
Fara sudah share tempat dimana dia
menaktir teman-temannya, dia mencarikan tempat yang sangat enak dan nyaman
untuk nongkrok. Selain itu dia juga memesankan makan-makanan yang enak.
“Raka, gue bareng lo ya.” Gita masuk ke
kamar Raka.
“Lo nggak bareg Gilang?” Raka menoleh.
Tidak biasanya Gita berangkat tanpa Gilang.
“Ya kan kita setu rumah satu tujuan
pula, daripada Kak Gilang harus muter-muter kan.” Gita beralasan lagi.
“Baiklah, buruan gih ganti baju biar
nggak kemalaman.”
“Ok.” Gita bergegas berganti baju.
Gita sudah tidak ingin terlihat cantik
seperti biasanya lagi, dia berdandan seadanya. Kaos polos di padu dengan rok
pendek di atas siku tak lupa dia memakai jaket agar tidak kesinginan.
Raka memandang Gita dari ujung rambut
sampai ujung kepala, dia merasa aneh belakanga ini dengan tingkah Gita,
“Kenapa?” tanya Gita.
“Nggak biasanya lo mau pergi begini,
biasanya pakai lipstik dan benda-benda apa itu gue nggak tahu. Sekarang lo Cuma
pakai parfum sama lotion doang kan.” Tebak Raka.
“Iya, gue lagi mager aja. Lagian buat
siapa gue dandan.” Ucapanya merendah. Gita keluar dulu sebelum Raka terus
mengomentari dandananya kali ini.
“Susah di tebak ini emang adik gue.”
Raka menggelengkan kepala, Raka buru-buru menyusul saat sudah membunyikan
klakson.
Fara melambaikan tangan saat melihat
Gita dan Raka mencari keberadaanya bersama yang lain.
“Raka, Gita. Disini.” Seru Fara.
Gita semakin melambatkan langkah kakinya
saat melihat Gilang, dia harusnya menghindar tapi dia juga tidak mungkin
meninggalkan acara Fara. Gita mencolek Vian agar dia pindah ke sebelah Gilang
dan dirinya di tengah-tenagn anatara Fara dan Anita. Raka merasa ada yang
janggal dengan Gita sama Gilang.
“Lo kenapa nggak duduk di sebelah Kak
Gilang.” Bisik Fara.
“Nggak apa-apa, lagi pingin saja duduk
bersama kalian.” Jawab Gita sambil tersenyum kecil.
“Kalian nggak lagi berantem kan?”
Gita terdiam sebentar, lalu
menggelengkan kepala dengan cepat. Sebisa mungkin dia akan menutupi masalahnya
sampai Gilang sudah berangkat.
“Ada acara apa? Kenapa mengumpulkan kita
semua?” tanya Bayu.
“Gue membuat acara ini sebagai
perpisahan buat kakak-kakak tercinta kita pergi ke universitas. Dan juga gue
beritahu kalain kalau gue sama Raka sekarang sudah jadian.” Fara menggandeng
tangan Raka lalu mengangkatnya ke atas.
“Waah...” Seru meraka bersamaan.
“Jadi selama ini kalian diam-diam
menyimpan perasaan ya.” Kata Anita.
“Gue sih nggak begitu kaget, gue sudah
curiga semenjak putus Raka nempel saja sama Fara.” Kata Vian.
“Dan sekarang pasangan kita tinggal lo
doang yang jomblo.” Fara mengejek Vian.
“Sialan lo, lihat saja sebentar lagi gue
punya cewek empat.”
“Tenang saja gue temani lo kok, gue juga
jomlo sekerang.” Gilang merangkul Vian. Dan ucapan Gilang membuat
sahabat-sahabatnya bengong.
“Maksud lo apa Lang?” tanya Bayu.
“Kalian putus?” Fara melihat ke arah
Gilang lalu Gita. Gita mengangguk pelan, dia menmbenarkan ucapan Fara.
“Jangan ngadi-ngadi deh, Kalian berdua
pasti ngeledek gue.” Vian menurunkan tangan Gilang dari pundaknya.
“Kenapa kalian putus, selama ini kalian terlihat baik-baik saja.” Kata Anita.
“Oiya sekalian gue mau pamit sama kalian
minggu besok gue bakalan berangkat ke Australia.” Kata Gilang.
“Minggu besok, kenapa begitu cepat.”
