Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Part Fara-Raka (Aku suka kamu)


Raka mengantar Fara pulang, dia


memikirkan omongan Bayu waktu itu. Kalau dia hanya menandai kekuasaan tanpa


bertindak itu sama saja bohong. Dia bisa kehilangan Fara kapan saja.Raka


menepikan mobilnya saat melihat banyak jajanan di pinggir jalan.


“Ngapain berhenti Ka?” Tanya Fara sambil


melihat sekitar.


“Berhenti sebentar, gue tiba-tiba mau


makan jagung.” Raka turun dari mobil. Fara hanya menghela napas panjang,


jikapun dia menolak, merengek mau langsung pulang Raka juga tidak mau ngasih.


“Lo ngidam? Mendadak sekali mau makan


jagung seperti ibu hamil.” Kata Fara sambil turun dari mobil.


“Gimana mau hamil kita aja belum


produksi.” Raka terkekeh sedangkan Fara langsung mendelik melihat Raka sambil


melihat kanan kiri takut ada yang dengar.


“Bang dua.” Pesan Raka.


“Siap.”


Raka memberikan jagung yang bakar kepada


Fara, dia membuka pintu lalu menyuruh Fara duduk. Mereka berdua menikmati jagung bakar tanpa saling bicara, hanya sesekali Fara yang curi pandang.


“Raka, sebenarnya lo ngapain sih makan


jagung lagi. Lo belum kenyang makan sebanyak tadi.” Protes Fara meskipun dia


menikmati jagung bakarnya.


“Sudah, cuman tadi kurang romantis


makannya.” Ujar Raka.


“Ya kalau mau romantis aja saja pacar


lo, jangan pergi berbanyak.” Omel Fara.


“Lo nggak lihat ini sedang gue


lakuin.”  Raka menoleh ke arah Fara. Fara


mempelankan kunyahannya, dia menoleh ke arah Raka hingga mereka berdua saling


berpandangan. Fara menelan pelan-pelan takut mendadak Raka mengatakan sesuatu


yang menganggetkan hingga dia tersedak.


“Ha.. maksud lo saat ini  lo lakuin sama pacar lo?” Fara nggak mengerti, dia sebenarnya ingin mengabaikan tapi ucapan Raka terdengar mengganjal di telingannya.


“Iya, lo pikir kita makan jagung saat


jaman purba.” Jawab Raka sambil menggigit jagung miliknya.


“Tunggu Fara, lo jangan ge-er dulu.


Cerna dulu pelan-pelan ucapan Raka. Dia suka banget ngeprank lo.” Kata Fara


dalam hati. Jantungnya mulai tidak beraturan, dia tiba-tiba merasa panas


dingin.


Raka melempar jagung yang tinggal


sedikit ke tong sampah, dia kemudia bediri tepat di hadapan Fara. Dengan tatapan lekat, dan penuh keyakinan dia ingin hari ini menjadi istimewa.


“Lo ke..kenapa berdiri sambil melihat


gue seperti itu?” Fara mendadak takut.


Raka berlutut di hadapan Fara sambil


memegang tangan Fara, “Far, mau nggak lo jadi pacar gue?”


Raka akhirnya mengutarakan perasaanya


setelah berpikir beberapa bulan terakhir. Awalnya dia takut kalau perasaanya itu hanya pelampiasan karena dirinya putus dari Prisil dan akan menyakiti perasaan Fara.


Namun setelah sering jalan, ternyata dia


benar-benar nyaman dengan Fara. Dia ingin memiliki gadis itu. Dia memang bukan


gadis yang lembut seperti Prisil tapi dia sangat lucu saat dia menggodanya.


“Waduh apa nih.. kok dadakan. Eh gue


harus jawab apa? Tunggu dulu ini mimpi gue atau gue yang halu.” Celoteh Fara dalam hati.


“Hey..” Raka menepuk pelan pipi Fara untuk menyadarkan Fara dari lamunanya.


