Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Lanjut Atau Putus


Setelah kepergian Devara ke London, keduanya semakin intens bertukar kabar. Baik melalui sambungan telepon, video call maupun via chat. Hampir setiap waktu Devara menghubungi Ayra. Selisih waktu tujuh jam antara Indonesia-Inggris tak menyurutkan keduanya untuk terus saling terhubung satu sama lain.


Ayra juga sekarang tinggal di rumah Devara bersama Chacha. Ditemani beberapa pelayan dan bodyguard Devara. Setelah sebelumnya terjadi kejadian di kosan Ayra, dimana seorang pencuri berhasil masuk ke lingkungan kos Ayra. Meskipun bukan kamar Ayra yang dijarah pencuri, namun kekhawatiran Devara yang berlebihan memaksa Ayra menuruti perintah Devara.


Bagaimana tidak, setelah kejadian pencurian itu, tiba-tiba beberapa anak buah Devara memasuki area kos Ayra. Dengan perintah dari Devara, lelaki-lelaki berbadan tegap itu mengungsikan semua barang-barang Ayra kedalam mobil dan membawanya ke rumah Devara.


Awalnya Ayra menolak keras permintaan Devara. Dia bersikeras tak mau pindah karena merasa sudah nyaman di kosan. Lagipula jika pindah ke rumah Devara yang besar, Ayra takut kesepian. Namun setelah Devara dengan semua kekhawatiran dan kemarahannya, membuat Ayra terpaksa menuruti permintaan kekasihnya itu. Apalagi setelah Devara mengijinkan Chacha ikut tinggal di rumah Devara membuat Ayra akhirnya luluh.


Sebelum memutuskan pindah ke rumah Devara, tentu saja Ayra sudah meminta ijin pada kedua orangtuanya. Ayah dan Bunda yang juga sudah dihubungi Devara, akhirnya mengijinkan putri semata wayangnya tinggal di rumah lelaki yang kini tinggal jauh di London itu.


Selama hampir setengah bulan tinggal di rumah Devara, Ayah Bunda sudah dua kali menginap disana. Memastikan keadaan putri semata wayangnya. Bagaimanapun juga Ayah dan Bunda masih menjunjung tinggi adat ketimuran. Masih ada rasa sungkan di hati keduanya, ketika menitipkan keselamatan Ayra pada Devara. Tetapi karena Ayah dan Bunda percaya Devara akan melindungi Ayra, maka mereka mengijinkan Ayra tinggal disana.


Waktu satu bulan yang diberikan Devara hampir habis. Selama waktu itu juga, Ayra terus memikirkan “lamaran” Devara.


“Bunda, aku boleh tanya sesuatu?”tanya Ayra pada Bundanya.


Kebetulan saat itu adalah hari Sabtu Minggu, Ayra memutuskan pulang kerumah.


“Ada apa Ay?”tanya Bunda balik.


“Ehmm..jangan bilang Ayah ya bund..ini rahasia”bisik Ayra sambil melihat sekelilingnya, takut kedengaran Ayah.


Bunda hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.


“Waktu Ayah melamar Bunda, apa yang bunda lakukan? Apa yang membuat Bunda akhirnya menerima lamaran Ayah? ”tanya Ayra


“Ayra udah dilamar Devara?”tanya Bunda balik


“Ihh..Bunda..jawab dulu pertanyaan Ayra”rengek Ayra


Bunda menahan tawanya.


“Ehmm..coba bunda ingat-ingat dulu ya..."Bunda tampak berpikir sambil mengingat-ingat memori kenangan masa mudanya dulu bersama Ayah.


"Waktu Ayah melamar Bunda.. waktu itu Ayah akan menjalani pendidikan selama empat tahun. Ayah tanya sama Bunda, Bunda mau menunggu Ayah selesai pendidikan atau Bunda putus sama Ayah. Karena kan selama pendidikan Ayah ga boleh nikah.. Ayah mau benar-benar memastikan hubungan kami lanjut atau putus. Karena Bunda sangat mencintai Ayah, makanya Bunda terima lamaran Ayah. Kami menikah setelah Ayah selesai pendidikan. Bagi Bunda, tak ada lelaki lain selain Ayahmu. Bunda tak pernah berpikir bisa jauh dari Ayah. Makanya Bunda terima saja lamaran Ayah”kenang Bunda.


“Sekarang bagaimana dengan kamu Ay? Bagaimana perasaan Ayra? Apa kamu merasa bisa hidup tanpa Devara? Apa kamu rela Devara menikah dengan wanita lain? Atau kamu mau menikah dengan lelaki lain selain Devara?”tanya Bunda


Ayra terdiam sejenak. Pertanyaan Bunda benar-benar menusuk hati Ayra. Karena selama ini yang Ayra pikirkan adalah bagaimana kelanjutan kuliahnya, keluarganya dan masa depannya kelak jika menikah muda. Ayra merasa belum membalas budi pada kedua orangtuanya. Ayra tak pernah berpikir, jika dia harus melepas Devara, lalu Devara menikah dengan wanita lain, apakah dia sanggup menerima kenyataan itu?


