
Hari terakhir ujian dan Gita melewatinya dengan susah payah bersama sahabat-sahabatnya. Dan yang pasti batuan dari Gilang.
"Guys, gue cabut dulu ya." Kata Gita sambil menggendong tasnya di punggung.
"Eh.. mau kemana?" Fara menarik tas Gita.
"Ketemu pacar." Katanya sambil melarikan diri dari Fara.
Gita melongok ke jendela, ruang kelas sudah kosong hanya ada beberapa orang yang masih sibuk dengan bukunya.
"Apa Kak Gilang sudah pulang ya?" Gita mengambil ponselnya untuk cek. Siapa tahu Gilang mengirim pesan.
"Tidak ada pesan, gue telpon aja lah." Gita mengurungkan niatnya saat melihat satu teman kelas Gilang keluar.
"Maaf, Kak Gilangnya sudah pulang atau rapat osis ya?" tanya Gita.
"Gilang sedang di UKS, dia tidan enak badan."
"UKS? terima kasih." Gita langsung lari menuju UKS.
Gita menghentikan langkahnya, dia mengatur napasnya saat melihat Monika dan Bayu sedang menunggu Gilang.
"Semua ini pasti gara-gara Gita yang tidak tahu diri itu." Ujar Monika dengan kesal. Gita mengurungkan niatnya untuk masuk.
"Kenapa lo ngomong kayak gitu?"
"Bay.. lo lihat sendiri kan. Dia harus kerja ekstra. Ya belajar sendiri, ngajarin anak-anak yang gue rasa juga nggak bakal naik itu nilainya. Masih saja membuatkan rangkuman untuk Gita. Kegiatan Gilang sudah banyak masih aja di tambah hal-hal nggak penting." Omel Monika.
"Dasar biang masalah." Tambah Monika.
"Monika lo jangan menyalahkan Gita, ini kemauan Gilang. Lagian apa salahnya membantu orang yang membutuhkan."
"Apa salahnya lo kata, lihat Gilang terbaring sakit. Lo kenapa sekarang jadi belain Gita." Monika menatap curiga Bayu.
"Gue tidak membela Gita atau siapapun. Tapi Gilang sakit bukan karena Gita. Gilang sakit karena dia..."
"Karena Gilang kurang istirahat, makan tidak teratur, belajar melebihi jam belajar. Benarkan?"
"Benar Gilang memang kurang istirahat, lebih baik sekarang lo pergi dari sini." Usir Bayu.
"Kenapa lo jadi ngusir gue?"
" Lo berisik, bagaimana Gilang bisa istirahat." Bayu berdiri lalu menarik tangan Monika agar keluar dari ruang UKS. Gita bergegas bersembunyi.
"Gue nggak mau pergi. Gue mau tungguin Gilang ah.. sebaiknya gue bawa dia ke dokter." Kata Monika.
"Ngeyel banget sih lo." Bayu menarik Monika pergi jauh dari UKS.
Setelah mereka berdua menjauh Gita pelan-pelan masuk ke ruangan. Dia memegang kening Gilang.
"Panasnya lumayan tinggi." Gumamnya pelan. Gita menaruh tasnya, dia mencari handuk dan wadah untuk mengompres Gilang.
Gita memeras handuk lalu menaruh di kening Gilang. "Harusnya lo nggak perlu repot-repot melakukanya semua untuk gue. Sampai lo mengabaikan kesehatan diri sendiri." Gita memijit tangan Gilang.
"Gue hanya merepotkan lo saja. Mana bisa gue jadi pacar yang baik. Harusnya biarkan saja gue melakukan apa-apa sendiri." Gita berhenti memijit tangan Gilang. Dia bangkit lalu beranjak pergi. Gilang memegang tangan Gita dengan erat.
"Tetaplah disini." Kata Gilang pelan dengan suara pelan. Gita menoleh ke arah Gilang, dan mata Gilang masih terpejam.
"Apa lo mengigau ya?" Gumam Gita. Dia perlahan untuk melepaskan tangan Gilang. Gilang semakin mempererat genggaman tagannya.
Gilang membuka mata lebar, "Nggak bisa ya diam sebentar di sini. Biarin gue tidur dan di temani sama lo." suara lemah namun penuh tekanan.
"Ah.. iya." Gita langsung duduk. "Kenapa bisa sakit?" tanya Gita pelan.
