Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
merelakan II


 Fara sudah share tempat dimana dia


menaktir teman-temannya, dia mencarikan tempat yang sangat enak dan nyaman


untuk nongkrok. Selain itu dia juga memesankan makan-makanan yang enak.


“Raka, gue bareng lo ya.” Gita masuk ke


kamar Raka.


“Lo nggak bareg Gilang?” Raka menoleh.


Tidak biasanya Gita berangkat tanpa Gilang.


“Ya kan kita setu rumah satu tujuan


pula, daripada Kak Gilang harus muter-muter kan.” Gita beralasan lagi.


“Baiklah, buruan gih ganti baju biar


nggak kemalaman.”


“Ok.” Gita bergegas berganti baju.


Gita sudah tidak ingin terlihat cantik


seperti biasanya lagi, dia berdandan seadanya. Kaos polos di padu dengan rok


pendek di atas siku tak lupa dia memakai jaket agar tidak kesinginan.


Raka memandang Gita dari ujung rambut


sampai ujung kepala, dia merasa aneh belakanga ini dengan tingkah Gita,


“Kenapa?” tanya Gita.


“Nggak biasanya lo mau pergi begini,


biasanya pakai lipstik dan benda-benda apa itu gue nggak tahu. Sekarang lo Cuma


pakai parfum sama lotion doang kan.” Tebak Raka.


“Iya, gue lagi mager aja. Lagian buat


siapa gue dandan.” Ucapanya merendah. Gita keluar dulu sebelum Raka terus


mengomentari dandananya kali ini.


“Susah di tebak ini emang adik gue.”


Raka menggelengkan kepala, Raka buru-buru menyusul saat sudah membunyikan


klakson.


Fara melambaikan tangan saat melihat


Gita dan Raka mencari keberadaanya bersama yang lain.


“Raka, Gita. Disini.” Seru Fara.


Gita semakin melambatkan langkah kakinya


saat melihat Gilang, dia harusnya menghindar tapi dia juga tidak mungkin


meninggalkan acara Fara. Gita mencolek Vian agar dia pindah ke sebelah Gilang


dan dirinya di tengah-tenagn anatara Fara dan Anita. Raka merasa ada yang


janggal dengan Gita sama Gilang.


“Lo kenapa nggak duduk di sebelah Kak


Gilang.” Bisik Fara.


“Nggak apa-apa, lagi pingin saja duduk


bersama kalian.” Jawab Gita sambil tersenyum kecil.


“Kalian nggak lagi berantem kan?”


Gita terdiam sebentar, lalu


menggelengkan kepala dengan cepat. Sebisa mungkin dia akan menutupi masalahnya


sampai Gilang sudah berangkat.


“Ada acara apa? Kenapa mengumpulkan kita


semua?” tanya Bayu.


“Gue membuat acara ini sebagai


perpisahan buat kakak-kakak tercinta kita pergi ke universitas. Dan juga gue


beritahu kalain kalau gue sama Raka sekarang sudah jadian.” Fara menggandeng


tangan Raka lalu mengangkatnya ke atas.


“Waah...”  Seru meraka bersamaan.


“Jadi selama ini kalian diam-diam


menyimpan perasaan ya.” Kata Anita.


“Gue sih nggak begitu kaget, gue sudah


curiga semenjak putus Raka nempel saja sama Fara.” Kata Vian.


“Dan sekarang pasangan kita tinggal lo


doang yang jomblo.” Fara mengejek Vian.


“Sialan lo, lihat saja sebentar lagi gue


punya cewek empat.”


“Tenang saja gue temani lo kok, gue juga


jomlo sekerang.” Gilang merangkul Vian. Dan ucapan Gilang membuat


sahabat-sahabatnya bengong.


“Maksud lo apa Lang?” tanya Bayu.


“Kalian putus?” Fara melihat ke arah


Gilang lalu Gita. Gita mengangguk pelan, dia menmbenarkan ucapan Fara.


“Jangan ngadi-ngadi deh, Kalian berdua


pasti ngeledek gue.” Vian menurunkan tangan Gilang dari pundaknya.


“Kenapa kalian putus, selama ini  kalian terlihat baik-baik saja.” Kata Anita.


“Oiya sekalian gue mau pamit sama kalian


minggu besok gue bakalan berangkat ke Australia.” Kata Gilang.


