Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Menagih Janji


Devara masuk ke ruang tamu. Angel yang awalnya duduk, segera berdiri begitu melihat kehadiran Devara. Devara segara duduk di kursi sofa besar di ruang tamu dengan wajah yang sangat garang. Devara menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


Angel berjalan ke arah Devara lalu duduk bersimpuh didepannya.


“Kak Dev..maafkan aku”pinta Angel dengan wajah memelas


Devara melengos. Dia tampak tak senang melihat Angel.


“A..aku..aku hanya ingin membalaskan dendam kakak”ujar Angel terbata-bata hampir menangis


“Berapa kali harus aku katakan…jangan ikut campur urusanku!! Aku tak suka kalian melakukan sesuatu mengatasnamakan aku?” bentak Devara


Angel berjalan dengan lututnya mendekati Devara. Dia memegang lutut Devara.


“Maaf kak.. Aku pikir kakak membencinya.. Bukankah dia sudah menghina kakak dan mempermalukan kakak..Makanya aku ingin memberi gadis itu pelajaran” bela Angel


Devara menepis lututnya sehingga pegangan Angel di lututnya terlepas.


Angel benar-benar takut melihat kemarahan Devara. Selama ini belum pernah Angel bermasalah dengan Devara. Sebagai salah satu tangan kanan Devara, Angel adalah orang kepercayaan Devara. Sehingga ketika Devara sangat marah seperti sekarang, benar-benar membuat Angel kelabakan. Tak tahu harus bagaimana.


Di tempat lain,


Ayra mencoba mencari ruang tamu. Setelah berputar-putar selama beberapa saat karena rumah Devara yang sangat luas dan setelah bertanya pada beberapa pelayan, kini dia berhasil menemukan tangga menuju lantai satu dan sedang menuruni tangga itu sambil berpegangan pada pegangan tangga. Arga yang melihat kehadiran Ayra, segera menghampiri Ayra.


“Ruang tamu dimana kak?”tanya Ayra dengan langkah tertatih.


“Sebaiknya nona kembali ke kamar. Jika tuan muda melihat nona turun, tuan muda akan marah”pinta Arga


“Saya sudah tak apa-apa kak. Saya harus melihat Angel. Jangan sampai Devara melukai Angel”ujar Ayra kuatir.


“Penilaianku memang tak salah. Gadis ini sangat baik. Bahkan pada orang yang sudah melukainya, dia masih merasa kasihan”gumam Arga dalam hati.


“Baiklah, saya akan mengantar nona. Mari ikut saya”ujar Arga


“Terima kasih kak”ucap Ayra


Arga segera menunjukkan ruang tamu pada Ayra. Rumah Devara memang sangat besar. Jika tak pernah masuk sebelumnya, bisa-bisa tersesat.


Di ruang tamu,


“Aku tak mau melihatmu lagi” ujar Devara dengan tatapan dingin


Angel terhenyak. Badannya langsung lemas seketika. Dia tak mengira Devara akan “menyingkirkannya”. Devara beranjak dari duduknya dan akan berjalan keluar.


“Kau tau apa yang harus kau lakukan” ucap Devara dingin sambil melirik sepintas ke arah Angel.


Ayra masuk ruang tamu diantar oleh Arga. Dilihatnya Angel yang bersimpuh di belakang Devara. Mata Devara terbelalak melihat Ayra yang berjalan ke arahnya. Dia kaget Ayra sudah turun dari ranjangnya dan menyusulnya ke ruang tamu. Devara segera menghampiri Ayra yang berjalan ke arahnya dengan sedikit tertatih.


“Kenapa kau disini? Bukankah aku menyuruhmu istirahat?” bentak Devara


“Aku sudah baikan” jawab Ayra pelan.


“Ayo..aku antar kau ke kamar” ajak Devara.


Ayra menepis tangan Devara dan berjalan ke arah Angel. Devara marah karena Ayra tak menuruti perintahnya.


“Apa yang mau kau lakukan?”tanya Devara


Ayra diam saja. Dia segera menghampiri Angel dan memegang tangannya. Angel bingung apa yang akan dilakukan Ayra.


“Berdirilah. Jangan berlutut seperti ini!” ucap Ayra sambil menuntun Angel berdiri.


Angel pun menuruti permintaan Ayra dan mulai berdiri. Devara melihat ke arah Ayra dan Angel dengan kesal.


“Kau tak perlu keluar dari sekolah. Ini semua hanya salahpaham. Aku sudah memaafkanmu”ujar Ayra


Ternyata tadi Ayra sempat mendengar percakapan Devara dan Angel karena memang suara Devara sangat keras. Devara dibuat kagum pada kebesaran hati Ayra yang mau memaafkan orang yang sudah melukainya. Padahal tadi Ayra sudah sangat takut dengan kelakuan Angel dan anak buahnya. Ayra menatap ke arah Devara.


