Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Perintah Rahasia


Devara kemudian melihat ke arah salah satu bodyguard terdekat dengan mereka. Dan memberi aba-aba dengan telunjuknya supaya bodyguard itu mendekat. Melihat majikannya menunjuk kearah dirinya, bodyguard itu pun mendekati Devara dan Ayra.


“Anda memanggil saya, tuan muda?”tanya bodyguard itu


“Katakan pada Nanny, untuk membawakan dua  jubah mandi untukku dan pacarku”perintah Devara


“Baik, tuan muda” sahut bodyguard itu kemudian memberi hormat pada Devara.


Akhirnya bodyguard itu berjalan mencari Nanny untuk menyampaikan perintah Devara tadi.


“Apa-apaan sih kamu? Aku kan bisa jalan sendiri ke kamar. Ngapain pakai perintah ke bodyguardmu segala”protes Ayra sambil menepuk pergelangan tangan Devara.


“Aku tak mau ada lelaki lain yang melihat tubuhmu. Apalagi bajumu basah kuyup seperti ini. Sudah, jangan membantah!”perintah Devara dengan wajah serius.


Ayra akhirnya mengalah. Dalam hati Ayra sangat senang walaupun posesif tapi Ayra merasa Devara ingin melindunginya dari tatapan “lelaki lain” yang ingin menikmati lekuk tubuhnya yang jelas terlihat dari bajunya yang basah kuyup seperti sekarang.


Akhirnya Nanny pun datang dengan dua orang pelayan dibelakangnya yang masing—masing membawa jubah mandi untuk Ayra dan Devara.


Ayra dan Devara keluar dari kolam renang, dan memakai jubah mandi. Ayra tampak penasaran, saat Devara sedang berbisik kepada Nanny. Nanny pun mengangguk begitu Devara selesai berbisik. Nanny dan dua pelayan tadi pun meninggalkan mereka berdua.


“Kau bicara apa pada Nanny? Sepertinya serius..sampai-sampai berbisik seperti itu” tanya Ayra penasaran


“Rahasia!” ucap Devara membuat Ayra tampak kesal.


“Iiihhh..nyebelin. Pakai main rahasia-rahasiaan segala” gerutu Ayra


Devara sebenarnya tahu Ayra kesal tapi dia memang sengaja tidak memberitahukan “perintah rahasia”nya pada Nanny.


“Ayo kembali ke kamar” ajak Devara sambil menggenggam tangan Ayra.


“Lepasin..aku bisa jalan sendiri”pinta Ayra sambil mengibas-ngibaskan tangannya supaya Devara melepaskan tangannya.


Dasar Devara, dia malah semakin menggenggam erat tangan Ayra. Akhirnya Ayra pasrah saja. Mulutnya mengoceh tanpa suara. Membuat beberapa pelayan yang berpapasan dengan mereka, menahan tawa melihat tingkah Ayra yang sedang kesal.


Ayra tampak mengepalkan tangan kirinya dan mengayunkan tangan itu di udara seperti hendak memukul Devara. Tapi saat Devara menengok ke arahnya, Ayra segera menarik tangannya dan berpura-pura memegang rambutnya yang basah.


Padahal Devara jelas-jelas tahu kelakuan Ayra karena tadi Devara sempat melirik cermin besar yang terpajang di dinding saat mereka berdua melintas.


Ayra merasa ada sedikit keganjalan, karena selama perjalanan dari kolam renang ke kamarnya di lantai dua, dia tak melihat bodyguard Devara yang biasanya berjaga di beberapa titik di dalam resort itu. Maupun pelayan laki-laki yang kadang tampak berseliweran mengerjakan tugas mereka.


Rupanya Devara sengaja memerintahkan semua pelayan lelaki dan para bodyguard yang berjaga untuk sementara mereka dilarang memasuki area yang dilewati Devara. Karena seperti yang selalu dikatakan Devara, dia tak ingin ada lelaki lain yang menikmati tubuh indah gadis pujaan hatinya. Apalagi sekarang Ayra hanya mengenakan jubah mandi dengan bajunya yang basah kuyup. Itulah sebabnya tak ada lelaki sepanjang perjalanan dari kolam renang sampai ke kamar. Itulah “perintah rahasia” yang diberikan Devara pada Nanny.


*


*


*


*


Sore harinya,


Ayra dan Devara bersiap ke pantai untuk melihat sunset. Ayra sudah tak sabar untuk menyaksikan sunset di pinggir pantai. Sebelumnya mereka sudah ijin pada Agatha. Ayra sempat mengutarakan niatnya mengajak Agatha menyaksikan sunset bersama, tetapi Agatha memilih beristirahat di kamarnya sambil membaca novel. Agatha ingin memberi ruang bagi cucu kesayangannya agar bisa bersama gadis yang disukainya. Menghabiskan waktu bersama.


Saking semangatnya ingin melihat sunset, Ayra sempat beberapa kali hampir terpeleset saat menuruni tangga. Membuat Devara sangat khawatir. Khawatir jika Ayra sampai terjatuh. Karena memang tangga menuju ke pantai lumayan tinggi. Jika sampai jatuh, pasti sangatlah sakit.


Devara sampai menggenggam tangan Ayra sangat erat supaya kekasihnya itu tidak petakilan, dan berjalan lebih pelan bersamanya.


