Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
keteledoran


Gita melihat jam di tangan kirinya, dia


lalu berlari sekuat tenaga lima menit lagi pukul delapan. Dan kalau sampai dia


telat semenit pun maka akan kena omelah dari Lila dan tentunya akan kena surat


peringatan lagi. Gita berlari mendahului Fara yang juga sedang mengejar absen.


“Gita.. gue duluan!” Teriak Fara sembari


mempercepat larinya.


“Tidak bisa, gue dulu!” Gita tidak mau


kalah, dia juga ikut mempercepat larinya.


Gita dan Fara sudah sejajar, mereka


berusaha meempelkan jari telunjuknya. Dan... Gita lebih dahulu darai Fara.  Fara menghela napas panjang, karena dia juga


tidak terlambat.


“Syukur deh kita nggak terlambat.” Kata


Gita terengah-engah.


“Iya, lo sekarang larinya cepat banget.


Gue nggak kuat mengejar lo.”


“Heey... kalian berdua?!” Teriak Win


yang terjatuh di lantai.


“Mas Win, ngapain duduk-duduk di lantai.


Kan ada kursi.” Kata Gita.


“Iya, Mas Win kantor udah menyediakan


fasilitas kursi bagus-bagus malah di anggurin.” Tambah Fara.


Win greget, dia bangkit dari duduknya.


Dia berjalan mendekati Gita dan Fara lalu menjewer mereka.


“Ahh.. Mas Win kenapa jewer kita.” Gita


menahan tangan Mas Win.


“Kalian nggak melihat apa ada orang


segede ini, main tabrak dan injak. Orang ini bukan keset welcome.” Omel Win.


“Maaf Mas Win, tadi itu kan lari dari


luar dan yang aku lihat cuma absen, yang lain nggak kelihatan. Blurr..” Kata


Gita sambil tertawa kecil.


“Kalian berdua ya memang.”  Win melepaskan jewerannya, dia mengajak Gita


dan Fara berjalan bareng ke ruangannya.


Gita menarik kursinya, dia siap untuk


melanjutkan proyek yang sedang di kerjakan. Dia tinggal menyelesaikan sedikit


lagi dan menyerahlan proyeknya. Dan setelah proyek ini finish maka bonus akan


turun dan bisa mengambil proyeknya lain lagi.


Tak! Gita menekan tombol enter dengan


sangat keras setelah menyelesaikan semuanya.


“Akhirnya kelar juga deh.” Gita


meregangkan kedua tangannya.


“Sip, tinggal serahkan sama bos. Bonus


akan segera masuk ke kantong kita.” Seru Nino.


“Gue sudah nggak sabar mencium bau uang


bonus itu.” Kata Ina.


“Karena waktu sudah menunjukan pukul dua


belas waktunya kita cuss ke kantin makan siang.” Ajak Ina.


“Yuhuuu... makan siang.” Gita menyeruput


cappucino di sampingnya.


Win keluar ruangan sambil melipat kedua


tangannya sambil menyenderkan tubuhnya ke pintu. Kakinya pun menghalangi jalan


agar anak buahnya tidak keluar dulu. Dia tidak mau ada keributan lagi karena


team Ratna sedang lewat.


“Mas Win, ngapain sih di pintu.”


“Diam dulu di situ jangan keluar.” Kata


Win.


Dengan dilarangnya mereka keluar duluan


disitu membuat Gita dan yang lain penasaran. Awalnya Gita yang melongok keluar


lebih dulu, setelah itu diikuti yang lain dan Win tidak kuat menahan beban


berat ke lima anak buangnya.


“Buuughhhh...!” Mereka terjatuh dan


saling menimpa.


“Aduuh... sakit.” Kata Gita dan Fara


yang paling di bawah.


Team Ratna seketika tertawa melihat team


lawan terjatuh.


“Win, gue masih tidak percaya kalau


kalian mendapatkan proyek kali ini.” Ratna menggelengkan kepala. Dia masih


tidak percaya, kalau team yang konyol dan terlihat tidak meyakinkan.


“Memangnya kenapa dengan team kita?” Ina


tidak terima.


“Lihat saja.” Kata Ratna, dia mau Ina


menilai sendiri teamnya.


“Team gue baik-baik saja, bahkan lebih


baik dari team lo.” Ina menjulurkan lidah lalu meminta teman-temannya pergi


duluan ke kantin.


Setelah kehebohan di kantin selesai Gita


dan yang lain kembali ke ruangannya. Gita berdiri dengan kedua mata melotot,


tubuhnya merasa lemas saat melihat cappucinonya tumpah di laptopnya.


“Gimana nih?” Gita panik dia


menyingkirkan cup cappucinonnya.


“Kenapa Git?” Fara berlari mendekati


Gita. “Ya ampun, kok bisa?” Fara ikut kaget.


