Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Penyelamatan


Tanah yang mengalir seperti air menyeret Gita turun semakin jauh, suara hiruk pikuk mulai menghilang. Hanya suara gemuruh yang semakin keras.


Gita susah tak sanggup membuka mata, karena pedih, tubuhnya mengenai sesuatu membuatnya terpental-pental. Bahkan fia sudah tidak bisa merasakan tubuhnya sendiri. Dia sudah tak bisa membayangkan apa-apa, semuanya terlihat gelap.


"Ya Tuhan, saat aku sampai di dasar dan harus mati tolong sampaikan cintaku untik keluarga, Kaka Gilang dan sahabat-sahabatku. Aku sangat menyayangi kalian. I love you, Gita pergi kita bertemu di surga nanti." doa Gita dalam hati.


Gita merasakan tubuhnya sudah tidak terseret lagi, hanya saja tubuhnya merasa berat.


Gita mencoba memaksa kedua matanya agar terbuka. Samar-samar dia melihat sebatang pohon menimpa kakinya. Dan tubuhnya banyak timbunann tanah.


"Uhuukk..uhuuk..tolong.." Rintihnya pelan. Tidak ada tenaga lagi untuk berteriak.


"Mama.. papa tolong Gita." Katanya.


Gita merasakan rasa sakit yang luar biasa, dia tak bisa menahannya lagi. Napasnya terasa berat, pandangannya semakin tidak jelas dan gelap.


...♡♤♤♤♡...


Gilang pergi menemui clien lebih pagi, dia merubah jam pertemuan agar bisa selesai lebih awal dan segera menjemput Gita.


Perasaannya semakin tidak karuan, dan terus kepikiran Gita membuatnya tidak bisa menunggu lebih lama.


Gilang berjalan melewati lorong kamar


hotel, dia turun ke lantai satu untuk bertemu Raka dulu karena Raka akan


berangkat hari itu juga.


“Gilang.” Raka melambaikan tangannya.


“Hai.” Gilang berjalan cepat lalu


memeluk sahabatnya itu.


Gilang sangat sedih harus melepas


sahabat yang membuatnya bisa dekat dengan Gita, selain itu dia juga menjadi


teman curhatnya.


“Lo sudah yakin mau berangkat sekarang


tanpa pamitan sama yang lain?” tanya Gilang sambil melepaskan pelukannya.


“Akan lebih baik begini, gue tidak tega


kalau harus melihat mereka bertiga.” Jawab Raka denga senyum asam. Dalam


hatinya masih ada perdebatan antara ingin pergi sama tetap tinggal. Namu


logikanya dia terus berkata kalau dia harus mengorbankan salah satunya. Dia


tidak bisa jika memilih keduannya karena dia bukan seperti orang-orang pada


umumnya.


“Benar, sorry gue nggak bisa anterin lo


ke bandara. Setelah bertemu clien pagi ini gue akan jemput Gita.” Jelas Gilang.


“Nggak apa-apa, gue lebih senang pergi


sendiri karena tidak terlalu berat untuk berjalan.” Kata Raka.


“”Ok, sukses selalu lo di tempat baru.


Gue harap lo tetap menginngat kami semua yang di sini.” Gilang menepuk pundak


Raka.


“Selamat siang pemirsa, kembali lagi


dalam liputan berita pagi. Pemirsa tanah longsor telah melanda perkampungan


Candi kemarin malam. Para tim sar sedang melakukan pencarian korban. Mereka


agak kesulitan masuk karea longsor menimbun jalan, akses menuju desa tersebut.


Di perkirakan di sana tidak hanya warga sekitar tapi ada mahasiswa yang sedang


bakti sosial..”


Gilang langsung menoleh ke belakang, dia


mendekatkan tv untuk kembali mendengarkan beritanya.


“Ada apa Lang?” Raka berlari mendekati


Gilang.


“Raka, apa ini tempat kampus Gita


melakukan bakti sosial?” Gilang menatap Raka dengan was-was. Dia berharap


berita yang baru saja dia dengar itu bukan tempat Gita.


Raka mengambil ponselnya lalu menlpon


salah satu temannya meanyakan tempat bakti sosial yang sedang di jalani


kampusnya. Sedangkan Gilang berusaha menghubungi Gita, namun tetap saja


ponselnya mati.


Raka menurunkan ponsel dari telingannya


dengan lemas, saat teman kampusnya memberi tahu kalau desa yang longsor itu


tempat Gita, Fara dan Vian bakti sosial.


“Raka.. jangan bilang..” Gilang tak


sanggup meneruskan ucapannya. Raka pun hanya menjawab dengan anggukan.


Gilang langung lari ke parkiran, dia


akan menyusul Gita ke sana. Dia akan menyelamatkan Gita dan membawanya pulang.


“Gilang..Gilang tunggu gue!” Tteriak


Raka sambil berlari mengejar Gilang.


