
Temen-temen cewek sekelas Ayra, tampak pucat. Antara senang dan takut. Karena mereka di hadapan Devara, anak pemilik sekolah. Mereka takut jika sampai melakukan kesalahan. Nasib mereka yang jadi taruhannya. Namun akhirnya mereka pasrah saja.
Anak-anak cewek berbaris rapi menunggu giliran. Ayra berdiri di urutan ke sepuluh. Satu per satu anak mendapat operan bola Devara, mendribbel bola kemudian melakukan lay up. Ternyata Devara sangat profesional. Dia mengoper bola dengan tepat ke semua anak.
Kini tiba giliran Ayra. Devara mendapat ide untuk mengusili Ayra.
Devara mengoper bola ke arah Ayra, tetapi bola itu melambung terlalu tinggi. Ayra tak bisa meraih bola itu. Ayra melotot ke arah Devara karena Ayra tahu Devara sengaja melempar bola itu terlalu tinggi. Devara yang melihat Ayra melotot, terlihat sangat senang. Namun disembunyikan senyumnya itu dari Ayra. Melihat wajah Ayra yang sangat jengkel benar-benar seperti hiburan bagi Devara.
Ayra segera mengambil bola dan mengopernya lagi ke Devara. Ayra kembali ke posisinya semula bersiap menerima operan bola Devara. Sekali lagi Devara mengerjai Ayra. Bola dilempar terlalu jauh ke samping dari Ayra. Membuat Ayra yang sedari tadi sudah menahan amarahnya benar-benar marah dengan kelakuan usil Devara.
“Hyyaa…ngoper bolanya yang bener dong” teriak Ayra dengan suara lantang
Suara teriakan Ayra yang menggema ke seluruh ruangan membuat semua orang di ruangan itu menatap ke arah Ayra. Hingga membuat Pak Anton menghampiri Devara.
“Ada apa ini?”tanya Pak Anton sambil memegang pundak Devara
“Dia nih Pak..dari tadi sengaja mengoper bolanya asal-asalan. Kalo ga mau ngoper bilang aja”sungut Ayra dengan berapi-api sambil menunjuk ke arah Devara.
“Kamu yang ga bisa nangkap bola, kenapa malah menyalahkan aku?” Devara tak terima disalahkan. Walaupun sebenarnya memang dia yang salah.
“Cih…maling teriak maling. Udah salah ga mau ngaku salah”timpal Ayra sambil membuang muka.
Merasa diremehkan, membuat Devara jengkel juga dengan sikap Ayra.
“Sudah..sudah..jangan bertengkar disini. Kamu mengoper anak putra saja Dev” ujar Pak Anton mencoba melerai pertengkaran Devara dan Ayra.
Melihat situasinya yang tak menguntungkan, Devara pun mengalah.
“Oke..oke..aku salah. Aku akan oper bolanya dengan benar. Kamu tangkap yang benar juga” ucap Devara
Dia tak mau gara-gara masalah ini, dia harus “dipindah” ke grup putra. Ayra pun mencoba menenangkan dirinya.
“Awas kalo asal-asalan lagi” ancam Ayra.
Lalu Ayra berdiri lagi di posisinya semula. Kali ini Devara mengoper bolanya dengan benar. Ayrapun bisa menangkap bola dan mendribble nya. Ketika Ayra melakukan lay up, bola yang dilemparkan Ayra meleset. Bola tak bisa masuk ring. Melihat itu, Devara tertawa terbahak-bahak.
“Hahahaha…”suara tawa Devara terdengar mengejek Ayra.
Ayra menatap Devara dengan mulutnya yang mengerucut. Dia cemberut. Karena Devara sudah mengejeknya.
“Sialan..dia menertawakan aku. Dasar bocah tengil kurang ajar..puas kamu menertawakanku?”gerutu Ayra dalam hati penuh kekesalan mendengar suara tawa Devara yang menertawakan kegagalannya.
Ayra mengambil bola yang menggelinding, lalu dilemparkan dengan kasar ke arah Devara.
Melihat Ayra yang benar-benar jengkel, Devara salah tingkah. Devara menghentikan tawanya.
