Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Mereka Juga Cowok


Keesokan paginya,


Semua sudah bangun dan bersiap pergi piknik ke kampung halaman kakek buyut Bunda. Kampung itu agak jauh dari kota, memakan waktu hampir tiga jam lamanya. Karena jauh, maka yang menyetir mobil pun bergantian antara Ayah dan Devara.


Ayah dan Bunda sangat senang dengan kehadiran Devara. Rasa-rasanya keluarga mereka utuh kembali. Sama seperti dulu. Seperti ketika kak Aldo masih hidup.


Sepanjang perjalanan, mereka selalu ngobrol dan bercanda bersama. Ayah Bunda beberapa kali menceritakan kenakalan masa kecil Ayra. Membuat Ayra malu dan kesal, karena aib nya di masa lalu dibuka oleh Ayah Bundanya.


“Sebenarnya anak Ayah dan Bunda siapa sih?” protes Ayra


Ayra cemberut dibuatnya.


Devara yang sedang menyetir mobil hanya bisa melirik wajah pacarnya itu dari kaca spion sambil tersenyum.


Akhirnya mereka sampai juga di kampung tujuan mereka. Benar kata Ayra, kampung itu agak pelosok. Masyarakatnya masih banyak yang menjadi petani. Lingkungan pedesaan yang sangat asri dan jauh dari keramaian kota. Lingkungannya masih sangat tradisional. Membuat pikiran dan hati merasa tenang dan damai.


Mereka sampai juga di rumah kediaman kakek buyut Bunda. Rumah dengan perpaduan antara gaya klasik dan gaya modern. Arsitekturnya didominasi kayu jati. Dengan sebuah kolam ikan besar disampingnya. Halaman rumahnya juga luas. Ada kebun sayur dihalamannya. Suasananya sangat asri dengan beberapa pohon buah-buahan di sekeliling rumah.


Begitu turun dari mobil, udara sejuk khas pedesaan merasuk dalam dada. Udara disini sangat segar. Ayra mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara dengan memejamkan matanya, dia menghirup udara dalam-dalam.


“Segarnyaaa”ucap Ayra senang.


Ayah dan Bunda juga tampak senang. Devara yang turun terakhir dari mobil, menoleh ke arah Ayra dengan senyum yang tersungging di wajahnya. Ayra menurunkan kedua tangannya dan menoleh ke arah Devara dengan tersenyum.


“Ayo kita bawa masuk barang-barang ke dalam!” ajak Ayah.


Devara membuka pintu bagasi belakang, dan menurunkan tiga koper besar dan beberapa barang belanja bunda kemarin.


Seorang lelaki paruh baya dari dalam rumah, tampak sedikit berlari, mendekati Ayah Aldi.


“Ya ampun, tuan dan nyonya kapan datangnya? Kok ga ngasih kabar dulu?”tanya lelaki paruh baya itu


“Gimana kabarnya pak Wahid? Maaf kami tiba-tiba datang, kebetulan saya pas bisa libur, sekalian saya ajak Bunda dan Ayra kesini”sapa Ayah sambil menjabat tangan renta pak Wahid, penjaga rumah kediaman kakek buyut Ayrin.


Pak Wahid menatap Devara yang berdiri di samping Ayah. Ayah memegang pundak Devara,


“Ini Devara, pacar Ayra pak”ucap Ayah sambil tersenyum ke arah Devara


“Woalah, tadi saya kira suaminya non Ayra”ucap Pak Wahid polos.


Ayra langsung tersipu malu. Kepalanya menunduk.


“Ayra masih sekolah pak” ujar Bunda sambil tersenyum ke arah Ayra dan Devara.


“Mari, saya bantu bawakan!” ucap Pak Wahid hendak meraih pegangan koper


“Ga usah Pak..biar saya saja. Kopernya berat” ucap Devara sopan


“Iya Pak..biar kami saja” balas Ayah sambil memegang pegangan koper


“Non Ayraaa” teriak seorang wanita paruh baya berbadan gemuk setengah berlari menghampiri Ayra.  Wanita itu memeluknya lalu menciumi pipi Ayra kanan dan kiri penuh semangat 45. Ayra pasrah saja dipeluk dan dicium bi Inah. Wanita yang dulu semasa kecil pernah mengasuhnya.


“Ya ampunn..udah gadis sekarang ya non. Cantik banget..kayak nyonya Ayrin waktu muda”puji bi Inah sambil menatap wajah Ayra. Ayra hanya tersenyum.


“Apa kabar bi Inah? Sehat kan?”sapa Bunda sambil memeluk bi Inah


“Aduhh..nyonya juga awet muda.. Cantik banget” puji bi Inah.


Bunda tersenyum mendengar pujian bi Inah


“Lha ini siapa cowok ganteng banget?”tanya bi Inah saat menyadari kehadiran Devara.


“Namanya Devara bi..pacarnya Ayra” ucap Bunda memperkenalkan Devara.


“Pacar? Ya ampun..non Ayra pinter banget lho nyari cowok. Guanteng e gitu..Kalo non Ayra sampe nikah nanti pasti anaknya guanteng dan cantik-cantik. Bibit unggul semua” ucap bi Inah ceplas ceplos.


Devara dan Ayra tersipu malu mendengar pujian bi Inah.


“Ayo masuk! Diluar terus nanti panas” ajak bi Inah sambil membantu membawakan barang-barang.


Mereka berempat masuk ke dalam rumah diikuti pak Wahid dan bi Inah.


Ayra kembali ke mobil mengambil barangnya yang tertinggal. Devara mengikuti dibelakangnya.


