Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Kita Impas Sekarang!


Ayra menatap dua lelaki di hadapannya itu sambil tersenyum. Ayah dan Devara yang sedang menonton sepakbola dengan sangat heboh. Sesekali mereka memarahi pemain yang salah mengoper bola. Membuat Bunda dan Ayra tertawa melihat tingkah konyol Ayah dan Devara.


“Sudah Ay..cepat rapikan kamar tamu. Sediakan baju ganti juga untuk Devara. Sepertinya masih ada baju Aldo di kamar atas. Sepertinya Devara masih muat” pinta Bunda


“Baik Bunda” jawab Ayra


Ayra lalu pergi ke kamar tamu di lantai dua untuk merapikan kamar itu. Ayra juga mengambil satu stel baju kak Aldo yang belum pernah dipakai semasa hidup untuk Devara.


Selesai merapikan kamar tamu, Ayra turun ke lantai satu. Dilihatnya Devara dan Ayah yang masih asyik menonton sepak bola. Ayra lalu membuat segelas susu coklat hangat lalu membawanya ke atas.


Devara sempat menoleh ke arah Ayra.


“Kalau sudah selesai nontonnya, segera tidur ya.. Bunda tidur dulu”ucap Bunda


“Baik Bunda”jawab Devara


“Ayah jangan malam-malam tidurnya. Besok kita mau piknik. Jangan lupa”pinta Bunda


“Iya sayang”ucap Ayah lembut


Devara tersenyum melihat keromantisan Ayah dan Bunda. Mengingatkannya pada Mommy dan Papanya yang juga sama-sama romantisnya.


Ayra membawa gelas tadi ke balkon. Rupanya dia ingin menikmati suasana malam setelah hujan reda. Langit terlihat sangat cerah. Ayra bisa melihat bintang-bintang yang berkilauan di tengah gelapnya malam.


Sayup-sayup Ayra bisa mendengar suara teriakan Ayah dan Devara. Sepertinya klub sepakbola yang mereka lihat sekarang menang. Terdengar dari sorak sorai mereka yang sangat keras. Ayra menyuruput minumannya perlahan.


Suasana malam ini begitu tenang. Damai. Ayra merasa senang sekali menikmati suasananya. Membuat hati merasakan hal yang sama. Damai.


“Di sini kau rupanya” suara Devara mengagetkan Ayra


“Sudah selesai nonton bolanya?” tanya Ayra sambil menoleh ke arah Devara.


“Heem” jawab Devara sambil berdiri di samping Ayra


“Menang?”tanya Ayra


“Tentu saja” jawab Devara mantap


“Sedang apa di sini?”tanya Devara


“Aku suka suasana malam yang tenang seperti ini. Menatap langit penuh bintang. Lihatlah!” Ayra menunjuk bintang-bintang di langit yang berkelap kelip.


“Cantik kan?”tanya Ayra sambil mendongakkan kepalanya dengan senyum terukir di bibirnya.


“Iya..cantik”jawab Devara sambil menatap wajah cantik Ayra lekat-lekat.


Ayra tak sadar yang dimaksud Devara bukanlah bintang di langit saat ini tetapi bintang di hadapan Devara sekarang. Bintang di hati Devara lah yang tercantik. Devara tersenyum melihat senyum indah di wajah Ayra.


Ketika Ayra tiba-tiba menoleh ke arah Devara, dia segera pura-pura menatap bintang di langit. Ayra menundukkan kepalanya menatap pemandangan kota.


“Maaf ya..karena permintaan Ayah dan Bunda.. “ Ayra belum selesai mengucapkan kata-katanya


“Sebenarnya aku sendiri juga ingin ikut kamu piknik” jawab Devara


“Apaa?”tanya Ayra sambil menoleh ke arah Devara


“Sudah lama aku tidak piknik bersama keluargaku. Kau tahu sendiri kan keadaan keluargaku seperti apa. Jadi, waktu kamu bilang akan piknik, aku ingin sekali ikut. Tapi aku takut Ayah dan Bundamu tak kan mengijinkan aku ikut..”urai Devara


“Sekarang malah kamu diajak sekalian” lanjut Ayra


“Benar sekali”balas Devara sambil tersenyum.


“Keluargamu sangat hangat. Bunda dan Ayah. Aku sangat suka mereka. Awalnya aku takut melihat Ayahmu. Penampilannya sangar”ujar Devara memasang wajah pura-pura takut.


