Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Ulangtahun Nenek


Jam menunjukkan jam 05.50, Ayra segera turun ke lantai satu untuk sarapan. Bunda rupanya sudah menyiapkan sarapan pagi ini karena Ayah berangkat pagi.


“Selamat pagi Bunda”sapa Ayra riang


“Pagi Ay..tumben jam segini sudah siap?”tanya bunda melihat Ayra sudah rapi dan siap ke sekolah.


“Bangunku kepagian sih..makanya jam segini sudah siap”gerutu Ayra dalam hati


“Eh..iya bund.. tadi bangunku kepagian”jawab Ayra


“Iya bund..jam 04.30 tadi Ayra sudah bangun”kata Ayah dari belakang mendengar percakapan ibu dan anak itu.


Ayah juga sudah siap berangkat kerja karena jam 06.00 harus berangkat.


“Ayah dah mau berangkat?”tanya Ayra


“Iya”jawab Ayah


“Sini bunda bantuin”ujar Bunda melihat Ayah mengenakan seragam kerjanya.


Ayra sangat senang melihat kemesraan Ayah Bundanya itu. Mereka adalah pasangan paling romantis. Ayra memandangi Ayah Bundanya seperti sedang menikmati drama korea kesukaannya. Yang dipandangi walaupun sudah bertahun-tahun bersama, namun mereka selalu menunjukkan perasaan sayang dan cintanya terhadap pasangannya. Sesekali ayah menggoda bunda, membuat bunda tertawa senang.


Kemesraan Ayah Bunda juga lah yang menjadi keinginan dan harapannya, jika kelak memiliki pasangan, Ayra ingin bahagia seperti kedua orangtuanya. Setelah rapi, Ayah pun berpamitan. Kini tinggal Ayra dan Bunda dirumah. Bunda menyiapkan sarapan untuk Ayra. Ayra menyantap sarapannya dengan lahap. Setelah kenyang, Ayra membantu bundanya cuci piring.


“Aku berangkat dulu ya bund”pamit Ayra


“Iya Ay, hati-hati di jalan” balas Bunda


Ayra mencium punggung tangan Bundanya lalu pergi ke sekolah.


Setelah menutup pintu gerbang,


“Nona Ayra?”sapa kak Arga ramah


Ayra menoleh ke arah kak Arga. Rupanya Devara serius dengan ucapannya tadi di telpon.


“Silahkan masuk ke dalam mobil..saya akan mengantar Nona ke sekolah”ucap Arga sopan


“Ehh..baik kak”jawab Ayra sambil mengangguk


Sebuah mobil hitam sudah terparkir di dekat rumah Ayra. Kak Arga membukakan pintu mobil untuk Ayra. Begitu Ayra masuk mobil, Kak Arga membuka pintu depan sebelah kemudi sopir. Setelah mengenakan sabuk pengaman, Kak Arga memerintahkan sopir mengantar ke sekolah.


Ayra mulai membuka pembicaraan.


“Maaf kak.. Kakak sudah lama bekerja dengan keluarga Devara?”tanya Ayra.


Kak Arga menoleh ke arah Ayra,


“Ehmmm...sudah lumayan. Sepertinya..dua belas tahun”jawab kak Arga ramah


“Apaa..dua belas tahun? Usia kakak berapa? Aku lihat kakak masih muda" tanya Ayra


"Saya sudah mengabdi di keluarga Alexander sejak umur enam belas tahun. Ibu dan Ayah saya sudah mengabdi di keluarga Alexander sejak dulu. Saya hanya meneruskan saja"


"Oo..begitu ya. Kakak betah kerja dengan orang nyebelin seperti Devara? Apa keluarga Devara semuanya nyebelin seperti dia, kak?”tanya Ayra lagi


“Hehehe..tentu saja tidak”jawab kak Arga terkekeh.


“Saya kira semua anggota keluarga nya nyebelin juga seperti dia”balas Ayra


“Oya..sebenarnya saya mau ikut mobil ini, karena saya ingin mengembalikan ini”ucap Ayra sambil menyodorkan smartphone Devara.


“Kakak kan yang kemarin memasukkan hp ini ke tas saya?” tanya Ayra


“Maaf nona..saya tidak bisa menerimanya”balas kak Arga


“Kenapa tidak? Kakak kan tinggal mengembalikannya pada majikan Kakak yang nyebelin itu. Kakak tau..gara-gara hp ini, saya harus mendengarkan majikan kakak yang super duper nyebelin itu” keluh Ayra sambil cemberut.


Celotehan Ayra berhasil membuat kak Arga tersenyum.


“Saya mohoooonnn sekali, kakak ambil kembali hp ini ya kak?”pinta Ayra memohon-mohon.


“Maaf nona, kalau saya terima hp itu..bisa-bisa saya dipecat”ujar kak Arga bohong.


Asisten pribadi keluarga Alexander ini tau betul, gadis seperti Ayra pasti takkan tega jika oranglain menderita karena dirinya.


“Emm..begitu ya kak? Ya sudah lah kak..besok saja saya kembalikan langsung”ujar Ayra lemas


Sesampainya di sekolah, kak Arga segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Ayra.


“Terimakasih kak” tutur Ayra


“Sama-sama nona..nanti saya akan jemput nona waktu pulang sekolah”ujar kak Arga


“Ahhh..tidak usah kak. Nanti saya bisa pulang sendiri. Biasanya saya pulang dengan teman saya”tolak Ayra halus


“Maksud nona, tuan Daniel? Sepertinya tuan Daniel tidak masuk hari ini. Dia berangkat ke Singapura pagi ini untuk menghadiri pesta ulangtahun Nyonya Besar” ujar kak Arga.


