
Sejak berseteru dengan Devara, Ayra dan Daniel hanya bisa istirahat di kantin lantai satu. Semua penghuni sekolah, semua murid yang ada di sekolah yang sudah mendengar “perselingkuhan” Ayra dan Daniel selalu menatap keduanya dengan tatapan penuh kebencian. Tak jarang Ayra dan Daniel mendapatkan perundungan dari teman-temannya. Mulai dari ucapan-ucapan kasar yang menusuk hati hingga kekerasan fisik mereka terima. Mereka pernah mengalami, saat sedang mengantri, ada yang menjegal kaki Ayra atau Daniel hingga membuat mereka terjungkal ke lantai. Namun karena Ayra pandai beladiri, tentu saja tak akan tinggal diam begitu diperlakukan tidak adil oleh teman-teman satu sekolahnya.
Ayra pernah harus berkelahi dengan beberapa lelaki yang menjahilinya hingga membuat lelaki-lelaki tadi babak belur, kemudian Ayra harus dipanggil ke ruang BK. Devara yang melihat Ayra dianiaya teman-temannya hanya bisa menyembunyikan perasaannya. Dia tak berbuat apa-apa untuk membela Ayra. Semua itu disebabkan Devara yang sudah dibutakan dengan api cemburu hingga membuat dirinya tak bisa berpikir dengan jernih. Meskipun hatinya terus berkata bahwa Ayra tak bersalah, namun pikirannya lebih berkuasa. Sehingga Devara pun hanya pasrah melihat gadis yang sangat dicintainya menderita.
Hari demi hari dilalui Ayra dengan luka hati yang semakin lama semakin menganga. Sejak Gina datang, hubungan Ayra dan Devara hancur berantakan. Membuat Ayra juga tak bisa konsentrasi belajar. Hal itu membuat Ayra juga kesulitan mempertahankan peringkatnya.
Ayra yang sudah tak tahan menerima semua fitnah dan perlakuan tidak adil dari teman-temanya akhirnya memilih menemui Gina untuk menuntut penjelasan. Gina yang hari ini sedang kontrol ke rumah sakit, begitu melihat Ayra datang menjenguknya tampak menyeringai licik.
“Ada perlu apa kau kemari Ay?”tanya Gina dengan mendorong kursi rodanya.
Gina yang sedang kontrol memang tidak boleh kecapekan sehingga harus berada di atas kursi rodanya. Ayra yang melihat Gina di atas kursi roda merasa kasihan pada Gina. Namun Gina menatap Ayra dengan tatapan penuh kebencian.
“Apa kau kasihan padaku? Karena melihatku di atas kursi roda seperti ini?”tanya Ayra.
“Aku kemari untuk meminta penjelasan darimu”ucap Ayra
“Kita bicara di taman”sahut Gina
“Sini aku bantu”ucap Ayra
Akhirnya keduanya berjalan-jalan di sekitar taman rumah sakit. Dengan Ayra yang mendorong kursi roda Gina.
Sampai di taman rumah sakit milik Devara, keduanya akhirnya berbicara empat mata. Keduanya saling berhadapan. Dengan Ayra yang berdiri di depan Gina. Sementara Gina duduk di kursi rodanya. Kebetulan suasana taman sedang sepi dari pengunjung rumah sakit sehingga keduanya bisa berbicara dengan lebih leluasa. Ayra menatap tajam ke arah Gina. Begitu juga dengan Gina.
“Katakan apa yang ingin kau tanyakan padaku”tanya Gina
“Aku tahu kau tak pernah suka padaku. Aku hanya ingin tahu sebenarnya apa salahku padamu? Kenapa kau sangat membenciku dan ingin melukaiku?”tanya Ayra terus terang
“Hahaha..apa kau tak tahu sebabnya?”tanya Gina sambil tertawa
Ayra menggelengkan kepalanya.
“Gadis bodoh! Apa kau tak tahu aku paling benci gadis sok baik sepertimu. Gadis sepertimu tak pantas mendampingi Devara. Karena aku lah satu-satunya gadis yang pantas di samping Devara”ujar Gina dengan tatapan sinis pada Ayra.
“Jadi semua ini karena kau iri padaku? Karena Devara lebih mencintaiku daripada dirimu?”sindir Ayra
“Jangan sombong! Aku akan membuat Devara membencimu dan membuat kau menghilang dari hatinya”sungut Gina
“Gina..gina..gadis cantik sepertimu kenapa bisa melakukan kejahatan hanya demi cinta lelaki yang belum tentu mencintaimu. Apa kau tau itu membuatmu sangat mengenaskan. Mendambakan cinta lelaki yang bahkan tak mencintaimu”ejek Ayra membuat Gina meradang mendengar setiap kata yang diucapkan Ayra.
“Terserah apa katamu! Aku tak peduli. Aku akan melakukan semuanya asalkan Devara menjadi milikku. Milikku seutuhnya. Meskipun aku harus menyingkirkanmu dari kehidupan Devara”ujar Gina dengan seringai licik di wajah “malaikat”nya yang membuat Ayra bergidik ngeri.
