Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Ujian Kenaikan Kelas


Ujian kenaikan sudah di mulai, semua murid belajar dengan giat. Bahkan sampai sebelum masuk mereka masih terus belajar. Dimana-mana semua murid membawa buku.


"Hah.. seminggu ini bakal menjadi hari yang cukup melelahkan." kata Gita sambil menyenderkan tubuhnya ke sandara kursi dan menaruh bukunya di wajah.


"Iya, gue takut kalau nggak naik kelas." Fara menoleh ke belakang.


"Kalau lo nggak naik kelas justru bagus." kata Raka.


"Maksud lo bagus?" Fara mulai di buat naik pitam sama Raka.


"Ya kan lo jadi preman dan paling pinter ntar disini." Raka terkekeh.


"Sembarangan ya lo kalo ngomong masih pagi bikin emosi aja."Fara menjambak rambut Raka.


"Far.. sakit.. woi.. sakit!" Raka teriak-teriak. Bukanya di tolongi Gita, Anita dan Vian tertawa puas banget.


"Lagian macan betin lo gangguin." Kata Vian.


"Udah belajar lagi." kata Anita.


Bel tanda ujian di mulai, semua siswa harus menaruh tasnya, ponsel di loker. Hanya boleh membawa alat tulis saja.


Gita menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkan napasnya panjang saat soal di bagikan. Dia agak kaget karena yang di pelajari kemarin hampir semuanya ada.


"Wah.. Kak Gilang emang genius. Hampir semua yang di ajarinya ada soalnya." Kata Gita sambil tersenyum. Dia menoleh ke samping kearah Raka. Dan Raka mengangkat jempolnya, dia merasa lumayan mudah ujiannya setelah belajar dengan Gilang.


Dua pelajaran sudah terlewati, Gita keluar kelas lemas.


"Tenaga gue habis nih." Gita berjalan ke loker.


"Kantin yuk." Ajak Fara.


"Ayuuk, gue udah lapar banget." Raka merangkul Gita dan Fara. Anita dan Vian mengikuti mereka bertiga dari belakang.


Mereka berlima memesan makanan dua kali lipat dari biasanya.


"Ini baru berjalan satu hari tapi kepala gue udah retak-retak nih." Kata Vian.


"Masib banyak ujian menunggu nih, mana sampai rumah masih harus belajar lagi." keluh Fara.


"Capek banget, padahal itu soal banyak yang udah di ajarin sama Kak Gilang, tapi kenapa gue bisa lupa semua. Dan nggak yakin dengan hasilnya." Kata Gita lalu melahap bakso dengan cepat.


"Benar, awalnya gue percaya diri. Tapi setelah keluar kelas kenapa menjadi ragu." Kata Raka.


"Makanya kalian kalau sedang belajar tuh jangan ribut saja. Jadi banyak yang lupa kan."


"Mentang-mentang lo pinter, sombong." kata Fara.


"Bukan sombong, gue hanya ngasih tahu." Anita menonyor kepala Fara.


"Kalau lo tahu kenapa nggak ngasih contekan sama kita." kata Gita.


"Iya, diem-diem aja. Nggak solit emang Anita." tambah Fara.


"Lo semua gila, gue duduk di depan paling ujung mana guru di samping gue. Pada mau bunuh gue kalian semua." Omel Anita.


"Udah sekarang makan-makan, jangan pada heboh sendiri kepala gue nggak mampu lagi mendegar ujian." Kata Raka.


"Iya, habis ini ke mall yuk main. Refresing buat ujian besok." ajak Vian.


"Refresing itu setelah ujian Vian, bukan selama ujian." Kata Fara.


"Maklumi aja, otaknya Vian gesrek emang." Kata Gita sambil meneruskan makannya.


Ting!


Pesan masuk di ponselnya Gita, dia langsung membukanya.


Gilang


Sudah pulang?


Gita


Belum, masih di kantin


Gilang


Ok


"Udah gitu doang?" tanya Gita dalam hati.


"Siapa Git?" tanya Fara.


"Kak Gilang."


"Kenapa? ngajakin kencan?" tanya Anita.


"Gue cabut dulu." kata Raka setelah membaca pesan dari ponselnya.


"Mau kemana?"


"Ketemu pacar." jawabnya sambil jalan.


"Kebiasaan lo Ka, tinggalin gue sendirian." omel Gita.


