
Gita, Vian, dan Fara jalan-jalan sebentar sebelum pulang. Masih ada satu jam lagi di tempat itu.
Vian menghalangi Gita dan Fara saat mau meneruskan perjalanan. Mereka melihat Bella yang sedang di marahi sama Catrin.
"Ada apa sih Vian?" tanya Fara. Vian menaruh tangan di bibirnya lalu mengajak kedua sahabatnya sembunyi.
"Bella, kenapa lo nggak becus banget kerjannya." Maki Catrin.
"Gue salah apa lagi? semuanya sudah gue lakuin buat lo." Jawab Bella.
"Eh.. jangan ngelawan lo, mau gue kasih tahu ke semua orang kalau yang tumpahin kopi ke laptop Gita itu lo?" Ancam Catrin.
Gita, Fara dan Vian shock mendengar ucapan Catrin.
"Bilang saja, toh yang suruh itu juga lo kan." Bella nggak takut dengan ancaman Catrin.
"Tapi jelas-jelas di sini hanya lo yang menumpahkan, dan nggak akan ada bukti kalau gue yang suruh. Bella, lo jangan ngelunjak atau lo mau gue bikin out dari team gue atau perusahaan ini." Catrin menunjukan video rekamannya saat Bella menuangkan kopi di laptop Gita.
Bella menunduk, dia tidak bisa melawan Catrin, ada keluarga yang harus mereka hidupi.
"Makanya lo jangan main-main sama gue!" Catrin mendorong Bella. Vian yang sembunyi langsung keluar dan menangkap Bella.
"Eh lo.. jangan kasar bisa nggak sih, perempuan kok mainnya kayak gitu." Vian mengomeli Catrin.
"Lo nggak usah ikut campur, ini urusan gue sama dia." Catrin menunjuk Bella.
"Urusan dia urusan kita juga." Ujar Fara. Gita dan Fara keluar dari persembunyiannya serta memberikan pembelaan untuk Bella.
"Ha... kumpulan orang-orang bodoh jadi satu. Senang kan lo sekarang ada yang membela." Catrin mendorong Bella lagi.
"Santai.. lagian nih ya lebih baik kita ini bodo daripada pinter tapi licik." Kata Gita.
Catrin pergi saat merasa kalah dengan mereka, dia jalan di tengah menabrak Fara dan Gita.
"Santai dong!" Fara ngegas.
"Eh.. udah jangan di ladenin." Gita menarik Fara yang ingin mengajar Catrin.
Bella menunduk, dia takut bertemu dengan Gita karena dia pernah melakukan kesalahan padanya.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Vian.
Bella menggelengkan kepalanya, "Kalian pasti dengar semua pembicaraan gue sama Catrin ya?" tanya Bella.
"Ya." Jawab mereka bertiga serentak.
"Apa kalian mau mengadu kan gue ke Pak Gilang?" ucap Bella dengan sangat ketakutan.
"Harusnya sih gitu." Kata Vian.
"Gue pasrah kalau kalian mau mengadu, toh gue juga nggak bisa mengelak karena jelas-jelas bukti itu gue yang melakukannya." Bella menahan air mata yang hendak keluar.
"Gue nggak akan mengadu kalau lo mau jawab pertanyaan gue dengan jujur." Kata Gita.
"Apa?"
"Apa tujuan Catrin menyiram laptop gue dengan kopi?"
"Karena dia iri sama team kalian, dia merasa harusnya dia yang mendaparkannya karena menurutnya dia lah lulusan terbaik di kampusnya." Jelas Bella.
"Terus kenapa lo mau melakukan itu?"
"Karena gue takut akan di lempar ikut team kalian. Tapi ternyata gue salah menerima pekerjaan yang di berikan Catrin. Gue pikir team Mbak Ratna akan memberikan kebahagiaan namun gue salah, melihat keceriaan team kalian membuat gue iri dan ingin bergabung dengan kalian." Jelas Bella.
"Memangnya team Mas Win itu sejelek itu kah dimata kalian semua?" Fara kembali protes dia tidak terima dikatakan seperti itu. Bella mengangguk, dia mengatakan fakta yang terjadi di kantor.
"Maaf telah melihat kalian sebelah mata, padahal kalian lebih baik dari mereka. Jika boleh meminta gue ingin masuk team kalian. Gita sekali lagi gue minta maaf karena gue lo jadi di marahin bos." Kata Bella.
"Gue udah maafin lo kok, lupakan kejadian itu gue juga sudah melupakan." Gita memegang pundak Bella.
...◇◇◇◇◇...
"Sayang.." Panggil Gita sambil mendorong pintu kamar Gita yang tidak terkunci.
"Sayang..." panggil Gita sedikit keras.
"Ya." Jawab Gilang sambil keluar kamar mandi.
"Kamu sudah beberes?" tanya Gita.
"Sudah, Lila sudah bawa semua barang ke mobil ada apa? mau pulang bareng?" tanya Gilang.
Gita menggelengkan kepala, "Nanti saja dari kantor. Gita mau membicarakan sesuatu."
Gita mengajak Gilang duduk di sofa agar ngobrolnya lebih enak.
"Sesuatu apa?" Gilang mengerutkan keningnya saat melihat Gita yang menatap dengan serius.
"Gita sudah tahu yang menyiram laptop Gita pakai kopi." kata Gita.
"Terus? kamu mau aku pecat dia?" tanya Gilang.
"Nggak, aku cuma mau yang namanya Bella pindah ke team aku. Memurutku skillnya tidak akan berkembang kalau dia satu grub dengan team Mbak Ratna." Kata Gita.
"Baiklah, besok kita rapat. Ada lagi?"
"Nggak ada." Gita menggelengkan kepala.
"Kalau begitu sekarang gantian aku yang akan mengatakan sesuatu sama kamu." Kata Gilang. Gilang duduk mendekati Gita sambil merangkulnya.
"Memangnya mau ngomong apaan kok seperti ini?" tanya Gita.
"Kamu dengar baik-baik ya ucapan aku." Kata Gilang.
"Iya.. iya, mau ngomong apaan sih jadi pemasaran nih aku."
"I love you." Gilang membisiki telinga Gita.
"Ih.. nakal deh. Gita pikir mau ngasih tahu apaan." Kata Gita.
"Ini hal yang sangat penting kalau aku ini sangat mencintaimu. Kalau perlu semua orang tahu seluruh dunia tahu kalau kamu itu calon istriku." kata Gilang.
"Iya calon suamiku, aku juga sayang sama kamu. I love you." Gita memberikan ciuman di pipi Gilang lalu beranjak pergi meninggalkan kamar.
Gilang tersenyum, mendapatkan vitamin yang akan mrmbuatnya semangat menkalani hari.