Tiba-tiba dada Ayra terasa sesak. Bayangan Devara menikah dengan wanita lain menggelayut dalam pikiran Ayra. Hati Ayra merasa tak rela jika Devara menikah dengan wanita lain. Ayra tak sanggup membayangkan bagaimana dia akan menjalani hari-harinya tanpa Devara disisinya. Setahun berpisah saja sudah terasa sangat berat bagi Ayra.


“Tapi Ayra masih ingin kuliah bund..aku ingin merasakan jadi wanita karier. Ayra ingin membahagiakan Ayah sama Bunda”ucap Ayra dengan nada bergetar.


Bunda meraih tangan Ayra dan menggenggamnya erat. Keduanya duduk sambil bertatapan. Bunda menatap putri kesayangannya dengan tatapan yang sangat lembut.


“Dengarkan Bunda Ay..bagi Ayah dan Bunda, kebahagiaan kamu, itulah yang paling penting. Kamu tetap bisa kuliah setelah menikah nanti. Bunda yakin Devara pasti akan mengijinkan. Masalah pekerjaan, coba kamu lihat Bunda..Bunda hanya ibu rumah tangga biasa. Tapi Bunda bahagia. Pekerjaan tak melulu harus menjadi wanita karier, Ay..Ingatlah selalu, bagi seorang istri, restu suami adalah segalanya. Jika setelah menikah, Devara mengijinkan kamu bekerja, itu bagus. Tapi jika dia melarangmu, kamu jangan membantahnya. Karena surga seorang istri terletak pada restu suami. Karena itu, dengarkan selalu suamimu”pesan Bunda


“Terimakasih Bunda. Ayra saaaayaangggg sama Bunda”ucap Ayra sambil terisak


“Bunda juga menyayangimu, sayang..Berbahagialah bersama pilihan hatimu”pesan Bunda sambil mengecup pucuk kepala Ayra.


“Lagi ngomongin apa sih? Serius amat!”ucap Ayah tiba-tiba dari arah belakang Ayra.


Ayra dan Bunda langsung menoleh ke arah pemilik suara. Keduanya tersenyum pada Ayah. Ayra memberi isyarat mata pada Bundanya supaya merahasiakan pembicaraan mereka berdua barusan. Karena Ayra belum siap menceritakan “lamaran dadakan” Devara padanya.


Ayah berjalan ke arah istri tercintanya. Sampai di samping Bunda, Ayah mengecup kening Bunda dengan lembut. Bunda tersenyum mendapat kecupan itu. Sementara Ayra yang sudah terbiasa melihat kemesraan kedua orangtuanya ikut tersenyum melihat perlakuan orangtuanya yang meskipun sudah bersama selama bertahun-tahun namun seakan rasa cinta di antara keduanya tak pernah berkurang sedikitpun.


“Ayah?”panggil Ayra


Ayah menatap Ayra dengan salah satu tangannya diletakkan di belakang tubuh Bundanya.


“Ada apa Ay?”


“Aku penasaran, dulu misalkan Bunda ga nerima lamaran Ayah, apa yang bakal Ayah lakukan?”tanya Ayra


“Ehmm”


Ayah tampak berpikir keras. Sementara Bunda menatap lelaki di sampingnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Merasa ditatap wanitanya, Ayah segera menyunggingkan senyum di wajahnya. Ayah lalu menoleh ke arah Ayra sambil tersenyum.


“Ayah ga akan lakukan apa-apa”jawab Ayah


“Lho kenapa Yah?”tanya Ayra penasaran


“Ya ga kenapa-napa”


“Beneran Ayah ga bakal lakukan apapun kalo Bunda nolak Ayah?”tanya Bunda pada sang suami dengan tatapan tajam.


“Masak Ayah akan diem aja kalo Bunda ga nerima Ayah?”tanya Ayra


Ayah langsung meraih tangan Bunda lalu menggenggamnya. Sementara Bunda masih menatap Ayah dengan tatapan tajamnya karena merasa heran dengan jawaban Ayah barusan.


“Ayah ga akan melakukan apa-apa, karena Ayah yakin 100% Bunda pasti akan menerima lamaran Ayah”ucap Ayah sambil tersenyum manis pada Bunda.


Mendengar ucapan Ayah, raut wajah Bunda langsung memancarkan kebahagiaan. Bahkan pipi Bunda memerah karena tersipu malu mendengar ucapan Ayah.


“Ayah bisa aja”ucap Bunda sambil memukul pelan dada suaminya.


Mendengar ucapan Ayah, membuat Ayra ikut tersenyum bahagia. Apalagi melihat interaksi kedua orangtuanya, membuat Ayra justru baper sendiri. Padahal mereka sudah tidak lagi muda, tetapi mereka selalu mesra.


“Semoga kelak aku bisa bahagia seperti mereka”gumam Ayra dalam hati sambil menikmati pemandangan kemesraan kedua orangtuanya.


Setelah berbicara dengan Ayah dan Bundanya, Ayra semakin yakin dengan keputusannya.