
Sesampainya di dalam rumah kediaman Alexander, keluarga Devara sudah menunggu kedua pengantin baru itu. Papa, Mommy dan nenek Agatha duduk di ruang tamu menunggu Devara dan Ayra. Papa terlihat asyik bermain bersama thania, cucu pertamanya. Thania duduk menunggangi Brandon yang menjelma menjadi kuda bagi cucu semata wayangnya.
Begitu melihat putrinya menaiki sang papa, Catherine segera mendekati Thania.
“Thania sayang, sudah dulu ya mainnya.. Kasihan Grandpa! Thania main sama daddy aja ya?”pinta Catherine.
Arga duduk berjongkok menghampiri putrinya.
“Thania mau ikut daddy? Kita makan es krim di dapur, bagaimana?”bujuk Arga
Thania langsung berbinar-binar mendengar minuman kesukaannya disebut. Gadis kecil itu pun langsung berdiri dan menggandeng daddy nya.
“Ayo dad!”ajak Thania
Arga tersenyum melihat senyum manis putri kesayangannya. Akhirnya Arga mengajak Thania pergi ke dapur mencari es krim kesukaannya.
“Thania mirip sekali dengan Catherine ya mom?”tanya Caroline pada Agatha.
“Iya”jawab Agatha.
“Kemarilah cucuku. Kenapa kalian malah berdiri di situ?”tanya Agatha melihat Devara dan Ayra yang masih berdiri di samping Catherine.
“Iya nek”jawab Devara
Devara menggenggam tangan Ayra dan mengajaknya menghampiri Agatha. Keluarga besar itupun melepas kerinduan. Walaupun baru sehari berpisah. Namun karena kemarin mereka hanya bertemu dalam waktu yang singkat, membuat masing-masing merasakan kerinduan. Apalagi kesibukan Brandon dan Caroline yang teramat sangat, membuat keluarga itu jarang bisa berkumpul seperti sekarang. Pemandangan yang sangat langka melihat keluarga besar Devara berkumpul.
Ayra duduk di samping Agatha. Agatha menggenggam tangan Ayra dan beberapa kali mengusap wajah cantik wanita yang sudah menjadi cucu menantunya.
“Apa kau bahagia Ayra menikah dengan Devara?”tanya Agatha
“Pertanyaan macam apa itu nek? Tentu saja dia bahagia”protes Devara
“Iya kan sayang?”tanya Devara pada Ayra
“Iya nek..aku bahagia”jawab Ayra sambil tersenyum
“Dev, nenek ingin berbicara empat mata dengan istrimu. Kau bisa kan meninggalkan kami sebentar?”pinta Agatha.
“Aku juga mau dengar nek”bujuk Devara
“Cucuku sayang, ada beberapa hal yang harus nenek bicarakan dengan istrimu. Ini juga demi kebahagiaan kalian. Kau mau kan?”pinta Agatha sambil menggenggam tangan Devara yang duduk di sebelahnya.
“Sudahlah Dev! Kau tinggalkan istrimu sebentar saja. Kami tidak akan melukainya. Tenang saja”bujuk Catherine
“Ayo Dev! Kau ikut papa ke ruang kerja. Biarkan istrimu bersama mommy dan nenek”ajak Brandon pada putra semata wayangnya.
Devara sebenarnya enggan ikut Brandon, karena dirinya tak ingin jauh dengan istri tercintanya.
“Pergilah Dev! Papa menyuruhmu ke ruang kerjanya. Aku cuma disini sebentar. Sama nenek dan mommy juga”bujuk Ayra.
“Tenang Dev! Aku akan menjaga istrimu”ucap Catherine sambil memegang bahu Devara
“Justru kakak yang paling aku kuatirkan. Aku takut kakak meracuni istriku dengan ujaran kebencian kakak”
Catherine memukul bahu Devara dengan lumayan keras. Membuat Devara mengelus bahunya yang baru dipukul Catherine.
“Dasar bocah nakal! Kau pikir kakak bisa sejahat itu?”keluh Catherine
Agatha dan Caroline yang melihat kelakuan adik kakak itu hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Sudah..sudah! Papa menunggumu Dev”ucap Caroline
Devara terpaksa menuruti keinginan papanya. Devara beranjak dari kursinya dengan tatapan matanya masih terpaku pada Ayra. Membuat Ayra terpaksa “mengusir” Devara sambil tangannya digerakkan untuk menyuruh Devara mengikuti Brandon.
“Ada-ada saja kelakuan putra kesayangan mommy”ucap Catherine sambil melihat Devara yang terlihat berat meninggalkan Ayra.
“Apa kau lupa kau juga sama seperti adikmu itu?”sindir Caroline.
“Aku heran kenapa gen papamu begitu kuat pada kalian berdua? Kenapa kalian bisa se-bucin itu pada pasangan kalian”ujar Caroline
Ayra yang mendengar penuturan sang mertua hanya bisa menahan tawanya.
“Ternyata sifat posesif Devara karena faktor genetik. Aku tak tau jika posesif bisa diwariskan”gumam Ayra dalam hati.
“Iya nek”jawab Ayra sambil menganggukkan kepalanya.
“Walaupun kadang sifatnya semaunya dan cenderung memaksa, tapi sebenarnya Dev anak yang baik. Dan yakinlah bahwa kaulah satu-satunya wanita yang dicintai Dev”ucap Caroline
“Iya mom. Aku tau itu”jawab Ayra
“Aku sudah dengar cerita dari Madam O, tentang Devara yang sudah menyelamatkan nyawamu belasan tahun yang lalu. Aku tak menyangka ternyata kalian sudah berjodoh sejak dulu”ucap Agatha.
