Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Perasaan Gilang


Hati Gilang mulai meradang melihat Gita yang benar-benar pergi dengan cowok lain. Untung saja Raka sudah memberitahu kemana tujuan Gita pergi. kalau tidak pasti cowok yang di bawa Gita sudah jadi bergedel.


"Bagaimana bisa dia tersenyum manis seperti itu sama orang lain." Batinya dengan emosi yang mulai meluap ke ubun-ubun. Baru saja Gita berjalan beberapa langkah saja Gilang sudah cemburu.


Dengan sangat berat hati, Gilang hanya bisa ngintilin Gita dari belakang.


"Eh.. apa ini main tatap-tatapan. Tidak bisa di biarin."


Gilang langsung nyelonong mendekati Gita. Melihat ekspresi Gita yang kaget membuatnya senang. Seakan dia telah menangkap basah Gita yang sedang bersama orang lain.


Bahkan dengan sengaja Gilang merangkul Gita untuk mengusir cowok yang sedang pergi bersamanya.


Tanganya reflek seperti ada yang menuntun untuk merapikan rambut Gita. Dan satu tangan mengeratkan lengan Gita. Agar dia mengakui kalau dirinya adalah pacarnya.


Ekspresi kesal yang di tunjukan Gita kepadanya sungguh menjengkelkan, Gilang hanya bisa membuang muka saja.


Ketika Gita sudah mulai nyerocos, Gilang melihat mulut Gita yang terus saja berbicara tanpa henti. Dia tersenyum melihat bibir mungilnya itu. Sudah sejak lama dia menahan untuk tidak tergoda. Hanya cukup melihatnya dan berkata suatu hari nanti, akan gue gapai.


Tapi kali ini hatinya menyuruhnya untuk melakukan. Otaknya menggerakan cepat tubunya mendekati Gita, otaknya terus mendorong bibirnya untuk memberikan kecupan cepat tepat di bibir Gita.


“Aku melakukannya.” Katanya dengan desiran darah yang luar biasa. Kalau sedang di tes jantungnya pasti berdenyun lebih keras daripada orang yang habis berlari


maraton.


Dia melihat ke tangannya yang terus tergerak memegang wajah Gita, otaknya menggiring dirinya untuk melakukan ciuman yang lebih pelan dan lembut daripada tadi. Mengatur ritme agar tidak tergesa-gesa sehingga bisa menikmatinya.


Bibir Gilang mulai menyentuh bibir Gita lagi, dia ikut memejamkan matanya sama halnya


dengan Gita. Tangan kananya menarik tubuh Gita agar lebih mendekat dengannya.


Manis, sangat manis yang dia katakan dalam hati sepanjang mencium Gita. Sebenarnya


tangannya sedikit bergetar karena ini juga pertama kalinya dia mencium seseorang. Dan dia juga tidak handal dalam melakukannya.


“Gilang kau sangat berani.” Ujarnya dalam hati meskipun dia masih menikmati ciumannya. Hati dan otaknya terus bergejolak.


“Apa Gita menikmatinya, atau justru akan marah karena aku tidak ijin dan memberikan


aba-aba padanya.” Batinya semakin bergejolak.


Namun tidak ada penolakan dalam diri Gita membuat dirinya sedikit tenang.


Gilang perlahan membuka matanya, dia ingin melihat wajah Gita. Dia segera menarik wajahnya melihat wajah Gita yang sangat tegang. Otak Gilang menyuruhnya untuk


mencium kening Gita sebagai penenang.


Dia mengusap bibir Gita dengan ibu jarinya, dan sesegera mungkin dia menurunkan. Takut otaknya menggiring untuk melakukannya lagi.


Melihat Gita yang shock membuat dia merasa sediki bersalah. Gilang merapikan rambutnya sambil memalingkan wajahnya, dia canggung melihat Gita. Jantungnya masih tidak beraturan.


Tapi dia harus tetap terlihat cool di depan


Gilang tersenyum, dia telah melakukan hal yang selama ini dia pikirkan bagaimana cara


melakukannya. Ternyata ketika waktu sudah tepat, otak yang akan membantu


melakukannya. Tanpa harus ada trik dan tips yang sering di beri tahu sama Bayu.


Gadis yang dalam genggamnya sekarang itu, akan menjadi teman hidupnya. Dia sudah


mendapatkan kebahagian hari ini, maka dia berjanji akan memberikan kebahagiaan


untuk seterusnya. Dia kan menjadikan Gita sebagai istrinya, dan dia bisa mencium bahkan melakukanlebih padanya tanpa rasa takut.


Inilah hari kebahagiaannya, keberaniannya memberikan ciuman kepada Gita adalan hadiah untuknya. Hadian untuk menembus kerinduan yang sudah hampir tiga tahun hanya bisa dia pendam. Gilang memberikan kecupan lagi di kedua tangan Gita.


"Gilang apa lo mau lebih?" terdengar otak membisiki hatinya.


"Tidak. Ini belum waktunya. Jangan melebihi batas Gilang." Katanya dalam hati.


Gilang menarik Gita dalam pelukannya, saat melihat bibir Gita dia ketagihan ingin mengecupnya lagi.


"Apa kita hanya akan berada disini?" tanya Gita.


"Lo mau jalan-jalan kemana?"tanya Gilang.


"Kemana saja asal sama lo." Bisik Gita.


Serpihan kerinduan telah melebur menjadi kehangatan. Hari ini mereka berdua tidak banyak bicara. Hanya cukup menikmati kebersamaan berdua.


Jalan bergandengan tangan, melewati jalan-jalan setapak yang pernah mereka lewati. Mereka kembali membuka kenangan kebersamaanya dulu.


Memulai membuka kemistri yang sempat terputus karena berpisah.


...♡♤♤♤♡...


Gilang tidur menaruh lenganya sebagai bantal. Dia tersenyum saat mengingat ciuman bersama Gita.


Malam ini seperti hujan bintang di hatinya, dia seperti diajak terbang keangkasa luas. Gilang bangun dari tidurnya lalu loncat-loncat. Dia tidak bisa menahanya untuk berseleberasi atas kebahagiaannya.


"Gilang, ada apa ini?" tanya Andini terhera -heran melihat Gilang.


Seketika Gilang menhentiakan aktifitasnya lalu menutup rapat pintunya.


"Gilang, apa semuanya baik-baik saja?" Andini cemas.


"Sangat baik, bahkan lebih baik dari sebelum-sebelumnya!" teriak Gilang.


"Baiklah kalau begitu sekarang keluar dan makan." ajak Andini.


"Baiklah." Gilang keluar kamar dengan wajah yang sangat cerah.