
Gita berjalan sambil mencuri pandang kearah Gilang yang ada di sampingnya. Dia tersenyum kecil saat melihat Gilang seperti cowok yang selalu ada di novel dan drama. Dia terlihat dingin namun sebenarnya sangat manit.
Gilang melepaskan lipatan tangannya di dada, lalu menatap Gita lebih dekat.
"Kenapa lo menatap gue lekat, seperti ada hal yang ingin di katakan?"
Gita menarik kebelakang kepalanya dengan cepat. Dia menelan ludah karena wajah Gilang sangat dekat,"Kita cari yang lain." Ajak Gita.
"Ok." Jawabnya singkat.
Gita menghela napas panjang sambil mengelus dadanya.
"Jantung gue nggak amat banget, jedak jeduk terus." gumam Gita pelan.
"Mau arum manis nggak?" tanya Gilang sambil menunjuk penjual arum manis.
"Mau." Gita mengangguk.
"Bang beli dua." Gilang membeli dua arum manis.
"Wah.. ini besar banget." Gita menerima arum manis lalu memakannya.
Gilang dan Gita kembali berjalan sambil makan arum manisnya. Tiba-tiba ada yang berlari menabrak mereka berdua sampai Gilang hendak jatuh. Untung dia masih bisa menahan tubuh orang yang menabraknya.
"Maaf...maaf." Katanya sambil berdiri tegak. Dia merapikan rambut panjangnya yang menutupi muka. Dan terlihat jelas wajahnya yang putih. Dia sangat cantik.
"Iya lain kali hati-hati." kata Gilang.
"Iya, maaf. Arum manis jadi jatuh gue ganti ya."
"Nggak usah."
"Nggak apa-apa gue nggak mau berhutang budi." cewek itu menarik Gilang. Gita hanya bengong melihat cewek itu membawa Gilang.
"Gue bilang nggak usah, gue bisa makan sama dia. Lagian tidak ada yang hutang budi." Gilang melepas pegangan tangan cewek itu lalu kembali nyamperin Gilang.
Gita jalan mencari yang lain sambil nyemilin arum manis. Agak kesal sih Gilang di bawa ceweknya tapi dia malas kalau mau ngikutin Gilang.
"Mau gimana lagi, kalau orang ganteng mah dimana tempat juga banyak yang suka." Gita ngedumel.
"Ehhmm.." Gilang menyenggol lengan Gita.
"Eh.." Gita kaget. "Ih.. Kak Gilang ngagetin gue aja."
"Makanya jangan ngelamun kalau jalan, gimana kalau jatuh?"
"Kan ada Kak Gilang yang selalu di samping gue dan juga bakal nolongin gue." Goda Gita sambil tersenyum .
Gilang tertawa, "Udah berani gombalin gue ya." Gilang mencolek hidung Gita.
"Em.. arum manisnya mana?"
"Tuh." Gilang menunjuk arum manis yang di bawa Gita.
"Bukan yang ini, tapi yang cewek tadi."
"Nggak tahu, nggak usah di bahas. Yuk kita cari yang lain." Gilang merangkul Gita. Suhu tubuh Gita langsung meninggi. Dia seperti teraliri listrik.
Gilang menundukan kepalanya, lalu menggigit arum manis di tangan Gita. Jantung Gita semakin tidak normal.
"Jangan beku disini Gita, ini nggak lucu kalau tiba-tiba nggak bisa jalan kan." batin Gita sambil menelan arum manis yang ada di mulutnya.
"Ta, lo sakit?" Gilang melepaskan kan tangannya lalu mengusap keringat di dahi Gita.
"E..nggak." Gita gemetar.
"Tapi ini tempatnya dingin kenapa lo berkeringat." Gilang melepas jaketnya lalu memakaikan ke tubuh Gita.
"Kak, Gita nggak dingin tapi ini panas." Katanya hendak melepas jaketnya namun di tahan sama Gilang.
"Gimana bisa dingin begini jadi panas, pasti lo sakit. Sekarang kita pulang saja." Gilang mengajak Gita pulang.
"Gita panas gini bukan karena sakit, tapi karena lo Kak." Batinya.
...♡◇◇◇♡...
"Raka!" panggil Gilang saat ketemu Raka dan yang lain.
"Hai, darimana aja sih kalian berdua. Kita cariin juga." kata Raka.
