
Farhan sangat senang bisa pergi lagi sama Gita setelah dia kesal dan tak mau bicara
gara-gara masalah kemarin.
“Gita, syukur deh lo mau ketemu sama gue lagi.” Kata Farhan.
Gita mengangguk, “Iya Kak, kita langsung pergi saja yuk.” Gita tidak mau basa-basi bersama Farhan lagi.
Mereka berdua berjalan berdampingan menuju ke toko buku, Farhan melihat ke arah Gita. Dia masih berharap ada jalan mendapatkan hatinya.
“Gita, sebentar.” Farhan berhehenti.
“Hem?” Gita ikut menghentikan jalannya.
“Boleh sekali ini gue tanya, sekali saja. Gue tidak akan bertanya lagi suatu hari nanti.” Farhan memohon.
“Apa?”
"Tapi gue minta jawaban dari lo." Kata Farhan.
"Baiklah."
“Kalau ada kesempatan, dan bisa menggerakan hati lo untuk terbuka. Gue harus melakukan apa? Dan kalau memang gue harus berubah seperti mantan lo itu gue pasti akan lakukan.” Kata Farhan.
"Pertanyaan ini lagi." batin Gita sambil menghembuskan napas panjang dan berat.
“Tidak akan pernah ada kesempatan sedikitpun untuk menggerakan hatinya Gita kemana pun, karena setiap kali dia melangkah Gita hanya akan berjalan ke arah gue.” Kata Gilang sambil menyamperi Gita dan Farhan dengan penuh percaya diri.
“Kak Gilang.” Gita keget.
“Lo siapa?” Farhan melihat Gilang dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Gue pacarnya dia.” Gilang merangkul Gita.
“Pacar?” katanya sambil sedikit tertawa tidak percaya.
“Lo jangan ngarang, datang-datang ngaku-ngaku jadi pacar.” Farhan tetap tidak percaya dengan omongan Gilang.
“Tanya saja Gita,” Gilang mengeratkan tangannya, Gita menatap Gilang dan Gilang
tersenyum manis penuh dengan kode.
“Apa benar Gita?” Tanya Farhan berharap semua itu tidak benar.
Gita mengangguk pelan, “Kenalin, ini Kak Gilang.” Gita mengenalkan Gilang kepada
Farhan.
“Gita, lo pasti bohongin gue kan. Lo melakukan ini agar gue berhenti mengejar lo. Nggak akan semudah itu Gita, gue akan tetap mengejar lo.” Kata Farhan sambil
pergi meninggalkan Gita. Dia masih tidak percaya kalau Gilang pacarnya. Yang dia tahu Gita hanya belum bisa move on dari mantanya.
Gita melepaskan rangkulan tangan Gilang, “Kak Gilang ngapain disni?” tanya Gita.
“Ya karena lo disini. Coba kalau lo di pluto pasti gue susulin juga ke pluto.” Gilang mengombali Gita.
“Ih..nggak lucu tahu."
“Ya kan memang nggak melucu, gue kan bukan pelawak.” Kata Gilang.
Gita terus pergi meninggalkan Gilang karena kesal, dia tiba-tiba datang dan
menurutnya merusak rencananya. Karena Farhan akan menagihnya lagi mengantarnya ke toko buku. Itu sangat menyebalkan bagi Gita.
“Mau kemana?” Gilang mengejar Gita.
“Kak Gilang jangan ikutin Gita lagi, sudah sana pergi tuh sama cewek-cewek yang
cantik-cantik. Kenapa masih saja cari Gita.” Gita berjalan cepat untuk menghindari Gilang.
“Tunggu, ngomong apaan sih lo.” Gilang menarik tangan Gita agar berhenti berjalan.
“Kak Gilang, Gita tahu ini semua salah Gita karena melepaskan Kak Gilang. Tapi kenapa Kak Gilang bisa secepat itu mencari yang lain, Gita..”
Cup...!
Gilang mengecup bibir Gita yang sejak tadi mengomel saja. Gita tiba-tiba terdiam rasanya memebeku meskipun hanya kecupan kilat yang di berikan Gilang.
Tubuhnya terasa kaku, jantungnya berdenyut keras bersamaan dengan desiran darah yang kencang.
Gilang memegang wajah Gita, lalu mendekatkan wajahnya. Dia pelahan wajah mereka berdua semakin mendekat, bibirnya menyentuh bibir Gita. Dia memberikan kecupan lembut, di bibir Gita. Gita memejamkan matanya, merasakan lembutnya bibir Gilang.
