
Tanah yang mengalir seperti air menyeret Gita turun semakin jauh, suara hiruk pikuk mulai menghilang. Hanya suara gemuruh yang semakin keras.
Gita susah tak sanggup membuka mata, karena pedih, tubuhnya mengenai sesuatu membuatnya terpental-pental. Bahkan fia sudah tidak bisa merasakan tubuhnya sendiri. Dia sudah tak bisa membayangkan apa-apa, semuanya terlihat gelap.
"Ya Tuhan, saat aku sampai di dasar dan harus mati tolong sampaikan cintaku untik keluarga, Kaka Gilang dan sahabat-sahabatku. Aku sangat menyayangi kalian. I love you, Gita pergi kita bertemu di surga nanti." doa Gita dalam hati.
Gita merasakan tubuhnya sudah tidak terseret lagi, hanya saja tubuhnya merasa berat.
Gita mencoba memaksa kedua matanya agar terbuka. Samar-samar dia melihat sebatang pohon menimpa kakinya. Dan tubuhnya banyak timbunann tanah.
"Uhuukk..uhuuk..tolong.." Rintihnya pelan. Tidak ada tenaga lagi untuk berteriak.
"Mama.. papa tolong Gita." Katanya.
Gita merasakan rasa sakit yang luar biasa, dia tak bisa menahannya lagi. Napasnya terasa berat, pandangannya semakin tidak jelas dan gelap.
...♡♤♤♤♡...
Gilang pergi menemui clien lebih pagi, dia merubah jam pertemuan agar bisa selesai lebih awal dan segera menjemput Gita.
Perasaannya semakin tidak karuan, dan terus kepikiran Gita membuatnya tidak bisa menunggu lebih lama.
Gilang berjalan melewati lorong kamar
hotel, dia turun ke lantai satu untuk bertemu Raka dulu karena Raka akan
berangkat hari itu juga.
“Gilang.” Raka melambaikan tangannya.
“Hai.” Gilang berjalan cepat lalu
memeluk sahabatnya itu.
Gilang sangat sedih harus melepas
sahabat yang membuatnya bisa dekat dengan Gita, selain itu dia juga menjadi
teman curhatnya.
“Lo sudah yakin mau berangkat sekarang
tanpa pamitan sama yang lain?” tanya Gilang sambil melepaskan pelukannya.
“Akan lebih baik begini, gue tidak tega
kalau harus melihat mereka bertiga.” Jawab Raka denga senyum asam. Dalam
hatinya masih ada perdebatan antara ingin pergi sama tetap tinggal. Namu
logikanya dia terus berkata kalau dia harus mengorbankan salah satunya. Dia
tidak bisa jika memilih keduannya karena dia bukan seperti orang-orang pada
umumnya.
“Benar, sorry gue nggak bisa anterin lo
ke bandara. Setelah bertemu clien pagi ini gue akan jemput Gita.” Jelas Gilang.
“Nggak apa-apa, gue lebih senang pergi
sendiri karena tidak terlalu berat untuk berjalan.” Kata Raka.
“”Ok, sukses selalu lo di tempat baru.
Gue harap lo tetap menginngat kami semua yang di sini.” Gilang menepuk pundak
Raka.
“Selamat siang pemirsa, kembali lagi
dalam liputan berita pagi. Pemirsa tanah longsor telah melanda perkampungan
Candi kemarin malam. Para tim sar sedang melakukan pencarian korban. Mereka
agak kesulitan masuk karea longsor menimbun jalan, akses menuju desa tersebut.
Di perkirakan di sana tidak hanya warga sekitar tapi ada mahasiswa yang sedang
bakti sosial..”
Gilang langsung menoleh ke belakang, dia
mendekatkan tv untuk kembali mendengarkan beritanya.
“Ada apa Lang?” Raka berlari mendekati
Gilang.
“Raka, apa ini tempat kampus Gita
melakukan bakti sosial?” Gilang menatap Raka dengan was-was. Dia berharap
berita yang baru saja dia dengar itu bukan tempat Gita.
Raka mengambil ponselnya lalu menlpon
salah satu temannya meanyakan tempat bakti sosial yang sedang di jalani
kampusnya. Sedangkan Gilang berusaha menghubungi Gita, namun tetap saja
ponselnya mati.
Raka menurunkan ponsel dari telingannya
dengan lemas, saat teman kampusnya memberi tahu kalau desa yang longsor itu
tempat Gita, Fara dan Vian bakti sosial.
“Raka.. jangan bilang..” Gilang tak
sanggup meneruskan ucapannya. Raka pun hanya menjawab dengan anggukan.
Gilang langung lari ke parkiran, dia
akan menyusul Gita ke sana. Dia akan menyelamatkan Gita dan membawanya pulang.
“Gilang..Gilang tunggu gue!” Tteriak
Raka sambil berlari mengejar Gilang.
