
Gita masuk ke kamarnya dengan basah
kuyup, dia menutup pintu kamar lalu berdiri dengan wajah yang masih shock. Tubuhnya gemetar. Dia tidak tahu kalau sampai Farhan benar-benar berhasil melakukannya. Gita pasti akan langsung bunuh diri.
“Gita lo basah kuyup begitu, kenapa
nggak neduh dulu.” Fara mengambilkan handuk untuk Gita.
Gita masih tidak bergeming otaknya masih
memikirkan perlakuan Farhan yang tidak senono itu, cowok yang sangat populer di
kampusnya itu ternyata bajingan. Dia ingin merenggut barang berharga yang dia miliki.
Fara memakaikan handuk ke tubuh Gita,
“Git, lo kenapa diam saja?” Fara bingung Gita tidak ada respon sama sekali.
Gita menatap Fara nanar lalu memeluk
Fara, di dalam pelukan Fara Gita menangis sesenggukan.
“Gita lo kenapa menangis? Cerita sama gue
siapa yang mengganggu lo biar gue beri pelajaran dia.” Kata Fara dengan cemas.
Gita masih saja tak bisa berhenti
menangis, rasa takut menyeruak di dalam dirinya. Fara menenangkan Gita dan
memintanya dia untuk berganti baju dahulu baru menceritakan masalah yang menimpa
dirinya.
Selesai ganti baju Gita duduk sambil
memegangi kedua kakinya, dia menatap depan lurus dengan air mata yang masih
saja menetes.
Fara menyodorkan teh hangat yang baru
saja di buatnya, Gita menerimanya lalu meneguknya perlahan.
“Lo sudah bisa cerita sekarang?”tanya
Fara. Gita mengangguk sembari mengusap air matanya.
“Fara, kenapa orang menjadi jahat karena
tidak bisa menggapai apa yang dia inginkan, bahakan menghalalkan segela cara untuk mendapatkannya.” Kata Gita dengan masih terisak.
“Obsesi. Jiwa orang itu sudah terganggu,
dengan kegagalannya itu membuat dia merasa harus memilikinya. Bahkan dia rela
malukan apapun meskipun itu melawan hukum. Dia sudah tidak peduli, kita harus
hati-hati sama orang seperti itu. Lalu apa yang sebenarnya terjadi sama lo?”
“Kak Farhan, dia hampir saja memp..”
Gita tak sanggup mengatakan itu. Terlalu sakit untuk di ucap dan di dengarnya.
“Apa?” Fara menganga, dia tahu apa yang
di maksud dengan Gita. "Kak Farhan melakukan itu?" ada rasa tidak percaya di benak Fara. Seorang Farhan yang sangat di bangga-bangakan melakukan hal menjijikan.
Gita mengangguk lalu kembali menangis
lagi, “Gue mau pulang Far.”
Fara memeluk Gita, “Besok kita pulang
Git, tapi bagaimana bisa dia melakukan itu?” Fara masih penasaran dengan alasan Farhan yang tidak sopan itu.
“Dia menyatakan perasaanya sama gue, dan
gue menolak. Dan penolakan gue itu membuat dia menjadi seperti itu. Gue takut
Fara..” Gita kembali terisak. Saking takutnya Gita nggak mau kekuar dan bertemu dengan Farhan lagi.
“Lo tenang Git, gue akan selalu ada di
samping lo sekarang. Jadi tidak akan ada orang yang berani mengganggu lo.”
Fara memeluk erat Gita, dia mengelu punggung Gita agar dia lebih tenang dan
merasa nyaman bersamanya.
Tuk..tuukkkk pintu kamar terketuk pelan,
Fara mengusap lengan Gita lalu beranjak untuk membuka kan pintu.
“Waktunya makan.” Kata Vian.
“Gue sama Gita nggak makan dulu deh.”
Kata Fara.
“Kenapa?” Vian heran mendengar kedua sahabatnya tidak mau makan.
“Em..Gita sedang tidak enak badan.” Fara
coba membuat alasan agar tidak ikut makan bersama.
“Tunggu sebentar.” Vian pergi ke dapur
untuk mengambil jatah makan mereka bertiga. Tak lupa dia juga membawa minum
agar tidak bolak-balik.
Sepuluh menit kemudian Vian sudah berada
di kamar dengan membawa makan malam, minum dan juga beberapa buah yang dia
minta dari teman yang lain.
"Taraaa... makanan datang." Vian duduk di depan Fara dan Gita.
"Lo ngapai bawa makanan ke kamar, gue lagi nggak mau makan." kata Gita.
“Minum susu lo dulu deh.” Vian
memberikan segelas susu hangat kepada Gita. Dia tidak mendengarkan perkataan Gita.
“Buat gue nggak ada?” Tanya Fara.
