
Raka mengantar Fara pulang, dia
memikirkan omongan Bayu waktu itu. Kalau dia hanya menandai kekuasaan tanpa
bertindak itu sama saja bohong. Dia bisa kehilangan Fara kapan saja.Raka
menepikan mobilnya saat melihat banyak jajanan di pinggir jalan.
“Ngapain berhenti Ka?” Tanya Fara sambil
melihat sekitar.
“Berhenti sebentar, gue tiba-tiba mau
makan jagung.” Raka turun dari mobil. Fara hanya menghela napas panjang,
jikapun dia menolak, merengek mau langsung pulang Raka juga tidak mau ngasih.
“Lo ngidam? Mendadak sekali mau makan
jagung seperti ibu hamil.” Kata Fara sambil turun dari mobil.
“Gimana mau hamil kita aja belum
produksi.” Raka terkekeh sedangkan Fara langsung mendelik melihat Raka sambil
melihat kanan kiri takut ada yang dengar.
“Bang dua.” Pesan Raka.
“Siap.”
Raka memberikan jagung yang bakar kepada
Fara, dia membuka pintu lalu menyuruh Fara duduk. Mereka berdua menikmati jagung bakar tanpa saling bicara, hanya sesekali Fara yang curi pandang.
“Raka, sebenarnya lo ngapain sih makan
jagung lagi. Lo belum kenyang makan sebanyak tadi.” Protes Fara meskipun dia
menikmati jagung bakarnya.
“Sudah, cuman tadi kurang romantis
makannya.” Ujar Raka.
“Ya kalau mau romantis aja saja pacar
lo, jangan pergi berbanyak.” Omel Fara.
“Lo nggak lihat ini sedang gue
lakuin.” Raka menoleh ke arah Fara. Fara
mempelankan kunyahannya, dia menoleh ke arah Raka hingga mereka berdua saling
berpandangan. Fara menelan pelan-pelan takut mendadak Raka mengatakan sesuatu
yang menganggetkan hingga dia tersedak.
“Ha.. maksud lo saat ini lo lakuin sama pacar lo?” Fara nggak mengerti, dia sebenarnya ingin mengabaikan tapi ucapan Raka terdengar mengganjal di telingannya.
“Iya, lo pikir kita makan jagung saat
jaman purba.” Jawab Raka sambil menggigit jagung miliknya.
“Tunggu Fara, lo jangan ge-er dulu.
Cerna dulu pelan-pelan ucapan Raka. Dia suka banget ngeprank lo.” Kata Fara
dalam hati. Jantungnya mulai tidak beraturan, dia tiba-tiba merasa panas
dingin.
Raka melempar jagung yang tinggal
sedikit ke tong sampah, dia kemudia bediri tepat di hadapan Fara. Dengan tatapan lekat, dan penuh keyakinan dia ingin hari ini menjadi istimewa.
“Lo ke..kenapa berdiri sambil melihat
gue seperti itu?” Fara mendadak takut.
Raka berlutut di hadapan Fara sambil
memegang tangan Fara, “Far, mau nggak lo jadi pacar gue?”
Raka akhirnya mengutarakan perasaanya
setelah berpikir beberapa bulan terakhir. Awalnya dia takut kalau perasaanya itu hanya pelampiasan karena dirinya putus dari Prisil dan akan menyakiti perasaan Fara.
Namun setelah sering jalan, ternyata dia
benar-benar nyaman dengan Fara. Dia ingin memiliki gadis itu. Dia memang bukan
gadis yang lembut seperti Prisil tapi dia sangat lucu saat dia menggodanya.
“Waduh apa nih.. kok dadakan. Eh gue
harus jawab apa? Tunggu dulu ini mimpi gue atau gue yang halu.” Celoteh Fara dalam hati.
“Hey..” Raka menepuk pelan pipi Fara untuk menyadarkan Fara dari lamunanya.
“Hah.. lo tadi ngomong apa?” tanya Fara
untuk meyakinkan kalau dirinya sedang tidak mimpi dan juga berhalusinasi.
“Gue bilang, lo mau nggak jadi pacar
gue.” Kata Raka lantang dan jelas.
“Kenapa gue?” Pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul di otak Fara.
Raka dengan penuh keyakinan.
“Raka..Raka.. lo ya bercanda mulu, udah
deh gue nggak baper lo gombalin. Lagian nih gue hapal banget trik lo buat
ngerjain gue.” Fara tertawa di buat-buat, dia menarik tangannya agar tidak terus
dalam genggaman Fara. Dia mencoba untuk bisa saja agar tidak terlalu baper.
“Ck! Siapa yang ngerjain lo sih. Gue ini
tulus banget menyatakan cinta sama lo. Gue mau jadi pacar lo.” Raka menyatakan
dengan lebih jelas lagi.
“Lo nggak sedang bercanda?” Fara kembali meyakinkan ucapan Raka.
“Lihat muka gue, apa terlihat sedang
bercanda.” Raka menunjuk wajahnya.
“Gue nggak bisa membedakan mana wajah
serius sama wajah bercanda lo Raka, lo sudah terlalu sering mengerjai gue.”
Kata Fara.
“Fara, gue beneran. Ini bukan lelucon
atau prank gue benar-benar suka sama lo.” Raka kembali menggenggam tangan Fara
lalu menaruh di dadanya.
“Detak jantungnya...” batinnya saat
merasakan detak jantung Raka yang sama dengan dirinya.
“Gue tidak bisa menjawab sekarang.” Fara
menarik tanganya cepat.
“Baiklah, gue beri waktu sampai pukul
dua belas nanti. Kalau gue masih jomblo di jam itu gue akan pindah sekolah.” Ancam
Raka.
“Kok gitu.” Fara berubah panik karena ancaman Raka.
“Gue nggak akan bisa melihat lo yang
nantinya menjadi milik orang. Gue anteri pulang.” Raka beranjak pergi ke kursi
mengemudi.
Fara terus melihat ke jam di ponselnya,
sejak kemarin dia berangan-angan bisa berpacaran dengan Raka. Namun saat
keinginanya itu jadi nyata dia berubah jadi galau.
“Ini terlalu mendadak, kenapa harus jam dua belas batas
waktunya. Dia kan bukan cinderella.” Kata Fara.
“Aduh gue bingung, apa gue telpon Gita
sama Anita untuk minta pendapat?” Katanya sambil mencari kontak Gita untuk
menelponnya.
“Jangan terlalu terburu-buru, ini
perasaan gue jadi gue harus memikirkan sendiri dulu.” Fara mengurungkan niatnya
meminta pendapat kepada Gita dan Anita. Dia menjatuhkan tubuhnya lalu
menutupnya dengan selimut sampai ke mukanya.
Tak lama dia membukanya lagi, “Gue
tinggal tidur saja, apa benar dia akan meninggalkan sekolah kalau gue tidak
menjawabnya. Dia kan sayang banget sama Gita dia tidak akan mungkin pergi dari
sekolah.”Fara berusaha cuek dengan ancaman Raka. Dia memejamkan mata dan ingin
mengabaikannya dengan tidur.
Baru juga berjalan tiga menit dia sudah
membuka matanya kembali, dia turun dari kasurnya. Dia jalan mondar-mandir kayak
setrikaan.
“Bagaimana kalau dia benar-benar pergi,
gue bakalan kehilangan dia dong. Dia kan manusia yang suka nekad.” Kata Fara.
“Ya Tuhan, bantu Fara untuk memutuskan
masalah ini.” Doa Fara.
“Baiklah gue akantidur dulu biar bisa
tenang.” Fara memasang alarm pukul setengah dua belas malam.