
Tok..Tok...
Raka mengetuk pintu kamar Gita, dan perlahan membukanya.
"Ta.. tidur lo?" tanya Raka. Gita menggeliat lalu membuka matanya.
"Cari makan di luar yuk." Raka duduk di samping Gita sambil mengelus rambutnya. Sedangkan Gita hanya diam melihat Raka. Dia masih berpikir orang sebaik, dan seperhatian Raka di selingkuhin.
"Hey... bengong saja. Ayo mau ikut nggak?" Raka berdiri.
"Aiya.. ikut. Sebentar gue cuci muka." Gita bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi.
Gita tidak ganti baju, dia pakai kaos lengan pendek warna putih di padu dengan celana pendek di atas lutut. Tak lupa di memakai sendal jepit kesatangannya saat di rumah.
Gita nggak banyak ngomong hari ini, justru dia banyak diam dan memperhatikan Raka.
"Kenapa lo pandangin gue seperti itu?" tanya Raka.
"Raka gue mau tanya sama lo?" Gita memasang posisi menyamping agar bisa menghadap ke arah Raka.
"Apa?"
"Lo itu sayang banget ya sama Prisil?" tanya Gita.
"Ya pastinya, lo tahu sendiri kita udah pacaran lama. Sejak SMP malah."
"Lo pernah nggak ngerasa bosan karena pacaran lama?" Gita mengintropeksi Raka.
"Nggak tuh, wah ada apa nih tanya-tanya masalah beginian. Lo udah mulai bosan sama Gilang?" Tebak Raka.
"Nggak, kan gue cuma tanya. Kalau cowok itu punya rasa bosan nggak pacaran lama-lama, apalagi yang tidak pernah yang aneh-aneh."
"Bosan pasti ada, terkadang rutinitas yang begitu-begitu saja membuat kita ingin cari sesuatu yang baru. Tapi kembali lagi ke masing-masing orang cara menanggapinya. Ya kalau mau yang aneh-aneh langsung nikah aja, jangan unboxing pas pacaran, ntar kalau udah di unboxing di tinggalin nangis. Dan yang rugi juga bukan lelakinya tapi si perempuan" Jelas Raka.
"Dan laki-laki yang benar-benar mencintai pacarnya itu akan menjaga bukan merusaknya." Tambah Raka.
"Benar juga, apa masih ada cowok yang baik kayak gitu."
"Sebelah lo ini contohnya." kata Raka dengan bangga.
"Tapi Ka, seandainya nih ya kalau Prisil selingkuh apa yang akan lo lakuin."
"Cari yang lain, perempuan nggak cuma dia doang." Katanya dengan santai.
"Segampang itu?" Gita heran.
"Ya mau gimana lagi, kalau dia selingkuh tandanya dia sudah tidak mau bareng sama lo. Di paksa juga hanya bikin sakit hati, obat selingkuh itu susah kalau bukan dia sendiri yang mau sembuh. Nggak baik brati buat ibu dari anak-anak." Katanya masih santai.
"Bisa gitu santai nanggepinya." Gita melipat kedua tangannya di dada sambil menghadap ke depan, dia heran dengan pemikirannya Raka. Harusnya dia marah, tapi dia tetap santai.
"Yuk turun." Raka melepas sabuk pengamannya lalu turun.
"Manusia langka kayak lo kok di sia-siain, harusnya di lestarikan." Gita ngedumel sendiri.
Gita dan Raka berjalan berjejeran, Gita terus curi pandang sama Raka. Rasanya masih belum terima dengan pemikiran Raka.
"Raka, disini."
Gita menghentikan langkahnya saat mendengar suara yang tak asing di telinganya.
"Ok."
Gita menarik kemeja Raka, lalu dia ngumpet di belakang Raka.
"Lo kok nggak ngomong perginya sama Kak Gilang sih." Gita menabok punggung Raka.