"Lo kan juga punya pacar, minta dia anterin dia." katanya sambil melambaikan tangan.


"Dasar Raka ngeselin." Gita manyun.


"Siapa sih pacarnya Raka? Anak sini apa bukan?" Fara penasaran.


"Bukan, beda sekolah. Gue juga lupa pacarnya namanya siapa?"


"Kok bisa?"


"Raka nggak pernah mau mempertemukan kita lagi."


"Kenapa?"


"Karena kalau kita bertemu bertengkat terus." Gita meringis.


"Memang masalahnya apaan?" Vian ikut tertarik dengan cerita Gita.


"Nggak tahu, mungkin karena Raka lebih sayang sama gue kali." jawabnya sambil tertawa.


"Ya udah yuk balik." Vian mengajak yang lain pulang.


"Yuk." Jawab Gita, Fara dan Anita barengan.


"Nasib-nasib, naik angkot lagi." Gerutunya.


"Udah pada mau pulang?" tanya Gilang.


"Kak, Gilang." mereka ber empat kaget tiba-tiba ada di samping mereka.


"Iya Kak." Jawab Anita.


"Kak Gilang kok masih disini, gue pikir udah pulang." kata Gita.


"Nah.. kebetulan ada Kak Gilang. Jadi lo bisa di anterin dan nggak naik angkot." Ujar Fara.


"Ya udah kita balik dulu ya. Daa..."


"Daaa... hati-hati."


Gilang menatap Gita lekat sebentar kemudian dia duduk.


"Kenapa Kak ada masalah?" tanya Gita melihat perubahan ekspresi Gilang.


"Lo anggap gue apa sih?" Kata Gilang dengan nada kesal.


"Pacar. Kenapa memangnya?"


"Lo tanya kenapa? kalau gue memang pacar lo kenapa lo nggak pernah meminta gue untuk nganterin lo pulang, jemput berangkat sekolah. Bahkan lo nggak pernah cerita apa-apa sama gue. Selalu saja lo mendahulukan Raka daripada gue." omel Gilang.


"Bukan begitu, tadinya gue pikir Kakak udah pulang jadi ya mau naik angkot."


"Udahlah lo emang nggak sayang sama gue. Selama ini lo juga nggak pernah meminta apa-apa dari gue ." Gilang ngambek.


"Bukan nggak sayang, cuman kan gue mau jadi cewek yang mandiri. Gue nggak mau ngrepotin lo. Dikiranya nanti gue cuma manfaatin lo doang."


"Ngrepotin apaan sih, selama gue bisa ya kenapa nggak. Kalau emang lo mau mandiri kenapa lo mau sama gue." Gilang semakin kesal. Gita memegang kedua tangan Gilang. Dia menatap dengan mata nanar.


"Maaf, gue hanya ngggak mau bergantung sama lo. Gue takut mereka akan mengejek lo, nanti mereka akan bilang bucin, di manfaatin."


Gilang menghela napas panjang, "Kenapa harus mikirin omongan mereka. Selama lo menjadi pacar gue, lo harus manja sama gue. Gue nggak mau tahu itu." Gilang menarik tangannya.


"Kenapa seperti itu?"


"Kalau lo kemana-mana sendiri, gue hanya seperti pajangan yang tak di anggap. Hanya sekali lo lihat setelah itu lo lupakan. Gue hanya mau memanjakan lo, membuat bahagia hidup lo."


"Baiklah, kalau begitu gue mau makan es cream, setelah itu mau beli cemilan yang banyak." kata Gita lalu berdiri. Dia menarik tangan Gilang agar berdiri.


Gilang masih saja ngambek meskipun Gita sudah meminta sesuatu padanya. Gita memberikan pelukan kepada Gilang.


"Lo itu sangat berharga banget buat gue, mana ada hanya buat pajangan. Jangan ngambek lagi dong, nanti gue nggak bisa napas loh."


"Kenapa jadi nggak bisa napas?"


"Karena nggak bisa hidup tanpa lo, seketika ngambek separuh paru-paru gue tidak bekerja dengan baik." Kata Gita.


"Teori dari mana sih. Ngaco banget." Gilang tertawa. Gita pun ikut tertawa, dia senang Gilang sudah tidak marah lagi padanya. Apa yang dia lakukan sebenarnya karena tidak mau membebani Gilang. Dia ingin menjadi pacar yang mandiri.