Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Dia Benar Devan


“Eh..ada apaan tuh?” tanya Gita sambil membuka helm. Dia merapikan rambutnya lalu


lari melihat kerumunan. Raka mengusap rambutnya ke belakang lalu menyusul Gita.


“Permisi orang ganteng mau lewat.” Raka membantu Gita menghalau orang-orang yang sudah


ada di depannya.


“Iih... apaan sih lo Ka!” kata salah satu siswi yang kesl karena Raka main lewat-lewat.


“Mau lewat, lo menghalangi jalan gue.” Katanya watados.


“Ngeselin banget sih lo Ka!”


“Bodo!” Raka menyulurkan lidahnya lalu menarik tangan Gita saat sudah ada celah jalan.


“Devan!” teriak Gita sambil tersenyum lebar. “Ka lihat, dia memang Devan kemarin berarti gue nggak salah lihat.” Kata Gita girang banget.


“Lo cewek yang kemarin kan?” Kata Devan menatap Gita.


“Lo masih nggak mengenali gue gitu?” Gita merengut. Devan menggeleng pelan sambil tersenyum.


“Dasar!” Gita kesal pergi sambil menendang kaki Devan.


“Aaa!” Devan mengangkat kakinya yang di tendang Gita. “Dasar cewek gila!” Devan


meringis.


“Lo yang gila.” Raka menyentil kening Devan.


“Lo!” Devan sudah mengangkat tangannya ingin membalas Raka namun dia menurunkan


tangannya lagi.


“Mau bilang nggak kenal gue, jangan salahin gue nanti kepala di bogor kaki di papua.” Raka mendelik kearah Devan. Devan tersenyum lalu merangkul Gilang.


“Dah lama nggak ketemu nggak berubah juga lo.” Kata Devan.


“Lojuga sama."


"tadi itu Gita sepupu lo?”


“Siapa lagi, dia udah nungguin lo bertahun-tahun malah lo nggak kenal pastilah ngambek.” Jelas  Raka.


“Yah, dia sangat berubah sampai gue nggak kenalin dia.”


...◇◇◇◇◇...


“Dasar Devan ngeselin!” teriak Gita keras-keras di belakang sekolah. Dia mengusap air matanya yang mulai menetes. Dia rasa yang di katakan Raka benar, waktu itu hanya omongan bocah yang masih SMP tidak ada artinya apa-apa.


“Aaaaaaaaa!” teriak Gita keras-keras untuk menghilangkan kekesalan hatinya.


“Brisiiik banget sih bisa diam nggak!” Gita menoleh saat ada yang merasa terganggu dengan teriakannya.


“Kak Gilang... ngapain disini?” Gita menggaruk rambutnya malu karena ketahuan Gilang sedang kacau.


“Memangnya kenapa kalau gue disini, ini kan tempat umum.” Katanya datar sambil berdiri


dari kursi yang di dudukinnya.


“Ya udah ngomongnya nggak usah sewot gitu.” Gita Berjalan menabrak Gilang yang


sudah duluan jalan.


“Jalanya tuh biasa aja ada orang segede gini di tabrak, mata lo buta ?!”


“Lo kali yang buta, nggak jelas.” Gita pergi meninggalkan Gilang dengan ngedumel.


Dia nggak menyangka Gilang sekarang berubah seratus delapan puluh derajat.


Gita duduk di kursinya manyun, Fara dan Anita saling berpandangan sebelum menanyakan keadaan sahabatnya itu.


“Kenapa lo pagi-pagi udah manyun, muka di tekuk-tekuk gitu?” tanya Anita.


“Gue kesal banget, tahu nggak yang kemarin itu emang Devan teman gue dulu. Dan memang dia benar-benar nggak kenal gue. Di tambah lagi Gilang ngeselin dia


tiba-tiba aja ngegas mana gue nggak tahu salah apa.” Gita manyun.


“Berat banget ya hidup lo, baru juga anak SMA gimana udah nikah.” Kata Fara.


“Huh! Beda cerita tahu!” Gita menonyol kepala Fara.


Bel tanda masuk sudah berbunyi, semua siswa langsung berlari masuk ke kelas. Gita


langsung menaruh kepalanya di meja. Raka duduk sambil mengelus rambut Gita.


“Bangun, jangan galau-galuan  mulu.” Kata Raka.


“Raka...”rengek Gita.


“Iya, gue tahu. Nggak usah cemberut gue males lihat wajah lo yang jelek ini.” Kata Raka.


“Tapi..”


“Ntar gue beliin es cream.” Kata Raka.


“Selamat pagi anak-anak.”


“Pagi Buk.” Jawab murid satu kelas.


“Sebelum kita mulai kelas hari ini, ibu akan  memperkenalkan teman baru di kelas ini.” Kata Bu Indah.


“Teman baru, jangan-jangan.” Gita menatap Raka. Raka tersenyum lalu mengangguk sambil tersenyum.


