Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Wedding Day


Wedding Day


Hari bersejarah antara Devara dan Ayra akhirnya datang juga. Setelah menunggu lima bulan lamanya, hari ini keduanya akan mengikat janji suci pernikahan. Semua persiapan pernikahan sudah rampung sepenuhnya. Penata rias ternama Indonesia, dipercaya untuk merias Ayra. Gadis tomboy yang kini sudah perlahan menjadi lebih feminin itu, tak bisa menyembunyikan perasaannya yang sedang bergejolak hebat. Hari ini dirinya akan resmi menjadi Nyonya Devara Alexander.


“Hufftt”


Ayra menghela nafas dengan perlahan mengusir kegundahan dan kegelisahan dalam hatinya.


“Nona nervous ya?”tanya penata rias dengan senyum diwajahnya


“Ah..iya. Saya nervous”jawab Ayra jujur


“Tenang saja..nona sangat cantik hari ini. Nonalah ratu acara nanti”puji sang penata rias setelah melihat hasil kerjanya.


Ayra nampak cantik dengan riasan di wajah cantiknya. Dengan rambut yang ditata dengan aksen bergelombang dan sebuah mahkota kecil di atas kepalanya semakin mempermanis penampilan Ayra, sang pengantin wanita. Gaun pengantin yang dikenakan Ayra adalah gaun yang sama yang dipilihkan oleh Devara beberapa waktu lalu.


Ayra mengatur nafasnya untuk mengurangi nervousnya. Bagaimana pun juga hari ini adalah hari yang paling sakral dan bersejarah dalam hidup Ayra. Berbagai perasaan campur aduk memenuhi hatinya.


“Semua sudah siap?”tanya Catherine pada calon adik iparnya itu.


“Woww..you look gorgeus Ayra. Cantik banget”puji Catherine begitu melihat penampilan Ayra


Ayra tersipu malu mendengar pujian kakak iparnya.


“Terimakasih kak”balas Ayra


“Kita berangkat sekarang?”tanya Catherine


Ayra menganggukkan kepalanya pelan. Dengan bantuan beberapa pelayan, Ayra berjalan menuju mobil yang disiapkan khusus untuk dirinya. Catherine juga ikut serta di dalam mobil itu.


Sepanjang perjalanan, Ayra terus melamun. Ayra mengingat kembali semua kejadian antara dirinya dan Devara. Lelaki yang sebentar lagi menjadi suaminya. Ayra mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan sang troublemaker. Ayra tersenyum saat mengingat bagaimana dirinya sudah menjewer telinga Devara di alun-alun kota. Ayra juga mengingat betapa bencinya dulu dirinya kepada Devara. Apalagi dengan ciuman paksa yang sudah dilakukan lelaki itu padanya. Membuat Ayra semakin membenci lelaki itu.


Namun seiring berjalannya waktu, Ayra yang terus diganggu Devara, perlahan-lahan mulai merasakan perasaan yang berbeda. Terlebih setelah cowok yang selalu dipanggilnya dengan sebutan cowok gila, sinting dan aneh itu beberapa kali menyelamatkan nyawanya dari bahaya. Puncaknya adalah ketika Devara menyelamatkan dirinya dari kejahatan Angel dan genknya yang akan melecehkan dirinya. Di saat Devara dengan lantang memanggil namanya, membuat Ayra luluh dan sangat terharu melihat Devara berlari menyelamatkan dirinya.


Setiap perhatian dan perlakuan Devara padanya membuat Ayra yang semula tak yakin dengan perasaannya, akhirnya menyadari betapa Devara sangat berarti bagi hidupnya. Ketika kemudian Georgina datang dalam hidupnya dan membuat dirinya berpisah dengan Devara membuat Ayra sadar akan perasaannya sendiri pada Devara. Perpisahan keduanya selama awal kuliah telah mengajarkan pada Ayra betapa dirinya sangat mencintai lelaki itu.


Ayra tampak menitikkan airmatanya begitu mengingat semua itu. Catherine yang melihat Ayra menangis, segera menggenggam tangan Ayra untuk menenangkannya.


“Kamu kenapa Ayra?”tanya Catherine kuatir


Catherine menyodorkan sebuah saputangan pada Ayra. Ayra menerima saputangan Catherine dan mengusapkannya perlahan di pelupuk matanya agar make upnya tidak luntur.


“Aku tak apa-apa kak..aku hanya terbawa suasana”ucap Ayra jujur


Catherine tersenyum dan menatap lekat mata calon adik iparnya.


