Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Liburan Dadakan II


Vian mendorong pintu dan siap


menjatuhkan tubuhnya di kasur, namun dia terkaget saat ada Raka yang sedang


bermain game.


“Lo disini juga?” Kata Vian mendekati


Raka.


“La iya, masa kalian liburan gue di


tinggal sendiri di rumah.” Kata Raka sambil tersenyum.


“Lang, lo nggak bilang ada Raka disini? Lo


juga Ka kenapa ponsel lo nggak aktif sejak kemarin, Fara udah ribut aja dari


kemarin. Nggak hanya Fara, adik lo itu juga bawel pada ngerecokin gue. Hidup


gue nggak tenang.” Protes Vian.


Dia memang selalu menjadi sasaran Gita


dan Fara jika pacar mereka tidak bisa di hubungi atau kalau mereka sedang


ngambek.


“Gue lagi sibuk, jadi gue matiin hpnya.”


Kata Raka sambil tersenyum. Jelas-jelas dia tidak melakukan apa-apa namun


menyebutnya dengan sibuk.


“Bisa-bisaan lo, orang Cuma main game di


kata sibuk. Fara sampai tahu lo bakalan jadi perkedel.” Kata Vian.


“Lo bawel banget sih, ini pasti efek


karena lo sering bareng Gita sama Fara jadi bawel.


“Gimana nggak bareng mulu, nenepel aja


tuh dua orang kayak tahi lalat.”


“Udah deh lo jangan marah-marah mulu,


gue sama Gilang bakalan kasih lo imbalan karena udah jagain calon istri kita.”


Raka melemparkan sebuah kunci mobil. Dan Vian pun langsung menangkapnya.


“Apaan nih? Lo suap gue biar nggak ngadu


sama Fara. Sorry ya gue itu team cewek-cewek bukan team lo pada.” Vian melempar


kunci mobil itu ke arah Raka.


Bagi Vian Gita dan Fara itu sahabat dia


yang paling care sama dirinya, meskipun mereka berdua selalu saja mengganggunya


dan juga merepotkannya.


“Ya elah, baperan banget sih lo. Gue


nggak suap lo dan gue juga nggak menyembunyikan apa-apa kok sama Fara. Gue


cuman mau kasih kejutan sama dia.” Raka menghentikan aktivitas gamenya, dia


beranjak mendekati Vian.


“Kejutan apa? Ulang tahunya kan masih


dua bulan lagi?” tanya Vian.


Raka mengeluarkan kotak merah berisika


cincin, Vian melongo lebar. Gilang menaikan dagunya Vian.


“Lo mau melamar Fara?” Vian antusias.


“Yah, sebenarnya gue mau nyusulin kalian


ke puncak tapi gue pikir-pikir karena kita belum mau go publik jadi ya gue buat


saja di sini.” Kata Raka.


 “Deebaakk..!”


Vian bertepuk tangan dengan wajah terkagum-kagum. Hal besar akan di lakukan


sahabatnya, sedangkan dia sama sekali belum ada calonnya, bahkan batang


hidungnya saja belum kelihatan.


“Lo jangan terpesona gitu dong, gue


bakalan ngelamar Fara bukan lo.”  Raka


memberikan kunci mobil dengan sedikit mendorongnya sehingga dia terduduk.


“Lagian gue juga nggak tertarik sama lo.”


Vian bergidik. “Ngomog-ngomong ini beneran buat gue?” dia yang awalnya menolak


di belikan mobil mendadak heboh.


“Iya, biar lo buruan dapat cewek kalau


udah bawa mobil keren.” Goda Gilang.


“Wah.. kalian sangat merendahkan gue.


Memangnya kalian pikir gue  mampu apa


beli mobil seperti ini.” Katanya dengan sangat semangat namun arti


membagongkan.


“Muka lo.!” Gilang melempar wajah Vian


dengan bantal.


“Gita, telpon lo tuh bunyi terus angkat


kenapa?” Fara menggoyang-goyangkan tubuh Gita yang masih tertidur lelap.


