Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Resepsi Pernikahan


Seperti yang sebelumnya sempat disampaikan Devara, pelaksanaan resepsi pernikahan kak Catherine dan kak Arga akhirnya digelar. Pesta resepsi pernikahan sederhana yang hanya dihadiri oleh keluarga besar dan beberapa kolega terdekat saja.


Resepsi pernikahan diselenggarakan di ballroom hotel milik keluarga Alexander. Ayra dan keluarganya diundang dalam perhelatan tersebut. Devara sengaja menjemput gadis pujaan hatinya. Sementara Ayah dan Bunda datang bersama. Devara tampak begitu tampan mengenakan setelan jas dan kemeja berwarna hitam.


“Sebentar ya Dev..Ayra bentar lagi turun”ucap Bunda pada Devara yang menunggu di ruang tamu.


“Baik Bunda”jawab Devara


Kata “sebentar” bagi seorang wanita yang sedang berdandan, tentu saja hanya sebuah kata kiasan semata. Karena kenyataannya sebentar itu bahkan lebih dari lima belas menit.


Ayah yang juga menunggu bersama Devara, juga mulai tak sabaran menunggu putri kesayangannya yang saat ini sedang dirias oleh seorang penata rias suruhan Mommy. Karena acara resepsi pernikahan Catherine adalah sebuah acara besar bagi keluarga Alexander maka Mommy ingin Ayra dan Bundanya, yang sebentar lagi menjadi besannya, juga dirias secantik mungkin. Bahkan dress yang dikenakan Ayra dan Bunda saat ini adalah dress yang dipilih khusus oleh Mommy.


Devara yang mulai tidak sabar, akhirnya memilih menunggu di teras.


“Ayah, aku menunggu di depan saja. Sekalian cari udara segar”kelit Devara


Ayah mengangguk pelan memberi ijin.


“Kenapa dia lama sekali dandannya? Kalo dia bukan calon istriku, sudah aku tinggalkan dia sepuluh menit yang lalu”gerutu Devara dalam hati sambil mondar-mandir di teras depan saking tidak sabarannya.


Beberapa kali, Devara menatap jam tangan Rolex yang dikenakannya. Sungguh menunggu adalah pekerjaan paling membosankan dan paling menyebalkan bagi siapapun juga. Apalagi Devara yang selama hidupnya tak pernah menunggu seseorang selama itu.


“Maaf sudah membuatmu menunggu”ucap Ayra tiba-tiba dari arah belakang.


Devara yang sedang kesal, begitu mendengar suara wanitanya, langsung menoleh untuk mengeluarkan semua kekesalannya karena sudah membuat seorang Devara Alexander menunggu. Namun begitu membalik badannya, tak sepatah katapun terucap dari mulut Devara. Seakan lidahnya menjadi kelu. Semua kekesalan yang sejak tadi menggunung dalam hatinya seakan menguap begitu saja begitu melihat calon istrinya yang terlihat sangat anggun dan cantik sekali.


Devara menyunggingkan sudut bibirnya dengan tatapan mata yang tak berkedip sedikitpun dari Ayra. Membuat Ayra tersipu malu melihat tatapan penuh cinta di mata Devara.


“Dev?”sapa Ayra karena Devara tak menjawab ucapannya barusan dan malah sibuk menatap dirinya sejak tadi.


“Kita berangkat sekarang?”tanya Ayra


“Ah..iya..iya..”jawab Devara dengan terbata-bata saking terpesonanya dengan kecantikan gadis tomboy yang sangat dicintainya itu.


Ayra tampak cantik mengenakan dress panjang A-line berbahan lace premium warna biru navy dengan model V neckline yang tidak terlalu rendah dan sleeveless. Dengan riasan natural yang rambut panjangnya yang disanggul di belakang membuat penampilan Ayra terlihat sangat anggun.


Devara segera berdiri di depan Ayra lalu menggenggam tangannya.


“Ayo berangkat!”ajak Devara dengan senyum yang terpancar di bibir keduanya.


