
Gita mengetuk pintu ruangan Pak Rudi, kemudian dia masuk setelah Pak Rudi mempersilahkan.
"Kamu lagi, kenapa sih bikin rusuh terus. Kemarin nggak disiplin sekarang berantem. Mau jadi apa kamu?" tanya Pak Rudi.
"Maaf Pak." jawab Gita sambil menunduk.
"Memangnya apa alasan kamu berantem?"
"Dia menginjak makanan saya Pak, dia juga menghina saya." Jawab Gita jujur.
"Harusnya kamu itu sabar, jangan terlalu emosi kalau begini yang rugi siapa coba, kamu kan." Kata Pak Rudi.
"Iya Pak."
"Sebagai hukumannya kamu menulis kata saya tidak akan mengulangi lagi tiga ratus kata. Di kumpulkan nanti setelah pulang sekolah. Dan bersihkan gudang setelah mengumpulkan yang kamu tulis." Kata Pak Rudi.
"Pak, banyak banget nggak bisa di kurangin sedikit ya. Nanti saya kan harus ulangan juga." Gita mencoba menawar.
"Baikalah, tiga ratus lima puluh kata."
"Kalau begitu cukup yang tadi saja Pak, nggak jadi nawar." Gita meringis.
"Permisi." Mita dan Gilang datang bersamaan.
"Ya masuk."Kata Pak Rudi, Gita hanya melirik lalu bergeser.
"Apa hukuman buat saya Pak?" kata Mita langsung meminta hukuman. Dia pura-pura menyadari kesalahannya agar di anggap baik oleh Gilang.
"Gilang, Gita kalian boleh keluar. Oiya Gilang kamu awasi Gita menjalankan hukumanya." Kata Pak Rudi.
"Baik Pak. Kalau begitu kita permisi dulu." Gilang dan Gita berjalan keluar ruangan Pak Rudi.
"Ok, kamu yang memulai keributan ini kan?" kata Pak Rudi.
"Maaf, saya Pak?" Mita tidak menyangka kalau Pak Rudi akan mengatakan semua itu. Gilang berhenti di ambang pintu untuk mendengarkan obrolan Pak Rudi dan Mita.
"Kamu itu tergolong anak pintar, tapi kenapa kamu bersikap seperti itu. Perbuatan kamu itu bisa mengurangi nilai kamu. Apalagi kamu masih anak baru, kapan aja sekolah ini bisa mengeluarkan kamu jika penilaian jelek kamu masih berkelanjutan." Pak Rudi menasehati Mita.
"Tapi saya tidak melakukan apa-apa? Gita yang menyerang saya dulu." Bantah Mita.
"Saya tahu. Bapak hanya mengingatkan, hukuman kamu menulis permintamaafan sama membersihkan toilet selama satu minggu."
"Tapi Pak.."
"Keputusan saya sudah tidak bisa di ganggu gugat. Silahkan kamu keluar."
"Sudah ku duga, pasti dia biang keladinya." Gumam Gilang lalu keluar.
...♡♤♤♤♡...
Gita kembali dengan muka yang kesal, dia duduk lalu menaruh kepalanya di meja.
"Kenapa lo pagi-pagi berantem?" tanya Raka.
"Dia dulu yang mulai." jawab Gita.
"Harusnya jangan lo jambak doang, sekalian botakin tuh kepala." kata Raka sambil tertawa.
"Heh.. malah di komporin lagi." Anita menabok punggung Raka.
"Ih.. nggak apa-apa, biar gur bantuin. Gedek juga makin lama anak baru makin bertingkah. Lama-lama gue tendang juga dari kelas kita." Fara ikut emosi.
"Udah, jangan di bahas terus. Apa hukumannya?" tanya Anita.
"Menulis permintamaafan tiga ratus kali." Rengek Gita.
"Tenang, nanti gue bantuin tulisnya, nggak usah sedih gitu." kata Raka.
"Emang boleh?" Gita mengangkat kepalanya.
"Boleh, kan Pak Rudi nggak bilang kalau harus di kerjakan sendiri."
"Nggak."
"Berarti boleh, mana kertasnya?" kata Raka. Gita memberika beberapa lembar kertas volio."
"Vian, sini lo." Panggil Raka.
"Apa?"
"Nih, lo tulis kayak begini lima puluh kali." suruh Raka.
"Buat apaan nih?" Vian mengerutkan kening saja.
