
Selesai makan Gita dan Vian pamit untuk pulang kepada Win, Ina dan Nino. Vian melambatkan langkahnya saat membaca pesan di ponselnya.
“Kenapa Vian ada masalah?” tanya Gita.
“Gimana ya Git ngomongnya.” Vian garuk-garuk kepala bingung ngomong sama Gita.
“Yaelah lo kayak sama siapa pakai acara
bingung ngomong sama gue.” Kata Gita sambil menepuk pundak Vian.
“Nyokap gue minta di jemput sekarang,
padahal kan gue janji mau nganterin lo pulang.” Kata Vian.
Jalan yang bertolak belakang membuat Vian kebingungan, dia tidak bisa menolak mamanya tapi juga tidak bisa membiarkan Gita pulang sendirian. Apalagi keadaan sudah malam.
“Cuma masalah sepele, gue kira ada
masalah apa. Taksi masih banyak baru pukul berapa juga. Sekarang jemput saja
nyokap lo kasian kalau menunggu lama.” Gita menyuruh Vian memilih menjemput mamanya daripada harus mengantar dirinya pulang.
“Lo yakin mau pulang sendiri ini? Udah
malam loh.” Vian masih belum tega meningglkan Gita sendirian.
“Ini baru juga pukul sembilan masih
banyak tuh taksi di luar.” Kata Gita.
“Beneran ya.”
“Iya Vian, lo kenapa jadi perhatian
begini sama gue. Udah sana buruan kasian mama lo nungguin.” Gita mendorong Vian untuk pergi dulu.
“Iya, lo hati-hati foto dulu plat
taksinya dan jangan lupa lo telpon gue kalau sampai rumah.” Vian mewanti-wanti
Gita.
“Iya sodara Vian. Kalau lo masih
mengoceh saja disini yang ada gue makin kemalaman pulangnya.” Ujar Gita.
“Gue duluan ya.” Dengan berat hati Vian
pulang tanpa mengantar Gita.
Gita berjalan keluar kantor menuju jalan
raya untuk mendapatkan taksi. Gita berjalan sambil menelpon Gilang kalau dia
masih di sekitaran kantor minta di jemput.
“Ah.. susah banget sih dihubungi.” Gita
berdesis lalu memasukan ponselnya ke dalam tas.
Gita mengeluh semanjak dia juga bekerja makin sedikit bertemu dengan Gilang meskipun mereka satu kantor.
"Bukanya itu Gita anak baru di kantor kita, jam segini kok baru pulang. Lila menunjuk kearah Gita yang berjalan menuju ke halte.
Gilang memutar mobilnya kembali, dia tidak jadi mengambil berkas yang masih ketinggalan di kantor. Dia tidak mau membiarkan kekasih hatinya pulang sendirian malam-malam.
“Ada apa Pak kok balik lagi nggak jadi
mengambil berkas yang ketinggalan?” tanya Lila.
“Aku lupa, berkasnya ada di rumah. Aku
anterin kamu pulang sekarang.” Kata Gilang.
“Baik Pak.” Kata Lila.
Tin..!
Gilang berhenti membunyikan klakson lalu
menurunkan kaca mobilnya, “Ayo naik.” Ajak Gilang.
Gita tersenyum dan langsung berdiri, namun saat hendak jalan dia mengurungkan niatnya karena melihat Lila di kursi depan sebelah Gilang.Dia tidak mau terlihat seperti anak baru kesayangan bos dia takut ketahuan lebih awal. Dia ingin profesional dalam bekerja.
“Ayo buruan, kenapa malah diam sudah malam taksi susah."
"Terima kasih Pak, tapi saya naik taksi saja." Gita menolak dan kembali duduk di halte.
“Bapak yakin mau nganterin anak baru
itu?” Lila terheran-heran baru kali ini dia mau nganterin anak baru. Biasanya
suruh satpam yang jaga atau sopir pribadinya. Dia saja yang sudah bekerja
bertahun-tahu diantar pulang bisa di hitung jari.
“Sudah malam kasian dia, taksi sudah
susah. Lila kamu turun dan ajak dia bareng sama kita.” Gilang meminta Lila
untuk membujuk Gita. Lila mengangguk, dia kemudian turun dari mobil dan
mengajak Gita masuk ke mobil sesuai perintah Gilang.
