
Sampai di lantai yang khusus untuk tamu VVIP, tampak beberapa pelayan yang mengenali Devara membungkukkan badan. Seorang lelaki yang berpakaian sangat rapi dengan setelan jas hitam dan dasi merah yang tampak seperti manager restoran, mengantarkan mereka ke ruangan khusus mereka.
Devara memesan beberapa menu makanan. Ayra yang sempat membaca menu restoran, sempat kaget melihat harga menu-menu di restoran itu. Ayra yang memang tidak pernah makan di restoran bintang lima, tampak membelalakkan matanya.
“Sumpah..harganya mahal-mahal banget. Mana namanya aneh-aneh. Inggris semua. Apa rasanya juga enak ya?”gumam Ayra dalam hati.
Devara yang melihat ekspresi kaget Ayra, tersenyum penuh arti. Karena ekspresi menggemaskan Ayra saat kaget dengan matanya yang terbelalak.
“Kamu kenapa? Kaget lihat harganya?”tebak Devara jitu
“Hehehehehe..iya”jawab Ayra terkekeh.
“Kamu sering kesini?”tanya Ayra
“Nggak juga”jawab Devara santai
“Bukannya dulu kamu sama Gina sering kesini Dev?”goda Daniel
Devara melotot mendengar pertanyaan Daniel yang sengaja memancing di air keruh. Karena otak cerdas Devara mampu menangkap kemana arah pembicaraan Daniel. Daniel hanya tersenyum nakal karena berhasil mengerjai Devara.
Ayra yang mendengar nama Gina disebut, entah kenapa seperti dibakar api cemburu. Georgina. Nama gadis yang selalu dihindari oleh kedua pasangan itu. Setiap kali Ayra menanyakan masalah Gina, pasti Devara memilih mengalihkan pembicaraan. Karena jelas, nama gadis itu bisa memicu pertengkaraan hebat diantara keduanya. Walaupun Devara selalu mengatakan bahwa dia dan Gina tak ada hubungan spesial. Devara hanya menganggapnya sebagai adik. Tapi tidak demikian dengan Ayra. Karena Ayra meyakini Devara pasti memiliki perasaan berbeda pada gadis bernama Gina itu. Buktinya Devara sampai bermusuhan dengan Daniel selama dua tahun terakhir akibat berurusan dengan Gina. Jika tidak ada perasaan apa-apa, Devara pasti takkan semarah itu pada Daniel sampai memutuskan persahabatan mereka yang sudah terjalin sejak kecil.
Devara menoleh ke arah Ayra. Wajah gadis cantik itu memerah menahan marah.
“Ooo..begitu ya”ucap Ayra sambil menatap tajam ke arah Devara.
“Aku hanya beberapa kali kesini” ucap Devara berusaha meyakinkan Ayra.
“Hei Dan, dulu kan kesini juga sama kamu. Kamu juga ikut kan Nad? Kalian jangan bikin aku berantem sama pacarku ya”ancam Devara pada Daniel dan Nadine
Daniel dan Nadine cekikikan melihat Devara kelabakan dengan jebakan Daniel.
“Hehehehe..iya kok Ay..dulu aku juga sering diajak kesini sama mereka berdua. Tapi ga tau ya, kalau Devara sama Gina kesini berdua”goda Nadine
“Wahhh..sialan kalian berdua. Bukannya nolongin aku nenangin Ayra malah menyiram bensin. Lihat mata Ayra, api cemburunya tambah berkobar-kobar.. Bisa gosong aku nanti dibakar hidup-hidup”kelakar Devara
“Cih..Siapa juga yang cemburu..biasa aja kali”ucap Ayra ketus.
“Biasa apanya..jelas-jelas cemburu gitu. Udah ah, aku lapar. Mau makan”ucap Devara bertepatan dengan datangnya makanan yang dipesannya.
Ayra yang juga sudah lapar memilih diam, dan mulai menyantap makanan yang ada dihadapannya. Wajahnya cemberut menahan marah. Karena dia memang sedang cemburu.
Ayra memotong makanannya dengan kasar dan memakannya dengan susah payah. Devara yang melihat pacarnya dibakar api cemburu, hanya bisa geleng-geleng kepala. Devara memilih memotong beef steak di depannya menjadi potongan kecil. Setelah semua steak terpotong, Devara menukar piringnya dengan piring Ayra.
Ayra dibuat bingung, ketika piringnya ditukar dengan piring Devara.
"Hei..kau mau apa?"tanya Ayra melihat Devara menukar piringnya.
“Kasihan usus sama gigimu kalo makan beef steak segedhe itu. Cemburunya dikondisikan dulu”goda Devara sambil menyuapi Ayra dengan potongan kecil steak yang sudah dipotongnya. Ayra yang disuapi mengunyah potongan steak dari Devara masih dengan wajah cemberut.
Sepanjang santap makan malam itu, mereka berempat bercanda bersama. Ayra yang jadi bulan-bulanan mereka bertiga karena ekspresi dan kelakuannya yang sedang cemburu benar-benar menjadi hiburan tersendiri bagi Devara, Nadine dan Daniel.
Ditengah santap makan malam mereka, tiba-tiba beberapa orang datang menghampiri mereka. Dia juga tamu VVIP restoran itu.
“Hei Dev..lama tidak ketemu”sapa lelaki muda yang lumayan tampan itu.
