yang melihat kejadian itu, segera menarik Ayra ke arahnya dengan paksa. Membuat Ayra jatuh ke tubuhnya. Menabrak dadanya yang bidang. Kini Ayra dalam pelukan Devara.


“Kau tak apa-apa?” tanya Devara kuatir


“A..aku..baik-baik saja” ucap Ayra terbata-bata karena masih kaget.


Devara melihat ke arah mobil tadi yang kini telah menghilang dari pandangannya.


“Sial! Sayang sekali tadi aku tak melihat plat mobilnya. Aku akan minta kak Arga mengusut ini” sungut Devara emosi.


Devara tak melihat bahwa kini Ayra menatap ke arahnya lekat-lekat. Sekali lagi Devara menyelamatkan nyawanya. Membuat perasaan hangat menyeruak di dalam hati Ayra melihat Devara yang sangat mengkhawatirkannya.


“Sudahlah.. Dia mungkin sedang terburu-buru. Makanya dia mengendarai mobilnya seperti itu” ujar Ayra lembut


“Tapi mengendarai seperti itu bisa membahayakan orang lain. Dia harus mendapat pelajaran” keluh Devara sangat kesal


“Kita pulang saja. Bunda pasti sudah menunggu” ajak Ayra.


Akhirnya Devara mengalah. Dia memilih pulang mengantar Ayra. Sepanjang jalan pulang, Ayra terus menatap Devara. Ketika Devara menoleh ke arahnya, dia segera mengalihkan pandangannya.


“Kau kenapa?”tanya Devara


“Apa kau masih kaget dengan kejadian tadi?”tanya Devara lagi dengan nada kuatir


“Tidak.. Aku tadi memang kaget. Tapi aku sudah tak apa-apa” ucap Ayra


“Syukurlah” ucap Devara lega


Sampai di garasi rumah Ayra, Devara sudah melepas sabuk pengamannya dan akan keluar mobil tapi Ayra menahannya. Ayra memegang pergelangan tangannya.


“Ada apa?”tanya Devara melihat Ayra memegang tangannya


“Terimakasih..kau sudah menyelamatkan aku tadi. Ini sudah keempat kalinya kau menyelamatkan nyawaku” ucap Ayra tulus


“Benar juga. Sudah empat kali aku menyelamatkan nyawamu. Harusnya kau beri aku hadiah” goda Devara


“Hadiah?”tanya Ayra sambil mengernyitkan dahinya.


“Hahaha..aku cuma bercanda. Ayo turun!” ajak Devara


Ayra tampak berpikir sejenak.


“Tunggu sebentar..aku punya hadiah untukmu” ucap Ayra


“Benarkah?” tanya Devara


“Tutup dulu matamu!” pinta Ayra


Devara menurut saja. Diapun memejamkan matanya seperti yang diminta Ayra.


“Kau mau memberiku apa? Kejutan ya?” tanya Devara masih memejamkan mata.


Ayra hanya diam saja.


“Kenapa kau diam?” tanya Devara ketika sadar Ayra tak bersuara.


Tiba-tiba sesuatu yang hangat dan lembut menempel di pipi Devara sebelah kanan. Ayra mencium pipinya. Devara segera membuka matanya. Wajah mereka berdua kini sangat dekat. Mata mereka berpandangan.


“Terimakasih” ucap Ayra lirih


Devara hampir saja mencium Ayra, sebelum akhirnya dia mengurungkan niatnya. Kini dia ada di rumah Ayra. Kalau sampai dia dipergoki Ayah atau Bunda maka Devara tak kan mungkin diijinkan mendekati Ayra lagi.


Devara tersenyum bahagia. Ayra segera keluar mobil sebelum Ayah Bundanya tahu. Sementara Devara masih senyum-senyum sendiri memegangi pipinya. Begitu pintu bagasi mobil dibuka Ayra, Devara segera keluar mobil dan membantunya membawa barang belanjaan pesanan Bunda.


Devara segera membawa belanjaan ke dalam rumah, sementara Ayra menutup pintu bagasi lalu menyusul Devara masuk ke dalam rumah. Rupanya Aldi, Ayah Ayra sudah di rumah. Melihat Devara yang membawa belanjaan, Ayah segera membantu Devara. Devara meletakkan belanjaan Bunda di dapur. Ayra membantu Bunda memilah-milah barang belanjaan, sementara Devara duduk di ruang tamu bersama Ayah.


“Siapa namamu?”tanya Ayah datar


“Devara Om”jawab Devara tenang


“Kamu pacar Ayra?” tanya Ayah to the point.


Ayra yang sedang memilah barang belanjaan di dapur, yang mendengar pertanyaan Ayah, sontak melotot karena kaget.


“Iya Om” jawab Devara mantap.


“Orangtua saya pengusaha, Om”jawab Devara penuh percaya diri


Ayah kagum dengan sikap terus terang Devara.


