
Hari yang sangat melelahkan dan tentunya juga sangat menyenangkan untuk dua pasangan pengantin baru GG couple dan RF couple. Mereka berpisah di depan hotel karena kamar mereka beda arah.
Gita berlari masuk ke kamar setelah Gilang membuka kuncinya, dia menjatuhkan tubuhnya yang sudah lelah seharian jalan-jalan. Gilang pun ikut merebahkan di sebelah Gita, dia menghidupkan televisi.
Setelah hampir setengah jam mereka beristirahat Gita beranjak dari kasurnya, Gilang langsung menarik tangan Gita.
“Mau kemana?” tanya Gilang.
“Mau mandi. Kamu mau mandi duluan apa aku?” tanya Gita.
“Kamu aja deh, aku malas mandi.” Kata Gilang sembari melepaskan tangan Gita.
“Kok malas mandi sih, kamu udah bau asam tuh.”
“Aku mau mandi, tapi ada syaratnya.” Ujar Gilang.
“Mandi kok pakai syarat segala. Memangnya apa syaratnya?” tanya Gita.
“Mandi bareng sama kamu.” Gilang tersenyum lebar.
“Kamu tuh ya ada-ada saja. Dah ah aku mau mandi dulu.” Gita mengambil handuknya.
Gita menghidupkkan air untuk memenuhi bathupnya. Dia membuka kancing bajunya sambil bernyanyi tidak jelas. Gilang tiba-tiba masuk dan memeluk Gita daribbelakang.
“Sayang, kamu ngapain? Kebiasaan deh masuk sembarangan.” Omel Gita.
“Salah sendiri pintu nggak di kunci.” Gilang menaruh kepalanya di pundak Gita.
“Baiklah, aku salah sekarang kamu keluar aku mau mandi.” Pinta Gita.
“Nggak mau.” Gilang mengeratkan pelukannya sembari mencium belakang leher Gita.
“Sayang, ayolah mandi dulu.” Gita mencoba menghentikan Gilang.
“Nggak mau..” Gilang masih mencium leher Gita, kemudian dia membalikan tubuh Gita. Mereka saling berpandangan kemudian Gilang langsung mencium bibir Gita yang terlihat semakin menggoda saja. Seperti biasa Gilang memberikan ciuman yang begitu lembut, agar mereka saling menikmati setiap kecupan yang di berikan.
Gita mengaitkan tangannya ke leher Gilang, kecupan lembut itu pun semakin membuat mereka memanas. Gilang melepas bibirnya, dia menurunkan ciumannya ke area leher Gita.
Melihat kancing baju Gita yang terbuka satu membuatnya ingin membukanya semua. Tangannya pun dengan sigap segera membuka kancing baju milik Gita. Dia menginginkan dua makhota Gita yang seperti memanggil-manggilnya untuk menikmatinya.
“Sayang..” Gita menahannya tangan Gilang.
“Kenapa? Apa tidak boleh lagi?” Gilang menatap Gita, kedua matanya saling beradu.
“Bukan begitu, kalau kita melakukannya terus bagaimana kalau aku punya baby?” tanya Gita dengan wajah yang cemas.
“Ya memang tujuan kita mau bikin baby. Kamu takut punya baby?” Gilang mengerutkan keningnya.
“Bukannya takut, tapi kalau nanti aku punya bayi tubuhku berubah jadi besar, gendut, pipiku semakin tembem lagi apa kamu masih akan sayang sama aku?” Gita tiba-tiba mencemaskan tubuhnya yang akan membesar dan takutnya Gilang tidak akan mencintainya lagi.
“Tentu saja sayang,” Gilang heran kenapa tiba-tiba Gita membahas masalah itu.
“Kamu nggak akan cari perempuan lain yang lebih cantik dan sexy kan?”
“Tentu saja tidak sayang, memangnya aku pernah meninggalkan kamu disaat kamu gedut dulu?” tanya Gilang.
