Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Terima kasih


Rutinitas pagi yang sudah kembali


normal, bangun tidur, mandi sarapan dan berangkat kerja tak lupa video call


sama Gilang setelah beberapa hari dia menghindarinya.


“Selamat pagi.” Sapa Gita dengan wajah


yang sangat cerah, bahkan matahari pagi ini pun kalah cerah karena sedang


mendung.


“Pagi, cerah banget nih pagi.” Kata Ina.


“He..he.. iya mbak, kita kan harus


mengawali pagi dengan kecerahan meskipun langut sedang mendung.”


“Bisa saja lo, ngomong-ngomong lo baru


saja beberapa minggu di sini udah ada penggemar rahasia saja.” Kata Ina.


“Eh..”


“Lihat tuh..” Ina melirikan matanya di


meja Gita yang terdapat satu tangkai mawar dan juga satu bok sarapan. Gita


tersenyum lalu bergegas jalan ke kursinya. Dia membuka tempat bekal, dan


melihat beberapa sandwich.


Vian yang baru datang menyerobot


mengambil satu sandwich dari tempatnya.


“Ih..Vian gue kan belum makan kenapa lo


ambil sih.” Omel Gita.


“Satu doang, pelit amat sih lo.” Vian


memasukan semua sandwich ke mulutnya.


“Vian, lo keterlaluan kan itu dari


pengemar rahasiannya Gita harusnya biarkan dia memakan dulu.” Kata Ina.


“Udah biasa Mbak dia dapat kiriman


seperti itu. Cuman ada kemajuan saja di tambah bunga.” Kata Vian tanpa merasa


berdosa sedikitpun.


Plaakkk!


“Lo tuh kebiasaan, nggak bisa


menghargai. Makanya buruan punya cewek biar lo bisa melakukan hal romantis


seperti ini.” Kata Fara sambil duduk di kursinya.


“Vian lo masih jomblo?”


“Jomblo akut dia mah Mbak.” Jawab Gita


sambil terkekeh.


“Wajah-wajah kek dia siapa yang mau sih


Mbak.” Tambah Fara.


“Terus..terusin aja kalian, awas saja


kalau ada apa-apa gue nggak mau tolongin kalian.”


“Idih.. ngancem.”


“Sama Ina aja nih Vian, dia juga masih


jomblo loh.” Nino yang baru datang tiba-tiba menjodohkan Vian dan Ina.


“Nino, sembarangan lo ya.” Ina melempar


pensil ke arah Nino.


“Mas Nino bisa aja, mana mungkin gue


bisa dekat kalau saingan gue Mas Win yang sangat bijaksana dan dewasa.” Kata


Vian.


“Mas Win? Jadi Mbak Ina suka sama Mas


Win ya?” tanya Gita.


“Kenapa nggak jadian aja, kan seru.”


Sahut Fara. Mereka penasaran dengan hubungan Ina dan Win.


“Eh.. kalian ngomong apa sih. Vian lo


jangan bergosip deh.” Ina salah tingkah kalau selama ini dia menyukai Win.


Hanya saja dia menyimpan rapat-rapat karena dulu Win pacarnya Ratna. Dia hanya


bisa mengagumi saja tanpa berani mengungkapkannya.


“Mbak Ina, kalau cinta perjuangin saja.”


Gita menjadi suporter dadakan untuk Ina dan Win.


“Iya Mbak, kalau butuh bantua bisa


bilang sama kita. Kita semua siap bantu kok. Iya nggak.” Fara melihat ke arah


Gita dan Vian.


“Dengerin tuh kata anak-anak, mereka


saja paham kok. Lagian tuh sekarang posisi Ratna sama Win kan dah putus lo


bukan menjadi pelakor.” Jelas Nino.


“Kalian ngomong apa sih nggak jelas,


udah deh nggak usah pada ngecengi gue.”


“Ada apa nih pagi-pagi ribut-ribut.” Win


masuk dan semuanya langusng diam.


“Ada yang sedang jatuh cinta mas Win.”


Kata Gita.


“Siapa nih?” tanya Win.


Ina mendelik ke arah Gita, dia mengancam


Gita kalau sampai dia mengatakan kalau dia yang suka sama Win.


“Itu Mas Win cicak-cicak di dinding.”


Kata Gita sambil membalikan badannya dan membuka laptopnya agar tidak


berkepanjangan. Seketika ssatu ruangan tertawa mendengar jawaban Gita.


“Vian, sandwich gue mana?” tanya Gita


saat melihat tempat makannya sudah kosong.


“Gue kira lo nggak mau ya udah gue makan


saja.” Kata Vian sengaja banget karena dia belum sarapan.


