
“Benar kamu tidak apa-apa?”tanya Daniel sambil melirik ke arah Ayra dari spion mobilnya.
Daniel mengantar Ayra dan Nadine ke rumah Nadine, karena Ayra tidak mau membuat ayah bundanya kuatir. Apalagi penampilan Ayra kali ini benar-benar berantakan.
Karena tadi saat berkelahi dengan Devara, wajah dan seragamnya menjadi kotor terkena debu yang ada di gudang sekolah. Untungnya tak ada luka di badan Ayra sehingga dia bisa lega. Hanya saja, pergelangan tangan Ayra tampak memerah, akibat cengkeraman tangan Devara yang sangat kuat saat insiden ‘ciuman paksa’ tadi.
“Ya ampun Ay, kamu tu berani apa bodoh sih? Bisa-bisanya kamu berkelahi dengan Devara” tanya Nadine sambil terus mengelap wajah Ayra dengan tisu.
“Kalian tenang saja..aku tidak apa-apa kok… kalian lihat kan, tadi aku berhasil memukul wajah cowok berandal itu” terang Ayra sambil tersenyum bangga.
“Aku masih tak habis pikir, bisa-bisanya kamu berkelahi dengan Devara. Kamu itu cewek, Ay”sahut Daniel,
“Bagaimana kalau Devara …”
“Aku kan bisa jaga diri, kalian tak usah terlalu mengkhawatirkan aku..buktinya aku tidak apa-apa kan”sanggah Ayra.
“Terserahlah…”Daniel lirih
Sesampainya di rumah Nadine, Ayra dan Nadine turun dari mobil Daniel. Sementara Daniel tetap di mobilnya.
Daniel membuka kaca mobilnya,
“Kalian masuk saja ke dalam..aku masih ada urusan”pinta Daniel
“Oke..terimakasih ya tumpangannya”sahut Nadine
Nadine dan Ayra beriringan masuk ke dalam rumah Nadine. Sementara Daniel mengendarai mobilnya dengan cepat memecah kemacetan jalanan menuju suatu tempat.
*
*
*
*
Kali ini Devara sudah berada di rumahnya. Dia sedang mandi. Dia biarkan kucuran air dari shower membasahi tubuhnya yang sangat atletis. Rambut hitamnya dibiarkan basah terkena air. Perutnya yang sixpack dan dadanya yang bidang, basah juga terkena kucuran air. Sambil memejamkan mata, dia teringat perbuatannya yang sudah mencium Ayra dengan paksa.
Rupanya sosok Ayra yang cantik dan jago beladiri membuat Devara sangat berga*rah. Apalagi pukulan Ayra yang mengenai wajahnya tadi. Dia tak menyangka akan dipukul oleh seorang gadis.
Selama ini, tak ada seorang pun yang sanggup menang berkelahi dengan Devara.
Maksud Devara mengajak Ayra bertemu sebenarnya hanya ingin “menggertak” gadis itu saja. Hanya untuk menakut-nakutinya. Dia berpikir Ayra hanyalah gadis pindahan biasa yang tak tahu tentang dirinya. Gadis manja yang akan takut padanya. Makanya dia ingin mengggertak gadis itu, supaya Ayra tahu dengan siapa dia sudah berurusan. Ternyata di luar dugaan, Ayra jago juga beladiri.
“Ada apa denganku ini? Kenapa saat melihat gadis itu hampir menangis aku menjadi lemah? Dan kenapa tadi gadis itu menggandeng Daniel? Apa hubungannya dengan Daniel?” gumam Devara sambil mengusap air yang mengalir
Selesai mandi, Devara keluar ruang shower. Diambilnya jubah mandi dan handuk yang ada. Sambil mengeringkan rambutnya, Devara menatap cermin besar yang berada di kamar mandi itu. Dipandanginya bekas luka di ujung bibirnya akibat pukulan Ayra.
“Gadis itu sangat menarik. Dia harus jadi milikku”ucap Devara dengan menyeringai.
Keluar dari kamar mandi, Devara merebahkan tubuh besarnya di ranjang besar miliknya.
“Brakkk”
Tiba-tiba pintu kamar Devara terbuka dengan keras. Devara kaget dan bangkit dari tidurnya. Ternyata Daniel yang sudah masuk ke kamar Devara.
“Apa-apaan kamu, Dan? Masuk kamar orang sembarangan”bentak Devara marah karena Daniel memasuki kamarnya tanpa permisi.
“Pengawal?”teriak Devara memanggil pengawalnya.
Dengan wajah memerah dan tangan mengepal penuh kemarahan, Daniel menghampiri Devara dan menarik kerah jubah mandi Devara.
“Bukkk”
Daniel memukul wajah Devara, hingga Devara jatuh tersungkur di lantai. Para bodyguard yang melihat kejadian itu, segera masuk ke kamar Devara dan memegangi lengan Daniel kanan dan kiri.
“Lepaskan …aku harus memberi pelajaran pada laki-laki tak tahu malu ini”seru Daniel berontak
Devara yang tak menyangka akan mendapat pukulan tiba-tiba dari Daniel, akhirnya berdiri dan segera menghampiri Daniel.
Ditariknya kerah baju Daniel seperti yang dilakukan Daniel tadi.
“Kenapa kau memukulku? Hah!” bentak Devara lalu dipukulnya perut Daniel.
“Uuuugggghhh”
Suara ribut-ribut di kamar Devara, membuat semua pelayan ketakutan. Tak terkecuali Madam Olivia yang biasa dipanggil Madam O. Beliau adalah pengurus rumah tangga di rumah Devara. Wanita paruh baya yang sudah dianggap nenek oleh Devara itu segera berjalan menuju kamar Devara.
