
Raka berjalan mendekati Fara yang masih ngelag melihat kedatangan kekasihnya itu.
"Hai semua, apa kabar?" kata Raka sambil melambaikan tangannya.
"Kamu kok disini?" tanya Fara.
"Iya, biar suprize." Kata Raka sambil menarik tangan Fara dan mendekapnya dalam pelukannya.
"Terus kamu kenapa hp nggak aktiv, kamu ngilang begitu saja. Kamu nggak tega banget sama aku." Fara memukul dada Raka dan melepaskan pelukan Raka. Dia sangat kesal sama Raka, telah di buatnya cemas.
Raka menaruh jari telunjuknya di bibir, dia kemudin berlutut di hadapan Fara.
"Kamu memang bukan cewek pertama di hidup aku, tapi kamu akan sealu menjadi yang paling aku sayang baik sekarang, besok, dan selamanya. Sampai ajal menjemput kita dan hidup bahagia selamanya. Jadi maukah kamu mejadi istri aku, dan menemaniku dalam keadaan suka dan duka?" Raka membuka kotak merah berisikan cincin permata yang sudah ia siapan.
Fara melongo lalu menutup mulut dengan kedua tangannya. Dia belum bisa menjawab karena bingung.
"Sayang.." Panggil Raka sambil memegang tangannya.
"Kamu yakin, aku bukan cewek anggun yang bisa berdandan cantik. Gue nggak bisa masak, dan bahankan gue juga ceroboh. Lo apa nggak pusing menghadapi dua wanita dengan dua kepribadian yang sama dalam sehari-hari.
"Kenapa pusing kalian itu adalah anugerah terindah yang Tuhan kirimkan untukku, alu kenpa harus pusing. Lagian nih Gita juga sudah ada pawangnya." Kata Raka.
Fara melihat kearah teman-temanny, mereka semua memberian anggukan. Fara kembali menatap Raka lekat.
"Ya, aku mau menjadi istri kamu." Kata Fara dengan air mata yang menetes. Tak hanya Fara yang menangis Gita pun tak kuasa menahan air mata kebahagiaannya.
Raka memakaikan cincinya ke jari manis Fara, kemudian dia kembali memeluk erat gadis pujaan hatinya itu.
Gilang bergeser mendekati Gita, dia menggandeng tangan Gita. Kali ini Gita tidak melepasnya lagi karena hadiah buat Gita itu Raka. Bukan sesuatu hal yang memicu mereka saling memiliki perasaan.
"Selamat ya Raka, gue nggak nyangka cowok begajulan kayak lo bisa mendapatkan pasangan lebih dulu." Vian memberikan selamat untuk Raka.
"Makasih Vian, lo buruan cari apa nggak iri lo lihat kami bermesraan terus." Raka meminta Vian untuk mencari pasangan.
"Iya, buat gandengan tuh pas nikahan Raka." Kata Gilang.
"Udah deh jangan pada suruh gue cari pacar. Ngurusin mereka berdua bikin pala gue pening. Dan harus mencari lagi pacar, bisa hacur kepala gue. Enjoy saja nikmati segala hal yang nggak bisa di nikmati saat sudah punya pacar apa lagi menikah." celoteh Vian.
"Alasan lo sok bijaksana padahal karena lonya aja yang nggak laku." ejek Fara.
"Mulut lo ya, eh asal lo tahu ya pesona gue itu lebih-lebih hebat dari Raka ataupun Gilang. Hanya saja pesona gue itu terpendam dan gue lupa pendam dimana." jawabnya sambil terkekeh.
Gita melepaskan pegangan tangan Gilang lalu berlari memeluk Raka. Kakak yang selama ini melindunginya, menjaganya kini sudah sangat dewasa karena berani melamar seorang gadis.
"Raka, gue masih nggak percaya lo melawar Fara. Lo sudah beranjak dewasa sekali, gue harap saat kalian menikah tidak menghilangkan rasa cinta lo sama gue." Gita menangis.
"Tenang saja, lo adalah adik gue paling gus sayang. Mana mungkin aku bisa melupakan lo." jelas Raka sambil mengusap air mata Gita.