Gilang melepakan ciumannya, dia memudian mencium kening Gita. Gita perlahan membuka matanya, suhu tubuhnya menjadi meninggi. Pipinya merona, dia malu dan salah tingkakah saat bertatapan langsung denga Gilang.
Gilang mengusap lembut bibir Gita dengan tangannya, “Ini hanya boleh gue yang
memiliki. Dan hanya gue yang boleh menciumnya” Bisik Gilang
“Mata, tangan, dan seluruh tubuh lo hanya gue yang boleh memiliki. Tidak ada satu orang pun yang boleh menyentuhnya sedikit pun. Lo mengerti?” Tanya Gilang. Gita
mengangguk pelan dia masih syok.
Otaknya sedang tidak bisa berpikir, apa yang di katakan Gilang hanya akan dia jawab dengan anggukan saja.
Gilang menarik Gita ke dalam pelukannya, “Aku sangat merindukanmu sayang, mulai
sekarang kita sudah berpacaran lagi. Kita bukan mantan.” Kata Gilang.
“Iya.” Gita membalas pelukan Gilang. Dia benar-benar bahagia, semua perjuangannya benar-benar tidak sia-sia. Dia kembali mendapatkan Gilang lagi.
Gita tersenyum sambil memegangi bibirnya, meskipun sudah berlalu namun rasa lembut sentuhan bibir Gilang masih terasa. Bahkan seumur hidupnya Gita tidak akan pernah melupakan ciuman pertamanya itu.
“Hay, senyum-senyum aja lo.” Fara menjatuhkan tubuhnya di sebelah Gita.
“Hem.” Gita hanya menjawab dengan senyuman saja.
“Kenapa sih lo? Dapat undian?” Tanya Fara heran.
“Lebih dari undian katanya.” Kata Gita terus saja senyum-senyum membuat Fara semakin penasaran.
“Apaan emang.”
“Coba lo tebak?”
“Lo jadian lagi sama Kak Gilang.” Tebak Fara karena hanya itu yang membuat Gita paling bahagia.
“Ya, tapi ada yang lebih membuat gue lebih baagia lagi.” Kata Gita.
“Apa?” Fara memiringkan tubuhnya, dia menatap wajah Gita dan coba menebak apa yang membuat Gita bisa segirang itu.
“Ah.. lo udah.” Fara memegangi bibirnya. Gita malu-malu malu mengangguk mengakuinya kalau dia sudah berciuman dengan Gilang.
“Ya Tuhan, sumpah pasti sweet banget. Gimana rasanya ciuman sama Gilang?” Fara
antusias.
“Em.. dingin, manis, lembut tapi juga hangat. Gue nggak tahu lagi menidkripsikannya,” Gita menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena malu.
“Ah.. bikin iri saja lo.” Fara manyun. “Kapan Raka akan mencium gue.” Kata Fara lagi.
“Apa lo belum melakukan itu selama ini?” Gita beranjak duduk bersila, Fara pun ikut
duduk. Mereka serius seperti sedang membahas hal penting padahal hanya sebuah
ciuman.
“Belum, Raka memang payah.” Kata Fara.
“Em.. kan kalian sudah lulus SMA. Bukannya orang-orang melakukan itu setelah lulus
SMA.” Kata Gita.
“Dasar bocah polos, justru kita yang tertinggal dari bocah SMA mereka justru lebih dari sekedar kiss juga ada. Dan sekarang ini anak SMP saja sudah melakukan itu.” Kata Fara.
“Berati kita yang nggak gaul.” Kata Gita.
“Bukan kita yang nggak gaul, tapi cowok-cowok kita menjaga kita agar tidak rusak.” Kata Fara.
“Benar, dulu Kak Gilang juga suka bilang belum waktunya.” Katanya dengan senyuman.
“Gita, apa lo sudah...” Fara tersenyum sambil melihat badan Gita. Seketika Gita
menutup badanya merasa risih di lihatin Fara.
“Jangan mengada-ada lo Far, gue masih suci.” Gita tahu pikiran liar dari Fara.
“He..he... gue kira lo mau langsung depe.” Mulut Fara kalau ngomong asal ceplos tanpa di saring.
“Enakbaja depe, gue nanti di langsung lunas nggak ada kredit-kredit begitu. Siapa tahu lo yang mau coba depe."
"No.. Big No!" Kata Fara.