
Vian mendorong pintu dan siap
menjatuhkan tubuhnya di kasur, namun dia terkaget saat ada Raka yang sedang
bermain game.
“Lo disini juga?” Kata Vian mendekati
Raka.
“La iya, masa kalian liburan gue di
tinggal sendiri di rumah.” Kata Raka sambil tersenyum.
“Lang, lo nggak bilang ada Raka disini? Lo
juga Ka kenapa ponsel lo nggak aktif sejak kemarin, Fara udah ribut aja dari
kemarin. Nggak hanya Fara, adik lo itu juga bawel pada ngerecokin gue. Hidup
gue nggak tenang.” Protes Vian.
Dia memang selalu menjadi sasaran Gita
dan Fara jika pacar mereka tidak bisa di hubungi atau kalau mereka sedang
ngambek.
“Gue lagi sibuk, jadi gue matiin hpnya.”
Kata Raka sambil tersenyum. Jelas-jelas dia tidak melakukan apa-apa namun
menyebutnya dengan sibuk.
“Bisa-bisaan lo, orang Cuma main game di
kata sibuk. Fara sampai tahu lo bakalan jadi perkedel.” Kata Vian.
“Lo bawel banget sih, ini pasti efek
karena lo sering bareng Gita sama Fara jadi bawel.
“Gimana nggak bareng mulu, nenepel aja
tuh dua orang kayak tahi lalat.”
“Udah deh lo jangan marah-marah mulu,
gue sama Gilang bakalan kasih lo imbalan karena udah jagain calon istri kita.”
Raka melemparkan sebuah kunci mobil. Dan Vian pun langsung menangkapnya.
“Apaan nih? Lo suap gue biar nggak ngadu
sama Fara. Sorry ya gue itu team cewek-cewek bukan team lo pada.” Vian melempar
kunci mobil itu ke arah Raka.
Bagi Vian Gita dan Fara itu sahabat dia
yang paling care sama dirinya, meskipun mereka berdua selalu saja mengganggunya
dan juga merepotkannya.
“Ya elah, baperan banget sih lo. Gue
nggak suap lo dan gue juga nggak menyembunyikan apa-apa kok sama Fara. Gue
cuman mau kasih kejutan sama dia.” Raka menghentikan aktivitas gamenya, dia
beranjak mendekati Vian.
“Kejutan apa? Ulang tahunya kan masih
dua bulan lagi?” tanya Vian.
Raka mengeluarkan kotak merah berisika
cincin, Vian melongo lebar. Gilang menaikan dagunya Vian.
“Lo mau melamar Fara?” Vian antusias.
“Yah, sebenarnya gue mau nyusulin kalian
ke puncak tapi gue pikir-pikir karena kita belum mau go publik jadi ya gue buat
saja di sini.” Kata Raka.
“Deebaakk..!”
Vian bertepuk tangan dengan wajah terkagum-kagum. Hal besar akan di lakukan
sahabatnya, sedangkan dia sama sekali belum ada calonnya, bahkan batang
hidungnya saja belum kelihatan.
“Lo jangan terpesona gitu dong, gue
bakalan ngelamar Fara bukan lo.” Raka
memberikan kunci mobil dengan sedikit mendorongnya sehingga dia terduduk.
“Lagian gue juga nggak tertarik sama lo.”
Vian bergidik. “Ngomog-ngomong ini beneran buat gue?” dia yang awalnya menolak
di belikan mobil mendadak heboh.
“Iya, biar lo buruan dapat cewek kalau
udah bawa mobil keren.” Goda Gilang.
“Wah.. kalian sangat merendahkan gue.
Memangnya kalian pikir gue mampu apa
beli mobil seperti ini.” Katanya dengan sangat semangat namun arti
membagongkan.
“Muka lo.!” Gilang melempar wajah Vian
dengan bantal.
“Gita, telpon lo tuh bunyi terus angkat
kenapa?” Fara menggoyang-goyangkan tubuh Gita yang masih tertidur lelap.