Gilang dan Raka langsung memakai sabuk


pengamannya, dan Gilang mengemudi dengan kecepatan tinggi. Pikirannya sudah


kalang kabut, dia takut ada apa-apa dengan Gita dan kedua sahabatnya itu.


Tiiiinnnn.....Tiiiiinnnnnn......Tiiiinn.......


Gilang membunyikan klakson sepanjag


jalan saat ada yang memperlambat jalannya, dia tidak peduli di maki atau di


umpat orang di jalan. Yang dia pedulikan sekarang dia harus segera sampai ke


desa Candi dan membawa Gita kembali dengan selamat.


“Gilang, lo harus konsentrasi dan lebih


sendiri.” Raka menasehati Gilang.


“Gue nggak peduli.”


“Kalau lo nggak peduli dengan


keselamatan lo, bagaimana mau menyelamatkan Gita.” Kata Raka.


Gilang menoleh ke arah Raka, dan sedikit


mengurangi kecepatan laju mobilnya. Omongan Raka ada benarnya, kalau dia celaka


dalam perjalanan lalu bagaimana dia bisa menyelamatkan Gita.


“Yah.. begini lebih aman. Lo jangan


terlalu cemas Gita, Fara dan Vian pasti selamat.” Raka menenangkan Gilang. Dia


sok-sokan bersikap tenang dan berbicara bijak, padahal dalam hatinya dia hancur


dan takut kehilangan ketiga orang yag sangat berarti dalam hidupnya.


Gilang memutar radio untuk mendapat


berita tentang desa candi, perjalanan yang sangat jauh membuat Gilang tidak


sabar ingin sampai sana.


“Harusnya kita naik pesawat agar lebih


cepat.” Ucap Gilang.


“Benar.”


“Pendengar Radio Fm kami turut bela


sungkawa dengan bencana yang terjadi di desa candi, kami menyampaikan jika puluhan


rumah tertimbun dengan tanah dan penyelamatan pun suda di mulai. Para koraban


sudah mulai di evakuasi dan masih banyak korban yang belum di temukan. Sampai


saat ini korban jiwa belum ada.”


Gilang bergetar mendengar beritanya


lagi, “Kamu pasti kuat sayang, tunggu aku sebentar lagi akan sampai disana.”


Batin Gilang.


“Fara, lo harus bertahan. Gue datang


menjemput lo.” Kata Raka dalam hati.


Setelah mengemudi hampir lima jam Gilang


akhirnya sampai di perbatasan desa Candi, namun jalan di tutup banyak polisi


yang menjaga tempat itu. Gilang tidak bisa jalan masuk ke sana.


“Maaf Mas, untuk sementara akses jalan


ke desa candi tidak bisa di lewati. Silahkan lewat rute jalan yang sudah kami


buat.”


Gilang turun dari mobilnya, “Maaf Pak


saya mau lewat dan mau ke desa candi.”


“Tidak bisa, team kami sedang melakukan


evakuasi korban.”


“Saya tahu Pak, tapi calon istri saya


ada di sana saya mau mencarinya.”


“Itu sangat berbahaya, anda lebih baik


menunggu sini dan percayakan kepada tim sar kami.”


“Saya sangat percaya Pak, tapi saya


mohon ijinkan kami berdua membantu.” Raka membantu Gilang berbicara untuk


mendapatkan ijin.


“Tidak bisa, disana sangat berbahaya,


kalian berdua belum tahu kondisi disana jadi tetaplah tinggal dan biarkan tim


sar kami yang melakukan penyelamatan.” Kata Polisi.


Gilang mengajak Raka mundur ke belakang,


dia ingin merencanakan sesuatu. Dia tidak bisa tinggal diam.


“Apa yang mau kita lakukan sekarang?”


Tanya Raka. Gilang masih belum menemukan id, dia melihat sekitar untuk mencari


celah agar bisa masuk ke desa itu.


Gilang melihat ada mobil tim sar, dia


mngkode Raka dengan matanya yang melirik ke mobil. Raka mengangguk-aggukan


kepalanya. Dia tahu apa yang di pikirkan oleh Gilang.


Mereka berdua jalan kesana dengan


pelan-pelan, melihat apakah ada baju tim sar yang masih tersisa.


“Lang, lo jaga ya. Gue ambil


perlengkapan itu.” Kata Raka sambil celingukan kekanan –dan ke kiri.


“Ok.”


Tak lama Raka sudah memakai baju yang


dia mabil dari mobil team sar, bereka siap untuk terjun ke tempat bencana.


“Hai.. kalian berdua, ambil tambang dan


buruan bawa kemari!” teriak salah satu anggota team sara yang baru kembali dari


tempat kejadian.”


“Baik.” Seru Gilang dan Raka bersamaan,


mereka melakukannya dengan cepat inilah saatnya kesempatan agar bisa masuk ke


desa.”