"Uhuk..uhuk.."Devara pura-pura batuk
Devara kemudian fokus mengoper bola ke grup putri lagi. Sementara Ayra berjalan ke arah antrian dengan terus menatap Devara dengan tatapan tajam.
“Sialan.. suara tawanya benar-benar menjengkelkan. Dia mengejekku. Aku kan memang tak pandai main bola. Dasar nyebelinnn”umpat Ayra dalam hati.
Satu per satu anak putri mendapat giliran. Mereka bisa memasukkan semua bola. Devara sebenarnya pemain yang professional yang bisa mengoper bola dengan baik. Kini giliran Ayra lagi. Karena memang masing-masing anak diberi kesempatan dua kali. Setelah itu, mereka bisa istirahat. Beberapa teman cewek Ayra yang sudah selesai melakukan lay up terlihat sudah bermain bola.
Ayra berdiri di posisinya bersiap menerima operan bola dari Devara.
“Awas saja kalo dia asal-asalan lagi kayak tadi” gumam Ayra dalam hati.
Karena Devara merasa tak enak hati sudah menertawakan Ayra, kali ini dia mengoper bola dengan benar. Ayra pun menangkap bola dengan baik. Ayra mendribble bola dengan perlahan lalu melakukan lay up. Bola berputar-putar di atas ring. Membuat mata Ayra dan Devara fokus pada bola itu. Jantung mereka pun berdegup dengan kencang.
Dan akhirnya bola itu …
masuk ring.
"Yeyyyy"teriak Ayra senang
Ayra melompat kegirangan. Karena bola yang dilemparnya masuk ring. Dia juga tersenyum bahagia. Devara yang melihat keberhasilan Ayra jadi ikut senang. Tanpa sadar Devara juga ikut tersenyum melihat Ayra tersenyum.
Ayra berlari meraih bola yang menggelinding, lalu melempar bola itu ke arah Devara.
Ayra yang melihat senyum Devara, dibuat terpesona selama beberapa detik. Lalu Ayra segera sadar.
“Gila..apa-apaan sih aku ini? Lihat dia senyum aja, malah salting” umpat Ayra dalam hati.
Dia pun segera berlari menyusul Nadine dan teman-temannya yang sudah lebih dulu istirahat dan bermain bola tangan. Ayra ikut main bola tangan. Setelah semua anak putri mendapat giliran, Devara kemudian bergabung dengan tema-teman cowok Ayra untuk bermain basket. Jadilah lapangan basket itu digunakan anak putra main basket, dan anak putri main bola tangan.
Saat sedang asyik bermain bola tangan, Ayra yang mencoba menghindari bola, tak memperhatikan seseorang dibelakangnya yaitu Devara. Ketika Ayra mencoba berbalik, kepalanya tanpa sengaja membentur punggung Devara. Karena benturan yang sangat kuat, Ayra sampai sedikit terpental dan terduduk di lantai.
“Aduh..” Ayra mengaduh
Devara yang merasakan sesuatu menabrak punggungnya, segera menengok ke belakang. Devara kaget, melihat Ayra yang sudah terduduk di lantai memegangi kepalanya yang terbentur punggungnya. Devara segera mendekati Ayra dengan wajah yang sangat kuatir.
“Apa kau tak apa-apa?”tanya Devara kuatir dengan posisi duduk berjongkok di depan Ayra
“Kau mau apa?”tanya Ayra bingung melihat Devara yang memegang tangannya.
Teman-teman Ayra mencoba mendekat.
“Lepaskan aku..aku tak apa-apa”Ayra mengibaskan tangannya dari genggaman tangan Devara.
Ayra segera berdiri. Nadine berjalan mendekati Ayra.
“Kamu tak apa-apa Ay?”tanya Nadine kuatir.
“Aku tak apa-apa” jawab Ayra sambil tersenyum.
Devara masih di posisinya duduk berjongkok. Kemudian dia berdiri tepat di depan Ayra. Membuat Ayra refleks melihat ke arah Devara.
“Dasar cewek tak tau diuntung. Aku sudah kuatir malah diacuhkan”umpat Devara dalam hati sambil menatap Ayra. Devara kemudian memilih berjalan ke arah kursi penonton tempatnya pertama kali datang tadi.