“Minggu besok, kenapa begitu cepat.”


Batin Gita, dia pikir masih ada waktu beberapa hari untuk bisa melihat Gilanga.


“Lo jadi ambil beasiswanya?” Bayu kaget.


“Yah, gue pikir sayang menyia-nyiakan


kesempatan emas ini. Dan lo tahu kan kalau beasiswa ini sudah gue tunggu sejak


lama.” Kata Gilang dengan nada datar.


“Tunggu, ini kenapa bisa begini. Dan apa


alasan kalian putus?” Fara tidak memperdulikan Gilang mau berangkat atau tidak.


Yang dia ingin tahu alasan mereka putus.


“Tanya saja sama sahabat lo itu.” Gilang


menatap Gita tajam, Gita langsung menundukan kepalanya.


“Gita, apa yang lo lakuin dan gue nggak


tahu?” Tanya Raka.


“Gue..” Gita menggigit bibir bawahnya


dia bingung mengatakannya. Dia juga takut kalau Raka tiba-tiba meledak.


“Lo kenapa?” Raka sudah tidak sabar


mendengar jawaban dari Gita.


“Gue sebenarnya dulu sudah punya pacar,


dan Kak Gilang menjadi yang kedua. Selama ini gue pura-pura menjadi pacarnya


hanya untuk memanfaatkannya.” Jalas Gita pelan.


“Gita gue nggak nyangka lo setega itu


sama Kak Gilang.” Anita menggelengkan kepalanya, dia tidak percaya dengan


pengakuannya.


“Mana cowoknya biar gue kasih pelajaran.”


Vian emosi.


“Kenapa lo kasih pelajaran sama dia,


mereka saling suka dan bahagia. Gue yang terlalu bodoh disini. Sudahlah gue


cabut dulu, gue harus membereskan barang-barang gue.” Kata Gilang.


Gita menggenggam tangannya erat, dan


menangis hatinya tersaya sakit melihat orang yang dulu mencintainya sekarang


membencinyta, dan itu ulah dia sendiri.


“Gita gue sama lo, bisa-bisanya lo


melakukan itu sama Kak Gilang.” Cerocos Fara.


“Kurang apa sih Kak Gilang sama lo, baik


sudah, sayang sudah, bahkan dia rela melepas impiannya. Eh..malah lo buat dia


begini.” Omel Anita.


“Terus gue harus bagaimana?” Ucap Gita


sambil menangis keras. Dan membuat yang lain tambah bingung.


“Apa yang terjadi?” Raka memutar tubuh


Gita.  Gita hanya bisa menangis belum


bisa menjelaskan sebenarnya yang terjadi.


“Raka.” Gita memeluk erat Raka, dia


menangis sejadinya di peluka Raka.


“Gue percaya sama lo, katakan.” Raka


berpikir kalau semua ini hanya akal-akalan Gita saja. Fara, Anita, Vian dan


Bayu masih bingung dengan yang terjadi.


“Gita, apa ini ada hubunganya sama


beasiswa Gilang.” Tebak Bayu. Gita melepaskan pelukan Raka, dia mengangguk


pelan.


Gita mengusap air matanya yang terus


mengalir, Gita mau menjelaskan namun dadanya terlalu sesak membuat dia susah


berbicara.


“Jadi cerita selingkuh itu lo bohong.”


Kata Fara.


Gita mengangguk, “Tentu saja bohong,


mana mungkin gue berkhianat.”


“Terus apa alasannya lo melakukan ini.”


“Mamanya Kak Gilang meminta gue membujuk


Kak Gilang, dan kalian tahu kan Kak Gilang nggak bakalan mau pergi. Dan hanya


ini jalan satu-satunya, kalau dia putus dari gue jadi tidak ada lagi yang


menahanya dia disini.”


“Tindakan lo nggak benar Git, lo nggak


hanya akan kehilangan dia saja tapi lo bakalan di benci semumur hidup Kak


Gilang.” Kata Anita.


“Terus gue bisa apa, melihat seorang ibu


yang sudah berkorban banyak hal, dan berharap tinggi pada putranya. Apa gue


bisa melihat kecewanya hanya karena kedatangan gue.” Jelas Gita dengan


sesengukan.


“Sudah..sudah cukup. Kendalikan diri lo.”


Raka menarik Gita dalam pelukannya dan meminta yang lain jangan membahasnya


lagi.