Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Salah Minum Obat?


Siang itu sepulang sekolah,


Ayra ingin pergi ke toko buku dekat sekolah. Ada buku yang ingin dia beli. Dia pun pamit pada Nadine dan Daniel untuk pergi ke toko buku dan pulang sendiri.


“Kamu ga mau aku temenin Ay?” tanya Nadine


“Aku sendiri aja ga papa..tokonya kan deket. Aku bisa jalan dari sini”jawab Ayra


“Udah kalian pulang aja.. kamu ada les kan Nad abis ini. Keburu telat lho” pinta Ayra


Nadine melirik jam tangannya, memang benar sebentar lagi dia harus ikut les. Akhirnya Nadine menurut permintaan Ayra.


“Antar Nadine pulang ya Dan” pinta Ayra sambil menepuk pundak Daniel


“Aku pergi dulu ya”pamit Ayra


Ayra berjalan menjauh sambil melambaikan tangannya pada Daniel dan Nadine.


Di tempat lain, Devara yang sedari tadi memperhatikan Ayra, melihat gadis yang disukainya itu berjalan sendiri meninggalkan sekolah.


“Kemana gadis itu? Kenapa tidak pulang bareng Nadine dan Daniel?”tanya Devara dalam hati.


Akhirnya Devara memutuskan untuk mengikuti kemana Ayra pergi. Ayra yang berjalan santai ke toko buku dekat sekolah tak menyadari sudah diikuti Devara. Sesampainya di toko buku, Ayra segera masuk kesana. Toko buku ini memang tidak terlalu besar, tetapi koleksi buku novelnya lumayan banyak. Rupanya Ayra ingin membeli buku novel. Dia memang suka membaca novel. Apalagi novel romantis. Dia sangat menyukainya.


Ayra berkeliling sepanjang deretan rak novel-novel di toko itu. Beberapa kali, Ayra tampak membolak balik buku novel. Dia mencari-cari novel yang bagus yang ingin dibacanya. Ayra menemukan sebuah novel yang bagus, dia ingin membacanya sebentar.


"Sepertinya ini bagus. Coba ah aku baca bentar"gumam Ayra dalam hati.


Saat akan menuju kursi yang disediakan di toko buku itu, Ayra kaget melihat Devara yang ternyata sudah berdiri di sampingnya.


“Ngapain kamu di sini?”tanya Ayra kaget


Devara melirik ke arah Ayra.


“Tentu saja mencari buku. Ini kan toko buku” jawab Devara enteng


“Minggir sana..jangan menghalangi jalanku” ujar Ayra ketus


Devara mundur satu langkah sehingga Ayra bisa jalan.  Ayra memilih duduk di meja di dekat jendela. Dia tampak membaca resensi novel itu. Karena saking fokusnya membaca resensi novel itu, Ayra tak menyadari kini Devara sudah duduk di sampingnya.


“Terpaksa Menikah Muda” ucap Devara lantang mengeja judul novel yang dibaca Ayra.


Ayra kaget. Matanya terbelalak melihat Devara yang sudah duduk di sampingnya. Apalagi Devara membaca judul novelnya dengan sangat keras. Ayra melihat sekelilingnya. Untungnya tidak banyak orang di lantai dua toko buku itu. Refleks saja Ayra langsung memukul lengan Devara saking jengkelnya.


"Aduh"Devara mengaduh dan mengelus lengannya yang dipukul keras oleh Ayra barusan.


“Ngapain sih kamu disini..gangguin aja. Kalau mau beli buku..cari disana..jangan malah ganggu aku”seru Ayra kesal


Devara tak membalas ucapan ketus Ayra. Dia malah senyum-senyum sendiri sambil menatap Ayra. Ayra yang merasa risih ditatap Devara mulai jengkel.


“Kenapa melihatku seperti itu?”tanya Ayra penasaran.


Karena tatapan Devara kali ini berbeda dari biasanya.


“Kalau sedang marah-marah gini..kamu menggemaskan juga ya”ujar Devara sambil tersenyum


“Dasar gila” umpat Ayra


Devara menahan tawanya mendengar umpatan Ayra. Devara sangat senang melihat Ayra yang marah-marah karena dirinya. Karena baginya Ayra yang marah-marah sangatlah menggemaskan. Ayra pun mengalihkan pandangannya dan memilih membaca novel di tangannya. Sementara ekor matanya, masih menangkap Devara yang terus menatapnya. Devara menatap Ayra sambil meletakkan satu tangannya di atas meja untuk menyangga kepalanya.


"Kalo dilihat dari dekat..dia cantik juga"puji Devara dalam hati sambil memperhatikan Ayra dengan senyum yang terukir di wajah tampannya.


"Cowok sinting ini ngapain sih ga pergi juga?"gumam Ayra dalam hati


Ayra merasa salah tingkah dilihat terus oleh Devara.


"Aku pulang aja aahh"gumam Ayra dalam hati.


Akhirnya Ayra memilih pulang saja ketimbang harus meladeni Devara. Ayra pun beranjak dari tempat duduknya. Melihat Ayra yang berdiri, Devara segera memegang pergelangan tangan Ayra.


“Mau kemana?”tanya Devara


“Pulang” jawab Ayra sambil mengibas-ngibaskan tanganya hingga genggaman Devara terlepas dari pergelangan tangan Ayra.