“Tenangkan hatimu. Percayalah adikku sangat mencintaimu. Dia pasti akan membahagiakanmu. Karena kamu adalah satu-satunya wanita di hati Devara”tutur Catherine mencoba membesarkan hati Ayra


“Iya kak..aku tahu itu”jawab Ayra sambil tersenyum


“Apa kau tahu Ay? Dulu aku sempat kuatir jika Dev itu gay”ucap Catherine membuat Ayra tertawa mendengar penuturan Catherine.


“Kenapa kakak sampai berpikir seperti itu?”tanya Ayra sambil menahan tawanya.


“Bagaimana aku tidak kuatir jika lelaki setampan dan seperfect Devara sama sekali tidak tertarik pada gadis manapun. Setiap hari kerjaannya Cuma membuat onar..membuat masalah dan balapan liar. Kemana-mana selalu bersama Daniel dan teman-temannya”kenang Catherine


“Tapi saat aku tahu Dev menyukaimu, aku jadi berubah pikiran. Rupanya adikku itu masih normal, hahahaa…”


Catherine tertawa begitu mengingat dirinya yang pernah meragukan orientasi seksual sang adik. Ayra juga ikut tertawa mendengar penuturan Catherine.


Keduanya berbincang-bincang, hingga tak menyadari mereka sudah sampai di bandara.


“Lho kak kenapa kita ke bandara?”tanya Ayra heran


Catherine tersenyum dan mengajak Ayra turun dari mobil.


“Turunlah! Devara sudah menyiapkan kejutan ini untukmu”jawab Catherine


Keduanya keluar dari mobil dan berjalan menuju sebuah helicopter pribadi milik keluarga Devara. Keduanya naik ke dalam helicopter. Karena gaun pengantinnya yang menjuntai, Ayra sedikit kesulitan menaiki helicopter tersebut. Namun dengan bantuan Catherine dan beberapa bodyguard, akhirnya Ayra bisa naik ke dalam helicopter.


Ayra yang sudah pernah naik helicopter segera mengenakan sabuk pengaman dan headphone nya.


“Kita berangkat sekarang nona?”tanya pilot pada Catherine


Pilot langsung menyalakan mesin helicopter. Suara deru mesin bersahutan dengan suara baling-baling yang terus berputar semakin lama semakin kencang. Helicopter pun tinggal landas dan meninggalkan bandara. Mengantarkan penumpangnya ke suatu tempat. Ayra yang bingung memilih mengikuti permintaan Catherine.


“Kita mau kemana kak?”tanya Ayra penasaran


“Kau akan tahu nanti”jawab Catherine sambil tersenyum.


Ayra menatap pemandangan langit biru yang sangat indah. Pemandangan kota yang tampak kecil di bawahnya juga tak luput dari perhatian Ayra. Dengan melihat pemandangan itu, mampu membuat Ayra sejenak melupakan rasa penasarannya.


“Sebenarnya kejutan seperti apa yang mau kau tunjukkan padaku Dev?”gumam Ayra dalam hati


Helicopter terbang selama hampir satu setengah jam lamanya. Dan saat mendarat di sebuah helipad sebuah resort di atas tebing, Ayra terkejut mengetahui dirinya sudah berada di pulau pribadi Devara. Pulau tempat Devara merayakan ulangtahunnya yang ke tujuh belas, lima tahun lalu.


Catherine mengajak Ayra turun. Sekali lagi dengan bantuan Catherine dan para bodyguard, Ayra turun dari helicopter.


Jantuhg Ayra berdegup sangat kencang begitu disuguhi pemandangan yang sangat indah. Hiasan bunga-bunga segar tampak menghiasi resort pribadi Devara.


“Apa mungkin aku akan menikah disini?”gumam Ayra dalam hati.


Ayra terus berjalan sambil mengamati sekelilingnya. Sungguh resort sudah disulap menjadi tempat yang sangat indah. Dimana-mana tampak hiasan pita menjuntai dan buket bunga segar. Sebuah karpet merah juga digelar dari helipad tempat Ayra turun sampai ke tangga yang menuruni menuju ke arah pantai.


Tiba di tangga, Ayra melihat penampakan calon suaminya yang sudah menunggu dirinya. Devara terlihat sangat tampan dalam balutan jas pengantin warna putih senada dengan gaun pengantin yang dikenakan Ayra.


Devara tampak menyunggingkan bibirnya kala melihat pujaan hatinya yang berjalan ke arahnya. Ayra juga tak henti-hentinya melemparkan senyumnya ke arah Devara. Kedua calon pengantin yang sebentar lagi menjadi sepasang suami istri itu memancarkan aura kebahagiaan di wajahnya. Membuat semua orang yang meihatnya ikut bahagia bersama mereka berdua. Begitu Ayra berdiri di depannya, Devara langsung mengulurkan tangannya. Ayra menerima uluran tangan Devara dengan hati yang bahagia.


