Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Monika Bikin Ulah


"Raka.. Raka.." Seru Gita. Karena tidak ada jawaban Gita langsung naik ke atas. Dia mengetok pintu berkali-kali tapi nggak ada sahutan.


"Masih tidur jangan-jangan." Gita mendorong pintu kamar.


"Ka.." Gita masuk perlahan dan berdiri di samping tempat tidurnya. Tempat tidur sudah rapi, selimut terlipat rapi.


"Kemana nih bocah, kesambet apaan ini kamar udah rapi begini." Gita keliling kamar Raka lalu mengetuk pintu kamar mandi.


"Ih.. nggak ada juga. Apa dia udah turun jangan-jangan." Gita bergegas turun.


Gita tak melihat siapa-siapa di ruang tengah.


"Cari apaan Ta?" tanya Genta ikut mencari sesuatu yang dia nggak tahu.


"Raka kemana Kak?"


"Udah berangkat, tadi sama Kak Qila."


"Ih.. Raka mah tega banget. Gue di tinggalin." Gita manyun.


"Ya udah buruan berangkat nanti terlambat."


"Anterin." rengek Gita.


"Kakak lagi buru-buru juga, nggak bisa nganterin." Genta nggak bisa nganterin karena beda arah.


Gita manyun, dia langsung lari keluar karena jam sudah hampir telat.


Buughhh...


Gita menabrak punggung seseorang. "Eh... Kak Gilang." Gita kaget,lalu nyengir sambil merapikan rambutnya.


"Udah siap?"


"Siap apa?" Gita bingung.


"Ke KUA." jawab Gilang sambil tersenyum nakal.


"Eh.." Gita mendelik.


"Ke sekolah dulu, nanti kalau lo udah siap baru ke KUA." Kata Gilang sambil menggandeng tangan Gita.


Gita mendelik lagi, jantungnya mulai tidak amat ketika bersentuhan dengan Gilang. Gilang membukakan pintu untuk Gita, tangan satunya menjaga diatas kepala Gita takut kepala Gita membentur.


...◇◇◇◇◇...


"Kak.." Gita berhenti.


"Hhm."


"Kak Gilang nggak usah anterin Gita ke kelas, sampai sini aja." Kata Gita.


"Kenapa?"


"Ya nggak apa-apa, pokoknya nggak usah. Gita duluan ya." Gita langsung lari meninggalkan Gilang.


Gita memperlambat jalannya, ketika mendengar obrolan teman sekelasnya.


"Nggak tahu malu banget ya, dulu aja Gilang di tolak. Sekarang deket-deket, nggak benar banget."


"Iya, sok cantik banget. Wajah pas-pasan sok-sokan playgirl. Jijik banget tahu nggak."


Gita terdiam lalu berjalan cepat masuk ke kelas. Saat masuk pun dia menjadi pusat perhatian teman-temannya. Mereka berbisik menggunjingkan Gita.


"Gita, kenapa?" tanya Anita.


"Gue salah apa ya? mereka kenapa menggunjingku."


"Udah biarin aja, nggak usah di pikirin." Anita menenangkan Gita.


"Eh Devan, nanti malam kita keluar yuk." ajak teman sekelas. "Tenang, gue bakalan dandan cantik dan nggak malu-maluin." katanya sambil melirik ke arah Gita. Devan pun ikut melihat ke arah Gita.


"Dasar Nisa genit, sok cantik." Omel Fara.


"Rasanya pingin gue cakar-cakar itu wajah centilnya."


"Ya gue tahu, nggak dandan aja lo udah cantik gimana dandan." Devan memberikan pujian dan senyuman manis untuk Nisa.


...◇◇◇◇◇...


Bel istirahat berbunyi, Gita pamit ke toilet dulu baru menyusul Fara dan Anita ke kantin. Gita berjalan sambil merenungkan tentang penampilannya.


Gita mendorong pintu kamar mandi pelan, dia melihat Monika dan kawan-kawan lalu berbalik badan. Dia nggak mau ribut dengan mereka jadi memutuskan tidak jadi buang air kecil.


"Eh.. cewek munafik ngapain lo nggak jadi masuk takut lo sama Monika." Kata Aurel teman Monika. Gita belum merespon, dia terus berjalan.


"Eh! kalau diajak bicara tuh jawab." Vida monika menarik rambut Gita.