"Pulang yuk, Gita lagi nggak enak badan." ajak Gilang.
"Gita itu nggak apa-apa kok Kak, beneran deh." Gita melepas jaket milik Gilang. "Ini pakai, nanti sakit loh kan dingin di sini."
"Nggak apa-apa gimana lo aja tadi keringetan."
Bayu hanya bisa diam melihat perhatian Gilang terhadap Gita. Dia tak bisa berbuat apa-apa di depan Gilang. Dia tidak ingin bersaing mendapatkan Gita. Namun perasaannya terus mendorong untuk mencintai Gita.
Sementara Fara sama Anita tersenyum mendengar perdebatan Gita sama Gilang. Mereka berdua sangat paham kenapa Gita sampai berkeringat cuaca dingin.
"Tenang saja, dia baik-baik saja." Anita menggandeng Gita.
"Iya, dia sehat kok." Tambah Fara sambil menyenggol lengan Gita. Fara menatap Gita dengan senyuman jahil.
"Apaan sih lo senyum-senyum gitu." gumam Gita. Fara tidak menjawab, dia terus senyum-senyum nakal bersama Anita.
"Ya udah pulang aja, udah malam juga. Takutnya malah sakit beneran. Ini gue udah kedinginan banget." Vian mulai mengigil.
"Lo kedinginan Vian?" tanya Gita.
"Banget."
"Nit, beri Vian pelukan biar hangat." Celetuk Raka.
"Idiih.. kenapa nggak lo aja yang peluk Vian. Lagian kalian berdua sangat cocok." Gerutu Anita.
"Enak aja, gue masih suka ya sama cewek." Vian bergidik.
"Yang benar Vian, gue jadi beneran naksir lo." Raka menggoda Vian dengan memeluknya namun dia terus menghindar.
"Raka, gue tampol pakai sendal nih!" Vian siap melepas sendalnya. Gita, Gilang dan yang lainnya langsung tertawa melihat tingkah Raka dan Vian.
...♡◇◇◇♡...
Gita membaringkan tubuhnya memeluk eeat boneka hadiah dari main game. Dia membayangkan saat Gilang memakan arum manisnya. Wajahnya tiba-tiba memerah.
"Ada angin segar nih sepertinya sampai wajah memerah, dan senyum-senyum sejak tadi." Anita duduk di sebelah Gita.
"Angin surga yang membawa kedamaian hati Gita." tambah Fara.
"Far, Nit tahu nggak tadi tuh tubuh gue panas banget tapi rasanya beku. Gue hampir nggak bisa jalan." Gita bangun dan dusuk sila.
"Kok bisa?" Anita penasaran.
"Lo ciuman ya?" Fara menunjuk bibir Gita dengan jari telunjuknya. Gita menurunkan jari telunjuk Fara.
"Gue nggak ciuman ya, orang dia cuma merangkul pundak gue." cerita Gita.
"Cuma seperti itu bikin lo keringat dingin?" Fara terkekeh meremehkan Gita.
"Jangan mengolok gue, lo nanti juga akan merasakan kalau lo sudaj ketemu sama cowok yang lo suka."
"Maklum lah Git, Fara kan belum pernah jatuh cinta. Jomblo akut dia." Anita ikut menggoda Fara.
"Nggak usah songong lo. Ngatain gue jomblo akut, apa kabar dengan lo?"
"Gue baik-baik saja, dan gue juga pernah punya pacar." Anita menjulurkan lidahnya.
"Kapan? saat lo bayi atau berbentuk embrio?" Ejek Fara.
"Saat gue sedang di rencanakan sama nyokap bokap gue."
"Udah-udahah.. brisik. Far, Nit, menurut kalian gue terima sekarang nggak ya Kak Gilang."
"Sekarang!" jawab Fara dan Anita serempak dan keras.
"Biasa aja ih kalian jawabnya."
"Gita, apalagi coba yang mau lo pertimbangkan. Kak Gilang itu tidak seperti Devan dan tidak semua orang bersifat seperti Devan." Anita menasehati Gita.
"Iya, kapan lagi dapat cowok tajir, pintr, keren, populer." ujar Fara.
"Jadi gue sudahi pelarihan pacarannya?" tanya Gita ragu.
"Yah... sudahi pelatihan pacar lo, jadian sekarang sama Gilang." Jawab Fara mantap, ditambah anggukan Anita yang sangat mantap.