Mendengar namanya dipanggil Devara segera mengalihkan pandangannya mencari sumber suara. Devara sangat mengenal pemilik suara itu. Nadine dan Daniel yang duduk membelakangi lelaki tadi, menoleh hampir bersamaan. Mereka juga mengenali pemilik suara itu. Terutama Nadine.
“Felix?”tanya Nadine dalam hati
“Hei..lama juga tidak ketemu. Kamu sudah pulang dari “pengasingan”?” sindir Devara
“Siapa lelaki itu? Kenapa suasana disini jadi mencekam begini? Terus kenapa Nadine ekspresinya seperti itu?”tanya Ayra dalam hati
Lelaki itu tersenyum sinis mendengar sindiran Devara.
Felix melirik ke arah Nadine. Begitu tatapan Felix tertuju pada dirinya, Nadine segera membalik tubuhnya.
“Nadine sayang, kau disini juga rupanya. Aku sangat merindukanmu”rayu Felix sambil mendekat ke arah Nadine.
Melihat Felix yang berjalan mendekati Nadine, Daniel segera berdiri dari kursinya dan menahan tubuh Felix agar tidak mendekat. Daniel meletakkan tangannya di dada Felix untuk menahannya. Felix menatap tangan Daniel sesaat lalu mengibaskan tangan Daniel dengan kasar.
“Rupanya kau disini juga ya Dan..Apa sekarang kalian sudah pacaran? Atau kau masih tak mau berpacaran dengan sahabatmu yang cantik ini?” sindir Felix
Mendengar ejekan Felix membuat Daniel geram. Dicengkeramnya baju Felix dengan sebelah tangannya.
Mata keduanya benar-benar memendam kebencian satu sama lain.
Melihat ada yang hampir berkelahi beberapa pelayan datang menuju meja Devara.
“Dev..mereka mau berkelahi. Ayo lerai mereka!” pinta Ayra panik melihat Felix dan Daniel hampir berkelahi.
“Jangan bikin keributan disini.. Sebaiknya kau pergi sebelum aku suruh satpam mengusirmu dari sini”ancam Devara dengan tatapan tajam ke arah Felix.
“Baiklah. Aku pergi. Kita pasti akan bertemu lagi sayang”ucap Felix pada Nadine kemudian dia pergi dari ruangan VVIP itu bersama beberapa temannya.
*
*
*
*
Ayra benar-benar penasaran siapakah gerangan lelaki bernama Felix itu. Bukan karena wajahnya yang lumayan tampan atau penampilannya yang keren. Tetapi Ayra lebih tertarik mengetahui hubungan apa antara Devara, Nadine dan Daniel dengan Felix.
Setelah kepergian Felix, acara makan malam itu berubah hening. Mereka berempat tenggelam dalam pikiran masing—masing. Ayra ingin sekali mengorek informasi dari pacarnya. Tapi tak mungkin jika Nadine dan Daniel masih satu mobil dengannya.
Akhirnya Ayra mendapat ide. Ayra minta Devara, supaya mereka naik mobil yang berbeda. Devara diminta menghubungi Madam O supaya diantarkan mobil lain untuk dirinya dan Devara. Sehingga Daniel dan Nadine bisa satu mobil. Dengan begitu, Ayra bisa mengorek info dari Devara. Awalnya Devara menolak karena permintaan Ayra sangat merepotkan. Tapi karena Ayra memelas dengan wajah imutnya, membuat Devara luluh seketika. Dia tak tega. Akhirnya Devara menuruti permintaan Ayra.
Selesai makan malam, Devara menyerahkan kunci mobilnya pada Daniel dan meminta Daniel pergi dulu dengan Nadine ke rumahnya. Sementara Devara membuat alasan, akan mengantar Ayra pulang dulu sebentar karena ada barang yang mau diambil.
"Kalian berdua pulang duluan saja. Ini Dan, kau bawa mobilku"ucap Devara sambil menyerahkan kunci mobilnya pada Daniel
Daniel yang menerima kunci mobil Devara tampak mengernyitkan dahinya.
"Kalian mau kemana?"tanya Nadine pada Ayra dan Devara.
"Ehmm..itu..ada barangku yang ketinggalan dirumah. Aku mau pulang sebentar"ucap Ayra bohong
"Kenapa ga barengan aja?"tanya Daniel
Devara langsung menatap tajam kedua temannya.
"Ck..Dasar kaum jomblo..susah emang ngomong sama kalian. Ga peka kalo aku ga ngomong langsung ya? Aku mau berduaan sama pacarku. Is it okey?"tanya Devara pada Nadine dan Daniel
Ayra terbelalak mendengar ucapan Devara. Karena Ayra takut kedua sahabatnya berpikir yang tidak-tidak.
"IIIhhh.. Apaan sih Dev?"tanya Ayra pada Devara sambil memukul lengan Devara
"Kalo ga ngomong gitu, mereka ga bakal paham"jawab Devara tegas
Ayra hanya mampu mengerucutkan bibirnya.
"Kalo bukan karena pingin tau hubungan Felix, Nadine dan Daniel, ga mungkin aku ajak kamu berduaan aja"gerutu Ayra dalam hati sambil menatap Devara tajam.
Devara yang paham Ayra sedang marah padanya malah menyunggingkan sudut bibirnya. Akhirnya Daniel dan Nadine hanya pasrah diperintah tuan muda labil yang suka mengatur itu. Mobil yang diminta Devara pun kini sudah ada di depan restoran.