“Ya ampun siapa sih yang mengganggu
tidur gue.” Gita mencoba mencari ponselnya yyang terus berdering.
mengangkat telponnya, “Halo, maaf salah sambung.” Katanya lalu menutup
ponselnya. Tak selang lama dia memutus ponselnya sudah berderig lagi.
“Ya ampun, sepertinya gue nggak punya
pinjaman online kenapa gue terus di telpon.” Gita duduk dan mengangkat
telponnya lagi.
“Halo, siapa sih gangguin saja. Saya
bilangin sama kamu ya, saya nggak mau pinjamannya. Dan jangan hubungi saya lagi
atau saya akan laporkan polisi.” Katanya.
“Heh..! Gita Saqueena.. bangun ngelantur
saja.” Gilang berteriak membuat Gita tersadar.
“Eh..” Gita menarik ponselnya dari telingannya.
“Kak Gilang..” Gita nyengit seperti tersambar pertir di siang bolong hingga dia
bisa tersadar.
“Kamu masih tidur saja, udah mandi
belum?” tanya Gilang.
“He..he..he.. belum, baru juga bangun.”
“Ya sudah buruan kamu mandi, sekalin
Fara juga suruh mandi dan siap-siap. Kamu mau calon suami kamu ini kelaparan?”
kata Gilang.
“Iya sayang..iya..iya. beri waktu Gita
setengah jam untuk mandi, dan juga ganti pakaian.” Kata Gita.
“Baiklah, aku tunggu di depan.”
Gita dan Fara sudah terlihat segar,
mereka berdua langsung keluar untuk makan malam, meskipun sedikit terlambat karena
Gita dan Fara ketiduran.
“Nyonya-nyonya lelet, perut gue udah
kosong nih. Lo pada molor muluk.” Vian mulai mengoceh.
“Brisik lo, kayak belum pernah makan
setahun saja.” Kata Gita.
“Emang.”
“Berantem terus, kapan kita mau jalan
coba.” Kata Gilang.
“Vian tuh mulai..”
“Gue lagi..”
“Udah yuk buruan.” Gilang menggandeng
tangan Gita.
Gita dan Fara sangat takjub melihat
tempat makan di hotel itu sangat indah, dan terlihat mewah. Mereka juga bisa
melihat dan mendengar deburan ombak disana.
“Nuansanya romantis banget nih, kita
nggak akan di tinggal bucin kan?” Fara sudah mencium bau-bau keromantisan dari
segi penataan tempat.
“Nggak, siapa juga yang mau bucin.
Sebenarnya gue mau kasih hadiah sama lo karena selama ini menjaga Gita buat
gue.” Kata Gilang.
“Nih gue juga udah dapat hadiah dari Kak
Gilang.” Vian memamerkan kunci mobil.
“Hadiah apaan?” Tanya Fara.
“Hadiah yang sangat spesial, dan tidak
akan pernah lo lupain seumur hidup lo.” Kata Gilang, membuat Fara sangat
penasaran.
“Kok kamu nggak bilang-bilang mau kasih
hadiah sama Fara.” Mendadak Gita merasa sedikit cemburu karena Gilang tidak membahas apa-apa
dengan dirinya.
“Ya kan suprize, lo kan nggak bisa jaga
rahasia kalau sama Fara. Ya ada gagal semua surprizenya.”
Gita terdiam, dia kelihat kecewa dengan
Gilang namun dia berusaha menutupinya. Gilang yang melihat perubahan ekspresi
Gita langsung menggandengnya. Namun Gita melepasnya, dia tak mau di gandeng dan
bergeser berdiri di samping Vian.
“Ok, sebelum kita duduk dan menikmati
makan disini gue akan berikan hadiahnya. Hadiah buat Fara silahkan masuk.” Seru
Gilang.
Raka keluar, dia berjalan sembari tersenyum ke arah Fara dan juga Gita. Gita yang sempat cemburu langsung tersenyum dan merasa bersalah kepada Gilang karena sempat berpikir mencurigainya ada sesuatu dengan sahabatnya sendiri.