Gilang dan Raka langsung memakai sabuk
pengamannya, dan Gilang mengemudi dengan kecepatan tinggi. Pikirannya sudah
kalang kabut, dia takut ada apa-apa dengan Gita dan kedua sahabatnya itu.
Tiiiinnnn.....Tiiiiinnnnnn......Tiiiinn.......
Gilang membunyikan klakson sepanjag
jalan saat ada yang memperlambat jalannya, dia tidak peduli di maki atau di
umpat orang di jalan. Yang dia pedulikan sekarang dia harus segera sampai ke
desa Candi dan membawa Gita kembali dengan selamat.
“Gilang, lo harus konsentrasi dan lebih
sendiri.” Raka menasehati Gilang.
“Gue nggak peduli.”
“Kalau lo nggak peduli dengan
keselamatan lo, bagaimana mau menyelamatkan Gita.” Kata Raka.
Gilang menoleh ke arah Raka, dan sedikit
mengurangi kecepatan laju mobilnya. Omongan Raka ada benarnya, kalau dia celaka
dalam perjalanan lalu bagaimana dia bisa menyelamatkan Gita.
“Yah.. begini lebih aman. Lo jangan
terlalu cemas Gita, Fara dan Vian pasti selamat.” Raka menenangkan Gilang. Dia
sok-sokan bersikap tenang dan berbicara bijak, padahal dalam hatinya dia hancur
dan takut kehilangan ketiga orang yag sangat berarti dalam hidupnya.
Gilang memutar radio untuk mendapat
berita tentang desa candi, perjalanan yang sangat jauh membuat Gilang tidak
sabar ingin sampai sana.
“Harusnya kita naik pesawat agar lebih
cepat.” Ucap Gilang.
“Benar.”
“Pendengar Radio Fm kami turut bela
sungkawa dengan bencana yang terjadi di desa candi, kami menyampaikan jika puluhan
rumah tertimbun dengan tanah dan penyelamatan pun suda di mulai. Para koraban
sudah mulai di evakuasi dan masih banyak korban yang belum di temukan. Sampai
saat ini korban jiwa belum ada.”
Gilang bergetar mendengar beritanya
lagi, “Kamu pasti kuat sayang, tunggu aku sebentar lagi akan sampai disana.”
Batin Gilang.
“Fara, lo harus bertahan. Gue datang
menjemput lo.” Kata Raka dalam hati.
Setelah mengemudi hampir lima jam Gilang
akhirnya sampai di perbatasan desa Candi, namun jalan di tutup banyak polisi
yang menjaga tempat itu. Gilang tidak bisa jalan masuk ke sana.
“Maaf Mas, untuk sementara akses jalan
ke desa candi tidak bisa di lewati. Silahkan lewat rute jalan yang sudah kami
buat.”
Gilang turun dari mobilnya, “Maaf Pak
saya mau lewat dan mau ke desa candi.”
“Tidak bisa, team kami sedang melakukan
evakuasi korban.”
“Saya tahu Pak, tapi calon istri saya
ada di sana saya mau mencarinya.”
“Itu sangat berbahaya, anda lebih baik
menunggu sini dan percayakan kepada tim sar kami.”
“Saya sangat percaya Pak, tapi saya
mohon ijinkan kami berdua membantu.” Raka membantu Gilang berbicara untuk
mendapatkan ijin.
“Tidak bisa, disana sangat berbahaya,
kalian berdua belum tahu kondisi disana jadi tetaplah tinggal dan biarkan tim
sar kami yang melakukan penyelamatan.” Kata Polisi.
Gilang mengajak Raka mundur ke belakang,
dia ingin merencanakan sesuatu. Dia tidak bisa tinggal diam.
“Apa yang mau kita lakukan sekarang?”
Tanya Raka. Gilang masih belum menemukan id, dia melihat sekitar untuk mencari
celah agar bisa masuk ke desa itu.
Gilang melihat ada mobil tim sar, dia
mngkode Raka dengan matanya yang melirik ke mobil. Raka mengangguk-aggukan
kepalanya. Dia tahu apa yang di pikirkan oleh Gilang.
Mereka berdua jalan kesana dengan
pelan-pelan, melihat apakah ada baju tim sar yang masih tersisa.
“Lang, lo jaga ya. Gue ambil
perlengkapan itu.” Kata Raka sambil celingukan kekanan –dan ke kiri.
“Ok.”
Tak lama Raka sudah memakai baju yang
dia mabil dari mobil team sar, bereka siap untuk terjun ke tempat bencana.
“Hai.. kalian berdua, ambil tambang dan
buruan bawa kemari!” teriak salah satu anggota team sara yang baru kembali dari
tempat kejadian.”
“Baik.” Seru Gilang dan Raka bersamaan,
mereka melakukannya dengan cepat inilah saatnya kesempatan agar bisa masuk ke
desa.”