Rasa harus sudah berakhir, sekarang yang tersisa rasa lapar yang sangat luar biasa di dalam perutnya.
...♤♡♡♡♤...
Gilang menjajak Gita pergi melipir setelah makan-makan mereka selesai. Mereka berdua jalan-jalan di area hotel menikmati keindahan malam yang sangat tenang. Gita bergelayutan manja dengan Gilang.
"Kenapa kamu marah tadi?" tanya Gilang.
"Iya, saat aku mau memberikan hadiah buat Fara. Wajah lo di tekuk saja mana nggak mau di gandeng." Protes Gilang.
"Ah..tentu saja aku kesal, bagaiamana kalau kamu sampai memberikan sesuatu beserta hati kamu. Kamu hampir saja membuat hati aku kecewa." Gita manyun.
"Mana mungkin, lagian kamu bisa-bisanya cemburu sama sahabat kamu sendiri." kata Gilang sambil mengacak-acak rambut Gita.
"Kamu nggak tahu, justru orang terdekatlah yang sangat berbahaya karena sudah tahu semuanya. Jadi dia tahu darimana mereka akan menyusup." kata Gita.
"Kamu nggak percaya sama Fara?"
"Aku percaya banget sama Fara, tapi tidak sama kamu." Kata Gita sambil melepaskan genggaman tangan Gilang.
Gita tertawa sembari berjalan lebih dulu agar tidak di jewer sama Gilang.
"Kamu ya, sini jangan lari." Gilang berlari mengejar Gita.
Gilang menangkap Gita lalu memeluknya erat Gita dari belakang, "Siapapun dia yang datang dalam kehidupan aku dengan menunjukan sebesar apa cintanya di hadapanku, aku tidak peduli. Karena seluruh cintaku hanya untuk kamu." Bisik Gilang di telinga Gita.
"Gombal banget." Gita tersenyum.
"Kamu selalu saja tidak percaya sama aku." Gilang memutar tubuh Gita.
"Iya. Memang tidak percaya." Gita menggoda Gilang.
"Berani ya meragukan cintaku." Gilang menarik tubuh Gita dengan tangan kirinya hingga sangat dekat denganya
Gilang memegang dagu Gita, lalu perlahan memajukan wajahnya hingga mendekat. Dia ingin memberikan kecupan kecil di bibir Gita yang selalu saja menggodanya.
Bibir yang terasa lembut dan manis yang sangat membuatnya kecanduan. Gilang menempelkan bibirnya ke bibir Gita. Gita langsung memejamkan matanya, merasakan hembusan angin lembut malam yang menyapu wajahnya. Moment romantis yang jarang banget dia dapat, dan dia ingin menikmatinya malam ini.
"Terus... bucin...terus.." kata Vian dari jauh. Gita langsung membuka matanya dan menarik diri dari Gilang.
"Lo ngapain sih disini." kata Gilang sedikit kesal. belum juga mencium Gita sudah saja mengganggunya.
"Nih ya kalau berdua-duaan tuh yang ketiga setan." Kata Vian berada di tengah-tengaj antara Gita dan Gilang.
"Lo itu sentanya."
"Ngegas, kenapa wajah Gita merah begitu?" tunjuk Vian.
"Nggak ini karena panas saja." Jawab Gita sembari memalingkan wajahnya.
"Kalian berdua lagi ngapain kok panas, gue saja kedinginan. Kalian pasti ini itu ya.." Vian menunjuk Gilang lalu Fara.
"Memang kita sedang ini itu dan lo datang kesini sangat mengganggu." Kata Gilang sengaja buat Vian melebarkan kedua matanya.
"Kalian ciuman erotis ya?" tuduh Vian.
Plaaaaakkkk! Gita langsung memukul punggung Vian yang bicara seenaknya. Vian nyengir menahan pukulan Gita yang luar biasa sampai perih rasa punggungnya.
"Harusnya sangat erotis, baru mau mulai lo datang gagal donk."
"Sayang.." Gita mendelik ke arah Gilang, bisa-bisanya dia mengiyakan ucapan Vian. Gita panik, takut Vian percaya omongan dari Gilang.