
Gita datang ke kampus lalu mendekati
Fara yang masih terlihat sangat lesu. Gita tidak menyapa ataupun bertanya
tentang keadaan dirinya karena jelas-jelas dia sudah tahu yang terjadi.
“Git, belum berhasil bujuk Raka?”
tanya Vian. Gita menggelengkan kepalanya.
“Ngapain juga harus di bujuk, kalau dia
memang mau tinggal ya tinggal tanpa harus kita merengek kepada dia.” Sahut Fara
dengan kepala yang dia taruh di meja.
“Benar juga, gue juga tidak bisa
memaksakan keinginannya.” Jawab Gita sembari mengingat saat Raka mengusirnya
dan memintanya agar tidak mengganggunya.
“Memang pilihan yang sangat berat, coba
saja kita di posisi Raka pasti kita akan merasakan yang sama.” Jelas Vian.
Penjelasan Raka dan Gilang malam itu setelah pembujukan yang pertama membuat
Vian mengerti. Pacar dan sahabat memang sangat penting, namun keluarga lebih
berharga. Karena hanya keluargalah tempat dimana dia pulang dan mau menerima
dirinya dalam keadaan hacur sekalipun.
Mendengar ucapan Vian Gita jadi sadar,
kalau saja dia di posisi Raka diakan melakukan hal yang sama. Tapi yang dia
tidak suka kenapa harus memutus hubungan dengan Fara yang sudah berjalan lama.
“Tapi kenapa harus putus hubungan?” Gita
masih tidak mengerti. Bisa saja kan mereka berdua menjalin hubungan meskipun
harus ldr.
“ldr itu berat Gita, yang beda kota saja
sudah banyak menimbulkan kecemasan apa lagi beda negara. Apa tidak hanya makan
hati, saat disini malam disana
pagi,kapan ketemunya coba.” Jelas Vian.
“Vian,sering kali aku bilang kapan ketemu untuk berkomunikasi itu tergantung masih jadi prioritas atau tidak saja.”
“Gita, sudah jangan terus memaksa. Raka
sudah menjawab dengan sangat jelas, kalau dia pergi berarti aku ini bukan
prioritasnya lagi.”
“Kalau sampai Raka pergi, gue berjanji
akan menggantikan dia di hati lo.” Celoteh Vian.
“Nggak!” jawan Gita dan Fara bersamaan.
“Kenapa?” Vian merasa aneh dengan
penolakan dari mulut Gita dan Fara bersamaan.
“Vian, lo mau kita musuhan.” Gita
mendelik sambil melipat kedua tangannya di dada.
Tuk...tuk...
“Selamat pagi teman-teman mohon
perhatiannya sebentar.” Farhan masuk beserta beberapa sahabatnya.
“Selamat pagi Kak.” Jawab mahasiswa
bersamaan. Fara yang tidak tertarik dengan pengumuman yang akan di berikan oleh Farhan tetap menelungkapkan kepalanya di meja.
“Tiga hari ke depan kita akan mengadakan
bakti sosial di daerah desa yang lumayan terpencil untuk memberikan sosialisasi
sekalian membantu keadaan disana.” Jelas Farhan.
Fara mengangkat tangannya, “Maaf Kak,
apa semua harus ikut?” tanya Fara. Dia masih malas untuk berpergiam dia hanya
ingin mager di dalam kamarnya sembari menikmati rasanya sakit hati.
“Maaf untuk acara kali ini, semua
angkatan harus datang.” Jawab Farhan.
“Ikut saja Far, bisa buat refresing
melupakan Raka.” Bujuk Gita agar Fara mau ikut selain menamani dirinya. Setidaknya
untuk melupakan kesedihannya untuk sebentar.
“Iya, kita pergi saja bareng-bareng.”
“Untuk perlengkapannya kalian bisa baca
di selebaran ini, saya harap besok bisa datang tepat waktu. Pukul tujuh pagi
sudah harus kumpul di kampus.” Tambah Farhan.
“Iya Kak.” Jawab serentak.
Selesai packing untuk berangkat ke acara
kampus Gita lngsung mengambil ponselnya untuk video call bareng Gilang.
“Hai..” Gita melambaikan tangan saat
Gilang mengangkatnya.
“Hai juga sayang.”
“Kamu masih sibuk?” tanya Gita.
“Tidak, baru saja aku sampai di hotel.”
Katanya sambil duduk di kasur sembari melepas sepatunya.
“Kak Gilang sudah makan?”
