
Gita mengaduk-aduk bakso yang ada di depannya, dia sedang membayangkan Gilang dengan Monika yang sedang bermesraan. Seperti yang ada di drama kalau cewek terluka terus di gendong sang cowok. Setelah itu mereka akan saling pandang lalu...
Gita mengelengkan kepalanya, dia nggak mau pikiran yang terakhir itu terjadi.
Kemudian dia menepuk pipinya biar sadar kalau Gilang nggak akan melakukan itu.
“Kenapa sahabat kita satu ini kayak kesurupan diem saja.” Kata Anita.
“Biasa lagi cemburu, Kak Gilang sedang di godain pelakor.” Ucap Fara dengan mulus saat julid.
“Pelakor? Siap?”
“Siapa lagi pelakor di sekolah ini kalau bukan Monika.”
“Gue nggak cemburu ya, gue cuma kesal aja Monika itu suka ngambil kesempatan saja.
Dari sekian banyak anak-anak di kelasnya kenapa harus Kak Gilang yang harus
gendong dia.” Omel Gita.
“Benar juga, suka mengada-ada deh Pak Ikhsan.”
“Ya karena Kak Gilang ketua kelasnya kali, jadi bertanggung jawab atas anak
buahnya.” Aniat lebih berpikir jernih dan positif daripada Gita dan Fara.
Gilang setelah memanggil petugas UKS untuk Monika langsung menemui Gita. Dia tersenyum dari kejauhan saat melihat Gita dengan wajah yang di tekuk. Dia tahu kalau Gita tidak suka saat dirinya
Gilang duduk sambil memegang kepala Gita, reflek Gita menoleh dia melihat Gilang tersenyum manis padanya. Kekesalan dalam hatinya seketika runtuh, wajah Gilang selalu saja teduh dan bikin dirinya tenang saat ada di dekatnya.
“Dilarang bucin disini.” Kata Fara.
“Baiklah.” Gilang menurunkan tangannya dari kepala lalu berdiri dan menggandenga tangan Gita untuk meninggalkan kantin.
“Eh.. mau kemana kalian?” Tanya Fara.
Gilang mengajak Gita ke taman, lalu menyuruhnya duduk. Gita masih menekuk wajahnya.
“Masih marah?” Gilang melihat wajah Gita.
“Siapa yang marah?”
“Pacarnya gue.” Kata Gilang sambil menyenggol Gita.
“Apan sih.”
“Gue cuma tolongin Monika doang, panggil petugas. Terus datang kesini temuin pacar
aku.” Gilang mencolek dagu Gita. Gilang mencubit pipi Gita yang masih saja
belum mau ngomong sama Gilang.
“Ih.. sakit.” Gita memegang pipinya.
“Sini biar gue kasih obat.” Gilang mendekati Gita. Gita langsung mendorong Gilang.
“kak, ini di sekolah loh.” Gita langsung tengok kanan kiri.
“Iya emang sekolah, kenapa emang?” Gilang menatap Gita dengan senyum-senyum jahil
karena dia tahu apa yang dipikirkan Gita.
“Oiya.. tadi kenapa di hukum?”
“Aduh.. kenapa jadi balik kesini lagi.” Batin Gita.
“Kan udah bilang, tadi gue lapar jadi kena hukuman.” Kata Gita.
“Kalau lapar kok nggak makan tadi malah di aduk-aduk nggak jelas itu baksonya.” Kata
Gilang.
“Ya habis..”
“Cemburu.”
“Nggak, cuman lagi nggak mood aja.”
“Ya udah sekarang balik dulu ke kelas, nanti pulang sekolah kita makan. Sepuasnya
apa yang lo mau.” Kata Gilang.
“Benaran nih.” Mood Gita seketika naik.
“Iya, yuk ke kelas udah bel.”
“Siap Bos.” Gilang mengantar Gita ke kelasnya.
Gilang mengajak Gita ke restauran favorit Gita, Gita dengan semangat memilih makanan.
“Mau es krim dulu Kak.” Gita menunjuk es cream rasa coklat.
“Ya.” Gilang memesankan es cream dulu agar bisa di makan sambil menunggu menu utama datang.
“Makasih Kak Gilang sayang.” Kata Gita menatap Gilang sambil tersenyum.
“Tumben panggil sayang-sayang.” Kata Gilang.
“Emang nggak boleh panggil sayang sama pacar sendiri?” kata Gita sambil makan es
creamnya.
