Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Pukulan


Gita, Fara, Vian berlari cepat dari gerbang. Mereka merebutkan kursi paling belakang.


"Gue dulu." kata Gita sambil ngos-ngosan Gita menaruh tasnya di kursi.


"Mana bisa gue dulu kali." Vian duduk di kursi sebelah tas Gita.


"Vian, lo ngalah kenapa sih sama cewek." kata Fara.


"Oooo tidak. Mana bisa gue ngalah." Vian nggak mau ngalah."


Mereka bertiga berebat, Anita geleng kepala sambil duduk di barisan tiga dari depan, bisa dikata tengah.


Devan melipat kedua tangannya di dada, "Semua orang berebut bagian depan nomor satu. Kalian justru memilih nomor terakhir. Dasar orang-orang aneh, tak punya masa depan." Katanya sambil menyenderkan tubuhnya di kursi barisan no tiga persis samping tempat duduk Anita.


"Lebih aneh lagi kalau orang pinter tapi hatinya busuk, suka merendahkan." Jawab Raka sambil melewatinya.


"Lo punya masalah apa sama gue?" Devan memegang pundak lalu memutar tubuh Raka hingga mereka aaling berhadapan.


"Masalah? memangnya gue kenapa?"


"Lo nggak usah sok nggak tahu?!" Devan mangankat tangan yang sudah terkepal erat.


"Devan jangan!" terik Gita. Gita pun berlari lalu berdiri di depan Raka agar Devan tidak memukul Raka. Namun telat, kepalan tangan Devan meluncur mulus dan akhirnya mengenai wajah Gita.


"Gita!" teriak Fara, Anita saat Gita terkulai lemas di pelukan Raka. Dengan luka memar dan hidung berdarah. Gita pun langsung pingsan.


"Gita.. maaf, gue nggak bermaksud." Devan merasa bersalah.


Raka memberik Gita kepada Vian, dan menyuruh Vian membawa Gita ke UKS.


"Berani lo menyakiti Gita!" Raka meluncurkan pukulan ke tubuh Devan.


"Gue nggak sengaja, justru dia yang menyakiti dirinya karena lo. Lo yang salah." Devan membalas pukulan Devan.


"Dasar manusia tidak tahu diri, menyesal gue pernah baik sama lo!" Raka memukuli Devan membabi buta.


"Raka..stop! Raka!" Fara menahan Raka namun dia tetap tidak mendengarkan.


Brak! Brak!


"Cukup!" Pak Rudi datang bersama Gilang.


"Raka berhenti!" Tetiak Pak Rudi. Raka pun akhirnya berhenti namun Devan sudah tak berdaya. Wajahnya sudah berlumuran darah.


"Raka apa yang lo lakukan?" Tanya Gilang sambil menolong Devan bangun.


"Darah harus di bayar darah." Kata Raka dengan napas memburu. Dia ingin sekali melenyapkan orang picik yang pernah dia tolong dan menjadi sahabatnya.


"Ngomong apa kamu Raka! cepat pergi ke ruangan saya!" Kata Pak Rudi. Raka tanpa beban langsung pergi ke ruangan Pak Rudi.


"Gilang bawa Devan ke UKS."


"Baik Pak."


"Gue bisa sendiri." Kata Devan. Dia melepaskan tangan Gilang yang memapahnya.


"Lo terluka parah, biar gue bantu."


"Nggak perlu gue bisa sendiri." Devan berjalan dengan sedikit sempoyongan.


Gilang mau mengejar Devan tapi di tahan sama Fara, dia menggelengkan kepala agar Gilang berhenti mencemaakan Devan.


"Fara, ada apa dengan Raka?" Gilang tak pernah semarah itu, bahkan ucapanya terdengar sangat serius.


"Ikut gue." Fara meminta Gilang mengikutinya.


"Kemana?"


"UKS." Jawabnya.


Gilang masih bingung, dia tak mengerti apa-apa. Bahkan Fara tak mau menjelaskan apa tujuannya dia mengajak ke UKS.