Percakapan Ayah dan Devara benar-benar membuat Ayra takut. Karena ini pertama kalinya Ayra mengajak pacarnya.


“Maaf jika Om menanyakan banyak hal. Ini pertama kalinya Ayra membawa pacarnya ke rumah. Setelah Rio tentunya. Ayra sudah cerita tentang Rio kan?” tanya Ayah


“Iya..sudah Om”jawab Devara


“Sudah Ayah..jangan menginterogasi Devara seperti itu. Nanti dia kapok main kerumah”bujuk Bunda sambil membawa sedikit makanan ringan ditemani Ayra.


“Tik..tikk..tikkk..breessssssss…”


Tiba-tiba di luar hujan turun sangat deras.


“Wah..hujannya deras sekali. Kamu berteduh di sini dulu saja ya Devara. Pulanglah nanti kalau hujannya sudah reda. Hubungi dulu orangtuamu”pinta Bunda


“Orangtua saya sedang di luar negeri Bunda” jawab Devara


“Oo..begitu ya..kalau begitu makan malamlah di sini”ajak Bunda


“Iya..makanlah dulu”ajak Ayah


“Baik Om” jawab Devara sambil melirik Ayra


Akhirnya mereka makan malam bersama. Devara sangat senang melihat keharmonisan keluarga Ayra. Ayah dan Bunda yang sangat hangat membuat Devara merasa nyaman. Mereka sangat suka bercerita tentang kesehariannya. Devara hanya melihat saja pemandangan indah dihadapannya. Karena nyatanya keluarga Devara berbeda jauh dari keluarga Ayra.


Hujan di luar tak kunjung reda. Padahal hari sudah beranjak semakin malam.


“Devara, tidurlah di sini malam ini. Di luar hujannya deras sekali. Kalau kau nekat pulang, bisa-bisa kau sakit” pinta Bunda


Ayra dan Devara kaget mendengar permintaan Bunda.


“Tidak Bund. Dia…”Ayra belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Devara sudah menyela.


“Baik Bunda” jawab Devara dengan senyum tersungging di wajahnya


Ayra melotot ke arahnya.


“Apa maksudmu? Kau kan bisa minta kak Arga menjemputmu?” tanya Ayra setengah berbisik


Devara hanya tersenyum.


“Kalau kau besok tak ada acara, ikutlah bersama kami ke kampung halaman kakek buyut Bundanya Ayra” ajak Ayah


Ayra semakin membelalakkan matanya.


“Ada apa sih dengan Ayah dan Bunda? Kenapa mesti mengajak dia ikut serta piknik besok?”gerutu Ayra dalam hati.


“Dengan senang hati, Om” jawab Devara senang


Ayra mendengus kesal sambil menatap Devara. Sementara Devara yang dilihatin Ayra malah menyunggingkan sudut bibirnya karena keinginannya piknik bersama keluarga Ayra akhirnya terwujud.


Ayra membantu Bunda mencuci piring-piring kotor. Sementara Devara menemani Ayah menonton pertandingan sepakbola di televisi.


“Bunda, kenapa Bunda mengajaknya menginap di sini? Dia punya asisten keluarga yang bisa menjemputnya dengan mobil?” tanya Ayra setengah berbisik pada bundanya.


“Memangnya kenapa? Dia kan pacarmu. Bunda tak keberatan dia menginap. Lagipula dia anak yang baik. Lihatlah! Ayah juga suka padanya” ujar Bunda sambil menoleh ke arah Ayah dan Devara yang berteriak-teriak menonton pertandingan sepakbola.


“Ini bukan karena latar belakang keluarganya kan Bunda?”tanya Ayra lagi.


Dia kuatir Ayah dan Bundanya silau dengan harta setelah mengetahui latar belakang Devara.


“Sayang, sejak kapan kau menilai seseorang dari harta kekayaannya? Ayah dan Bunda selalu mengajarkan padamu untuk melihat seseorang bukan dari harta dan kekuasaan yang dia miliki. Masak sekarang Ayah dan Bunda berubah hanya karena harta dan kekayaan orangtua Devara?” urai Bunda sambil mengelus pucuk kepala putri kesayangannya itu.


“Dia anak yang baik. Jujur dan sangat terus terang. Bunda suka”ujar Bunda sambil melihat ke arah Devara yang saat ini sedang heboh melihat pertandingan sepakbola dengan Ayah yang sama hebohnya.


“Lihat! Mereka mirip sekali kan?”tanya Bunda sambil menatap suami tercintanya.


Pemandangan di depannya mengingatkan masa-masa ketika kakak Ayra masih hidup. Ketika Ayah dan anak itu, sedang menonton pertandingan sepakbola klub kesayangan mereka semalam suntuk.


Sudah lama Bunda tak melihat Ayah seheboh sekarang, saat menonton sepak bola. Karena Bunda dan Ayra memang tidak ada yang suka menonton sepakbola. Jadi Ayah sangat senang dengan kehadiran Devara.