“Beneran?” Mata Gita berbinar. Gilang mengangguk, dia ingin memberikan semuanya untuk
memotifasi Gita agar lebih semangat belajar. Meskipun dia tahu kalau Gita akan
cepat bosan sama belajar.
Gita menyuapin es kepada Gilang, “Aaa.” Gilang membuka mulutnya lebar.
“Enak nggak?”
“Enak lah, apa lagi di suapin pacar gue yang cantik ini.” Gilang menggombali Gita.
Gilang mengusap mulut Gita yang gelepotan dengan tangannya. Gita langsung diem,
kaku.
“Dah jangan bengong makan lagi, gue mau ke toilet sebentar.” Gilang mengacak-acak
rambut Gita.
“Gimana nggak bengong gue di buat tubuh gue kaku, hati gue meleyot. Nggak tahu aja hati
gue rasanya campur adik di buatnya.” Gita memakan es creamnya cepat.
Gita memainkan ponselnya sambil menunggu makanannya datang. Gita menaruh ponselnya
saat melihat Prisil. Gita sudah nggak bisa diem saja melihat Raka terus di sakiti.
“Prisil.” Panggil Gita. Prisil menoleh dengan muka kesal bercampur kaget harus ketemu
Gita lagi.
“Siapa lagi cowok yang lo bawa?” Tanya Gita.
“Siapa lagi, maksud lo?” sahut cowok yang bersama Prisil.
“Eh Gita, lo kalau ngomong jangan sembarangan ya.” Prisil membentak dan memelototi
Gita.
“Siapa yang sembarangan, cowok yang lo kata calon suami saat di bukit mana?” tanya
Gita.
“Calon suami? Lo kan masih SMA udah mau menikah?” Tanya cowoknya lagi.
“Sayang nggak, dia itu ngaco dan sengaja mau merusak hubungan kita.” Prisil menjelaskan
kepada cowok yang bersamanya.
“Dasar perempuan licik, lo mainin cowok-cowok. Gue akan aduin ini semua sama Raka.”
Gita berbalik arah dan langsung di tarik rambutnya sama Prisil.
“Eh.. lepasin sakit.” Gita menarik tangan Prisil agar bisa terlepas dari rambutnya.
Setelah terlepas Gita pun langsung menyerang Prisil.
Gilang yang baru keluar toilet bingung saat terjadi keributan di restauran. Dia
langsung lari saat melihat Gita yang membuat keributan.
“Gita..Gita... lepasin.” Gilang menarik Gita.
“Lepasin Kak, biar gue jambak-jambak perempuan nggak tahu malu ini.” Kata Gita.
“Lo yang nggak tahu malu, di tempat begini ngajakin ribut.”
“Sayang..sayang.. tenang.” Gilang membawa Gita pergi dari mereka. Gilang mengajak duduk di mejanya.
“Gita ada apa? Kenapa lo berantem?” tanya Gilang.
“Dia itu cewek resek, nggak tahu diri, nggak tahu malu harus di jambak-jambak.” Kata Gita dengan emosi.
“Mau serese apa dia lo nggak boleh main jambak, gimana kalau dia menuntut kamu bisa di bawa ke polisi.” Kata Gilang.
“Dia nggak akan berani.” Jawab Gita dengan pede.
“Memangnya siapa dia?”
“Pacar Raka, dia itu selingkuhin Raka nggak Cuma satu cowok.” Mata Gita mulai berkaca-kaca.
“Lo udah bilang sama Raka?”
Gita mengelengkan kepala pelan, “Gue bingung ngomongnya, gue takut Raka hancur.” Katanya sambil menangis. Gilang menari Gita dalam pelukannya sambil mengusap kepalanya lembut. Dia tahu gimana bingungnya Gita untuk menyampaikan hal yang sangat buruk itu kepada orang yang dia sayangi.
“Tapi lo harus bilang sama Raka, biar dia tidak semakin hancur kalau tahu.” Kata
Gilang.
“Gimana ngomongnya, mereka pacaran sudah hampir dua tahun dan kenal lebih dari empat tahun apa Raka bakal percaya. Sedangkan dia cinta banget sama Prisil.” Jawabnya dengan sesenggukan.
“Ya sudah jangan menangis lagi, nanti gue bantu cariin jalan keluarnya. Sekarang
usap dulu air mata lo, dan makan. Katanya lo lapar kan tadi.” Gilang menghapus
air mata yang menetes di pipi Gita.