“Vian kebiasaan sih lo, kan gue belum


Win tersenyum lalu menggeleng kepalanya,


dia senang teamnya kembali akur. Meskipun belum genap satu bulan namun dia


menyayangi Gita, Fara dan Vian layaknya anak-anaknya.


Gita menoleh kanan kiri saat tidak ada


orang yang melihat Gita mendorong pintu ruangan Gilang.


“Pagi.” Gita masuk lalu berjalan


mendekati Gilang.


“Pagi sayang.”


“Makasih yah, udah bawain aku bekal sama


bunganya meskipun di makan sama Vian semua. Kebiasaan banget tuh, pasahal aku


belum makan sedikitpun.” Gita mengadu sama Gilang tentang kelakuan Vian.


“Vian kebiasaan banget. Terus kamu


kesini cuma mau ucapin terima kasih doang nih nggak ada imbalannya.” Kata


Gilang.


“Imbalan?”


“Iya dong, kan aku buat sandwich itu


penuh dengan kasih sayang masa iya nggak ada imbalanya sama sekali.” Gilang


memutar kursinya hingga berhadapan dengan Gita.


“Memangnya Kak Gilang mau Gita masakin


apa?”


Gilang menggelengkan kepalanya, “Aku


nggak mau kamu melakukan hal yang berat. Cukup..”Gilang menyentuh pipinya


dengan jari telujuknya. Gita menundukan tubuhnya lalu mencium pipi kiri milik


Gilang.


“Yang satu juga dong iri loh nanti kalau


nggak di kasih.” Gilang menyentuh pipi kirinya.


“Iya deh.” Gita pun memberikan ciuman


lembut di pipi kirinya.


“Belum terasa.” Kata Gilang mulai jahil


sama Gita, dia kembali menyentuh pipi kirinya.


Gita membungkukan tubuhnya, dia kembali


memberikan ciuman di pipi Gilang. Namun dengan cepat Gilang membalikan wajahnya


hingga bibir Gita mendarat di bibir Gilang.


Gita mendelik dan kaget, dia hendak


menarik diri namu tangan Gilang langsung meraih tangan Gita agar tidak pergi.


Gita perlahan memejamkan matanya, mereka melaukan ciuman yang sangat lembut.


Gita membuka matanya lalu menarik diri, “Kak


Gilang ini di kantor, bagaimana kalau ketahuan sama yang lain.” Gita mencoba


melepaskan diri tapi Gilang menarik Gita duduk di pangkuannya dan memelukannya.


“Biarkan saja semua orang tahu.” Ujar


Gilang, dia mengusap lengan Gita lembut, yah dia kangen banget bisa bermaja


seperti itu. Semenjak Gita dan dirinya satu tempat kerja waktu mereka sedikit.


“Jangan. Belum waktunya mereka tahu


kalau kita itu pacaran.”


“Baiklah cintaku.” Gilang mencium kening


Gita.


“Kalau gitu Gita mau kembali dulu, masih


ada kerjaan banyak nanti di cariin Mas Win lagi.” Gita turun dari pangkuan


Gilang.


“Udah sini saja dulu, aku tuh masih


kangen sama kamu.” Gilang masih belum mau pisah sama Gita.


“Hey.. profesional. Disini aku itu


karyawan kamu.”


“Iya, kalau di depan karyawan yang lain


aku bisa bilang kamu itu karyawan aku. Tapi di belakang mereka kamu tetap pacar


aku. Jadi aku nggak mau tahu, mau di cariin Win ataupun siapapun aku nggak peduli.


Atau aku perlu mengganti jabatan kamu menjadi sekretaris pribadiku ya.” Gilang


mengangguk-angguk dengan ide yang dia punya. Jadi dia bisa bareng Gita terus.


“Jangan nagco deh. Mbak Lila mau di


kemanain lagian Mbak Lila lebih tahu semuanya daripada aku.” Gita tidak setuju


dengan ide Gilang.


“Ya Lila bagian pekerjaan , kamu bagian


menemaniku.” Kata Gilang sambil terkekeh.


“Udah..ah.. aku balik dulu.” Gita


beranjak untuk kembali ke ruangannya takut di cariin Win.


Baru berjalan beberapa langkah dia


mengurungkan niatnya. Dia mencari tempat sembunyi saat ada karyawan yang


datang. Gilang menarik tangan Gita dan menyembinyikan Gita di bawah mejanya.


Dug...


“Aduh..” Gita mengaduh,kepalanya


membentur tepi meja Gilang karena dia tidak hati-hati waktu masuk.


“Ada apa Lila?” tanya Gilang sambil


tangan kirinya mengusap kepala Gita yang terbentur.


“Ini hasil rapat kemari Pak, kita juga


sudah menembukan talent untuk film kita.”


“Ok, nanti saya cek lagi.” Kata Gilang.


Dia tidak berbicara banyak sama Lila agar dia cepat pergi.