
“Gita, kamu kenapa menangis?” Wanda menaruh remotnya lalu berjalan mendekati Gita yang wajahnya sudah basah dengan air mata. Wanda memeluk putri bungsunya itu sambil mengelus kepalanya. Wanda kemudian mengajak Gita untuk duduk.
“Bik, tolong air putih.” Seru Wanda.
“Iya Buk.” Bik Nana segera membawa air putih sesuai yang di minta bosnya itu.
“Minum dulu.” Wanda menyuruh Gita minum dulu.
“Ma.. Raka mau pergi.” Gita menangis sesenggukan.
“Pergi kemana?”
“Tante Marina sama Om Faisal mau bawa Raka, terus Gita cerita kalau Tante Marina sama OM Faisal sudah nggak bersama. Tante Marina sudah memiliki suami baru. Raka malah marah dan mengusir Gita. Katanya Gita nggak boleh ganggu urusan Raka."
“Kamu tahu darimana tante Marina sudah punya suami lagi, jangan sembarangan.”
“Ma... Om Faisal yang bilang. Tadi Gita kesana terus Tante Marina sama Om Faisal
sedang bertengkar dan bicara masalah itu.”
Wanda terdiam, dia tidak tahu kalau kakaknya itu sudah menikah lagi.
“Ma, tolong cegah Tante Marina bawa Raka pergi.”
Wanda memeluk Gita, dan mengusap kepalanya, “Nanti mama coba buat bicara sama tante dan om, kamu sekarang istirahat, jangan pikir macam-macam.” Kata Wanda.
Wanda menyuruh Gita beristirahat, dan tidak memikirkan masalah Raka.
Gita me jatuhkan tubuhnya dengan posisi telungkap, dia masih shock Raka membentaknya bahkan sampai meminta untuk tidak menemuinya lagi.
Derrtttzzz...derrrttzzz... derrrtzzz...
Gita meraih ponselnya, melihat ke layar telpon. Dia segera mengusap air matanya.
"Haloo sayang," sapa Gita.
"Udah makan belum?"
"Lagi tidak ***** makan." jawab Gita.
"Kok bisa?"
"Ya bisa, pokoknya lagi malas makan." kata Gita.
"Hhmm.. baiklah, turun dulu gih." Kata Gilang.
"Turun?"
"Iya turun."
"Turun kemana?" tanya Gita masih dengan kebingungan.
"Turun ke hatimu, ke bawah lah." kata Gilang.
"Gita, ada Gilang di bawah." Wanda mengetuk pintu Gita.
"Iya Ma, kamu di rumah aku?" tanya Gita sambil beranjak dari kasurnya. Gita membuka pintu dan langsung lari.
"Hati-hati Gita nanti jatuh." Seru Wanda.
Gita keluar ke teras langsung memeluk Gilang. Gilang pun membalas pelukan Gita.
"Makan yuk." Ajak Gilang.
"Nggak mau, masih kenyang." kata Gita.
"Masih kenyang, emang kapan terakhir makan?"tanya Gilang.
"Em.. lupa pagi apa siang ya." ucapnya sambil melepaskan pelukannya.
"Beneran nggak mau makan?" tanya Gilang lagi. Gita mengangguk cepat, dia sebenarnya lapar hanya saja malas makan dan tidak berselera.
"Ya udah, temenin aku cari makan yuk. Soalnya pulang dari kantor belum makan."
"Ya udah ayok buruan cari makan, nanti kamu sakit. Gita pamit sama mama dulu ya." Kata Gita. Gilang menarik tangan Gita yang sedang beranjak.
"Kenapa?"
"Biar aku yang pamit sama mama kamu." kata Gilang.
"Baiklah."
Gita mengajak masuk Gilang untuk menemui mamanya.
"Ma.." panggil Gita.
"Iya Ta ada apa?"
"Iya, tapi pulang jangan malam-malam ya, sama hati-hati Gita jangan biarin memilih makanan sembarangan nanti alergi." Wanda menwanti-wanti.
"Iya tante, pasti Gilang awasi Gita."
"Mama ih.. orang yang mau makan juga kak Gilang." Gita ngedumel.
"Kalau gitu Gilang pamit dulu tante." Gilang mencium tangan Wanda.
"Iya hati-hati. Gita, ambil jaket dingin." mamanya menyuruh Gita memakai baju yang panjang.
"Nggak dingin mama, panas kok." Gita ngeyel di kasih tahu Wanda.
"Kebiasaan kalau di kasih tahu suka ngeyel ya."