“Biarkan Angel tetap di sekolah! Jangan menyuruhnya untuk pindah sekolah!”ucap Ayra


“Terserah”seru Devara menurut permintaan Ayra.


Angel segera memeluk Ayra.


“Terimakasih kak..maafkan aku..aku sudah bersalah padamu..maafkan aku” ujar Angel dengan tersedu.


“Iya..sudahlah..jangan menangis”ucap Ayra


Angel melihat Devara, yang melihat ke arah Ayra dengan tatapan yang sangat hangat. Seperti bukan Devara yang selama ini dikenalnya.


Rupanya Angel menaruh dendam pada Ayra. Karena membuat dia merasa terhina didepan Devara. Angel melepaskan pelukannya.


“Kau bisa pulang sekarang” ucap Devara pada Angel


“Terimakasih kak”ucap Angel pura-pura tersenyum


Akhirnya Angel pun pulang dengan hati yang dipenuhi rasa dendam pada Ayra.


*


*


*


*


Di ruang tamu tinggal Devara dan Ayra berdua. Suasana mendadak sedikit canggung. Karena tadi mereka sempat hampir berciuman sebelum Arga datang mengganggu.


“Aku heran..kenapa kau keras kepala sekali?  Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk istirahat. Kenapa malah kesini?”bentak Devara


“Mulai lagi..kenapa dia selalu marah-marah sih.. Bikin bad mood aja”gumam Ayra dalam hati


“Aku tak tenang..aku takut kamu akan melukai Angel”seru Ayra tak mau kalah


“Aku kan tadi sudah janji padamu..apa kau pikir janjiku itu omong kosong” bentak Devara lagi


“Bagaimana aku bisa percaya? Buktinya tadi kau sudah menyuruh Angel keluar sekolah kan?”tebak Ayra


“Apa kau dengar aku mengusirnya dari sekolah?”tanya Devara sengit


“Ya..memang tidak. Tapi kan tadi kau tak mau melihatnya lagi” balas Ayra


“Sudah..jangan berdebat lagi. Aku antar kau ke kamar” seru Devara


Devara pun berjalan ke arah Ayra, lalu membopongnya. Ayra yang merasa sudah baikan, pun berontak.


“Apa yang kau lakukan? Cepat turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri”pinta Ayra sambil terus berontak.


Tangannya dipukul-pukulkan di dada Devara minta diturunkan.


“Haishh..berisik sekali. Bisa diam tidak!”bentak Devara sambil menoleh ke arah Ayra.


Kali ini wajah mereka sangat dekat. Ayra salah tingkah. Melihat wajah tampan Devara yang menatap ke arahnya. Ayra berhenti berontak. Devara juga menatap lekat wajah cantik Ayra.


“Begini kan lebih baik” ucap Devara setelah Ayra berhenti berontak.


Ayra juga melingkarkan tangannya di leher Devara. Membuat Devara tersenyum senang penuh kemenangan. Sebenarnya Ayra malu karena harus dibopong lagi oleh Devara. Tapi karena tatapan mereka tadi dan bayangan ciuman singkat yang urung terjadi tadi, membuat Ayra memilih diam.


Sambil dibopong, Ayra terus menatap wajah tampan Devara. Dia tak menyangka bahwa yang menyelamatkannya dari kejadian tadi siang adalah Devara. Dan kini dia dibopong cowok gila dan aneh itu.


Devara yang sadar dilihat Ayra, menoleh ke arah Ayra. Ayra kaget lalu menunduk. Devara tersenyum senang.


Ketika Devara akan menaiki anak tangga pertama menuju lantai dua, tiba-tiba


“Krucukkk..krucukkk”


Suara perut Ayra yang keroncongan terdengar. Ayra kaget lalu meremas perutnya dengan tangan kirinya.


“Kenapa perutku mesti berbunyi di saat seperti ini sih?” gerutu Ayra dalam hati.


Ayra malu sekali. Karena sebenarnya dia memang sudah lapar. Devara pun menghentikan langkahnya. Dia tersenyum tanpa melihat Ayra.


“Kau lapar?”tanya Devara


Ayra mengangguk pelan.


“Kau mau makan apa? Biar chefku yang menyiapkan”ucap Devara lembut sambil menatap ke arah Ayra.


“Oya..bukankan kau sudah janji akan memasak untukku?”ujar Devara begitu ingat janji Ayra kemarin


“Iihhh..Kenapa dia mesti ingat janji itu sih?”gumam Ayra dalam hati


“Kita ke dapur sekarang” ucap Devara.


Devara membopong tubuh mungil Ayra menuju dapur rumahnya. Devara senang karena akhirnya bisa merasakan masakan Ayra.