"Karena gue rindu sama lo." Goda Gilang.
"Lagi sakit saja masih bisa bercanda, nggak lucu tahu." Gita manyun.
"Siapa yang sakit, gue hanya tidak enak badan." Gilang duduk lalu memegang tangan Gita menempelkan di pipinya.
"Sama aja kali."
"Ah... terasa nyaman." Kata Gilang. "Sudah makan?" Gilang menatap Gita.
"Kenapa masih perdulikan gue, lo sendiri apa sudah makan, istirahat cukup?" Gita mulai ngomel. Dia kesal karena Gilang terus memperhatikan dirinya namun dia tak mengurus kesehatanya sendiri.
"Gue sudah makan, sudah minum vitamin dan juga istirahat cukup. Ini demamnya aja yang pingin nempel di tubuh gue. Cinta kali sama gue saingan sama lo." Gilang terkekeh.
"Tahu ah.. bercanda terus. Gita mau pulang Kak Gilang jangan dekat-dekat sama gue lagi." Gita berdiri mau kabur. Gilang menarik Gita dalam pelukannya.
"Kita putus aja ya." ucap Gita pelan. Gilang melepas pelukannya.
"Maksud lo apa?" Kata Gilang dengan wajah seram.
"Kak, Gita itu hanya menyusahkan lo saja. Ini baru satu hal kecil saja gue sudah mengacaukan hidup lo. Nanti kalau semakin lama sama Kak Gilang..."
Cup!
Gilang mencium pipi kiri Gita.
"Kak, jangan lakukan ini. Kalau begini bagaimana Gita bisa lepas dari Kak Gilang. Semua ini demi ka.."
Cup!
Gilang mencium pipi kanan Gita.
Gita mengatur napas, dia berpikir kalau dia ngomong lagi pasti Gilang akan mencium bibirnya. Dia pun langsung menutup bibirnya dengan kedua tangannya.
Gilang tersenyum, dia tahu yang di pikirkan sama Gita. Gilang kembali memeluk Gita.
"Jangan bilang lo mau putus, atau meninggalkan gue." Bisik Gilang.
Bayu menghentikan langkahnya saat hendak masuk ke ruang UKS. Dia memutar tubuhnya dan membawa kembali teh hangat di tangannya.
"Lo mau kemana Bay?" tanya Gilang. Seketiak Gita menarik diri dari pelukan Gilang.
"Eh.. em gue mau ke.."
"Masuk." kata Gilang. Gita jadi panik ketahuan pelukan sama Bayu.
"Git, lo sakit?"tanya Bayu.
"Nggak."
"Wajah lo kenapa merah begitu?"
Gita reflek memegang kedua pipinya. Gilang pun juga reflek melihat ke arah Gita.
"Jangan ganggu pacar gue." kata Gilang sambil mengambil teh hangat dari tangan Bayu. Gilang tahu kalau Bayu sedang menggoda Gita.
...♡◇◇◇♡...
"Bik Nana." Gita duduk di kursi mendekati Bik Nana yang sedang memasak untuk makan malam.
"Iya Mbak, ada apa?" katanya masih fokus memotongi sayuran.
"Bisa minta tolong nggak?"
"Apa?"
"Teman Gita kan sakit demam, nah Gita mau ngirim makanan buat dia kira-kira apa ya?" tanya Gita.
"Bikinin sop aja, kan enak di makan hangat-hangat." kata Bik Nana.
"Bibik bisa buatkan nggak?" Gita merenges.
"Ok, Mbak Gita itu teman spesial apa teman biasa?"
"Memangnya kenapa?"
"Kalau spesial Mbak Gita harus ikut buatnya."
"Gitu ya."
"Iya, biar terasa nikmat."
"Ok, apa yang bisa Gita lakukan Bik?" Gita tampak bersemangat untuk memasak buat Gilang.
"Ini Mbak kupas aja dulu wortelnya." Bik Nana mengambil dua buah wortel ukuran besar dari kulkas.
"Ini saja?"
"Itu dulu cukup, dua saja belum tentu selesai pas bibik selesai masak." Goda Bik Nana.
"Wah.. meremehkan Gita. Gita itu sekarang lumayan bisa kupas-kupas sayur dan buah." Kata Gita tidak mau di remehkan sama bik Nana.