
Gita melihat jam di tangan kirinya, dia
lalu berlari sekuat tenaga lima menit lagi pukul delapan. Dan kalau sampai dia
telat semenit pun maka akan kena omelah dari Lila dan tentunya akan kena surat
peringatan lagi. Gita berlari mendahului Fara yang juga sedang mengejar absen.
“Gita.. gue duluan!” Teriak Fara sembari
mempercepat larinya.
“Tidak bisa, gue dulu!” Gita tidak mau
kalah, dia juga ikut mempercepat larinya.
Gita dan Fara sudah sejajar, mereka
berusaha meempelkan jari telunjuknya. Dan... Gita lebih dahulu darai Fara. Fara menghela napas panjang, karena dia juga
tidak terlambat.
“Syukur deh kita nggak terlambat.” Kata
Gita terengah-engah.
“Iya, lo sekarang larinya cepat banget.
Gue nggak kuat mengejar lo.”
“Heey... kalian berdua?!” Teriak Win
yang terjatuh di lantai.
“Mas Win, ngapain duduk-duduk di lantai.
Kan ada kursi.” Kata Gita.
“Iya, Mas Win kantor udah menyediakan
fasilitas kursi bagus-bagus malah di anggurin.” Tambah Fara.
Win greget, dia bangkit dari duduknya.
Dia berjalan mendekati Gita dan Fara lalu menjewer mereka.
“Ahh.. Mas Win kenapa jewer kita.” Gita
menahan tangan Mas Win.
“Kalian nggak melihat apa ada orang
segede ini, main tabrak dan injak. Orang ini bukan keset welcome.” Omel Win.
“Maaf Mas Win, tadi itu kan lari dari
luar dan yang aku lihat cuma absen, yang lain nggak kelihatan. Blurr..” Kata
Gita sambil tertawa kecil.
“Kalian berdua ya memang.” Win melepaskan jewerannya, dia mengajak Gita
dan Fara berjalan bareng ke ruangannya.
Gita menarik kursinya, dia siap untuk
melanjutkan proyek yang sedang di kerjakan. Dia tinggal menyelesaikan sedikit
lagi dan menyerahlan proyeknya. Dan setelah proyek ini finish maka bonus akan
turun dan bisa mengambil proyeknya lain lagi.
Tak! Gita menekan tombol enter dengan
sangat keras setelah menyelesaikan semuanya.
“Akhirnya kelar juga deh.” Gita
meregangkan kedua tangannya.
“Sip, tinggal serahkan sama bos. Bonus
akan segera masuk ke kantong kita.” Seru Nino.
“Gue sudah nggak sabar mencium bau uang
bonus itu.” Kata Ina.
“Karena waktu sudah menunjukan pukul dua
belas waktunya kita cuss ke kantin makan siang.” Ajak Ina.
“Yuhuuu... makan siang.” Gita menyeruput
cappucino di sampingnya.
Win keluar ruangan sambil melipat kedua
tangannya sambil menyenderkan tubuhnya ke pintu. Kakinya pun menghalangi jalan
agar anak buahnya tidak keluar dulu. Dia tidak mau ada keributan lagi karena
team Ratna sedang lewat.
“Mas Win, ngapain sih di pintu.”
“Diam dulu di situ jangan keluar.” Kata
Win.
Dengan dilarangnya mereka keluar duluan
disitu membuat Gita dan yang lain penasaran. Awalnya Gita yang melongok keluar
lebih dulu, setelah itu diikuti yang lain dan Win tidak kuat menahan beban
berat ke lima anak buangnya.
“Buuughhhh...!” Mereka terjatuh dan
saling menimpa.
“Aduuh... sakit.” Kata Gita dan Fara
yang paling di bawah.
Team Ratna seketika tertawa melihat team
lawan terjatuh.
“Win, gue masih tidak percaya kalau
kalian mendapatkan proyek kali ini.” Ratna menggelengkan kepala. Dia masih
tidak percaya, kalau team yang konyol dan terlihat tidak meyakinkan.
“Memangnya kenapa dengan team kita?” Ina
tidak terima.
“Lihat saja.” Kata Ratna, dia mau Ina
menilai sendiri teamnya.
“Team gue baik-baik saja, bahkan lebih
baik dari team lo.” Ina menjulurkan lidah lalu meminta teman-temannya pergi
duluan ke kantin.
Setelah kehebohan di kantin selesai Gita
dan yang lain kembali ke ruangannya. Gita berdiri dengan kedua mata melotot,
tubuhnya merasa lemas saat melihat cappucinonya tumpah di laptopnya.
“Gimana nih?” Gita panik dia
menyingkirkan cup cappucinonnya.
“Kenapa Git?” Fara berlari mendekati
Gita. “Ya ampun, kok bisa?” Fara ikut kaget.
