
Gilang menoleh ke arah Gita, dia tersenyum melihat Gita yang tertidur pulas. Kadang Gilang merasa Gita itu seperti bunglon
bisa sangat cantik, imut, galak, ngeselin, menyeramkan, cerewet, tapi selalu
manis dan ngangenin.
Bahkan saat merasa kesal dia tidak bisa marah kalau sudah melihat wajah Gita. Kadang dia kesal sama Gita kalau dia sangat mandiri dan jarang banget mau manja
dengannya. Gilang sering merasa tidak di
butuhkan jika Gita melakukan apa-apa sendiri, atau meminta bantuan Raka.
“Senyebelin apapun kamu, aku tidak bisa marah dan meninggalkan kamu.” Kata Gilang sambil mengusap kepalanya. Gilang turun lalu menggendong Gita, dia susah payah
memngendong sambil mengetok pintu rumah Gita.
Tok...tok...tok...
“Ya sebentar.” Sahut seseorang dari dalam. “Gilang, masuk..masuk. Kenapa Gita
pingsan?” tanya Qila.
“Tidur.” Jawab Gilang sambil sedikit tersenyum mendengar pertanyaan Qila.
“Ah.. gue kira pingsan tuh anak.” Celoteh Qila.
“Kamar Gita dimana? Berat.” Gilang merenges.
“Ah.. iya. Lewat sini.” Qila menunjukan jalan menuju kamar Gita. Lumayan berkeringat meskipun hanya menggendong dari depan sampai kamar Gita di lantai dua.
Gilang menghala napas panjang, dan meregangkan tangannya sebentar yang terasa pegal. Dia kemudian terdiam melihat dekorasi kamar Gita. Banyak foto dirinya dan juga mereka berdua yang menempel di
dinding Gita.
“Dia buat ini sendiri lo.” Kata Qila.
“Benarkah?”
“Hhm, dan pas semua yang dia rancang jadi kalian putus. Setiap hari dia menangis, gue
sudah emosi mau gue buang semua ini. Tapi dia nggak mau dan bilang kalau lo
belum menikah ataupun punya pacar dia nggak akan membuang ini semua.” Jelas
Qila.
“Pasti sangat berat untuknya.” Ujar Gilang. Mendengar cerita Qila membuat dirinya
nyesek dan makin bersalah. Sebelum mendengar rekaman pemberian dari Raka dia selalu saja berusaha sekuat tenaga melupakan Gita dengan mulai berteman dengan beberapa perempuan.
“Gilang, gue harap apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan Gita dan membuatnya menangis. Karena lo sangat berpengaruh bagi hidupnya.” Pesan Qila.
“Pasti, gue akan menebus semua kesalahan gue kemarin.”
...♡◇◇◇♡...
Gilang duduk di kursi meja belajarnya, memandangi foto Gita yang dia ambil ketika mengantar Gita. Foto Gita semasa SMP akhir, saat dia masih gendut tapi sangat imut dan mengingatkan awal jumpa Gilang dengan Gita.
Buuughhh....!!!!
Gilang yang sedang bersepeda ada yang menendangnya hingga dia terjatuh. Gilang sedikit terlempar hingga berada jauh dari sepedanya. Tak hanya itu saat Gilang hendak berdiri orang itu menginjak kaki Gilang dengan sepedanya.
"Gimana rasanya sakit?!" ujar teman seangkatan Gilang yang bernama Arman, orang yang sangat membencinya. Dia dendam karena Gilang selalu mendapatkan apa yang dia inginka
"Aaaaaaa..." Gilang hanya bisa berdesis merasakan sakit kakinya.
"Woi...!" teriak cewek gendut dengan seragam biru putih dan tas ransel.
Cowok yang menginjak kaki Gilang itu langsung turun dari sepedanya lalu menghampiri Gita.
"Anak bau kencur, ngapain lo mau jadi pahlawan?" tanyanya Arman.
"Pahlawan itu apa?" tanya Gita.
"Man, gue rasa dia ini hanya anak kecil idiot. Lihat saja bentuk badanya kayak tong begini." kata Miko teman Arman.
"Orang gede memang mulutnya nggak pernah di sekolahin ya. Kenalin gue Gita anak preman yang pegang daerah sini." kata Gita dengan sangat berani.
Arman dan Miko tertawa dengan sangat kencang. Mereka mendorong Gita sampai jatuh. Gilang hendak menolong tapi dia tidak bisa berjalan karena kakikinya sangat sakit.
"Hey.. anak kecil jangan ikut campur urusan orang dewasa. Nanti gue jual ke luar negeri baru tahu rasa." Arman menakut-nakuti Gita.
"Raka!" teriak Gita dengan mata berkaca-kaca. Dia sebenarnya takut tapi hanya memberanikan diri.
"Panggi sana teman-teman bocil lo, kita berdua tidak takut." katanya dengan sombong.
Mereka berdua menempeleng kepala Gita bergantian. Dan membuli Gita dengan mengatakan idiot, gendut dan kata-kata yang menyakitkan.
"Diaaam!" Gita bangun lalu mendorong Arman dan Miko bersamaan hingga terjatuh.
"Jangan berani-berani ya menghina Gita, atau kalian mau ke neraka!" Ancam Gita.
"Uuuh... takut." Miko mengejek. Mereka berdua berdiri dan hendak menjatuhkan Gita, namun tenaga Gita lebih besar hingga mereka berdua yang terjatuh.
"Ampun.., kita tidak akan melakukannya lagi." Miko mengangkat tangannya tanda menyerah.