Fara membuka pintu UKS, lalu mencari keberadaan Gita.


"Tempat tidur paling pojok." Jawab Anita dengan suara pelan.


"Siapa yang sakit?" tanya Gilang.


Fara membuka tirai, "Ini alasan Raka marah besar." Kata Fara.


"Gita.." Gilang berlari ke tepi tempat tidur Gita.


"Kenapa Gita?" Gilang menatap Fara dan Anita bergantian.


"Awalnya Devan menghina kita karena berebut kursi belang, lalu Raka membalasnya dan Devan nggak terima. Dia hendak memukul Raka tapi Gita menahanya dan akhirnya Gita yang terkena dan pingsan." Jelas Anita.


"Pantaskan kalau Raka menghajar Devan tidak tahu diri itu." kata Fara.


Gilang melihat wajah Gita yang memar, dia kesal dan ingin menghajar Devan. Namun dia terus menahannya agar tidak emosi dan berakhir seperti Raka di ruangan Pak Rudi.


"Fara, Anita jagain Gita sebentar gue akan menemui Raka dulu." Pinta Gilang.


"Ok." jawab Fara dan Anita.


Gilang mengetuk ruangan Pak Rudi pelan.


"Masuk, ada apa Gilang?" tanya Pak Rudi.


"Maaf Pak, bisa meluangkan saya bicara sebentar dengan bapak?" Kata Gilang masih di depan pintu.


"Baiklah, Kamu duduk disini dulu." Pak Rudi meminta Raka untuk tetap menunggu di ruangannya.


"Ada apa Gilang?" tanya Pak Rudi setelah menutup pintu agar Raka tidak mendengar obrolannya.


"Bagini Pak, semua itu bukan sepenuhnya kesalahan Raka. Tapi Devan juga ikut membuat kesalahan."


"Kamu tahu darimana, apa kamu melihatnya? Jangan mentang-mentang dia sahabat kamu, saya akan melepaskannya."


"Saya memang tidak melihatnya, tapi saksi yang di kelas itu banyak. Devan yang muali membuli, dan Raka melakukan pembelaan." Gilang menjelaskan mejadian yang sebenarnya.


"Saya tahu itu Gilang, tapi Raka sudah los kontrol. Dan Raka yang melakuka pukulan bahkan bertubi-tubi, dia biasa di tuntut."


"Lalu pa hukuman untuk Raka?"


"Di skorsing selama tiga hari." kata Pak Rudi padanya. Pak Rudi pun masuk lalu memberiakan surat skorsing milik Raka.


"Apa nggak bisa nego Pak satu atau dua hari gitu Pak? atau hukuma yang lain selain ini."


"Biarakan saja Gilang, dia bersalah dan juga harus bertanggung jawab dengan apa yang temah dia perbuat.." katanya a


Meskipun di skorsing nggak ada sedih-sedihnya. Dia sangat santuy seperti tidak terjadi apa-apa.


"Raka,"


"Hai Lang, gimana keadaan Gita."


"Dia masih pingsan di UKS. Raka kenapa lo lakuin ini? tanya Gilang.


"Ini masih belum seberapa, harusnya dia mati berani sekali melukai adik gue." kata Raka dengan tatapan tajam.


"Apa yang lo lakukan ini salah?" Gilang menasehati raka.


"Gue tahu, tapi gue nggak peduli karena dia berani menyakiti adik gue." jawab Raka serius.


"Raka, lo harus peduli. Bagaiman kalau lo sampai di keluarkan. Siapa yang akan menjaga adik kesayangan lo itu. Apa dia akna baik-baik saja tanpa lo." Gilamg menyadarkan Raka.


Raka terdiam, benar juga yang di katakan Gilang. Kalau dia memang di kelurkan maka dia tidak bisa menjaga Gita.


"Kan ada lo, gue percaya sama lo sepenuhnya."


"Raka, terimakasih lo atas kepercayaan lo. Tapi lo juga sangat di butuhkan Gita."


"Lo mau lihat Gita dulu?" tanya Gilang. Raka mengangguk pelan.