“Maaf ya sudah membuatmu menunggu lama”ucap Ayra mengulangi permintaan maafnya tadi karena Ayra tau benar pasti Devara sangat kesal padanya.


Devara menoleh dan menatap lembut Ayra.


“Kamu cantik sekali hari ini”puji Devara


“Benarkah?”tanya Ayra dengan tersipu malu


“Aku memang tak salah memilihmu”ucap Devara bangga.


Keduanya kemudian berjalan menuju mobil Devara yang sudah terparkir di garasi mobil. Ayah dan Bunda juga sudah bersiap berangkat. Mereka berempat berangkat mengendarai dua mobil.


Sepanjang perjalanan menuju hotel, Devara tak melepaskan tangan Ayra. Devara menggenggamnya dengan erat dan sesekali mencium punggung tangan Ayra.


“Dev..sudah.. Lepaskan!”pinta Ayra yang semakin risih dengan kelakuan Devara yang mencium punggung tangannya.


“Kenapa?”tanya Devara


Ayra memberi isyarat dengan matanya ke arah sopir dan bodyguard Devara yang duduk di kursi depan.


“Jangan kuatir..mereka takkan keberatan. Iya kan paman?”tanya Devara pada sopir dan bodyguardnya.


“Iya tuan muda”jawab sopir dan bodyguard Devara dengan tegas


“Lihat! Mereka tidak keberatan”ucap Devara


Akhirnya Ayra memilih mengalah pada lelaki yang sebentar lagi menjadi suaminya itu. Karena Ayra sadar betapa Devara sangat mencintainya.


Sesampainya di hotel tempat resepsi pernikahan Catherine dan Arga, Devara sengaja turun terlebih dahulu dari mobil. Devara tampak mengulurkan tangannya untuk membantu Ayra keluar dari mobil. Ayra menyambut uluran tangan Devara dengan tersenyum manis.


“Terimakasih”ucap Ayra lembut


Setelah turun dari mobil, Devara melingkarkan tangan Ayra di lengannya yang kekar. Keduanya berjalan menuju lantai lima, menuju ballroom hotel. Sepanjang perjalanan nampak beberapa bodyguard Devara yang memakai setelan jas berwarna hitam yang bertugas mengawasi keamanan gedung hotel. Beberapa pelayan hotel tampak berjajar menyambut para tamu yang hadir.


Devara dan Ayra memasuki lift yang mengantar mereka menuju ballroom hotel. Sampai di lantai lima, tampak kemewahan resepsi pernikahan Catherine dan Arga yang meskipun dirancang sederhana karena keduanya sudah menikah beberapa bulan sebelumnya, namun tetap saja terlihat mewah dan megah.


Ayra begitu menginjakkan kaki di lantai lima ballroom hotel, dibuat terpukau dengan dekorasi lorong menuju ballroom yang dihiasi dengan hiasan bunga-bunga segar warna putih, cream dan pink dengan daun-daun hijau yang rimbun yang menyejukkan mata. Hiasan lampu-lampu warna kuning semakin mempercantik lorong pernikahan. Di samping kanan kiri lorong terlihat foto-foto pre wedding antara Catherine dan Arga.


Keduanya terlihat sangat serasi dan sangat bahagia. Dan foto yang paling menyentuh Ayra adalah adanya foto keluarga kecil Arga bersama Catherine dan putri kecilnya Thania. Keduanya terlihat sangat bahagia.


Sesampainya di pintu ballroom, tampak beberapa tamu yang berpakaian rapi dengan setelan jas untuk tamu pria sementara tamu wanita tampak cantik dengan dress yang mereka kenakan.


Tampak beberapa pejabat negara dan orang-orang penting yang hadir dalam acara resepsi pernikahan putri pertama Brandon Alexander.


“Ayo masuk!”ajak Devara pada Ayra yang terlihat masih mengagumi keindahan dekorasi pernikahan yang dilaluinya.