"Mama... lemak aku tuh masih banyak jadi nggak akan kedinginan." Kata Gita.
"Lihat Gilang, kamu kok mau sih pacaran sama anak tante yang sukanya ngeyel begini. Nggak mau gitu ganti pacar." Canda Wanda. Gilang hanya tersenyum.
"Ih mama apaan sih, senang banget kayaknya kalau anaknya sedih. Udah yuk Kak kita pergi." cerocos Gita sembari menarik tangan Gilang.
...♡♤♤♤♡...
Gilang memesan banyak makanan, sampai mejanya penuh. Perut Gita mulai berbunyi, ***** makannya kembali datang.
"Yakin nggak mau makan?" tanya Gilang sambil memasukan ayam goreng ke mulutnya. Dia sengaja makan sambil menggoda Gita agar tertarik.
"Ih.. jangan godain Gita kenapa, kan jadi pingin." Ujar Gita. Dia yang kekeh nggak mau makan jadi tergoda.
"Ya udah makan saja kalau mau." kata Gilang. Memang Gilang sengaja memesan banyak agar Gita mau makan.
"Kan nggak estetik, masa dari rumah udah nggak mau makan. Ya kan gengsi udah nolak kok sampai sini makan." Gita masih memikirkan gengsinya.
Gilang mengambil nasi beserta ayam lalu menyuapi Gita.
"Kalau kamu mikir gengsi bakalan kelaparan, pokoknya kamu tidak boleh ***** makan menurun. kalau kamu sakit siapa yang ngerasain?"
"Aku." katanya sambil mengunyah nasi dan ayam goreng yang terpaksa mendarat di mulutnya.
"Makanya besok-besok lagi kalau waktunya makan ya makan, karena nggak selamanya aku bisa ngingetin kamu dan ajak makan kamu seperti ini." kata Gilang.
"Kenapa tidak bisa?" tanya Gita.
"Ya kan namanya manusia bisa saja lupa, atau sibuk kerja." jelas Gilang.
"Itu sih tinggal aku prioritas utama atau bukan. Sesibuk-sibuknya orang pasti akan ada waktu luwang kan." jawab Gita. "Tapi tenang saja, Gita akan ngertiin Kak Gilang. Gita juga nggak mau manja-manja itu bikin risih kan." Kata Gita lagi sebelum Gilang menjawab pernyataan Gita.
"Kamu memang pacar yang sangat pengertian, hah.. rasanya jadi malu kalau aku menjadi orang yang tidak bisa diandalkan sama kamu nantinya." jelas Gilang.
"Kata siapa tidak bisa diandalkan, nanti setelah lulus kuliah aku akan bekerja di perusahaan kamu. Biar kita bisa bertemu setiap saat dan kita selalu bersama." Kata Gita dengan mantap.
"Kamu yakin?" Gilang tidak percaya dengan ucapan dan pemikiran Gita.
"Iya, setelah kamu kembali lagi sama aku. Aku berjanji sama diri sendiri untuk mengikuti kemana pun kamu pergi." katanya sambil tersenyum lebar.
"Baiklah, aku akan tagih semua janji kamu setelah lulus nanti." Kata Gilang.
"Ok."
Selesai makan Gilang langsung mengantar Gita pulang. Gilang membukakan pintu mobil untuk Gita. Rasanya masih berat untuk pulang.
"Seminggu besok aku bakalan keluar kota." Gilang memegang tangan Gita.
"Seminggu?"
"Iya."
"Lama banget." Gita manyun.
"Ya mau gimana lagi namanya juga pekerjaan, semua ini kan demi masa depan kita." Gilang mengacak-acak rambut Gita.
Gita masih saja manyun, dia memeluk Gilang. Sehari saja tidak bertemu bisa rindu berat.
"Kenapa nggak bisa jauh ya dari aku." Goda Gilang.
"Tentu saja, awas ya kamu harus jaga mata. Jangan sampai melihat cewek-cewek cantik disana." Kata Gita.
"Iya sayang, lagian kan aku juga kerja. Cewek paling cantik di dunia itu cuma kamu. Nggak ada yang lain.
"Gombal." Gita senyum dengan wajah merona.
"Beneran, kamu paling cantik setelah mama aku. Sudah masuk gih." Suruh Gilang.
"Iya, kamu hati-hati." Gita melambaikan tangan. Gita memutar tubuhnya kembali, tapi mobil Gilang sudah meninggalkan rumahnya.
"Kok jadi lupa mau cerita soal Raka." tutur Gita.