“Ya ampun siapa sih yang mengganggu


tidur gue.” Gita mencoba mencari ponselnya yyang terus berdering.


mengangkat telponnya, “Halo, maaf salah sambung.” Katanya lalu menutup


ponselnya. Tak selang lama dia memutus ponselnya sudah berderig lagi.


“Ya ampun, sepertinya gue nggak punya


pinjaman online kenapa gue terus di telpon.” Gita duduk dan mengangkat


telponnya lagi.


“Halo, siapa sih gangguin saja. Saya


bilangin sama kamu ya, saya nggak mau pinjamannya. Dan jangan hubungi saya lagi


atau saya akan laporkan polisi.” Katanya.


“Heh..! Gita Saqueena.. bangun ngelantur


saja.” Gilang berteriak membuat Gita tersadar.


“Eh..” Gita menarik ponselnya dari telingannya.


“Kak Gilang..” Gita nyengit seperti tersambar pertir di siang bolong hingga dia


bisa tersadar.


“Kamu masih tidur saja, udah mandi


belum?” tanya Gilang.


“He..he..he.. belum, baru juga bangun.”


“Ya sudah buruan kamu mandi, sekalin


Fara juga suruh mandi dan siap-siap. Kamu mau calon suami kamu ini kelaparan?”


kata Gilang.


“Iya sayang..iya..iya. beri waktu Gita


setengah jam untuk mandi, dan juga ganti pakaian.” Kata Gita.


“Baiklah, aku tunggu di depan.”


Gita dan Fara sudah terlihat segar,


mereka berdua langsung keluar untuk makan malam, meskipun sedikit terlambat karena


Gita dan Fara ketiduran.


“Nyonya-nyonya lelet, perut gue udah


kosong nih. Lo pada molor muluk.” Vian mulai mengoceh.


“Brisik lo, kayak belum pernah makan


setahun saja.” Kata Gita.


“Emang.”


“Berantem terus, kapan kita mau jalan


coba.” Kata Gilang.


“Vian tuh mulai..”


“Gue lagi..”


“Udah yuk buruan.” Gilang menggandeng


tangan Gita.


Gita dan Fara sangat takjub melihat


tempat makan di hotel itu sangat indah, dan terlihat mewah. Mereka juga bisa


melihat dan mendengar deburan ombak disana.


“Nuansanya romantis banget nih, kita


nggak akan di tinggal bucin kan?” Fara sudah mencium bau-bau keromantisan dari


segi penataan tempat.


“Nggak, siapa juga yang mau bucin.


Sebenarnya gue mau kasih hadiah sama lo karena selama ini menjaga Gita buat


gue.” Kata Gilang.


“Nih gue juga udah dapat hadiah dari Kak


Gilang.” Vian memamerkan kunci mobil.


“Hadiah apaan?” Tanya Fara.


“Hadiah yang sangat spesial, dan tidak


akan pernah lo lupain seumur hidup lo.” Kata Gilang, membuat Fara sangat


penasaran.


“Kok kamu nggak bilang-bilang mau kasih


hadiah sama Fara.” Mendadak Gita merasa sedikit  cemburu karena Gilang tidak membahas apa-apa


dengan dirinya.


“Ya kan suprize, lo kan nggak bisa jaga


rahasia kalau sama Fara. Ya ada gagal semua surprizenya.”


Gita terdiam, dia kelihat kecewa dengan


Gilang namun dia berusaha menutupinya. Gilang yang melihat perubahan ekspresi


Gita langsung menggandengnya. Namun Gita melepasnya, dia tak mau di gandeng dan


bergeser berdiri di samping Vian.


“Ok, sebelum kita duduk dan menikmati


makan disini gue akan berikan hadiahnya. Hadiah buat Fara silahkan masuk.” Seru


Gilang.


 Raka keluar, dia berjalan sembari tersenyum ke arah Fara dan juga Gita. Gita yang sempat cemburu langsung tersenyum dan merasa bersalah kepada Gilang karena sempat berpikir mencurigainya ada sesuatu dengan sahabatnya sendiri.