“Sudah, kamu juga nggak lupa makan kan?”
Gilang balik bertanya.
“Tentu saja aku tidak lupa, aku tidak
mau membuat calon suami aku khawatir sama aku.” Kata Gita sambil senyum-senyum. Gilang terkekeh saat Gita menyebutnya calon suami.
“Baiklah calon istriku, aku mau mandi
“Em..”
“Eh.. tunggu itu tas besar di belakang,
kamu mau berpergian?” Gilang mengurungkan untuk memutus sambungan telponnya.
“Ah..iya. Besok ada acara sosial ke desa
yang lumayan jauh dari perkotaan.”
“Berapa lama?”
“Cuma tiga hari.”
“Siapa saja yang ikut?”
“Semuanya.”
“Sayang kamu harus bawa perlengkapan
yang lengkap, biasanya di desa terpencil jarang ada perlengkapan. Disana juga
jauh dari supermarket. Bawa makanan riangan, minum dan yang pasti obat-obatan. Kamu harus terus menghubungi aku.” Gilang khawatir saat Gilang pergi.
“Iya sayang, kamu sama mama sama-sama
bawelnya deh.” Kata Gita.
“Kok bawel sih, ini semua demi keamanan
kamu. Kamu pergi tanpa keluarga dan juga tanpa aku membuat aku khawatir saja.”
“Kak..aku pergi nggak sendiri ada Fara
dan juga Vian dan juga kakak kelas yang lain. Kita satu fakultas berangkat semua.”
“Kak kelas?”
“Em, ya kan acara kampus kalau kakak
kelasnya nggak ikut kita mengikuti arahan siapa?”
“Itu cowok yang suka dekatin kamu ikut?”
Gilang mulai tidak tenang.
“Tentu saja, dia ketua panitianya. Kak
Gilang tenang saja cinta Gita itu Cuma buat kamu. Mau dia suka sama Gita juga
nggak akan ngaruh.” Jelas Gita.
“Baiklah, ingat selalu jaga jarak dan
jangan menciptakan suasana romantis. Dia hanya akan modus.” Kata Gilang lagi.
“Iya sayangku, sudah gih sana mandi
nanti kemburu malam.” Kata Gita.
“Malas mandi, rasanya nggak rela melepas
kamu pergi.” Gilang tidak jadi mandi. Dia justru merebahkan tubuhnya di kasur.
“Kenapa malas sih, sudah seharian kamu
di luar pasti banyak kuman yang menepel di tubuh kamu.”
“Biarkan saja, beberapa hari ini
kamu pasti sibuk dan sedikit memberikan kabar.” Kata Gilang.
“Tidak mungkin, aku hanya berkegiatan
ringan bukan bekerja berat yang tidak boleh menghubingi kamu.” Gita meyakinkan.
“Tidak peduli, sayang..”
“Hem,”
“Kamu nggak usah berangkat saja.” Gilang tiba-tiba merasa tidak rela Gita pergi,
perasaanya tidak enak.
“Gita harus berangkat, ini juga
mempengaruhi nilai Gita nanti. Gita hanya pergi tiga hari.”
“Tiga hari juga lama, seperti setahun.”
“Lebay deh, udah buruan mandi.” Suruh
Gita.
“Baiklah, tapi sebelum mandi cium dulu
deh.” Minta Gilang.
“Emmmuach..” Gita menempelkan bibirnya
di ponsel.
“Tidak terasa sama sekali, ulang dong.”
“Ya mana terasa ini kan di hp, besok
kalau ketemu baru bisa ciuman yang berasa.” Kata Gita.
“Ciumana berasa.” Kata Gilang sambil
tersenyum jail. Gita tseketika menutup mulutnya, dia keceplosan.
“Iya berasa kan, kita dekat.”
“Saat pulang nanti aku akan tagi ciuman
yang berasa itu. Aku mandi dulu, selamat malam calon istri, mimpiin aku ya.”
“Malam juga sayang.”
Gita mematikan sambungan ponselnya, dia
memegangi bibirnya. lalu menepuk-nepuk keningnya pelan. Dia menggerutu pada
dirinya sendiri karena ceroboh bisa berpikiran akan memberikan ciuman Gilang
pada bibirnya.
Ting..
Gita mengambil ponselnya saat notif
pesan masuk, dan pesan masuk dari Gilang. Gita langsung tersenyum saat membaca
pesannya.
I love you Gita...
Emuaach..
Wajah Gita merona, dia malu dengan
dirinya sendiri.