“Memangnya kamu ga?”cibir Ayra


“Tapi kan Ayahmu polisi. Kalau aku macam-macam bisa di…dor”ujar Devara dengan ibu jari dan telunjuknya membentuk isyarat tangan sebuah pistol


“Hahahaha..makanya jangan macam-macam” Ayra tertawa


“Kau sudah pamit Kak Arga atau Madam O kalau kau menginap disini?”tanya Ayra


“Sudah”jawab Devara singkat


Devara memperhatikan gelas yang dibawa Ayra.


“Kau minum apa?”tanya Devara dengan tubuhnya membungkuk ke arah gelas yang dibawa Ayra dan menghirup aromanya.


“Kau mau? Aku buatkan dulu”ucap Ayra


“Aku minta ini saja”ucap Devara lalu meraih gelas Ayra dan meminumnya.


“Itukan gelasku..balikin”protes Ayra


“Pelit amat..amat aja ga pelit”goda Devara


Ayra dan Devara rebutan gelas isi susu coklat hangat itu. Mereka tak menyadari Ayah sedang mengamati tingkah mereka berdua. Ayah tersenyum melihat tingkah kekanak-kanakan mereka berdua.


Devara mengembalikan gelas milik Ayra.


“Oke..oke..aku balikin” ucap Devara


Ayra menerima gelas itu, tapi wajahnya kembali kesal karena isinya sudah habis.


“Iiihhh..kenapa dihabisin semua? Aku kan baru minum sedikit”protes Ayra sambil memukul-mukul Devara.


Devara hanya tertawa saja dipukul Ayra.


“Maaf..maaf..aku minta maaf” ucap Devara sambil memegang tangan Ayra


“Terlambat.. susunya udah habis” ucap Ayra sambil cemberut


“Sudah..sudah..besok aku buatkan. Sekarang sudah malam. Kita sebaiknya tidur. Supaya besok tidak kesiangan” ajak Devara sambil menggandeng tangan Ayra ke dalam.


Ayra masih cemberut. Dia kesal Devara menghabiskan minumannya dalam sekali teguk. Devara melihat pacarnya yang cemberut sangatlah menggemaskan. Dicubitnya pipi Ayra.


“Imutnyaaa” ucap Devara lirih takut Ayah dan Bunda dengar.


“Tidurlah sekarang” pinta Devara sambil mendorong tubuh Ayra ke depan pintu kamar.


Ayra masih cemberut. Membuat Devara merasa bersalah. Devara clingukan melihat ke lantai bawah. Setelah di rasa aman,


“Cuppp..”


Devara mencium bibir Ayra secepat kilat, lalu pergi ke kamar tamu setengah berlari. Ayra yang tak menyangka akan dicium bibirnya, kaget setengah mati. Matanya terbelalak. Pipinya memerah. Jantungnya juga berdetak sangat kencang.


Ayra segera masuk kamarnya. Dia membeku di balik pintu sambil memegang bibirnya yang tadi dicium Devara. Hatinya bergejolak hebat. Seperti ada kupu-kupu kecil di perutnya.


“Dia..menciumku”gumam Ayra sambil memegang bibirnya sendiri.


Smartphone-nya berdering. Ayra berjalan menuju nakas dan mengangkat telpon dari Devara. Digesernya tombol hijau di layar. Didekatkan smartphone itu di telinganya. Begitu tersambung,


“Ciuman tadi sebagai balasan hadiah yang kau berikan padaku di mobil. Kita impas sekarang.Tidurlah! Mimpi Indah”ucap Devara lembut


“Heem” Ayra hanya berdehem.


“Selamat Malam”ucap Ayra


“Malam..Sayang”ucap Devara mesra.


Ayra tak percaya dengan kata-kata Devara barusan. Ayra segera menutup telponnya. Ayra membenamkan kepalanya di bawah bantal, kakinya dihentak-hentakkan di atas kasur. Kata-kata Devara tadi sukses membuat Ayra senang, malu juga kikuk di saat yang sama.


Di tempat lain, Devara juga senyum-senyum sendiri memegang bibirnya yang tadi ditabrakkan secepat kilat ke bibir lembut Ayra supaya tidak ketahuan Ayah dan Bunda.


Dua sejoli yang terpisahkan tembok itu, sama-sama tak ada yang bisa tidur. Mereka masih terbayang kejadian selama sehari ini, terutama kejadian di mobil dan di depan kamar tadi.