“Nggak tahu.” Gita mencoba menghidupkan
laptopnya namun tidak bisa hidup.
“Fara, gimana nih. Padahal gue belum
copy proyek kita di flah dist.” Gita mulai panik, tangannya berkeringat. Dia
takut mengacau semuannya dan di salahkan banyak orang.
keluarnya.” Kata Fara.
“Ada apa?” tanya Win.
“Mas
Win laptop Gita ketumpahan kopi, semua data kita ada di situ.” Kata Gita.
“Ya
ampun Gita, itu proyek kita pertama setelah sekian lama kita tidak dapat proyek.
Dan lo menghancurkannya.” Ina memarahi Gita.
“Gita
nggak tahu Mbak kenapa kopinya tumpah di laptop.”
“Waktunya
sudah sangat mepet, Gita gue nggak mau tahu lo harus tanggung jawab.” Kata
Nino. Dia menjadi emosi karna kecerobohan Gita satu team akan menanggung
semuannya.
“Sudah-sudah,
kalian jangan marahin Gita terus, harusnya kita pikirkan jalan keluarnya bukan
malah menyalahkan.” Kata Win.
”Tapi
Win, suda tidak ada waktu lagi untuk kita mencari solusi. Kita sudah di tunggu
di ruang rapat.” Jelas Nino.
Kedua
mata Gita berkaca-kaca, dia takut dan tidak enak dengan teamnya. Dia juga
bingung harus bagaimana lagi. Gita duduk
menunduk di ruang rapat, dia tidak berani memandang siapapun dan juga dia terus
memainkakn jari-jari tangannya.
“Selamat
siang semua, kita akan kembali membahas proyek terakhir kalinya. Silahkan Win
kamu bisa tunjukkan hasilnya.” Kata Gilang.
Win
mengatur napasnya, dia berdiri dan siap menanggung apa yang akan menimpannya
kali ini.
“Sebelumnya
saya minta maaf bos, karena semua data kami hiang.” Kata Win.
“Apa
hilang? Kok bisa?” Gilang kaget.
“Iya
Pak, saya nggak sengaja menumpahkan kopi di laptop jadi tidak bisa di buka.”
Win mengaku kalau dirinya yang salah, dia melakukan itu karena dia adalah ketua
dan bertanggung jawab atas semuanya.
“Win,
kamu sangat ceroboh sekali. Sekarang bagaimana kita bisa mengatakan sama
clien?” tanya Lila.
“Maaf
Mbak.” Win menundukan kepala.
“Ya
Tuhan Win, memang lo itu nggak pantas mendapatkan job seperti ini, baru juga berapa
persen jalan sudah di hancurkan. Bisa-bisa hancur perusahaan ini.” Kata Roy.
“Win,
saya sudah memberikan kepercayaan sama kamu, tapi kamu mengecewakan saya lagi.”
Gilang menatap Win sambil melipat kedua tangannya. nada bicaranya biasa namun
menakutkan bahkan tidak ada yang berani melihat ke arah Gilang.
“Maaf
Bos, saya siap menanggung resikonnya.”
“Apa
kamu siapa resign dari kantor ini dan juga menanggung jumlah kerugian kalau
clien menuntut karena keteledoran perusahaan kita?” tanya Lila.
Gita
kaget, ternyata hukuman sangat berat bukan lagi surat peringatan. Gita
mengeratkan genggamannya lalu berdiri.
“Maaf
Bos, ini semua bukan salah Mas Win tapi salah saya.” Kata Gita cepat. Dia tidak
mau Win menanggung kesalahan yang di perbuatnya.
“Kamu?”
Lila menunjuk Gita.
“Hah..
sudah ku duga anak baru yang tidak kompetan hanya akan mengacau perusahaan.”
Kata Roy.
“Terlalu
suka bermain-main, jadi terlalu menyepelekan pekerjaan.” Kata Catrin.
“Ratna,
apa kamu punya cadangan untuk proyek ini?” tanya Gilang.
“Bos..
bisa kah saya memperbaikinya dulu. Saya janji akan selesaikan dengan cepat.”
Gita memohon.
“Secepat
apa? Sepuluh menut, lima belas menit?” Tanya Gilang dengan mode datar.
Gita
menunduk sambil meggelengkan kepala, “Saya membutuhkan setengah hari.” Jawabnya
dengan bergetar.
“Gita
bisa tidak kamu berpikir dulu dalam bertindak, lihat siapa yang susah dengan
kecerobohan kamu?” kata Gilang.
“Maaf
Pak.”
“Baiklah
secara resmi saya pindahkan proyek ini ke tim Ratna.” Kata Gilang sambil
berjalan meninggalkan ruangan. Gilang kecewa dengan keteledoran Gita.