“Hah.. lo tadi ngomong apa?” tanya Fara


untuk meyakinkan kalau dirinya sedang tidak mimpi dan juga berhalusinasi.


“Gue bilang, lo mau nggak jadi pacar


gue.” Kata Raka lantang dan jelas.


“Kenapa gue?” Pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul di otak Fara.


Raka  dengan penuh keyakinan.


“Raka..Raka.. lo ya bercanda mulu, udah


deh gue nggak baper lo gombalin. Lagian nih gue hapal banget trik lo buat


ngerjain gue.” Fara tertawa di buat-buat, dia menarik tangannya agar tidak terus


dalam genggaman Fara. Dia mencoba untuk bisa saja agar tidak terlalu baper.


“Ck! Siapa yang ngerjain lo sih. Gue ini


tulus banget menyatakan cinta sama lo. Gue mau jadi pacar lo.” Raka menyatakan


dengan lebih jelas lagi.


“Lo nggak sedang bercanda?” Fara kembali meyakinkan ucapan Raka.


“Lihat muka gue, apa terlihat sedang


bercanda.” Raka menunjuk wajahnya.


“Gue nggak bisa membedakan mana wajah


serius sama wajah bercanda lo Raka, lo sudah terlalu sering mengerjai gue.”


Kata Fara.


“Fara, gue beneran. Ini bukan lelucon


atau prank gue benar-benar suka sama lo.” Raka kembali menggenggam tangan Fara


lalu menaruh di dadanya.


“Detak jantungnya...” batinnya saat


merasakan detak jantung Raka yang sama dengan dirinya.


“Gue tidak bisa menjawab sekarang.” Fara


menarik tanganya cepat.


“Baiklah, gue beri waktu sampai pukul


dua belas nanti. Kalau gue masih jomblo di jam itu gue akan pindah sekolah.” Ancam


Raka.


“Kok gitu.” Fara berubah panik karena ancaman Raka.


“Gue nggak akan bisa melihat lo yang


nantinya menjadi milik orang. Gue anteri pulang.” Raka beranjak pergi ke kursi


mengemudi.


Fara terus melihat ke jam di ponselnya,


sejak kemarin dia berangan-angan bisa berpacaran dengan Raka. Namun saat


keinginanya itu jadi nyata dia berubah jadi galau.


“Ini terlalu  mendadak, kenapa harus jam dua belas batas


waktunya. Dia kan bukan cinderella.”  Kata Fara.


“Aduh gue bingung, apa gue telpon Gita


sama Anita untuk minta pendapat?” Katanya sambil mencari kontak Gita untuk


menelponnya.


“Jangan terlalu terburu-buru, ini


perasaan gue jadi gue harus memikirkan sendiri dulu.” Fara mengurungkan niatnya


meminta pendapat kepada Gita dan Anita. Dia menjatuhkan tubuhnya lalu


menutupnya dengan selimut sampai ke mukanya.


Tak lama dia membukanya lagi, “Gue


tinggal tidur saja, apa benar dia akan meninggalkan sekolah kalau gue tidak


menjawabnya. Dia kan sayang banget sama Gita dia tidak akan mungkin pergi dari


sekolah.”Fara berusaha cuek dengan ancaman Raka. Dia memejamkan mata dan ingin


mengabaikannya dengan tidur.


Baru juga berjalan tiga menit dia sudah


membuka matanya kembali, dia turun dari kasurnya. Dia jalan mondar-mandir kayak


setrikaan.


“Bagaimana kalau dia benar-benar pergi,


gue bakalan kehilangan dia dong. Dia kan manusia yang suka nekad.” Kata Fara.


“Ya Tuhan, bantu Fara untuk memutuskan


masalah ini.” Doa Fara.


“Baiklah gue akantidur dulu biar bisa


tenang.” Fara memasang alarm pukul setengah dua belas malam.