"Makanya jadi orang jangan sok jago, sekarang minta maaf sama dia. Jangan pernah berani mengganggunya atau gue akan datang menghabisi kalian bersama teman-teman preman gue!" Gita mendelik. Arman dan Miko langsung lari.
"Kakak nggak apa-apa?" tanya Gita sambil jongkok.
"Nggak apa-apa." kata Gilang sembari memegangi pergelangan kakinya.
"Wah ini memar, rumah kakak dimana biar gue anteri." Gita menawarkan diri.
"Nggak usah, makasih. Maaf ya gara-gara bantuin kakak, lo jadi..." Ucapan Gilang terputus gara-gara ada yang memanggil Gita.
"Gita!"
"Raka, darimana saja lo. Barusan gue menolong kakak ini. Ada orang jahat yang mau jahatin. Lalu aku dorong dia ke tanah dan gue..."
"Kenapa lo ikut campur urusan orang, bagaimana kalau dia jahatin lo balik. Kenapa nggak panggil gue?"
"Sudah tapi lo nggak dengar. Lagian selama ada lo pasti tidak ada yang bisa jahatin gue."
"Ya sudah besok jangan ulangi lagi, jangan macam-macam kalau nggak ada gue." Raka merangkul Gita dan mengajak pergi.
"Kan lo sudah ajarin bela diri."
"Bela diri apanya, bukanya lo takut gue berkelahi."Cerocos Raka memarahi Gita.
"Gimana dengan kakak itu?"
"Dia hanya sedikit sakit, bisa pergi sendiri." Raka mengajak Gita pergi agar tidak terkena masalah, kalau saja orang yang di serang Gita membawa bala bantuan.
"Kakak, hati-hati pulangnya." Gita menoleh sambil melambaikan tangan tinggi-tinggi.
"Gita. Jadi namanya Gita, terima kasih sudah menolong gue. Suatu saat jika kita ketemu lagi gue akan balas kebaikan lo."
Semenjak kejadian itu, Gilang sering banget melihat Gita dari jauh. Sampai saat pertama kali melihat Gita masuk SMAnya, dia sangat bahagia. Dan tak mau melepasnya dengan mendadak menjadikan pacar.
"Lo adalah pelindung gue waktu itu, dan sekarang saatnya gue yang melindungi lo." Gilang mencium foto Gita laku bergegas tidur.
...♡◇◇◇♡...
Pagi tiba, seperti biasa Gita masih malas-malasan untuk bangun. Meskipun kuliah pagi namun dia belum punya niatan untuk bergegas madi. Masih membiasakan diri datang terlambat.
“Gita bangun sudah siang, kamu mau kuliah nggak?” Wanda membuka tirai lalu jendela
lebar-lebar agar udara pengap di kamar Gita berganti.
“Lima menit lagi ma.” Kata Gita sambil menarik selimut karena udara pagi yang dingin menerpa tubuhnya.
“Anak perawan disuruh bangun pagi kok susahnya minta ampun, gimana nanti kalau sudah menikah dan tinggal sama mertua. Nggak malu apa, nanti kamu bisa jadi bahan gunjingan bersama teman-teman mertua
kamu.” Omel Wanda.
“Itu keadaan yang berbeda mama, nanti Gita juga terbiasa menyusuaikan kebiasaan
disana. Jadi biarkan Gita bangun siang sebelum ikut mertua.” Sembari duduk
dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka.
“Memangnya tinggal sama mertua setidak menyenangkan itu Ma?” Tanya Gita.
“Ya, bisa di bilang begitu.”
“Apa mama dulu juga merasakan seperti itu di rumah nenek?”
“Yah tidak semenakutkan itu bersama mertua, hanya kadang salah paham yang membuat sedikit berat. Tapi mama beruntung medapatkan papa yang sayang banget sama mama dan juga nenek dan kakek yang juga sayang sama mama.” Wanda mengelus kepala Gita.
“Kalau begitu biarkan Gita selalu bersama mama di rumah ini.” Gita memeluk Wanda.
“Bagaimana bisa tinggal sama mama terus, kamu harus ikut suami kamu setelah menikah. Harus
hormat dan harus nurut sama omongan dia.”Wanda mengelus rambut Gita.
Wanda merasanya Gita sudah tumbuh sangat dewasa. Seperti baru kemarin Gita menangis karena tidak bisa mengerjakan pr atau berantem sama kakak-kakaknya. Kini
obrolannya sudah tentang pasangan hidup Gita.
“Bagaimana kalau mertua Gita seperti yang di sinetro, galak dan suka menyuruh-nyuruh
Gita.”
“Jangan terlalu berlebihan, tidak semua mertua itu jahat. Lagian keluarga Gilang itu sangat baik dan mama rasa sangat menyayangi kamu. Sudah jangan ngobrol aja terus, buruan mandi sama sarapan.” Wanda melepaskan pelukannya,
“Oiya Ma, ngomong-ngomong Raka dimana ya. Beberepa hari ini Gita nggak lihat mana
nomor ponselnya saja mati.” Gita yang sudah berdiri kembali duduk.
“Raka beberapa hari lalu pamit mau pulang ke rumahnya. Ada apa?”
“Oh pulang, itu nomor hpnya nggak aktif.”
“Nggak biasanya itu anak nomornya nggak aktif.” Wanda ikut heran.
“Makanya Ma.”
“Nanti mama telpon tante. Udah buruan madi.”
“Siap mama.” Gita lagsung meluncur ke kamar mandi.