Gita menggelengkan kepala, “Kamu selalu ada disisiku.”
“Tuh kamu tahu, jadi apa yang kamu risaukan lagi. Bahagiaku itu hanya sama kamu, tentu saja akan lebih bahagia lagi kalau kita punya baby yang banyak. Jadi jangan berpikir macam-macam ya.” Gilang mencium kening Gita untuk menenangkan kerisauan hati Gita.
“Iya.” Jawab Gita dengan sedikit lega.
Gilang pun kembali melakukan aktivitasnya, dia mencium bibir Gita sembari tangannya melepaskan kancing baju Gita. Dan dia pun mulai mencium ke area mahkota milik Gita. Dia dengan cepat menanggalkan bajunya juga karena dia sudah sangat gerah. Dia menggendong Gita ke ranjang, menurunkan dengan pelan namun tak melepaskan ciumannya. Dia membuat tubuh mereka panas seperti terbakar dengan pemanasan yang semakin dalam.
Gita mulai mengeluarkan suara yang terdengar nyaring membuat Gilang semakin menikmatinya. Gilang melepaskan tahutan dalaman milik Gita. Dia kemudian mencium dengan lembut. Gita menautakn tangannya di tubuh Gilang, dia menciumi dada Gilang yang bidang. Setelah itu Gita menaikan tangannya dia memberikan ciuman di area leher milik Gilang. Ciuman yang di berikan Gita membuat Gilang semakin bergairah dan ingin segera bermain ke inti. Dia sudah tidak tahan lagi ingin melepasnya.
“Sayang... aku ingin bermain ke intinya.” Kata Gilang yang di balas dengan anggukan oleh Gita.
Persetujuan dari Gita, membuat Gilang langsung memainkan inti dari semua permainan. Gita memejamkan matanya, tangannya memegang badan Gilang. Dia menggigit bibir bawahnya. Dia kembali mengeluarkan suara seperti irama yang sangat indah di telinga Gilang. Gilang semakin bergairah, dia kembali membarikan kecupan-kecupan di leher dan dada Gita setelah itu naik ke bibir Gita.
Setelah melakukan satu permainan, Gilang memberikan Gita istirahat dia hanya memberikan ciuman-ciuman kecil di lengan Gita.
“Apa benar kamu mau melakukannya sampai pagi?” tanya Gita.
“Tentu saja, ini malam terakhir di sini jadi aku ingin melakukanya sampai pagi.” Ujar Gilang.
“Sayang, ini masih sore dan kamu mau melakukannya sampai pagi?”
“Ya.. kenapa tidak.” Percakapan itu membuat Gilang kembali ingin memulainya. Dia kembali mencium bibir Gita ketika dia melihat Gita yang terlihat sudah segar kembali. Dia hanya membiarkan Gita beristirahat sebentar tanpa boleh pergi ke mana-mana.
Gilang menelusuri setiap inci milik Gita lagi, Gita meremas kepala Gilang dia kembali di buat panas. Apalagi Gilang mencium area dada dan lehernya membuatnya tidak bisa menahan hingga tercipta suara yang indah lagi. Gilang pun langsung kembali memacu ke permainan intinya. Suara indah Gita berhasil memancing dirinya untuk terus bermain.
Permainan kali ini tidak selembut yang pertama, dia menaikan ritme hingga Gita mengeluarkan suara yang lebih nyaring. Dia meremas rambut Gilang lebih erat lagi. Dia pun berinisiatif mencium bibir Gilang dengan lebih dalam untuk mengimbangi rasanya. Dan tentunya memberikan gairah yang lebih untuk Gilang.
Malam ini mereka benar-benar melebur menjadi satu, permainan yang di lakukan semakin lama semakin panas. Gilang mengubah posisi dengan Gita yang berada di atas. Gita menciumi dada bidang dan juga perut Gilang yang sixpack. Aroma tubuh Gilang kembali membuatnya bergairah. Dan melakukan lagi-dan lagi.