“Nggak tahu.” Gita mencoba menghidupkan


laptopnya namun tidak bisa hidup.


“Fara, gimana nih. Padahal gue belum


copy proyek kita di flah dist.” Gita mulai panik, tangannya berkeringat. Dia


takut mengacau semuannya dan di salahkan banyak orang.


keluarnya.” Kata Fara.


 “Ada apa?” tanya Win.


“Mas


Win laptop Gita ketumpahan kopi, semua data kita ada di situ.” Kata Gita.


“Ya


ampun Gita, itu proyek kita pertama setelah sekian lama kita tidak dapat proyek.


Dan lo menghancurkannya.” Ina memarahi Gita.


“Gita


nggak tahu Mbak kenapa kopinya tumpah di laptop.”


“Waktunya


sudah sangat mepet, Gita gue nggak mau tahu lo harus tanggung jawab.” Kata


Nino. Dia menjadi emosi karna kecerobohan Gita satu team akan menanggung


semuannya.


“Sudah-sudah,


kalian jangan marahin Gita terus, harusnya kita pikirkan jalan keluarnya bukan


malah menyalahkan.” Kata Win.


”Tapi


Win, suda tidak ada waktu lagi untuk kita mencari solusi. Kita sudah di tunggu


di ruang rapat.” Jelas Nino.


Kedua


mata Gita berkaca-kaca, dia takut dan tidak enak dengan teamnya. Dia juga


bingung harus bagaimana lagi.  Gita duduk


menunduk di ruang rapat, dia tidak berani memandang siapapun dan juga dia terus


memainkakn jari-jari tangannya.


“Selamat


siang semua, kita akan kembali membahas proyek terakhir kalinya. Silahkan Win


kamu bisa tunjukkan hasilnya.” Kata Gilang.


Win


mengatur napasnya, dia berdiri dan siap menanggung apa yang akan menimpannya


kali ini.


“Sebelumnya


saya minta maaf bos, karena semua data kami hiang.” Kata Win.


“Apa


hilang? Kok bisa?” Gilang kaget.


“Iya


Pak, saya nggak sengaja menumpahkan kopi di laptop jadi tidak bisa di buka.”


Win mengaku kalau dirinya yang salah, dia melakukan itu karena dia adalah ketua


dan bertanggung jawab atas semuanya.


“Win,


kamu sangat ceroboh sekali. Sekarang bagaimana kita bisa mengatakan sama


clien?” tanya Lila.


“Maaf


Mbak.” Win menundukan kepala.


“Ya


Tuhan Win, memang lo itu nggak pantas mendapatkan job seperti ini, baru juga berapa


persen jalan sudah di hancurkan. Bisa-bisa hancur perusahaan ini.” Kata Roy.


“Win,


saya sudah memberikan kepercayaan sama kamu, tapi kamu mengecewakan saya lagi.”


Gilang menatap Win sambil melipat kedua tangannya. nada bicaranya biasa namun


menakutkan bahkan tidak ada yang berani melihat ke arah Gilang.


“Maaf


Bos, saya siap menanggung resikonnya.”


“Apa


kamu siapa resign dari kantor ini dan juga menanggung jumlah kerugian kalau


clien menuntut karena keteledoran perusahaan kita?” tanya Lila.


Gita


kaget, ternyata hukuman sangat berat bukan lagi surat peringatan. Gita


mengeratkan genggamannya lalu berdiri.


“Maaf


Bos, ini semua bukan salah Mas Win tapi salah saya.” Kata Gita cepat. Dia tidak


mau Win menanggung kesalahan yang di perbuatnya.


“Kamu?”


Lila menunjuk Gita.


“Hah..


sudah ku duga anak baru yang tidak kompetan hanya akan mengacau perusahaan.”


Kata Roy.


“Terlalu


suka bermain-main, jadi terlalu menyepelekan pekerjaan.” Kata Catrin.


“Ratna,


apa kamu punya cadangan untuk proyek ini?” tanya Gilang.


“Bos..


bisa kah saya memperbaikinya dulu. Saya janji akan selesaikan dengan cepat.”


Gita memohon.


“Secepat


apa? Sepuluh menut, lima belas menit?” Tanya Gilang dengan mode datar.


Gita


menunduk sambil meggelengkan kepala, “Saya membutuhkan setengah hari.” Jawabnya


dengan bergetar.


“Gita


bisa tidak kamu berpikir dulu dalam bertindak, lihat siapa yang susah dengan


kecerobohan kamu?” kata Gilang.


“Maaf


Pak.”


“Baiklah


secara resmi saya pindahkan proyek ini ke tim Ratna.” Kata Gilang sambil


berjalan meninggalkan ruangan. Gilang kecewa dengan keteledoran Gita.