Ayra tampak cantik dengan setelan tank top dan celana pendek yang dipakainya. Dia memadu padankan dengan kain pantai yang dililitkan di bagian pinggangnya sehingga menutupi celana pendek yang dipakainya.


Sementara Devara memakai celana pendek selutut dengan kaos hitam dan kemeja pantai yang dibiarkan terbuka kancingnya.


Karena baju pantai yang dipakai Ayra kali ini sedikit terbuka, seperti sebelumnya, Devara memerintahkan semua bodyguard nya untuk menyingkir.


“Tak ada yang boleh melihat pacarku” begitu perintah Devara pada Nanny.


Sampai di pantai, Devara mengajak Ayra duduk-duduk santai di net hammock yang ada di salah satu sudut pantai sambil menikmati pemandangan sore itu.


“Apa kau tidur?”tanya Devara pelan


“Hemmm?”Ayra membuka matanya lalu mendongakkan kepalanya menatap Devara.


“Aku kira kau tidur”ucap Devara sambil tersenyum


“Suasana disini sangat tenang ya?”ucap Ayra.


“Iya” jawab Devara sambil mencium pucuk kepala Ayra.


“Apa kita cuma duduk-duduk disini saja?”tanya Ayra


“Kau mau jalan-jalan?”tanya Devara


Ayra mengangguk beberapa kali, tanda setuju dengan memasang wajah imutnya.


Akhirnya Ayra dan Devara berjalan-jalan berdua menyusuri pantai sambil menikmati pemandangan pantai. Sesekali ombak menyapu daratan dan mengenai kaki keduanya. Mereka berjalan-jalan sambil berbincang-bincang ringan. Suasana benar-benar sangat romantis bagi pasangan kekasih yang sedang kasmaran itu. Ayra dan Devara merasa sangat bahagia. Terutama Devara karena dia bisa menghabiskan waktu selama dua hari ini bersama kekasih hatinya.


Angin di pantai sore itu berhembus lumayan kencang. Membuat rambut Ayra dan Devara sedikit berantakan. Sesekali Devara merapikan rambut Ayra yang menutupi wajahnya. Ayra juga merapikan rambut Devara. Membuat Devara tersenyum bahagia melihat perhatian Ayra padanya.


Melihat Ayra yang mulai kelelahan setelah mengitari pantai, Devara pun menggendong Ayra di belakang. Ayra juga melingkarkan tangannya di tubuh Devara supaya tak jatuh.


“Kurangi makanmu. Kau tambah berat sekarang”goda Devara


“Sialan! Jadi dia mau bilang aku tambah gemuk”gerutu Ayra dalam hati.


“Ya sudah turunkan saja aku. Kenapa tadi minta aku naik ke punggungmu?”ucap Ayra kesal.


Devara menggoda Ayra, dengan memiringkan tubuhnya seolah-olah hendak menjatuhkan Ayra.


“Lihat! Kalau kau marah, kau jadi tambah berat”goda Devara lagi


“Mana ada orang tambah berat hanya karena marah”protes Ayra.


“Hahaha..aku bercanda. Kau itu terlalu mungil mana mungkin berat”ucap Devara sambil tersenyum.


“Kau menggodaku ya..Dasar!” Ayra memukul punggung Devara dengan salah satu tangannya. Membuat keduanya tertawa bersama.


Devara membawa Ayra berkeliling pantai sampai matahari tenggelam di ufuk barat. Sungguh pemandangan yang sangat indah kala matahari kembali ke peraduannya. Semburat warna jingga menghiasi langit sore itu. Mengantarkan kedua pasang anak manusia yang sedang dimabuk asmara itu menikmati keindahan pantai sore itu.


Karena hari sudah menjelang malam, Devara segera membawa Ayra kembali ke resort, masih dengan menggendong Ayra di punggungnya.


"Aku jalan aja..kamu pasti lelah sudah menggendongku sejak tadi"pinta Ayra


"Kalo hanya menggendongmu ke resort, tentu saja aku masih kuat. Kau lupa aku kan rajin nge-gym. Anggap saja aku baru olahraga"ucap Devara santai


"Olahraga angkat beban?"tanya Ayra


"Olahraga..angkat karung"goda Devara


"Sialan! Jadi kau menyamakan aku dengan karung"umpat Ayra kesal sambil memukul punggung Devara


"Hahahaha"Devara tertawa mendengar Ayra yang kesal dengan ucapannya.


Devara menggendong Ayra sampai ke dalam resort. Sebenarnya Ayra malu sudah digendong Devara seperti itu. Tapi karena Devara bersikukuh tak mau menurunkan Ayra, akhirnya Ayra hanya bisa pasrah.


Sampai di depan kamar, barulah Devara menurunkan Ayra. Kini keduanya berdiri saling berhadapan.


"Istirahatlah dulu di dalam..nanti saat makan malam, aku akan kemari lagi"ucap Devara


Ayra mengangguk pelan. Tiba-tiba Devara melangkah ke depan Ayra kemudian mencium kening Ayra dengan lembut. Ayra kaget dengan perlakuan manis Devara padanya. Namun Ayra juga tak menolaknya. Karena Ayra semakin yakin bahwa Devara sangat menyayanginya.


Keduanya saling bertatapan dan saling melempar senyum. Akhirnya Ayra masuk ke dalam kamarnya begitu juga dengan Devara. Malam harinya mereka makan malam bertiga dengan Agatha.