“Oo..begitu ya? Nanti saya bisa pulang dengan Nadine. Jadi kakak tidak usah menjemput saya. Oke kak?”pinta Ayra


“Baiklah nona..saya permisi dulu. Mari” pamit kak Arga sambil memberi hormat pada Ayra


“Iya kak”Ayra juga memberi hormat pada kak Arga.


Kak Arga pun masuk ke dalam mobil lalu mobil Devara melaju meninggalkan sekolah. Ayra berjalan masuk ke sekolahnya dengan malas. Karena Ayra tidak berhasil mengembalikan smartphone Devara melalui kak Arga. Ayra terpaksa harus menerima "diganggu" Devara sampai besok. Karena besok adalah hari terakhir Devara di Singapura.


Memang benar, Daniel tidak masuk. Dia ke Singapura untuk menghadiri acara ulangtahun Agatha. Walaupun mereka bermusuhan, namun keluarga mereka sudah sangat dekat. Kakek Devara dan Kakek Daniel memang sudah bersahabat sejak mereka masih muda. Itu sebabnya, mau tak mau Devara dan Daniel masih terikat satu sama lain.


*


*


*


*


Di Singapura,


Di sebuah hotel mewah terbaik di Singapura, acara ulangtahun Agatha diadakan. Acara keluarga itu dihadiri beberapa kerabat dan kolega dekat kakek dan nenek Devara.


Daniel menghampiri Devara.


“Kamu disini?” tanya Daniel


“Hemmm”Devara hanya berdehem karena dia memang malas melihat Daniel.


Mereka berdua membisu.


“Kapan kamu kembali ke Indonesia?”tanya Daniel


“Besok”jawab Devara singkat sambil meminum minuman di tangannya


“Berarti kamu tak ikut tes Math besok?”tanya Daniel


“Sejak kapan kamu mengurusi aku ikut tes atau tidak? tanya Devara ketus


Sebenarnya Daniel hanya ingin mencairkan suasana.


“Sampai kapan kau akan memusuhi aku? Bukankah aku sudah berkali-kali bilang itu semua..”belum sempat Daniel menyelesaikan ucapannya Devara sudah menyela.


“Sudah hentikan! Aku malas membahas masalah itu” jawab Devara sembari beranjak dari kursinya


Daniel memegang lengan sahabat kecilnya itu.


“Ayolah Dev..kejadian itu sudah terjadi dua tahun yang lalu..”kata Daniel


Devara yang jengkel mengibaskan tangannya dengan kasar sehingga pegangan Daniel terlepas.


“Aku takkan memaafkan penghianat sepertimu”ujar Devara sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Daniel dengan telunjuknya diarahkan ke wajah Daniel.


Kata-kata “penghianat” yang dilontarkan Devara membuat hati Daniel seperti tertusuk duri. Tiba-tiba nenek datang dan merangkul Devara.


“Kalian disini rupanya..ayo temani nenek meniup lilin”ujar Agatha seraya meraih tangan Daniel


Mereka berdua pasrah saja ditarik oleh Agatha ke tengah acara. Mereka tersenyum dengan berat hati. Semua orang bertepuk tangan dan bergembira bersama Agatha, nenek Devara. Selesai meniup lilin, Devara menuntun neneknya duduk di kursi, sementara nenek masih menggandeng tangan Daniel.


Sampai di kursi tempatnya duduk,


“Kamu sudah besar sekarang Dan?”tanya Agatha sambil tersenyum pada Daniel


“Iya nek”jawab Daniel ramah


“Apa kamu sudah punya pacar?” tanya Agatha


“Belum nek”jawab Daniel sambil tersenyum


“Devara baru naksir cewek apa kamu tahu siapa dia?”tanya Agatha sambil melirik ke arah Devara


“Nenek apa-apaan sih, kenapa membahasnya dengan dia..aku pulang saja kalau begitu”rajuk Devara tak terima rahasianya dibongkar di depan Daniel.


“Heemmm.. lihat Dan, sudah sebesar itu Devara masih suka ngambek..kasihan sekali bukan gadis yang disukainya itu?” ujar Agatha yang dibalas dengan senyuman oleh Daniel.


“Sudah ah..aku pulang saja” rajuk Devara lagi sembari beranjak dari kursinya


“Ya sudah..nenek minta maaf ya? Kamu tak mau menemani nenekmu yang sudah tua ini” rajuk Agatha balik


Devara memang sangat menyayangi neneknya itu, sehingga akhirnya dia pun mengalah dan duduk kembali di kursinya sambil menyilangkan kedua tangannya dengan wajah cemberut.


“Kamu di sini sampai besok kan Dan?”tanya Agatha


“Maaf nek, saya nanti langsung pulang ke Indonesia. Besok pagi ada tes math”jawab Daniel ramah


“Kamu tidak ikut tes juga Dev?”tanya Agatha sambil menoleh kearah Devara


“Papa mengajakku menemui kolega nya. Besok siang aku baru pulang”jawab Devara dengan ketus


“Kalian tahu, Nenek rindu saat-saat kalian dekat seperti dulu..apa tidak bisa kalian baikan saja? Sudah dua tahun kalian tidak akur..nenek sedih melihat kalian seperti ini”ujar Agatha sambil menatap dua “cucu” kesayangannya itu.


Daniel dan Devara hanya saling pandang.


“Kami sudah besar nek..biarkan kami selesaikan masalah kami sendiri..nenek tak usah turut campur” jawab Devara ketus


“Baiklah..nenek takkan turut campur..segera selesaikan masalah kalian” pinta Agatha


“Nenek lapar..ayo kita makan”ajak Agatha


Daniel dan Devara menurut saja ditarik Agatha untuk makan.