“Disini hawanya sejuk ya” kata Devara sambil menikmati pemandangan di sekelilingnya.


“Oo..iya”jawab Ayra


“Kamu sering kesini?”tanya Devara


Ayra menggeleng pelan.


“Ga juga. Karena ayah sangat sibuk, jadi kami jarang kesini”ucap Ayra


“Aku ijin Bunda dulu ya”jawab Ayra lalu masuk ke dalam rumah. Beberapa detik kemudian, Ayra setengah berlari keluar dari rumah.


“Ayo!”ajak Ayra


Mereka berdua jalan beriringan sambil menikmati pemandangan sekeliling rumah.


“Pasti pemandangan di vila-vila milik keluargamu lebih bagus dari yang disini kan?”tanya Ayra


“Aku sudah lupa. Sudah lama keluargaku tak pernah liburan bersama. Kalau libur, kami selalu memilih ke Singapura ke rumah nenek atau liburan ke luar negeri. Aku tak pernah main ke daerah seperti ini”jawab Devara


Mereka mengamati petani-petani yang sedang menanam padi di sawah dekat rumah kakek buyut Ayrin.


“Disini masih tradisional ya?”tanya Devara sambil menatap petani yang membajak sawah dengan kerbaunya.


“Ya..begitulah”jawab Ayra


Mereka menyusuri pematang sawah. Karena licin, beberapa kali Ayra hampir terpeleset.


Devara mengulurkan tangannya. Ayra menyambut uluran tangan Devara. Jadilah mereka menyusuri pematang sawah sambil bergandengan tangan.


“Jalanmu pelan-pelan dong” pinta Ayra


“Dari tadi aku juga udah pelan” jawab Devara.


“Tapi kakimu panjang. Kakiku kan pendek”protes Ayra sambil menjulurkan kakinya yang memang lebih pendek dari kaki Devara.


“Baiklah”Devara mengalah.


Dia memperlambat langkah kakinya, supaya Ayra bisa mengikutinya. Keduanya berjalan berdua sambil bercanda dan ngobrol bersama.


Sampailah mereka di sebuah sumber mata air yang airnya sangat jernih dan dangkal.


“Wah..disini ternyata masih sama. Aku dulu sering main kesini dengan kak Aldo. Lihat! Ayunan itu juga masih ada”tunjuk Ayra pada ayunan di bawah pohon besar.


Ayra melepaskan genggaman tangan Devara lalu berjalan menyusuri mata air yang dangkal itu menuju ayunan. Lalu Ayra naik ayunan itu.


“Pasti dulu kau pernah mandi disini kan waktu kecil?” tanya Devara


“Kok tahu?”tanya Ayra penasaran sambil mengernyitkan dahinya.


“Dimana-mana anak kecil kalau lihat kolam segede dan sedangkal ini pasti pinginnya nyebur”jawab Devara enteng sambil duduk di tepi sumber mata air mengamati Ayra yang sedang asyik bermain ayunan.


Ayra mengangguk pelan sambil memainkan ayunannya.


“Kau tak mau kesini? Main ayunan ini asyik lho”tanya Ayra


Devara bukannya tak mau, tapi melihat baju yang dipakai Ayra, Devara mengurungkan niatnya. Baju oversize itu memperlihatkan paha dan kaki Ayra yang indah. Bahkan hot pants Ayra tak nampak tertutup baju oversize nya. Seolah-olah Ayra tak memakai bawahan. Devara jadi salah tingkah. Ayra yang asyik mainan ayunan, tak menghiraukan Devara yang salah tingkah karena baju yang dipakainya.


Ketika Devara mendengar ada beberapa anak kecil mendekati sumber mata air itu, Devara buru-buru melepas kemeja yang dipakainya. Menyisakan kaos putih slim fit yang dipakainya. Devara segera menceburkan kakinya ke air lalu berjalan mendekati Ayra.


“Turun!”perintah Devara


Ayra bingung, tapi menurut saja dengan permintaan Devara.


Devara segera melingkarkan kemejanya tadi ke pinggang Ayra untuk menutupi baju Ayra. Ayra pasrah saja sambil menatap Devara yang nampak serius melingkarkan kemejanya.


“Apa kau tak punya pakaian lain selain ini? Aku tak suka!” ujar Devara sambil menatap Ayra yang berdiri di depannya.


“Bajunya kan longgar” protes Ayra


“Tapi lihat bagian bawahnya” tunjuk Devara.


“Aku kan pakai celana pendek”ucap Ayra sambil melihat hot pants nya


“Pokoknya aku tak suka. Aku tak mau ada cowok lain yang melihat tubuhmu” seru Devara


“Memang ada cowok lain? Mana?” tanya Ayra sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling


“Lihat! Mereka juga cowok kan?”jawab Devara menunjuk anak-anak kecil yang menghampiri mereka hendak main di sumber mata air itu.


Ayra cekikikan mendengar ucapan Devara.


“Masak kamu cemburu sama anak kecil seperti mereka sih?”tanya Ayra  sambil menunjuk anak-anak usia Sekolah Dasar antara kelas satu sampai kelas tiga yang menghampiri mereka.


“Memang kenapa? Mereka juga cowok” protes Devara lagi.


Ayra menggeleng pelan. Tak mengerti dengan jalan pikiran pacarnya itu.


“Sudah..kita pulang saja. Sudah siang” ajak Devara sambil menggandeng tangan Ayra


Ayra tersenyum saja melihat tingkah kekanak-kanakan Devara.