Mereka berdua terbaring lelah setelah melakukan permainan yang lumayan lebih bergairah. Mereka memejamkan matanya dan tidur saling berpelukan. Mereka berdua sangat puas dengan permainannya. Gilang yang sebenarnya masih ingin terus bermain pun mengurungkan niatnya karena melihat Gita yang sudah kelelahan.
“Terima kasih sayang, i love you.” Bisik Gilang di telingan Gita.
“I love you too sayang.”
“Tidurlah sayang.” Gilang mengusap rambut Gita lalu mencium ubun-ubunnya. Gita
mengeratkan pelukannya.
Gita membuka matanya, dia melihat jam masih pukul satu pagi. Perutnya sudah keroncongan karena dia tidak makan malam. Di karenakan serangan dari Gilang yang tidak dia duga. Dia pikir Gilang akan memintanya saat tengah malam namun dia salah.
“Sayang, aku lapar.” Bisik Gita.
“Em..”
“Lapar..” rengek Gita.
“Baiklah sayang, sebentar aku akan memsankan makanan buat kamu.” Gilang beranjak dari kasur. Meskipun dia mengantuk Gilang tetap memesankan makanan untuk Gita.
Selain dia memang sayang sama Gita, tapi dia mengaku salah karena tidak memberikan makanan sebelum dia bermain dengan Gita.
Gita duduk di sofa dengan lingerie yang sudah membalut tubuhnya, dia makan dengan sangat lahap. Gilang belum mulai makan dia hanya melihat ke arah tubuh Gita.
“Sayang kenapa nggak makan?” tanya Gita namun hanya mendapat jawaban senyuman.
“Sayang, kenapa kamu menatap tubuhku seperti itu. Jangan macam-macam ya kamu.” Ancam Gita.
“Dasar kamunya saja yang mesum.” Gita menggelengkan kepalanya.
“Setelah makan kita mulai lagi ya.” Kata Gilang sambil menaikan kedua alisnya.
“Ya ampun sayang, kita baru saja loh beristirahat sudah mau lagi. Nggak ah.. Gita mau istirahat.” Gita menolak.
“Ok.. aku beri waktu istirahat sampai jam tiga nanti.” Jawab Gilang dengan santai.
“Ya Tuhan, suami aku kerasukan apa sebenarnya. Kenapa dia sangat buas setelah kita menikah.”
“Aku akan selalu menjadi kucing kamu kalau kita di luar, dan kamu singanya. Tapi kalau di sini akulah singanya dan kamu kucingnya.” Kata Gilang sambil terkekeh.
“Benar-benar ya kamu.”
“Pokoknya, sebelum cek out besok. Aku mau kita melakukannya lagi.”
“Terserah kamu lah sayang, aku sepertinnya juga nggak akan bisa melawan.” Gita pasrah saja dengan apa yang akan dilakukan Gilang padanya.
...(Part Fara & Raka)...
Seperti ucapanya pada Gita kalau Fara akan menggoda Raka lebih dulu. Fara duduk di ranjang dengan lingerie yang menembus badannya. Dan posisinya pun sudah sangat menggoda.
Raka yang keluar kamar mandi langsung tersenyum lebar.
"Kamu mau menggoda ku?" tanya Raka sambil menaruh handuknya.
"Ya, aku ingin menggoda kamu malam ini." Kata Fara beranjak turun mendekati Raka.
"Memangnya kamu bisa?" ejek Raka.
"Kamu menantangku?" kata Fara.
Fara menaikan kakinya ke kasur, lalu menaikan roknya yang sudah terawang itu hingga memperlihatkan kakinya yang mulus.
"Apa masih belum tergoda." kata Fara.
"****! bagaimana aku tidan tergoda." Raka langsung mendorong Fara ke kasur. Dia langsung menyerang Fara dengan mencium dengan sangat bergairah. Fara pun membalas dengan semangat.