Ayra segera berjalan ke arah kasir hendak membayar novel yang dibelinya. Devara segera beranjak dari kursinya dan menyusul Ayra. Kini Devara sudah berdiri di samping Ayra. Ayra sedang mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya. Tiba-tiba Devara mengulurkan black cardnya kepada kasir toko buku itu dan kasir menerima black card Devara. Perlakuan Devara yang tiba-tiba itu membuat Ayra kaget.


“Mbak..tolong kembalikan kartunya. Saya bayar cash saja” pinta Ayra pada kasir toko buku sambil menatap tajam ke arah Devara.


“Udah mbak..pakai kartu saya saja”ujar Devara pada kasir.


Perdebatan kedua costumer ini membuat kasir bingung.


“Ini jadinya cash apa pakai kartu?”tanya kasir


“Cash”jawab Ayra


“Kartu” jawab Devara


Mereka menjawab bersamaan. Ayra dan Devara saling bertatapan.


“Tolong minggir dulu ya..silahkan diputuskan dulu mau bayar cash atau pakai kartu” pinta kasir sambil menyodorkan kartu Devara


Mereka berdua pun sedikit mundur dari antrian di kasir. Ayra jengkel dengan perlakuan Devara. Padahal Devara hanya ingin membelikan Ayra novel itu. Ayra menghela napas menahan amarahnya.


“Sebenarnya maumu itu apa sih? Dari tadi gangguin aja”tanya Ayra jengkel


“Aku cuma mau membelikanmu novel itu. Itu saja” jawab Devara enteng


“Memangnya aku minta kamu beliin? Enggak kan? Ya udah..ga usah bayarin segala..Lagian emang kita udah deket sampai kamu bayarin barang yang aku beli..ga usah sok deket deh..Aneh tau”ujar Ayra panjang lebar


Devara yang awalnya senang mendengar ocehan Ayra, lama-lama terpancing emosinya mendengar celotehan Ayra yang tajam.


“Apanya yang aneh? Aku cuma mau berbuat baik? Apa aku salah?”tanya Devara


Mendengar pertanyaan Devara, membuat Ayra tak bisa menahan tawanya. Nyatanya mereka adalah musuh. Dalam pikiran Ayra tentunya. Karena dia sangat membenci Devara.


“Hahahahaha…”Ayra tertawa mendengar pertanyaan Devara


“Kadar kegilaannya benar-benar udah akut”gumam Ayra dalam hati sambil tertawa


Devara meradang mendengar suara tawa Ayra yang terdengar seperti mengejeknya.


“Hei..sejak kapan kamu seaneh ini hah? Dasar sinting” ujar Ayra lalu dia segera berjalan ke arah kasir dan membayar novelnya tadi. Kali ini Devara tak menyusul Ayra. Dia memilih keluar dari toko buku itu dan naik motornya. Devara memakai helmnya. Devara marah Ayra meremehkan dirinya.


Ayra juga tak mau ambil pusing dengan kemarahan Devara. Selesai membayar buku, Ayra segera keluar toko buku.


Ayra dan Devara sempat saling bertatapan, sebelum akhirnya Ayra memilih berjalan menjauh dari toko buku itu dan berjalan pulang. Sementara Devara segera menstarter motornya.


Devara mengendarai motornya menjauh dari toko buku. Dia biarkan Ayra berjalan pulang seorang diri. Ketika mereka bersebelahan, Devara sengaja menggeber motornya, sehingga terdengar suara motor Devara yang sangat keras.


“Bruuummm..bruuuummmm” suara motor Devara yang sangat berisik memekakan telinga yang mendengarnya.


Tak terkecuali Ayra. Ayra sampai menutup telinganya dengan kedua tangannya.


“Hiishhhh” Ayra jengkel melihat Devara yang sengaja menggeber motornya saat didekatnya.


“Apa dia salah minum obat?”gerutu Ayra dalam hati.


Ayra kemudian memilih lewat jalan kecil menghindari keramaian jalanan. Tampaknya Ayra sedang salah jalan, karena jalan kecil yang dilewatinya ternyata adalah basecamp anak-anak berandal yang suka memalak dan mengganggu pejalan kaki yang lewat area itu.


Melihat Ayra yang sedang berjalan sendiri, gerombolan cowok berandal yang ada disana menggoda Ayra. Ada beberapa yang bersiul melihat tubuh molek dan wajah cantik Ayra.


“Kenapa hari ini aku sial begini sih? Cowok-cowok berandal banyak banget. Mana jalannya sepi begini”gerutu Ayra dalam hati.


Tiba-tiba seorang lelaki bertato dengan wajah yang sangat sangar berdiri dan berjalan menghampiri Ayra.


“Sendirian aja mbak.. saya temani mau tidak?”goda lelaki itu


“Apa mau kalian? Jangan macam-macam..kalau tidak..”Ayra belum menyelesaikan kata-katanya tapi lelaki tadi sudah menyela.


“Kalau tidak..”lelaki tadi menirukan kata-kata Ayra sambil menatap teman-temannya


Mereka tertawa mendengar ancaman Ayra yang belum selesai itu.


“Kamu cantik juga..mau jadi pacarku?”tanya lelaki tadi sambil menyentuh wajah Ayra.


“LEPASKAN GADIS ITU”