"Apaan sih Kak!" Gita melepaskan tangan teman Monika dari rambutnya. "Jangan pancing Gita ya, Gita nggak mau ribut." Gita malas untuk ribut.


"Belagu banget lo!" Vida kembali menarik rambut Gita lagi.


"Lepaskan dia." Monika memerintah temannya. Dia tersenyum sok manis lalu menyiram Gita dengan gayung.


"Kak!" teriak Gita.


"Ini baru peringatan dari gue." Kata Monika.


"Salah gue apaan sih Kak sama lo?" Jantung Gita berdegup kencang, darahnya serasa mendidih kesalnya sudah sampai ubun-ubun.


"Salah lo, yang pertama lo berani-beraninya menggoda Gilang. Yang ke dua lo itu udah jelek sok cantik nggak tahu diri pula." Monika mendorong Gita sampai terjatuh.


Gita bangun lalu mengbil air dengan ember, dia mengguyur kearah Monika. Gita menaruh embernya lalu mendorong Monika sampai ke luar toilet.


"Monika lo nggak apa-apa?" Kata Aurel dan Vida bersamaan.


"Kan gue udah bilang jangan mancing-mancing gue." Kata Gita.


"Kurang ajar lo ya!" Vida tidak terima dia berdiri lalu menjambak rambut Gita. Gita pun tak mau kalah. Dia menjambak rambut Vida.


Melihat keributan yang ditimbulkan karena pertengkaran Gita dan Vida semua orang berkumpul. Namun mereka tidak ada yang melerai.


"Berhenti!" Teriak Gilang dari belakang. "Apa yang kalian lakukan ha?!" Teriak Gilang lagi sambil melerai Gita dan Vida.


"Gilang, dia menyerang gue bahkan dia mengguyur gue satu ember tak cukup dia mendorong gue sampai gue terpental keluar toilet." Adu Monika sambil mendekat dan menggandeng Gilang. Dia seolah menjadi korbannya.


"Gue nggak tahu apa salah gue, tapi dia terus menyerang."


"Iya Gilang, gue sama Vida nggak bisa tinggal diam."


Gita menghela napas kasar melihat Monika dan kedua temannya memutar balikan fakta.


"Sudah ceritanya?" Gilang melepaskan tangan Monika. "Kalian berempat sekarang ke ruang osis." kata Gilang.


Gita mendengus kesal, dia yakin pasti Gilang akan mempercayai omongan Monika.


"Duduk." Kata Gilang setelah sampai di ruang osis. Gilang mengambil jaket yang ada di tempat duduknya. Monika tersenyum pede kalau Gilang akan memberikan jaket kepadanya.


"Vida, Aurel dan lo Monika katakan yang sebenarnya atau gue akan bawa kejadian ini ke guru BP." Kata Gilang sambil memakaikan jaket di tubuh Gita. Gita melongokkan kepalanya ke atas, dan Gilang memberikan senyuman kecil. Seakan dia menyiratkan bahwa Gilang percaya kalau Gilang percaya padanya sebelum dirinya mengatakan apa-apa.


"Maksud lo apa, gue udah mengatakan semuanya." Monika kesal ternyata Gita yang mendapatkan jaket Gilang.


"Katakan yang sebenarnya atau gue akan bawa lo ke Pak Rudi." Ancam Gilang.


"Tanya saja sama mereka berdua, kalau yang salah itu Gita orang dia yang mulai."


"Ah.. benarkah?" Gilang menatap Monika, Vida dan Aurel satu persatu.


"Iya, benar kita lihat dengan kedua mata kita. Iya Kan Vida."


"Benarkah seperti itu Giya kejadiannya?" Gilang beralih bertanya kepada Gita.


"Mereka bertiga bohong, mereka dulu yang cari masalah. Gue sudah tidak melayani tapi mereka menarik rambut gue dan mengguyur pakai air." Jelas Gita.


"Baiklah, lo boleh keluar Gita."


"Tunggu, kenapa lo suruh dia keluar." Monika menunjuk kearah Gita.


"Karena dia benar dan tidak bersalah."


"Darimana lo tahu dia nghak bersalah, jelas-jelas Vida dan Aurel itu melihatnya."


"Justru karena yang melihat itu Aurel dan Vida gue jadi nggak percaya, mereka itu sahabat lo pasti mereka akan membela lo meskipun itu salah." Jawaban Gilang membuat Gita terpaku dan membungkam mulut Monika, Vida dan Aurel karena analisisnya sangat benar.