“Ada donk, gue tidak akan membedakan kedua sahabat tercantikku ini." Vian mengambilkan satu gelas susu hangat juga untuk Fara.
Makasih.” Jawab Gita. Dia mencoba biasa
agar Vian tidak curiga, dia takut kalau sampai mengadu sama Gilang. Dia tidak
mau Gilang emosi dan lost control, dia pasti akan menghajar Farhan habis-habisan.
“Gue lihat lo lari-lari saat hujan, dan
terlihat sambil menangis. Apa yang terjadi?” tanya Vian sembari melihat ke arah Gita. Dia tahu Gita menyimpan sesuatu meskipun dia pura-pura baik-baik saja.
“Nggak, lo salah lihat kali.” Kata menyeruput susu hangatnya perlahan.
“Gue nggak salah lihat, apa Farhan
menyakiti lo?” Vian menebaknya, karena saat hujan turun Farhan lebih dulu menarik tangan Gita.
Gita dan Fara saling berpandangan,
mereka berdua bingung menjelaskan apa yang telah terjadi. Dia takut Vian juga
akan menghajar Farhan lebih dulu sebelum Gilang tahu dan membuat kegaduhan di desa orang.
“Katakan saja, gue akan menyimpan rahasia
ini.” Kata Vian.
Gita menunduk, air matanya kembali
menetes saat hendak menceritakan kejadian sial itu.
“Farhan mencoba merusak Gita, dia ingin
menodai Gita.” Kata Fara. Dia akhirnya tidak bisa menahanya untuk tidak bercerita.
“Bangsat!” Vian langsung berdiri.
“Vian..Vian... lo mau kemana?” Gita
menari tangan Vian.
“Gue mau memberi pelajaran cowok tidak
tahu diri itu, berani sekali dia memperlakukan lo seperti itu.” Emosi Vian sudah melebihi ubun-ubun, darahnya sudah memburu. Dia tak sabar menghajar Farhan.
“Jangan Vian, gue nggak apa-apa. Jangan
buat masalah ini menjadi panjang. Gue sudah nggak mau berurusan lagi dengan
dia.” Gita memohon.
Vian menyapu rambutnuya dengan tangan
kanannya, dia mengatur napasnya agar bisa melepaskan emosi yang sedang menggebu-gebu di dadanya itu.
...♤♡♡♡♤...
Pyaaaarrrrr! Gilang tidak sengaja
menyenggol gelas yang ada di sebelahnya. Dia buru-buru memberesinya dan tidak
sengaja lagi jari telunjuk kirinya terkena pecahan gelas hingga berdarah.
“Ada apa ini, kenapa perasaan gue jadi
tidak enak begini.” Ujarnya sambil berdiri menelpon cleaning servis untuk membersihkan pecahan gelas yang bekum kelar dia bersihkan.
Gilang mengobati lukanya, dia kemudian merebahkan tububnya setelah cleaning servis selesai membersikan pecahan Gelas.
“Kenapa masih belum menghubungi gue
juga, sudah sehari semalam dia pergi.” Katanya. Gilang mencoba menlpon Gita.
“Nomor yang anda tuju sedang tidak
aktif, silahkan mencoba beberapa saat lagi.”
Gilang semakin bingung Gita tidak bisa
di hubungi via whatsapp dan juga nomor biasa, Gilang juga tidak bisa
menghubungi Fara dan Vian.
“Hah.. kenapa tidak bisa di hubungi
semua sih bikin cemas saja.” Gilang mondar-mandir.
Tok..tok...
“Gilang.”
“Ya ma.” Gilang membukakakn pintu untuk
mamanya.
“Kamu belum tidur? Besok ada jadwal
pagi ketemu clien loh.” Kata Rima.
“Gilang nggak bisa tidur Ma, Gita masih belum memberi kabar sejak kemarin bahkan di hubungi juga susah. Terakhir dia memberi
kabar waktu dalam bus perjalanan kesana.” Ujar Gilang.
“Memangnya dia pergi kemana?”
“Ke daerah yang lumayan jauh dari
perkotaan katanya.”
“Mungkin susah sinyal disana, kamu boleh
pulang duluan setelah ketemu clien besok biar sisanya besok mama yang menghendel. Kamu jemput menantu mama” Kata Rima.
Rima meminta Gilang untuk menjemput Gita. Dia juga ikut panik takut Gita kenapa-napa.
Gilang menelpon Wanda untuk menanyakan
bagaimana keadaan Gita, namun ternyata sama mama mertuannya juga belum menerima kabar dari Gita.
“Sayang, bikin cemas saja sih lo.” Gumam
Gilang sambil meletakkan ponsel di sebelahnya.
Dia ingin segera memejamkan matanya dan
pagi tiba, dia sudah tidak sabar untuk menjemput Gita. Kejadian ini membuat
dirinya tidak akan mengijinkan lagi Gita pergi lama dan jauh dari dirinya.