"Sakit ih, memangnya kenapa kalau lo tahu kita mau makan bareng dia. Lo mau dandan kesalon, pakai rok gitu?" ejek Raka.
"Lo ya Ka, seenggaknya gue mandi pakai parfum biar wangi. Lah.. ini kusam burik." Gita ngomel.
"Si Gita malu nggak mandi datang kesini, malu ketemu lo." Kata Raka, seketika Gita memukul Raka lagi. Dia selalu saja malu-maluin dirinya.
Gilang menarik tangan Gita, "Lo tetap cantik kok, bahkan mandi setahun sekali pun lo tetap cantik di mata gue." Gombal Gilang.
"Tuh dengan kekasih tercinta lo." Kata Raka sambil meninggalkan Gita sama Gilang.
"Kak, beneran nih gue ikut duduk sama kalian. Muka gue burik banget mana ada Kak Bayu lagi. Gue balik aja ya."Gita memutar badanya mau pulang.
Gilang menahan lalu membalikan badan Gita, dia menggandeng Gita ke tempat makan.
"Hai Gita."
"Hai Kak." Gita mengangguk lalu duduk.
"Mau makan apa?" tanya Gilang.
"Ayam bakar apa ikan bakar ya, bingung." kata Gita sambil memegang dagunya.
"Mbak tambah ikan bakar sama ayam bakar satu-satu ya." Kata Gilang sambil melambaikan tangannya. Gita tersenyum, soal makanan Gilang tidak pernah membiarkan Gita bingung memilih, dia akan membelikan semuanya.
"Ini minum dulu, tadi udah gue pesenin lemon tea." Gilang menggeser lemon tea dari hadapanya ke hadapan Gita.
"Kenapa lo nggak sekalian pesenin gue sih Lang." Kata Raka.
"Lo kan bisa pesan sendiri."
"Wah.. lo pilih kasih banget ya." Raka menggelengkan kepala.
"Pilih kasih gimana, orang kasih gue cuma buat Gita." Raka mengedipkan mata kirinya membuat Gita rasanya mau melayang. Dia menahan senyum dengan menggigit bibir bawahnya.
"Idih bucin." Bayu bergidik.
"Bodo, daripada lo jomblo akut." ejek Gilang.
"Sembarangan, jomblo gue berkualitas ya."
"Emang jomblo yang berkualitas itu yang seperti apa Kak?' tanya Gita dengan nada mengejek.
"Yang ganteng, baik, pinter, perhatian, peduli sekitar."
"Sepertinya itu lebih ke buaya kali ya, semua orang di baikin dan dipikin baper." ujar Gita.
"Bayu mah buaya darat yang menyamar jadi kucing." kata Raka.
"Apa kata lo pada deh, gue mau makan lapar." Bayu langsung mulai makan saat pesananya datang.
"Makan-makan." Kata Raka.
"Mari makan." Gita mencuci tangan dan siap menyantap ayam bakar dan ikan bakar pesanannya.
Baru mau memulai makan dia melirik piring yang ada di depan Gilang. Ketika Gilang memoleh kearahnya Gita langsung kembali menghadap ke ayam bakar dan ikanya.
Gilang tersenyum, dia memotong cumi-cumi bakarnya lalu menyuapi ke Gita.
"Aaa...." Gilang meminta Gita membuka mulutnya. Gita tersenyum lalu membuka mulutnya.
"Ta, makan-makanan punya lo sendiri. Lama-lama Gilang kurus kering setiap makan di ambil lo semua."
"Harusnya lo nggak usah aja Gita, males banget lihat orang bucin."
"Apaan sih kalian berdua, makanya buruan punya pacar." Kata Gilang kembali menyuapi Gita lalu mengusap rambutnya.
"Lo kayak kucing tahu nggak Git, habis di kasih makan di usap kepalanya." Bayu tertawa.
"Biarin aja, yang penting majikan gue ganteng, baik perhatian. Weekk.." Gita menjulurkan lidahnya.