"Udah nggak usah banyak mikir, buruan tulis nanti gue traktir makan. Nita, sama lo juga sayang. Eh.. sayang,Fara maksudnya." Raka terkekeh.
"Apaan sih, dasar Raka Gila." Fara mengambil kertas dari tangan Raka dan mulai menulis.
...♡♤♤♤♡...
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, hukuman Gita menulis permintamaafan sudah selesai tinggal dia membersihkan gudang saja.
"Seperti janji gue tadi, gue akan traktir kalian makan." Kata Raka.
"Yuhuuu, asyik. Boleh makan apa saja kan?" kata Vian.
"Sepuas lo, sampai perut lo meledak juga nggak masalah." kata Raka.
"Kalian pergi aja dulu, mungkin gue gak bisa gabung." Kata Gita sambil memnereskan bukunya.
"Kenapa?" tanya Anita.
"Nggak seru ih nggak ada lo." kata Fara.
"Iya. Gue harus bersihin gudang dulu jadi ya gimana lagi." jawab Gita.
"Kita bantuin aja gimana?" kata Vian.
"Nggak usah kalian pasti capek, udah pada makan aja dulu. Gue juga masih kenyang." kata Gita sambil pergi.
"Beneran nih nggak ikut?!" teriak Raka.
"Nggak."
Gita membuka pintu gudang lebar-lebar, dia kemudian menghela napas panjang.
"Hah.. gudang kok di bersihkan, terus gimana caranya coba." Gita mengeluh melihat gudang yang sangat berantakan.
Gita mencari tempat yang agak bersih untuk menaruh tasnya.
"Harusnya yang bersihin gudang tuh si Mita, orang dia yang salah juga. Kak Gilang juga bukannya belain Gita malah belain cewek gatel songong itu." Omelnya sambil memulai bebersih.
"Ehem.. ngomel aja kapan bersihnya." Gilang masuk lalu menaruh tasnya di atas tas Gita.
"Ngapain Kak Gilang kesini, Gita nggak butuh bantuan Kak Gilang." Kata Gita merengut.
"Siapa juga yang mau bantuin, orang gue disini cuman mau ngawasin lo. Takut kabur nggak jadi bersihin gudang." Kata Gilang.
Gita berdesis, "Dasar cowok nggak pengertian, tega banget lihat pacarnya kesusahan." keluhnya pelan. Gilang tersenyum melihat Gita yang ngedumel sambil manyun-manyun bibirnya.
Cit..Cit..cit..
"Weiits... bahaya menyerang ini. Kayak dengar suara tikus curut nih gue." Gita waspada.
"Waaaaa....!!" Gita langsung loncat di gendongan Gilang saat melihat kepala tikus nongol dari bawah kursi yang sudah rusak.
"Kak, ada tikus." Kata Gita sambil mengalungkan tanganya di leher Gilang.
"Ya terus kenapa kalau ada tikus." Kata Gilang dengan sengaja.
"Ih.. ya di usir. Gita geli tahu."
"Katanya nggak butuh bantuan gue?"
"Jadi nggak mau bantuin." Gita ngegas.
"Bukan nggak mau bantuin, tapi kan lo yang bilang sendiri nggak mau di bantuin." kata Gilang.
"Ya udah kalau emang nggak mau bantuin, pergi aja sana." kata Gita semakin sewot. Gilang menurunkan Gita perlahan.
"Eh...eh.. Kak Gilang jangan itu tikusnya." Gita merengek dia tidak jadi turun dari gendongan Gilang.
"Baik, nggak akan gue turunin tapi dengan satu syarat." kata Gilang.
"Apa?"Gita mencerna arti dari senyuman Gilang.
"Cium dulu." Gilang memberikan pipi kanannya.
"Nggak mau."
"Ya udah kalau nggak mau, gue turunin nih."
"Aaa... jangan." Rengek Gita. Dengan cepat kilat Gita mencium pipi kanan Gilang.
"Ah.. belum terasa. Nggak iklas ciumnya gue turunin aja lah." Ancam Gilang.
"Iya...iya... Gita ulang." Gita mencium pipi kiri Gilang dengan lembut. Gilang tersenyum lalu membalas ciuman Gita.
"Baiklah pacar gue yang cantik, dan gemesin. Sekarang duduk saja di luar, biar gue yang membersihkan." Gilang menggendong Gita keluar ke gudang.