Tepat sebelum Devara kembali memukul Daniel, Madam O datang.
“TUAN MUDA..HENTIKAN!”teriak Madam O.
Devara dan Daniel segera menengok ke arah suara. Dilihatnya Madam O yang sudah berdiri di ambang pintu kamarnya. Devara, yang sedang marah karena tak terima dipukul Daniel begitu saja, tak menghiraukan pekikan Madam O dan hendak memukul wajah Daniel sekali lagi.
Melihat hal itu, Madam O segera mendekati Devara dan
Madam O memukul kepala Devara dan Daniel bergantian
“Aaagghh..” Devara dan Daniel mengerang kesakitan
“Kalian boleh pergi dari sini” perintah Madam O pada bodyguard Devara
Bodyguard Devara pun menurut dan melepaskan pegangan mereka pada Daniel kemudian menundukkan kepala (bow) kepada Madam O dan Devara.
“Kalian sudah berteman sejak kecil, tak bisakah menyelesaikan masalah dengan bicara tanpa harus saling memukul? Apapun masalahnya, silahkan bicarakan baik-baik..saya akan menunggu di luar” ucap Madam O
Devara dan Daniel saling bertatapan, dengan raut muka masih memendam kekesalan. Tapi karena mereka menghormati Madam O, akhirnya mereka setuju untuk bicara empat mata.
“Kami mengerti, Madam”ucap Daniel
Madam O pun tersenyum. Dia tahu benar Daniel sebenarnya anak yang penurut dan patuh. Kini pandangan mata Madam O tertuju pada tuan mudanya, Devara yang raut mukanya masih nampak kesal.
“Bagaimana dengan Anda, tuan muda?”tanya Madam O pada Devara
“Iya..iya..aku mengerti. Sudah sana, Madam keluar dulu..”gerutu Devara sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah Madam O menyuruhnya untuk segera keluar.
“Baiklah..saya keluar dulu. Silahkan tuan muda dan tuan muda Daniel selesaikan masalah kalian… saya pamit dulu”ujar Madam O
Madam O pun keluar kamar dan menutup pintu kamar Devara. Ditinggalkannya Daniel dan Devara berdua.
Daniel berjalan ke arah sofa, sementara Devara berjalan menuju ranjangnya. Mereka berdua saling terdiam. Hanya saling bertatapan.
Akhirnya Daniel memecah keheningan.
“Apa kau sudah gila?”tanya Daniel, “berkelahi dengan seorang gadis”
“Apa kata dunia jika mendengar Seorang Devara Alexander, putra milyader Brandon Alexander berkelahi dengan seorang gadis” sindir Daniel sambil melirik ke arah Devara
Devara hanya tersenyum sinis mendengar sindiran itu.
“Aku tak menyangka kamu begitu perhatian pada gadis itu”ejek Devara
“Apa istimewanya gadis itu? Apa dia pacarmu?”tanya Devara
“Dia bukan gadis sembarangan yang bisa kamu rendahkan”balas Daniel
“Benarkah?”ledek Devara, “Wahhh…gadis yang menarik”
“Apa maksudmu?” tanya Daniel dengan mengernyitkan dahinya
“Melihatmu begitu perhatian pada gadis itu membuatku semakin ingin memilikinya”ujar Devara sinis
Mendengar hal itu, emosi di dada Daniel kembali memuncah. Dihampirinya Devara dan sekali lagi ditariknya kerah jubah mandinya.
Devara hanya tertawa diperlakukan seperti itu oleh Daniel.
“Lepaskan“Devara menarik tangan Daniel dari kerah jubahnya
“Bukankah kau juga selalu merebut sesuatu yang sudah menjadi milikku?”sindir Devara dengan memicingkan matanya
“Menurutku ini setimpal..dengan apa yang sudah kau lakukan padaku dulu”ucap Devara dengan nada menahan marah.
Devara pun berjalan menjauh tanpa menatap Daniel.
“Bukankah aku sudah meminta maaf?”tanya Daniel
“Kau pikir itu semua cukup, setelah penghianatan yang kau lakukan?”sindir Devara
Daniel hanya terdiam. Dia sadar sahabat kecilnya dulu itu, masih sangat terluka dengan “penghianatan” yang dilakukannya.
“Jangan libatkan gadis itu dalam masalah kita”pinta Daniel
“Semenarik itukah gadis pindahan itu, sampai-sampai Daniel membelanya mati-matian seperti ini?” gumam Devara dalam hati.
“Pergilah dari sini..aku mau istirahat”pinta Devara
Daniel terdiam.
“Baiklah”Daniel menurut.
“Tapi aku takkan tinggal diam..kalau sampai kau melukai Ayra”ancam Daniel.
Diapun pergi dari kamar Devara dan berjalan keluar.
Devara mengambil kaos dan celana panjang di lemarinya di ruang ganti. Kemudian dia merebahkan dirinya di ranjang. Pandangannya nanar, pikirannya menerawang jauh membayangkan sosok Ayra.
Entah kenapa sejak kejadian di Alun-alun kota waktu itu, Devara semakin sering membayangkan Ayra. Apalagi dengan kejadian di gudang tadi, membuat pikiran Devara dipenuhi bayangan Ayra.
Devara memegang bibirnya. Terbayang jelas saat-saat dia mencium bibir lembut Ayra. Tanpa sadar, perasaan hangat menyelimuti Devara. Senyum mengembang di bibirnya.