“Masuk.” Pinta Bu Indah.


Indah mempersilahkan Devan duduk di seberang Gita, membuat jantung Gita


jedak-jeduk.


Bel tanda istirahat berbunyi, semua berhamburan ke luar untuk ke kantin. Devan  yang masih anak baru belum punya teman langsung mendekati Gita, Raka, Arvian, Fara dan Anita di kantin.


“Gita.. maafin gue ya lo sih tambah gemesin jadi lupa.” Devan membujuk Gita dengan


merayu.


“Bisa aja lo, bilang aja gue tambah gendut, jelek jadi lo nggak ngenalin gue.” Kata


Gita pura-pura sewot padahal hatinya berbunga-bunga.


“Kata siapa, lo selalu cantik kok di hati gue.” Devan mengusap rambut Gita. Gita


menggigit bibir bawahnya, rasanya ingin teriak, lompat-lompat, dan rasanya saat


ini dia sedang melayang.


“Bisa juga ini anak baru bikin hati cewek klepek-klepek, Gita yang kayak singa betina


habis beranak aja bisa luluh begini.” Celetuk Arvian.


“Maksud lo singa betina?” Gita mendelik ke arah Arvian sambil manyum membuat pipinya


mengembang.


“Vian, nggak usah mulai deh. Dia lagi bahagia jangan diganggu.” Fara mendelik ke arah Arvian juga.


Gita menatap Devan dengan tatapan sendu, akhirnya orang yang dia tunggu kembali. Dia


ternyata masih sama orang yang manis dan selalu memujunya. Dia yang tak pernah


memandang fisiknya.


“Dia orang yang sangat tulus dari sekian ribu orang, tidak seperti Gilang sinting yang punya banyak dua kepribadian.” Batinnya.


Gilang memainkan bolpennya, dia memutar-mutar dengan tangannya. Dia nggak fokus dengan apa yang dibahas saat rapat.  Dia sedangbmemikirkan teriakan Gita pagi tadi, dia menyebutkan nama Devan. Dia ingin tahu seperti apa orang itu, apa lebih baik dari dia.


“Gilang.” Panggil Qila.


“Lang..”Bayu menyenggol Gilang dengan sikunya. Gilang masih saja dengan pikirannya sendiri di senggol dan di panggil Bayu saja tidak mendengar.


“Gilang!” Panggil Qila lagi dengan suara yang lumayan keras.


“Ya.” Jawab Gilang kaget sampai bolpen yang di tangannya jatuh.


“Lo dari tadi gue lihat nggak fokus sama pembahasan kita, justru bengong  ada apa? Apa lo tidak sependapat dengan kita?”


tanya Qila.


“Gue setuju kok.”


“Terus kenapa lo diem saja.”


“Gue boleh izin keluar nggak, gue sedikit pusing.” Kata Gilang.


“Ok, nanti biar gue jelaskan semua pembahasan ini lewat telepon.” Kata Qila.


“Terima kasih.” Gilang mengambil tasnya lalu pergi meninggalkan ruangan osis.


Perhatian Gilang teralihkan saat berjalan melewti kelas Gita, dia berhenti di depan


kelasnya melihat Gita yang sedang bersendaugurau dengan teman-temannya.


“Dia bukan Raka kan, siapa orang yang mengusap rambut Gita.” Gumam Gilang pelan. Dia berjalan maju mendekat ke pintu, dia mengintip dan ingin tahu siapa cowok yang membuat Gita tersenyum manis.


“Kak Gilang, ngapain di sini?’ Tanya salah satu siswa yang hendak masuk ke kelas.


“Em.. gue cari Raka.” Jawabnya dengan gelagapan.


“Biar gue panggilkan Kak.”


“Ya, makasih.” Gilang tersenyum kecut. Dia mengacak-acak rambut belakangnya.


“kenapa jadi ketemu Raka sih?” Batin Gilang sambil mengacak rambutnya lagi.


“Ada Apa Lang? Tumben cariin gue.” Jangan lupa besok kita bertanding berangkat pukul


enam pagi. Jangan sampai telat.” Gilang akhirnya memberi tahu jadwal berangkat


lomba besok karena bingung beralasan.


“Ok. Udah itu aja?” tanya Raka.


“Iya,” jawab Gilang namun matanya terus memantau Gita di dalam. Raka menoleh lalu


tersenyum dia tahu kalau Gilang sedang jealous dengan Devan.


“Apa ada yang ingin lo tahu?” tanya Raka.


“Ah, nggak. Gue cabut dulu.” Dia langsung pergi, dia akan malu banget kalau ketahuna


kalau sebenarnya dia sedang kepo dengan orang yang masih saja mengusap rambut


Gita.


“Dasar,nkayaknya bakalan seru nih kisah cinta Gita.” Raka tersenyum sambil geleng


kepala.