Saat melihat ke bawah ke arah pantai, Ayra dibuat takjub dengan pemandangan pantai yang sudah disulap menjadi beach wedding party impiannya.


“Dev..ini..”


Devara hanya tersenyum melihat ekspresi terkejut di wajah Ayra.


“Aku hanya ingin mewujudkan impianmu, sayang”jawab Devara dengan lembut.


“Kita turun sekarang..semua sudah menunggu kita”ajak Devara sambil mendekatkan lengannya ke arah Ayra.


Ayra melingkarkan tangannya di lengan Devara. Hatinya begitu bahagia, karena impiannya untuk menikah di pantai dengan konsep beach wedding party akhirnya terwujud. Dan itu semua berkat lelaki yang sekarang berdiri di sampingnya.


“Terimakasih Dev”ucap Ayra dengan mata berkaca-kaca


“Sama-sama sayang”balas Devara sambil tersenyum


Keduanya menuruni tangga dengan sangat hati-hati karena gaun pengantin Ayra yang menjuntai panjang.


Karena tak ingin wanitanya kelelahan, akhirnya Devara membopong Ayra ala bridel style. Membuat Ayra kaget tiba-tiba digendong Devara.


“Dev..turunkan aku! Apa yang kamu lakukan?”tanya Ayra kebingungan.


“Tenanglah! Jangan banyak bergerak! Kita bisa jatuh bersama kalo kamu gerak terus”perintah Devara


Ayra sebenarnya malu dengan kelakuan Devara yang sudah menggendongnya. Namun Ayra takut jika dirinya terus berontak justru membuat keduanya jatuh bersama-sama. Akhirnya Ayra memilih melingkarkan tangannya di leher Devara supaya tidak jatuh.


Sampai di anak tangga terakhir, Devara menurunkan Ayra dengan perlahan. Keduanya berjalan beriringan menuju pelaminan yang dirancang khusus di bagian ujung dengan pemandangan pantai dan langit biru yang sangat indah. Ayra melihat sekelilingnya. Di jejeran para tamu undangan nampak keluarga besarnya. Ada juga keluarga besar Devara. Teman-teman mereka berdua juga nampak hadir dalam perhelatan akbar tersebut.


Pernikahan ini benar-benar sesuai dengan impian Ayra dimana dirinya ingin berbagi momen indah dalam hidupnya bersama orang-orang yang disayanginya dan yang menyayanginya. Ayra ingin pernikahannya dihadiri orang-orang terdekatnya saja. Dan itu semua dapat diwujudkan Devara, lelaki yang sangat dicintainya.


Ayra sungguh terharu dengan kejutan dari Devara di hari bersejarahnya. Sungguh Devara telah menghadirkan kebahagiaan dalam hidup Ayra. Mata ayra semakin berkaca-kaca merasakan limpahan cinta dan kasih sayang Devara pada dirinya.


“Terimakasih Dev”ucap Ayra dengan perasaan haru


“Hei..tahan airmatamu. Jangan menangis sekarang!”pinta Devara melihat Ayra yang mulai menitikkan airmatanya.


Bunda yang melihat Ayra menangis segera menyerahkan tisu pada sang putri yang sebentar lagi melepas masa lajangnya untuk menikah dengan lelaki yang dicintainya.


Akhirnya pernikahan pun berlangsung. Acara akad nikah berjalan dengan lancar. Devara mengucapkan janji setia pernikahan dengan lantang. Semua yang hadir dalam perhelatan akbar antara Ayra dan Devara ikut hanyut dalam kebahagiaan kedua mempelai. Ayah dan Bunda memberikan nasehat pernikahan pada kedua mempelai. Begitu juga papa dan mommy. Masing-masing sesepuh keluarga memberikan selamat dan nasehat pernikahan untuk keduanya dalam mengarungi bahtera pernikahan.


Kini Ayra dan Devara pun telah resmi menjadi sepasang suami istri di mata Agama dan Negara.


“I love you Ayra”ucap Devara dengan tatapan lembut pada sang istri


“I love you too Devara”balas Ayra sambil tersenyum


Devara meraih tengkuk Ayra dan mencium istrinya di hadapan semua hadirin yang ikut menyaksikan acara pernikahan keduanya. Kebahagiaan jelas terpancar dari keduanya. Pengantin yang berbahagia itu saling berbagi ciuman mesra. Semua bertepuk tangan dan bersorak dengan bahagia. Perjalanan cinta sang trouble maker pun berlabuh di hati wanita yang pernah mempermalukannya. Gadis yang dulu pernah diselamatkannya dari insiden penculikan. Jodoh yang dikirimkan Tuhan untuk sang trouble maker.