Fara mendorong Raka tiba-tiba, dia mencoba menggodanya lagi. Dan menghindari Raka yang ingin memeluk dan menciumnya.
"Ayolah sayang." kata Raka.
"Aku tidak mau." Kata Fara sambil tersenyum.
"Benar-benar ya kamu." Raka berusaha mengejar Fara. Dia mendekapnga dan langsung menciumnya. Tangan Raka meraba bagian punggung Fara yang membuat Fara menjadi semakin memanas.
Fara melepaskan kaos yang di pakai Raka, kemudian dia menciumi dada bidang Raka. Raka sudah di buat ingin meledak, dia menggendong Fara dan meletakkan di kasur. Dia mengunci tubuh Fara dengan tangannya yang kekar.
"Jangan menggodaku lagi." Raka mencium bibir Fara. tanganya memlepaskan lingerie dan juga dalam milik Fara dia membuang begitu saja.
Raka semakin menggila, dia menciumi area mahkota Fara yang membuatnya meneluarkan suara kesuakaan Raka.
"Sayang... em.." Fara sudah tidak tahan lagi ingin melakukan hal inti.
Raka melakukan bagian inti, Fara mengerang dengan sangat sexy membuat Raka terus memacu dengan semangat.
"Sayang..." panggil Fara lembut.
Raka memcium dari perut ke atas, dan ke bibir Fara lagi. Fara memeluk tubuh Raka. Dia kembali mengeluarkan suara yang awalnya sexy berubah manja.
"Apa kamu masih mau lagi sayang?" bisik Raka.
"Ya sayang, lakukan saja sampai kamu puas." bisik Fara yang masih ingin melakukannya. Dia mencium dengan bar-bar mulut Raka. Dan membuat Raka semakin bergairah setiap dia merasa sedikit lelah.
"Em.."
"Kamu benar-benat mempersiapkan ini sayang." Kata Raka dengan napas yang terus memburu.
"Bukannya kamu yang mengatakan balakan melakukan ini sampai pagi."kata Fara dengan masih menikmati permainan yang di berikan Raka. Tangannya meremas kuat rambut Raka. Memberikan suara-suara merdu.
"Kamu memang istri yang sangat peka." Kata Raka.
"Tentu saja, aku akan membuat kamu bahagia memiliki aku."
...♤◇◇♤...
Fara terbangun, dia langsung pergi ke kamar mandi. Dia menghidupkan shower dan segera mandi.
Karena kebiasaan Fara yang tidak mengunci pintu membuat Raka langsung saja ikut dan menyusupnya.
"Kamu kenapa kesini?" kata Fara saat Raka sudah ada di depannya.
"Mau mandi." Ujarnya sambil memeluk Fara.
"Kamu mah modus, kan aku yang baru mandi." Fara mematikan showernya.
"Biar cepatkan mandinya samaan." Kata Raka sembari menghidupkan showernya lagi.
"Ini mah nggak bakalan ceper makin lama saja." Kata Fara.
Raka tersenyum, dia menarik istrinya ke dalam pelukannya. Raka menciumi Fara di bawah air yang mengalir. Raka mencium bibir Fara perlahan. Mencium dengan sangat lembut.
Meskipun mereka berciuman di bawah air namun tubuh mereka terasa sangat panas. Karena Raka mulai mempercepat ciumannya.
Dia bahkan tak memberi napas Fara, dia terus dan terus mencium bibir Fara.
"Sayang..."
"Apa?" Katanya kembali menyimpal bibir Gita dengan bibirnya.
"Aku sudah lapar, apa kamu tidak lapar?" tanya Fara.
"Aku juga lapar, tapi bisakah kita melakukannya sekali?" pinta Raka.
"Sekali saja?"
"Iya sekali saja."
"Janji?" Fara mengangkat jari kelingkingnya.
"Janji sayang." Katanya sambil melepaskan kaos yang ada di tubuhnya. Dia juga melepaskan baju yang masih melekat di badan Fara.