Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Hari Besar


Dan hari ini adalah hari besar yang di tunggu-tunggu Gilang dan Raka, dimana hari pernikahanya tiba. Mereka tersenyum melihat dua wanita cantik yang sedang


diantar oleh kedua orang tua mereka.


“Gadisku memang sangat cantik.” Gilang memamerkan kecantikan Gita kepada Raka.


“Yah, gadisku pun tidak kalah cantik sama gadis lo.” Raka tidak mau kalah.


Acara inti berjalan dengan lancar, setelah moment haru pelepasan orang tua wanita kepada sang penganti laki-laki,  Gita sudah


resmi menyandang gelar baru yaitu nyonya Gilang dan Fara Nyonya Raka mereka pun


berdiri untuk menyambut tamu yang hadir.


Acaranya sangat mewah dan megah, hampir semua kalangan datang untuk melihat ikatan janji suci dari GG couple dan juga RF couple yang mengikat cintanya sejak sma.


“Selamat ya sayang, akhirnya kalian sah juga menjadi istri Gilang, dan tentu saja mantu mama.” Rima mencium kening menantunya.


“Iya Ma makasih."


“Gilang nanti malam langsung di gas ya, mama nggak sabar mau segera punya cucu.”


Perkataan bar-bar dari mertuaya itu membuat Gita melotot.


“Mama apaan sih, masih disini bahas begituan.” Kata Gilang dengan wajah malu-malu.


“Memangnya kalau acara pernikahan seperti ini apa lagi kalau bukan bikin baby yang di bahas.” Kata Rima lagi.


“Ya bisa yag lain kan, udah ah ma sana jangan disini ngrumpi saja sana sama Mama


Wanda.” Gilang meminta mamanya jangan dekat-dekat dengannya.


“Nyokap mertualo bar-bar juga ya.” Bisik Fara. Gita hanya tersenyum membalas pernyataan Fara.


“Ngomong-ngomong, apa lo nanti setelah resepsi mau langsung perang?” bisik Fara.


“Nggak tahu, gue jadi deg-degan begini ah. Kita kan belum jadi nonoton langkah-langkah malam pertamanya.” Ujar Gita. Mereka berdua saling berbisik dengan tangan yang terangkat dan menyalami tamu.


“Iya, kita lupa gara-gara kejadian kemarin.”


“Ehm.” Gilang berdehem membuat Gita berdiri tegak.


“Kamu sama Fara bisik-bisik saja dari tadi, kalian nggak merencanakan apa-apa kan?”


tanya Gilang dengan curiga.


“Nggak, rencana apaan?” kata Gita.


“Ya siapa tahu kalian berdua mau berulah kabur dari pernikahan ini.” Kata Gilang.


“Issh.. negatif mulu kalau sama aku.”


“Hey.. selamat ya.” Anita mencium pipi Gita kanan kiri lalu pindah ke Fara.


“Makasih Anita.”


“Jangan lupa ya nanti malam baju dinasnya di pakai.” Bisik Anita yang bikin Gita dan


Fara tersenyum geli namun tetap mereka berdua menganguk.


“Eh.. tapi kayaknya bajunya ketinggalan deh di pantai kemarin.” Gita baru ingat.


“Yang benar?”


“Iya, kan kemarin kita buru-buru.”


“Tenang nggak usah risau, lo lihat kado paling besar itu.”


“Ya.” jawab Gita dan Fara bareng sambil melihat tempat kado.


“Itu dari gue, dan disitu ada banyak baju dinas jadi kalian nggak usah risau.” Anita mengegerak-gerakan kedua alisnya.


“Sumpah, niat banget nih orang suruh kita pakai baju dinas.” Kata Gita sembari


geleng-geleng.


"Nggak sabar pengin punya ponakan." Kata Anita sambil terkekeh


“Selamat ya Gilang, Raka.” Kata Bayu.


“Terima kasih, kapan kalian berdua nyusul?” tanya Raka.


“Sebentar lagi, nggak lama.” Jawab Bayu. “Vian, kapan lo mau nikah nggak iri apa lihat


sohib lo ini udah menikah dan gue bentar lagi juga mau nikah lo.”


“Santuy aja, nikmati hidup dulu.” Kata Vian santai. Dia masih senang dengan kejombloannya.


“Jangan terlalu santai, nanti bela keburu di rebut orang baru tahu rasa lo.” Kata Fara.


“Iya nanti nangis, galau. Suami gue nggak akan gue ijinin menemani lo saat galau.”


Kata Gita.