Batin Gita, dia pikir masih ada waktu beberapa hari untuk bisa melihat Gilanga.
“Lo jadi ambil beasiswanya?” Bayu kaget.
“Yah, gue pikir sayang menyia-nyiakan
kesempatan emas ini. Dan lo tahu kan kalau beasiswa ini sudah gue tunggu sejak
lama.” Kata Gilang dengan nada datar.
“Tunggu, ini kenapa bisa begini. Dan apa
alasan kalian putus?” Fara tidak memperdulikan Gilang mau berangkat atau tidak.
Yang dia ingin tahu alasan mereka putus.
“Tanya saja sama sahabat lo itu.” Gilang
menatap Gita tajam, Gita langsung menundukan kepalanya.
“Gita, apa yang lo lakuin dan gue nggak
tahu?” Tanya Raka.
“Gue..” Gita menggigit bibir bawahnya
dia bingung mengatakannya. Dia juga takut kalau Raka tiba-tiba meledak.
“Lo kenapa?” Raka sudah tidak sabar
mendengar jawaban dari Gita.
“Gue sebenarnya dulu sudah punya pacar,
dan Kak Gilang menjadi yang kedua. Selama ini gue pura-pura menjadi pacarnya
hanya untuk memanfaatkannya.” Jalas Gita pelan.
“Gita gue nggak nyangka lo setega itu
sama Kak Gilang.” Anita menggelengkan kepalanya, dia tidak percaya dengan
pengakuannya.
“Mana cowoknya biar gue kasih pelajaran.”
Vian emosi.
“Kenapa lo kasih pelajaran sama dia,
mereka saling suka dan bahagia. Gue yang terlalu bodoh disini. Sudahlah gue
cabut dulu, gue harus membereskan barang-barang gue.” Kata Gilang.
Gita menggenggam tangannya erat, dan
menangis hatinya tersaya sakit melihat orang yang dulu mencintainya sekarang
membencinyta, dan itu ulah dia sendiri.
“Gita gue sama lo, bisa-bisanya lo
melakukan itu sama Kak Gilang.” Cerocos Fara.
“Kurang apa sih Kak Gilang sama lo, baik
sudah, sayang sudah, bahkan dia rela melepas impiannya. Eh..malah lo buat dia
begini.” Omel Anita.
“Terus gue harus bagaimana?” Ucap Gita
sambil menangis keras. Dan membuat yang lain tambah bingung.
“Apa yang terjadi?” Raka memutar tubuh
Gita. Gita hanya bisa menangis belum
bisa menjelaskan sebenarnya yang terjadi.
“Raka.” Gita memeluk erat Raka, dia
menangis sejadinya di peluka Raka.
“Gue percaya sama lo, katakan.” Raka
berpikir kalau semua ini hanya akal-akalan Gita saja. Fara, Anita, Vian dan
Bayu masih bingung dengan yang terjadi.
“Gita, apa ini ada hubunganya sama
beasiswa Gilang.” Tebak Bayu. Gita melepaskan pelukan Raka, dia mengangguk
pelan.
Gita mengusap air matanya yang terus
mengalir, Gita mau menjelaskan namun dadanya terlalu sesak membuat dia susah
berbicara.
“Jadi cerita selingkuh itu lo bohong.”
Kata Fara.
Gita mengangguk, “Tentu saja bohong,
mana mungkin gue berkhianat.”
“Terus apa alasannya lo melakukan ini.”
“Mamanya Kak Gilang meminta gue membujuk
Kak Gilang, dan kalian tahu kan Kak Gilang nggak bakalan mau pergi. Dan hanya
ini jalan satu-satunya, kalau dia putus dari gue jadi tidak ada lagi yang
menahanya dia disini.”
“Tindakan lo nggak benar Git, lo nggak
hanya akan kehilangan dia saja tapi lo bakalan di benci semumur hidup Kak
Gilang.” Kata Anita.
“Terus gue bisa apa, melihat seorang ibu
yang sudah berkorban banyak hal, dan berharap tinggi pada putranya. Apa gue
bisa melihat kecewanya hanya karena kedatangan gue.” Jelas Gita dengan
sesengukan.
“Sudah..sudah cukup. Kendalikan diri lo.”
Raka menarik Gita dalam pelukannya dan meminta yang lain jangan membahasnya
lagi.