“Benarkah itu nek? Aku belum dengar cerita itu”sahut Catherine.
Di tengah percakapan mereka, Arga sudah kembali bersama si kecil Thania. Thania langsung berlari ke arah Catherine. Chaterine juga langsung memeluk tubuh mungil Thania. Arga langsung duduk di samping Catherine. Arga membisikkan sesuatu pada Catherine.
“Kami ke (ruang) belakang dulu ya nek”ucap Catherine.
Agatha dan Caroline menganggukkan kepalanya. Catherine, Thania dan Arga memilih meninggalkan Agatha dan Caroline untuk bermain dengan putri kesayangannya di ruang keluarga yang terletak dekat dengan taman belakang.
“Karena sekarang kau sudah menjadi seorang istri, nenek pesan sesuatu yang penting padamu”
“Apa itu nek?”tanya Ayra penasaran
“Jagalah lima hal ini baik-baik. Lima hal yang ada pada suamimu. Pertama, jagalah matanya. Artinya kau harus pandai merawat diri. Sebagai wanita, tampillah semenarik mungkin di hadapan suamimu. Jadilah wanita secantik mungkin ketika berdua dengan suamimu. Kalau perlu, kamu harus jadi wanita nakal di depan suamimu”pesan Agatha sambil membisikkan pesan terakhirnya tadi.
Ayra yang mendengar pesan Agatha tampak mengernyitkan dahinya.
“Kenapa aku malah disuruh jadi wanita nakal?”gumam Ayra dalam hati.
“Dengan pesona yang dimiliki Devara, nenek yakin banyak wanita nakal di luar sana, yang siap mengganggu pernikahan kalian dan merebut Devara dari tanganmu. Jadi sebelum wanita nakal itu berkeliaran, kau harus menjadi wanita nakal untuk Devara. Supaya Devara tak pernah terpikir mencari kesenangan di luar”
“Awas saja kalo dia berani mencari wanita nakal di luar. Aku akan patahkan kaki dan tangan Dev”ancam Ayra dalam hati sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.
“Kau mengerti maksud nenek kan Ayra?”tanya Agatha.
“Iya nek..aku mengerti”jawab Ayra.
“Pesan nenek yang kedua, jaga telinganya. Artinya bicaralah dengan lemah lembut di hadapan suamimu. Jangan pernah sekali-kali kau mengeluarkan suara tinggi atau marah-marah di hadapan suamimu. Jadilah wanita yang bahkan suaramu bisa menenangkan suamimu”
“Iya nek”sahut Ayra mengerti
“Yang ketiga, jagalah hidungnya. Artinya kamu harus selalu wangi di sekitar suamimu. Karena wanita yang wangi akan membuat suami betah berlama-lama denganmu. Jangan sampai kau menjadi wanita “berasap”!”
“Maksudnya apa nek?”tanya Ayra penasaran
“Maksud nenek, jangan sampai keluar aroma tidak sedap dari tubuhmu. Entah itu hanya karena bau mulut, bau keringat, ataupun bau..kentutmu”ucap Caroline sambil menahan tawanya saat menjelaskan maksud Agatha.
Ayra menekuk bibirnya ke dalam begitu mendengar penjelasan Caroline antara menahan malu maupun menahan tawanya.
“Iya, itu maksud nenek”ucap Agatha.
“Baiklah nek. Aku mengerti”sahut Ayra.
“Yang keempat, jagalah mulutnya. Artinya jadilah wanita yang pandai memasak. Karena lelaki itu sangat suka dengan wanita yang pandai memasak. Untung saja Devara itu anaknya bukan termasuk lelaki yang pilih-pilih untuk urusan makanan. Dia bisa memakan masakan apapun yang kamu masakkan”pesan Agatha lagi.
“Iya nek..aku akan berusaha memasak untuk Dev”jawab Ayra.
“Tapi aku kan ga bisa masak masakan Perancis”gumam Ayra dalam hati
Caroline yang melihat ekspresi Ayra yang berubah sambil mengerutkan dahinya segera menggenggam tangan Ayra berusaha menguatkannya.
“Kenapa sayang?”tanya Caroline
“Aku baru ingat kalo aku tak bisa masak masakan Perancis”ucap Ayra dengan polosnya
Agatha dan Caroline menahan tawanya.
“Tenang sayang, kau bisa belajar sedikit demi sedikit dari chef kita”sahut Caroline.
“Pesan nenek yang terakhir dan mungkin yang paling penting. Jaga yang ada di pangkal paha suamimu. Artinya ini berhubungan erat dengan masalah ranjang. Lelaki dimanapun jika sampai “jajan” di luar, itu pasti karena masalah pemenuhan has*rat mereka. Kebutuhan lahiriyah mereka. Jadi seperti pesan nenek yang pertama tadi, kalo wanita di luar bisa menggoda, maka kamu harus lebih menggoda di mata suamimu. Sehingga dia tidak akan berpikir untuk mencari kepuasan di luar sana”
Ayra yang mendengarkan pesan terakhir Agatha tampak menghela nafasnya. Karena bagaimanapun juga, pesan tersebut benar adanya.
“Baiklah. Aku akan tunjukkan padamu Dev, aku bisa menjadi istri idamanmu. Aku akan menjadi wanita yang bisa memenuhi semua kebutuhanmu. Karena kamu adalah suamiku. Dan aku adalah istrimu”tekad Ayra dalam hati.