“Gaya lo, panggil-paggil suami mentang-menatang udah nikah.”


“Ye.. justru karena udah nikah gue panggil suami. Masa gue panggil mantan, yang benar saja lo.”


“Heh..” Gilang melotot.


“Amit..amit Anita!” Fara ngegas.


“Udah ah.. gue cabut makna aja dari pada disini di salahin mulu.” Vian kabur.


“Dasar tukang makan lo.”


“Hai.. selamat ya Bos Gilang. Semoga langgeng ya bos.” Kata Ina.


“Terima kasih Ina.”


“Terima kasih Mbak Ina.” Gita mencium Ina.


“Kamu juga Fara, semoga langgeng ya.”


“Ah... bos Gilang selamat ya mau belah duren.” Kata Nino yang langsung di tepuk sama Ina.


“Kepa sih lo?”


“Lihat situasi kalau ngomong tuh, nggak malu apa ngomong begitu pakai keras banget.”


“Ya tuhan, dekat-dekat sama wanita tua satu ini kenapa gue nggak pernah bener sih.” Nino geleng kepala.


“Apa lo bilang? Wanita tua?” Ina mendelik.


“Memangnya lo masih abg, Win buruan nikahin kenapa biar nggak ngamuk mulu.” Kata Nino.


“Jadi gue kena lagi nih."


“Eh.. kalau mau nikah sekarng bisa loh mas Win, mumpung masih ada pengulunya tuh.”


Kata Gita.


“Iya benar Mas Win. Tuh mbak-mbaknya yang merias juga masih disini.” Tambah Fara.


“Jangan ngaco deh kalian berdua.” Rasanya Win ingin menjitak teman-temannya yang terus mengusili mereka.


“Win, kalau lo emang mau gue bakalan sediain tempat kok.” Kata Gilang.


“Makasih Bos, nggak dulu. Inikan acar bos dengan keluarga besar masa sa nimbrung. Nggak sopan namanya bos.”


“Nggak apa-apa mas namanya penghematan.” Jawab Vian yang sudah kemabli dengan membawabpiring berisikan beberapa makanan.


“Gue masih kuat Vian buat bikin acara, jangan memandang remeh gue.” Win merasa di remehkan.


“Berati Mas Win beneran mau menikah sama Mbak Ina?” Tanta Bella.


“Kalian jangan begituah, kasian Mas Win kan.” Kata Ina.


“Ciee Mas Win..” Kata mereka kompak ngecenging sampai membuat Ina malu karena selama ini mereka hanya


pangil nama saja.


Acara tak kunjung selesai juga, Gita sudah mulai kasak kusuk. Kakinya pegal memakai


highheels.


“Kenapa sayang?” bisik Gilang.


“Capek. Boleh nggak aku lepas higheelsnya.” Kata Gita.


“Kamu duduk saja gih, biar aku yang menyambut tamu undangannya.” Kata Gita sambil membantu Gita duduk.


“Nggak apa-apa, daripada kamu kecapean nanti malam kita nggak bisa lembur.” Ucap nakal Gilang membuat Gita melotot.


“Memangnya nanti malam kita ada kerja?”


“Ada dong, banyak kerja sayang kita akan sibuk sampai pagi.Udah sekarang kamu duduk saja.” Kata Gilang sembari memberikan kecupan di kening Gita.


“Aduh... semakin deg-degan saja gue kalau begini. Mana lembur sampai pagi lagi kapan gue belajarnya ya.” Ucapnya lirih.


“Hey.. kenapa cemas begitu?” tanya Fara yang baru saja duduk di samping Gita.


“Kata Kak Gilang, gue disuruh duduk agar nggak kecapaian soalnya mau lembur


sampai pagi. Gue takut.” Kata Gita sambil memegangi tangan Fara.


“Kenapa sama, Raka barusan juga bilang kalau gue jangan capek. Kalau bisa sekarang bobo saja biar nanti malam begadangnya enak.” Fara menatap Gita dengan kecemasan.


“Aduh.. bagian ini bisa di skip nggak sih?” tanya Gita.


“Nggak tahu, tapi kalau di skip nanti kita punya anaknya gimana?”


“Download aja kali ya.”


“Lo kata aplikasi di download.”


“Terus gimana dong?”


“Nggak tahu gue Git, apa kita harus melihat tutorialnya dulu disini?”


“Gila lo, apa kata orang-orang."


"Biarin aja, cuekin aja atau nggak ajak sekalina nonton."


"Dasar gila." Gita menabok lengan Fara.