“Ayo kita main lagi” ajak Ayra pada Nadine dan teman-temannya.
Sempat sekali Ayra menatap ke arah Devara yang kini sedang duduk santai di kursi penonton. Mata mereka berdua saling berpandangan. Lalu Devara mengalihkan pandangannya. Ayra pun mengalihkan matanya ke permainan bola tangan.
Ayra sangat senang bermain bola tangan. Beberapa kali dia berhasil mencetak angka. Wajahnya yang tersenyum saat mencetak angka, membuat Devara ikut tersenyum. Beberapa kali Devara juga bertepuk tangan saat Ayra berhasil mencetak angka.
Saat bola yang dipakai kelompok anak putri bermain bola tangan menggelinding ke arah kursi penonton, Ayra pun berlari hendak mengambilnya.
Ternyata bola itu menggelinding di bawah kaki Devara. Lagi.
“Kenapa bolanya mesti menggelinding kesitu lagi sih?”gerutu Ayra dalam hati karena sekali lagi bola menggelinding di dekat Devara.
Devara pun segera mengambil bola itu.
“Hei..kembalikan bolanya” pinta Ayra.
Devara tak menjawab, hanya berjalan ke arah Ayra. Dia ingin menyerahkan bola itu langsung.
Tiba-tiba beberapa temen cewek Ayra berteriak,
“Ayraaa..awwasss”teriak beberapa temen cewek Ayra
Ayra menengok ke kanan, rupanya ada bola basket yang mengarah ke arahnya.
Devara yang juga melihat itu, segera berlari ke arah Ayra.
Dan akhirnya,
“Bukkk”
Bola itu mengenai tubuh Devara. Rupanya Devara menutupi tubuh Ayra dengan tubuhnya supaya Ayra tak terkena bola yang melayang ke arahnya.
Saat ini, posisi Devara dan Ayra benar-benar sangat dekat. Devara merelakan tubuhnya terkena bola. Sementara Ayra tertutup tubuh besar Devara. Ketika Ayra mendongakkan kepalanya ke arah Devara, mata mereka saling bertatapan. Wajah Devara sangat dekat. Ayra bisa melihat dengan jelas wajah tampan Devara.
“Apa kau tak apa-apa?”tanya Devara kuatir
“A..aku baik-baik saja”jawab Ayra dengan terbata-bata
“Terimakasih” ucap Ayra lirih
“Syukurlah” jawab Devara sambil tersenyum.
Wajah tampan Devara yang sedang tersenyum benar-benar membuat jantung Ayra berdegup kencang.
Beberapa teman cewek dan cowok Ayra sekelas mendekat ke arah mereka berdua.
Devara membalikkan tubuhnya dan memasang wajah serius. Sementara Ayra masih berdiri di belakang Devara menatap tubuh besar Devara. Tampak bekas bola tadi di kemeja Devara.
“Ma..maaf Dev. A..ak..aku..aku tadi tak sengaja” ucap Reno teman sekelas Ayra dengan terbata-bata.
“Jangan minta maaf padaku. Minta maaflah pada Ayra” ucap Devara.
Padahal jelas-jelas bola tadi mengenai Devara.
“Ayra..maafkan aku. Aku tak sengaja” ucap Reno pada Ayra.
“Iya..tak apa-apa. Aku baik-baik saja” jawab Ayra
Devara kemudian memilih meninggalkan lapangan basket. Dia ingin kembali ke kelas, karena dia sudah meninggalkan kelas terlalu lama.
Nadine menggandeng tangan Ayra dan memastikan keadaan Ayra.
“Aku baik-baik saja Nad..jangan kuatir”jawab Ayra menenangkan Nadine
Ayra menatap kepergian Devara sampai Devara benar-benar hilang dari pandangannya.
Sejak hari itu, Ayra merasakan sesuatu yang aneh setiap kali bertatapan dengan Devara. Ayra juga tak tahu pasti kenapa.
Devara juga akhir-akhir ini sering terlihat di kantin lantai 1 saat istirahat. Pandangan mata Devara saat menatap Ayra mampu membuat Ayra salah tingkah. Namun Ayra selalu berhasil mengalihkan pandangannya.