“Gita ayo bareng sama kita.” Lila turun dari mobil.
“Makasih Mbak, saya nunggu taksi saja.”
Gita menolak kedua kalinya.
“Buruan naik, nggak sopan buat bos
menunggu.” Lila tidak sabar dia menyeret Gita supaya mau ikut masuk.
Gita berjalan lalu membuka pintu mobil
depan sebelah Gilang. Lila pun langsung menghalangi Gita.
“Kamu di belakang, depan tempat duduk
gue.” Katanya pelan.
di belakang Lila.
“Harusnya gue yang duduk di depan,
kenapa jadi dia.” Omel Gita dalam hati saat masuk ke dalam mobil. Gilang
membenarkan spion depan agar terarah ke Gita jadi dia bisa melihatnya.
“Kenapa baru pulang?” tanya Lila.
“Iya tadi lembur sebentar.” Jawab Gita.
“Lumayan pekerja keras lo ya, baru masuk
saja sudah bersedia lembur.” Kata Lila.
“Iya Mbak.”
“Oiya Pak, besok pagi kita ada meeting
di dua tempat.” Lila membuka buku skedul
Gilang buat besok. Mereka berdua ngobrol serius, Gita mulai tidak diangap dan
memilih untuk tidur.
“Lo pulang mana?” Lila menoleh kebelang.
“Tidur?” kata Lila sambil menoleh ke arah Gilang. Gilang melihat ke kaca sambil
tersenyum, dia tahu Gita pasti sangat kecapean sampai ke tiduran.
“Biarkan saja, dia pasti kelelahan karena
lembur sampai malam. Aku aterin kamu pulang dulu.” Kata Gilang.
“Terus Gita gimana?”
“Biar aku yang anterin dia pulang, kamu
nggak perlu cemas.”
“Bapak tahu rumah dia?”
“Iya, rumahnya tidak jauh dari sini.
Untung saja kemarin aku membaca berkas dia. Jadi tahu alamat rumahnya.” Kilah
Gilang. Dia beralasan seperti itu agar Lila tidak curiga kepadanya kalau dia
sebenarnya kenal sama Gita.
“Baik Pak.”
Setelah sampai mengantar ke rumah Lila,
Gilang merebahkan Gita agar tidak capek tidur dengan duduk. Dia membuka jasnya
lalu menyelimuti tubuh Gita.
Setengah jam Gilang mengemudi dan
sampailah di rumah Gita, Gilang hendak membangunkan Gita namun tidak tega
karena sangat pulas.
Gilang menggendong Gita, baru saja
keluar dari mobil Gita perlahan membuka matanya.
“Apa kita sudah sampai?” Tanya Gita
namun belum turun dari gendongan Gilang.
“Sudah, baru saja sampai.”
Gita meminta di turunkan, setelah turun
dia memeluk Gilang dengan erat.
“Kenapa susah banget sih di hubungi, kan
Gita kangen.” Rengek Gita.
“Maafin aku ya, hari ini sibuk banget
sampai nggak bisa ngabarin kamu.” Gilang menyembut pelukan Gita. “Oiya, kenapa
kamu baru pulang?”
“Lembur.” ucapnya manja.
“Kenapa lembur, kamu kan masih anak baru
di kantor.” Gilang mengusap rambut Gita.
“Ya mau bagaimana lagi, aku tidak bisa
meninggalkan ketua tim kesusahan sendiri.” Kata Gita.
“Kamu tuh ya selalu saja begitu.
Sekarang kamu masuk dan segera istirahat.” Gilang mengacak-acak rambut Gitanyang memang sudah sedikit berantakan.
“Tapi aku masih kangen, lima menit lagi
ya biarkan aku memeluk kamu sebentar
lagi.” Gita kembali memeluk Gilang untuk meredakan rasa kagennya hari ini.
“Peluk sepuas kamu.” Bisik Gilang.
Gilang mengeratkan pelukkannya, dia juga kangen banget hari ini mereka hanya
bertemu saat pagi hari ketika Gita masuk kerja. Setelah itu dia sibuk di luar
kantor dan tak saling berkabar.