Ayra tak pernah mengira obsesi Gina pada Devara akan membuat gadis lembut yang berwajah malaikat itu akan mampu melukai siapapun asal impiannya terwujud.
“Kenapa? Apa kau sekarang takut padaku?”tanya Gina menatap sinis pada Ayra.
“Aku tak pernah takut pada siapapun”jawab Ayra tegas
Ayra tak menyadari bahwa di belakangnya kini sudah berdiri Devara yang berjalan menghampiri keduanya.
Tiba-tiba,
“Gubraakkkk”
Gina dengan sengaja menjatuhkan dirinya sendiri dari atas kursi roda. Membuat Ayra terkejut dengan ulah Gina. Ayra yang ingin menolong Gina segera ditampik tangannya oleh Gina, dan senyum licik terukir di wajahnya lalu sedetik kemudian Gina menangis sejadi-jadinya, membuat orang-orang disekitar taman menatap ke arah Gina.
“Apa lagi sekarang permainan yang mau kau mainkan Gin?”gumam Ayra dalam hati.
“Ginaaa”teriak Devara sambil berlari ke arah Gina dan Ayra.
Ayra kaget melihat Devara yang selalu hadir di saat yang tak tepat.
Devara menatap Ayra dengan penuh amarah.
“Apa tak cukup kau membuat Gina terluka? Apa sebenarnya maumu Ayra?”bentak Devara dengan suara beratnya
“Tapi aku tidak..”
“Pergi dari sini! Aku tak ingin melihatmu lagi! Pergi!”usir Devara dengan keras
Hati Ayra merasa sangat sedih. Karena Devara mengusirnya tanpa memberinya kesempatan menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi.
Devara yang panic segera membopong Gina lalu berlari ke arah kamar Gina dengan terburu-buru. Sementara Ayra terduduk di taman rumah sakit dengan hati yang sangat sedih. Sekali lagi Devara telah menyakiti hatinya dengan semua kata-kata kasarnya. Ayra menitikkan air mata menahan kesedihan dalam hatinya.
“Kenapa kau tak percaya padaku Dev? Kenapa kau selalu menyakiti hatiku?”gerutu Ayra sambil mengusap airmatanya yang jatuh berlinang
Ayra terus menangis merasakan sesak di dalam dadanya. Devara yang dulu sangat lembut dan penyayang, kini semakin berubah menjadi lelaki dingin yang kasar. Seakan tak pernah ada ikatan cinta di antara keduanya. Dan semua itu membuat Ayra semakin sedih.
Angel yang berdiri tak jauh dari tempat Ayra, tersenyum penuh kemenangan.
“Akhirnya kau merasakan penghinaan yang dulu aku rasakan..Rasakan Ayra! Aku harap setelah ini kak Dev mengusirmu dari kehidupannya”gumam Angel dengan tersenyum penuh kemenangan.
Ujian Nasional sudah di depan mata. Selama beberapa hari, sejak kejadian di rumah sakit, Ayra bertekad untuk segera menyelesaikan pendidikannya dan segera mengakhiri kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya dan Devara. Ayra bertekad mengembalikan nama baiknya yang sudah dicemarkan Gina berbekal semua bukti yang dimilikinya.
Ujian Nasional yang berlangsung selama empat hari dapat dilalui Ayra dengan sangat baik. Dia yakin bisa memberikan hasil yang terbaik bagi kedua orangtuanya. Meskipun kehidupan percintaannya hancur lebur, namun Ayra selalu bertekad untuk membahagiakan kedua orangtuanya. Sehingga sesakit apapun hatinya, sepedih apapun hidupnya, dia akan berusaha sekuat tenaganya untuk mempersembahkan yang terbaik bagi kedua orangtuanya. Dia juga ingin membuat kakaknya, Aldo bangga padanya.
Setelah ujian berakhir, Ayra menguatkan hatinya untuk menemui Devara.
“Aku ingin bicara denganmu. Berdua saja. Kapan kau ada waktu?”tanya Ayra tegas
“Aku tak ada waktu untukmu”jawab Devara tak kalah ketus
Ayra berusaha menahan emosinya.
“Setidaknya beri aku satu kesempatan untuk membersihkan namaku. Jika setelah ini kau masih tak mempercayai kata-kataku, itu urusanmu. Apalagi sebentar lagi kita akan kuliah. Mungkin kita tak akan bertemu lagi. Jadi untuk yang terakhir kalinya, beri aku kesempatan untuk bicara”ujar Ayra panjang lebar
Entah kenapa, Devara yang mendengarkan setiap kata dari Ayra merasa hatinya sangat sakit mendengar mereka tak akan bertemu lagi.
“Baiklah. Kita bertemu di café XX besok jam 18.00”ucap Devara
Ayra menganggukkan kepalanya setuju.