Begitu memasuki ballroom hotel yang sama dengan ballroom yang dipakai untuk acara ulangtahun Devara empat tahun lalu itu, Ayra dibuat semakin tercengang dengan keindahan dekorasinya. Ruangan yang didominasi hiasan warna putih, cream dan pink itu tampak begitu mewah dan megah. Hiasan bunga-bunga segar tampak di hampir semua sudut ruangan. Meja bundar dengan beberapa kursi yang ditata melingkar dihiasi dengan pita warna gold. Di atas meja terdapat peralatan makan di depan masing-masing kursi, dengan hiasan bunga segar besar di bagian tengah meja. Di sudut ballroom sebuah pelaminan super besar yang sangat indah berdiri kokoh sebagai tempat pelaminan kedua mempelai yang sedang berbahagia. Pelaminan dihiasi dengan hiasan bunga yang sangat indah dengan beberapa kursi dengan ukiran indah berjejer rapi menjadi tempat bagi kedua mempelai menerima ucapan selamat dari para tamu.


Ayra dan Devara duduk di meja khusus keluarga inti Alexander. Devara menarik kursi untuk Ayra dan membiarkan wanitanya duduk terlebih dahulu. Devara memperlakukan Ayra dengan sangat manis. Membuat Ayra merasa bahagia dengan semua perlakuan Devara padanya.


Sambil menikmati acara resepsi pernikahan itu, pikiran Ayra dibuat mengelana setelah menyaksikan kemegahan resepsi pernikahan Catherine dan Arga.


“Apakah pernikahanku nanti juga semegah ini?”gumam Ayra dalam hati


“Apa yang sedang kau pikirkan?”tanya Devara tiba-tiba membuyarkan lamunan Ayra.


“Hah? Ah tidak..aku tidak sedang memikirkan apa-apa”kelit Ayra


“Tenang saja..pernikahan kita nanti akan jauh lebih megah dari pernikahan kak Catherine”ucap Devara sambil tersenyum


Ayra sempat kaget mendengar ucapan Devara karena lagi-lagi Devara seperti bisa membaca pikirannya. Tubuh Ayra sampai merinding saking kagetnya.


“Kenapa dia selalu tau yang aku pikirkan?”gumam Ayra dalam hati


Rangkaian demi rangkaian acara terlewati. Saat tiba sesi foto bersama, Ayra dan Devara berjalan berdua menuju pelaminan untuk berfoto bersama dengan Catherine dan Arga. Dengan Ayra yang melingkarkan tangannya di lengan Devara.


Devara membantu Ayra berjalan menapaki tangga kecil menuju pelaminan karena dress panjang yang dikenakan Ayra sedikit menyulitkan langkah kakinya saat menapaki tangga.


“Kamu semakin lihai berjalan dengan high heels”puji Devara melihat Ayra yang tampak lebih nyaman berjalan dengan high heels yang dipakainya.


“Tentu saja. Bukankah sekarang aku sudah seperti tuan putri?”goda Ayra


“Kau itu bukan tuan putri”ucap Devara


“Hishhh”ucap Ayra kesal


“Tapi kau itu ratu..ratu di hatiku”goda Devara


“Iiihhh…Apaan sih?”tanya Ayra sambil tersipu malu.


Dia yang awalnya mau marah akhirnya malah salah tingkah setelah Devara memujinya.


“Selamat kak”ucap Devara pada Arga sambil memeluk tubuh Arga, asistem pribadinya selama ini


“Selamat kak Catherine”ucap Ayra sambil memeluk tubuh Catherine.


“Terimakasih”jawab Arga dan Catherine hampir bersamaan.


Akhirnya Ayra dan Devara berfoto bersama Catherine Arga dan putri kecilnya Thania. Mereka berlima juga berfoto bersama dengan Agatha, Caroline dan Brandon. Keluarga Alexander berfoto dengan formasi yang lengkap. Tampak kebahagiaan terpancar di wajah masing-masing.